SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Reagan Bagus Sujiwo Narendra



"Mana sepedamu?" Tanya Solar ketika mereka memasuki gang kecil yang sepi.


"Kutinggalkan di sana. Pasti rusak oleh mereka." Jawab Reagan.


"Punggungmu baik-baik saja? Aku tadi mendengarmu memanggilku, lalu kulihat mereka menyerangmu dari belakang." Solar melanjutkan sambil menggerutu, "Pengecut sekali main keroyokan begitu."


Reagan tidak menjawab. Mereka bahkan tidak saling bicara dalam waktu yang cukup lama. Reagan membawanya keluar masuk gang dan pemukiman kumuh. Solar dalam tubuh Selena terus memandangi tangan Reagan yang tak sekalipun melepaskan tangannya sejak mereka meninggalkan lokasi perkelahian. Ia memperhatikan kontrasnya warna kulit mereka berdua.


Sesekali Solar melihat Reagan meringis karena nyeri di punggungnya. Tanpa sepengetahuan Reagan, diam-diam Solar menyalurkan energinya untuk mengobati Reagan lewat sentuhan fisik mereka. Reagan tentu saja tidak menyadarinya. Ia hanya merasakan nyeri di tubuhnya sedikit demi sedikit berkurang seiring perjalanan mereka menuju rumah.


Mereka berhenti di sebuah kios buah kecil yang terletak di tengah perkampungan. Penjualnya sedang merapikan dagangan, bersiap-siap menutup toko. Reagan melepas genggaman tangannya yang membuat Solar agak kecewa karena saluran energinya untuk menyembuhkan Reagan jadi terputus. Solar melihat Reagan menepuk bahu penjual buah.


"Bapak."


Penjual buah itu menoleh, membuat Solar mengernyit tak mengerti. Bapak dalam bahasa manusia sama artinya dengan saat Solar menyebut ayah Selena dengan sebutan 'Papa'. Jadi ini ayah Reagan, pikir Solar sambil tersenyum samar. Kini ia memperhatikan penampilan penjual buah itu lebih cermat. Usianya terbilang jauh lebih tua dari Papa Selena yang masih kelihatan bugar di awal lima puluhan. Solar menebak usia ayah Reagan sekitar enam puluhan jika dilihat dari banyaknya uban di kepala.


Apalagi pakaiannya!


Pakaian yang dikenakan ayah-ayah di planet ini sangat beragam. Jika Papa Selena selalu konstan mengenakan setelan rapi atau kaos saat di rumah, lain halnya dengan ayah Reagan. Ayah Reagan ini mengenakan kaos oblong putih berlubang-lubang dan sarung kotak-kotak yang dililitkan sembarangan. Tubuhnya agak bungkuk saat berdiri tegak, membuatnya kelihatan jauh lebih pendek dari Reagan. Warna kulitnya gelap sekali, ditambah keriput sana-sini, membuat wajahnya kelihatan kendor. Kini Solar tahu darimana Reagan mendapat kulit gelap itu.


Pria yang dipanggil 'Bapak' oleh Reagan itu terkejut saat melihat wajah anaknya. Solar ingat wajah Reagan terluka akibat tonjokkan bertubi-tubi yang ia dapat saat tawuran tadi. Wajah Bapak kelihatan sedih dan cemas. Ia menyentuh wajah Reagan, memeriksa untuk memastikan anaknya baik-baik saja. Reagan berbohong dengan mengatakan kalau luka itu didapat akibat jatuh dari sepeda.


"Reagan bawa teman, pak." Samar-samar Solar mendengar Reagan menyebutnya. Kini perhatian keduanya beralih pada Solar. Perhatian itu Solar tangkap sebagai kode untuk menyuruhnya mendekat. "Ini Selena, teman sekelas Reagan." Lanjut Reagan. Solar mengulurkan tangannya.


Bapak menjabat tangan yang terulur itu sambil tersenyum. Dari pantulan dirinya dari kedua mata Bapak, Solar menyadari penampilannya tidak lebih baik dari Reagan meskipun ia tak terluka dimanapun.


"Kalian baik-baik saja?" Entah untuk yang keberapa kalinya Bapak menanyakan itu.


Solar hanya menggeleng tanpa berani mengatakan apa-apa. Ia yakin Reagan tidak ingin ayahnya tahu tentang keributan tadi. Reagan pastilah tak ingin melihat ayahnya cemas. Untuk mengalihkan topik, Reagan hendak membantu Bapak menutup kios, namun langsung dicegah.


"Bawa saja temanmu ke rumah. Bapak sudah hampir selesai." Ujar Bapak. Meskipun ragu, akhirnya Reagan menurut saja . Ia memimpin jalan menuju rumah.


Rumah yang dimaksud oleh Bapak sangat berbeda dengan rumah yang selama beberapa hari ini ditinggali oleh Solar. Rumah itu jauh lebih kecil dari kediaman Selena ataupun Christian. Rumah Reagan tidak memilik pagar tinggi, melainkan hanya satu lantai dan beratap genteng biasa. Di pekarangannya banyak tergantung pot-pot bunga anggrek bermacam warna dan bentuk. Terdapat sebuah dipan rotan yang diletakkan di teras sebagai tempat duduk.


Solar memperhatikan setiap detail kecil sampai ke sudut rumah milik Reagan. Awalnya Solar mengira kalau semua rumah milik teman-teman Selena di sekolah tidak jauh berbeda dengan milik Selena, ternyata tidak semua orang seberuntung Selena. Sekali lagi, Solar terpukau dengan keberagaman yang ada di sini.


"Masuklah!" Malu-malu Reagan mempersilahkan Solar masuk setelah ia membuka pintu depan. Reagan tahu Selena berasal dari keluarga kaya, makanya ia malu membiarkan cewek itu datang ke rumahnya yang kecil. Tapi melihat kondisi keduanya tadi, Reagan tidak punya pilihan lain selain pulang ke rumah dan membawa Selena. "Silahkan duduk dimanapun yang kamu mau. Anggap rumah sendiri." Reagan terdiam sebentar, "Maksudku, jangan sungkan-sungkan! Meskipun rumahku tidak senyaman rumahmu, pokoknya biasakan saja dirimu." Lanjutnya buru-buru.


Tidak ada ruang tamu. Rumah Reagan hanya terdiri dari ruang tengah yang berisi sebuah meja makan kecil dan empat kursi kayu, dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Ada sebuah kendi besar yang diletakkan di dapur. Solar langsung tahu kalau kendi itu berisi air dingin. Tanpa sadar ia sudah menelan ludah. Reagan mengambilkan segelas air dari dispenser lalu memberikannya pada Solar.


"Aku mau ganti baju sebentar." Kemudian Reagan menghilang ke kamarnya.


Momen menghilangnya Reagan langsung dipergunakan Solar untuk menelan habis air dalam gelas yang disuguhkan. Ia baru menyadari kalau sudah beberapa hari ini ia hidup tanpa air yang cukup. Tak puas dengan segelas air, Solar menuju dispenser, namun ia merasa kesulitan untuk mengeluarkan air dari sana tanpa membasahi seluruh lantai.


Akhirnya ia memutuskan untuk mendekati kendi. Kendi itu terbuat dari tanah liat merah. Solar menyentuh permukaannya yang halus dan dingin. Ia tersenyum senang karena merasakan air dingin alami di dalamnya. Ukuran kendi itu cukup besar untuk menampung sepuluh galon air. Tanpa pikir panjang, Solar langsung membuka baki besar yang dipergunakan keluarga Reagan untuk menutup kendi seadanya. Begitu ia melihat melimpahnya air di dalam kendi, Solar langsung memasukkan kepala ke dalamnya.


Reagan keluar dari kamarnya dan terperanjat karena mendapati separuh tubuh Solar berada di dalam kendi. Ia langsung bergegas menarik Solar keluar dari sana. Kepala sampai perut Solar sudah basah kuyup ketika keduanya jatuh terduduk di lantai. Solar menatap Reagan kesal. Ia masih tidak rela ada air yang tersisa di dalam kendi. Ia masih ingin minum banyak-banyak.


"Ada apa denganmu? Kenapa kepalamu sampai masuk ke dalam kendi?!" Seru Reagan tak percaya.


"Aku sedang minum."


"Kenapa tidak minum dari dispenser? Kendi itu isinya air mentah untuk memasak." Reagan berdiri untuk menengok isi kendi yang hampir kering. "Kamu gila, ya?! Segini banyak kamu minum sendiri?!" Semprot Reagan lebih tak pecaya. "Lihat tubuhmu basah semua, tuh!" Setengah berlari ia masuk kamar lalu keluar tak lama kemudian sambil melempar handuk dan kaos bersih pada Solar. "Cepat ganti baju di kamarku!" Nada suara Reagan masih membentak, membuat Solar mau tak mau menurutinya.


Solar menggunakan banyak waktunya untuk mengeringkan rambut sambil melihat-lihat isi kamar Reagan yang tak seberapa luas. Tempat tidur Reagan berada di lantai. Kasurnya lumayan empuk. Selimutnya juga wangi. Di sebelah tempat tidur ada lemari kayu yang sudah tua dan lapuk. Isinya juga tak banyak. Hanya ada seragam sekolah yang digantung, sedangkan baju-baju lain dilipat rapi di raknya. Reagan punya lemari khusus untuk buku-bukunya. Bahkan lemari bukunya lebih besar dari lemari baju. Meja belajarnya disusun rapi. Reagan suka belajar dan membaca banyak buku. Kesan itu yang didapat oleh Solar saat melihat seisi kamar Reagan. Setelah puas melihat-lihat, Solar keluar dari kamar.


Reagan sedang berada di dapur, memasak makan siang. Bapak sudah datang. Pria tua itu sibuk mengutak-atik sebuah benda persegi di meja makan. Ia memukulkan tangannya ke atas benda itu sampai terdengar suara yang keluar dari sana. Bapak tersenyum puas begitu mendengar suara.


"Itu...apa?" Solar tak dapat mendefinisikan benda tua yang tak ada dalam memori Selena.


"Ini radio. Usianya lebih tua dari Reagan, jadi sering rusak. Tapi masih bisa diperbaiki." Ayah Reagan tertawa kecil. Ia bersenandung mengikuti alunan lagu asing dengan alunan gitar yang keluar dari radio itu.


iki tulising kidungku


kanggo siro hapsarining kalbu


eseme kang manis madu


dasar ayu parasmu kang tanpo layu


nimas sasotyaning ati


yomung ndiko kang sawiji


langit bumi kang hanyekseni


nalikane ngucap janji ono lathi


yomung siji sesotyaku memanikku mung nimas wong ayu


panyuwunku mugo nimas ora lali marang janji setyamu


nanging kabeh kui muspro eling kalamun pupusing tresno


wes tak cobo nglalekke sliramu


nanging tak lali lali tan biso lali


Solar terpaku sampai lagu itu berakhir. Sebulir air mata jatuh di pipinya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali seakan baru ingat untuk berkedip.


Bapak tersenyum pada Solar. "Kenapa menangis? Ini bukan lagu sedih." Ujarnya.


Solar menggeleng, ia sendiri juga tidak tahu kenapa ia mengeluarkan air mata, sesuatu yang sangat jarang bagi spesiesnya. "Saya juga tidak tahu."


"Apa kamu mengerti lagunya?"


Lagi-lagi Solar menggeleng. "Saya bahkan baru tahu kalau ada jenis musik semacam ini." Selena yang ada dalam memori Solar bukanlah seorang penikmat musik. Ia bahkan tidak menyukai lagu-lagu jenis apapun. Ia lebih suka keheningan.


"Lagu ini adalah kidung Jawa yang menggambarkan tentang rasa rindu seseorang pada kekasihnya. Rasa kagum akan keelokkan dan kecantikan paras kekasihnya, dan tentang janji setia yang diucapkan keduanya. Ini adalah salah satu lagu cinta kesukaan bapak. Bapak suka lagu-lagu seperti ini. Reagan bilang lagu ini bukan lagu kuno karena diciptakan oleh anak muda bernama Dru Wendra Wedhatama. Makanya bapak senang sekali sewaktu Reagan memberi tahu ada saluran radio ini." Solar terdiam, ia masih ingin mendengar Bapak meneruskan.


"Bapak ini adalah seorang mantan abdi dalem keraton Yogyakarta. Sewaktu ibunya Reagan hamil Reagan, bapak memutuskan mundur dari keraton dan merantau. Ketika ibu Reagan meninggal dua tahun yang lalu, kami pindah kemari. Jadi kamu jangan kaget kalau budaya Jawa di rumah Reagan sangat kental."


"Saya tidak banyak tahu tentang nama-nama Jawa." Solar coba menjelaskan serasional mungkin.


"Nama lengkapnya: Reagan Bagus Sujiwo Narendra." Kalau yang ini, Solar sudah hafal di luar kepala. "Reagan adalah nama dokter yang membantu persalinannya. Dokter itu meninggal sesaat setelah operasi Caesar Reagan selesai. Serangan jantung. Diduga karena kelelahan akibat membludaknya pasien pada saat itu. Jadi untuk mengenang budi baiknya, kami memberikan nama itu pada anak kami. Budi baik, kecil atau besar, akan selalu dikenang oleh orang yang menerimanya." Bapak menjelaskan dengan pandangan setengah menerawang.


"Sedang membahas apa?" Reagan datang membawa piring-piring berisi makanan. Peralatan makan keluarga Reagan cukup unik bagi Solar karena terbuat dari enamel seng. Gelas dan piringnya berwarna putih dan digambar motif bunga berwarna merah dan oranye. Terdapat karat di sana-sini yang menambah kesan antik. Solar tak henti mengaguminya. Peralatan makan milik keluarga Selena semuanya berwarna putih membosankan. Suatu hal yang menakjubkan dapat melihat peralatan makan milik keluarga lain.


Solar tidak tahu makanan apa yang dimasak oleh Reagan sejak tadi, diapun tidak ingin makan. Sejak datang ke planet ini, Solar tidak berani makan apa-apa selain yang berupa cairan.


"Cuma menjelaskan ini-itu pada Selena, iya kan?" Bapak mengerling penuh arti. Solar membalas tatapannya dengan senyum manis.


"Aku pernah melihat ini di rumah." Solar menunjuk mangkok sup yang masih mengepul panas. "Ini juga." Ia menunjuk nasi putih. "Tapi yang lainnya tidak pernah lihat."


Bapak tertawa. "Ini namanya ikan asin." Ia membantu menjelaskan lauk satu-persatu. "Yang ini tempe dan tahu goreng. Sedangkan yang ini adalah sambal terasi. Reagan paling jago membuat sambal. Ayo dimakan!"


Tidak ada yang menggugah selera Solar. Ia tidak bisa makan. Dia tidak punya organ untuk mencerna makanan seperti manusia. Tubuhnya hanyalah sebuah sel tunggal yang perlu air untuk bertahan hidup. Setelah menimbang-nimbang, Solar akhirnya mengambil sup.


"Kenapa cuma makan sup? Tidak seenak makanan di rumahmu, ya?" Cibir Reagan.


"Aku sedang dalam diet khusus. Orangtuaku dokter, jadi mereka mengatur pola makanku sehari-hari. Jika aku makan makanan lain selain yang sudah diatur dalam menu diet harian, aku bisa sembelit." Solar berbohong dengan lancar. Pengalamannya sebagai asessor melatihnya untuk memanipulasi orang lain tanpa perasaan bersalah. Ia hanya berharap kalau alasannya tadi masuk akal, meskipun sedikit.


Reagan dan Bapak tidak lagi mengganggu Solar dengan pertanyaan tentang makanan. Terserah Solar saja mau makan apa. Yang penting mereka sudah menyediakan makanan yang mereka mampu. Mereka sudah menghargai tamu sebaik mungkin.


Selesai makan, Reagan memberi kode pada Solar agar segera berpamitan pada Bapak. Bagaimanapun, ada hal yang harus mereka bahas. Bapak menyuruh Solar agar sering-sering berkunjung jika ia ingin tahu lebih banyak tentang budaya Jawa atau kehidupan keraton. Solar menerimanya dengan senang, sudah mulai tak sabar akan kunjungan berikutnya.


"Perutmu baik-baik saja?" Tanya Reagan.


Tanpa sadar Solar mengelus perutnya sendiri. "Kenapa?" Tanyanya balik.


"Kamu habis minum sekendi air. Tidak kembung?" Reagan seakan sedang mencoba menjelaskan kalau Bumi itu bulat padanya.


Solar menggeleng, "Airnya segar. Aku jadi tidak tahan untuk tidak minum banyak-banyak." Kali ini Solar tak bohong. Reagan manggut-manggut mendengar alasannya.


"Aku tidak punya kesempatan bertanya padamu sebelum ini." Reagan memandangnya, "Apa yang terjadi setelah kamu menyerahkan diri ke Kepala Sekolah karena menyalakan alarm kebakaran palsu waktu kita kelas sepuluh dulu?"


Solar mengernyit, ia sibuk mengobrak-abrik memori milik Selena yang dicurinya agar dapat mengetahui apa yang terjadi hari itu. "Ah." Ia teringat sesuatu. "Aku dimarahi habis-habisan. Di ruang Kepala Sekolah dan di rumah. Mereka menelepon Mamaku untuk memberi teguran, tapi tidak menghukumku diskors."


"Apa yang kamu katakan pada Kepala Sekolah?"


"Aku bilang kalau mereka seharusnya melakukan simulasi kebakaran setelah alarm dan alat pemadam dipasang di sekolah. Tindakanku waktu itu dianggap sebagai bentuk protes yang buruk. Tapi berkat kejadian itu, sekolah kita jadi rutin melakukan simulasi kebakaran tiap beberapa bulan sekali."


"Wah!" Reagan takjub. "Aku merinding. Setelah beberapa waktu sekelas denganmu aku jadi tahu kalau kamu sangat pelit bicara. Tapi baru saja kamu bicara banyak. Sepertinya kuota bicara tahunanmu sudah habis barusan." Reagan berniat bercanda. Ini bukan kali pertama Selena bicara panjang lebar padanya. Solar tak bereaksi apa-apa. Mereka terdiam lama sepanjang perjalanan.


"Jadi, bagaimana kamu bisa kenal Jambul? Kukira gengmu tidak suka perundung." Reagan buka suara lagi setelah mereka agak jauh dari rumah Reagan.


"Geng?"


Reagan mengangguk lalu menunjuk wajah Solar. "Kamu, Mindy, dan Christian. Kalian satu geng, kan? Meksipun kalian terlihat sulit didekati dan cuek dengan sekitar, sikap benci kalian terhadap tindakan perundungan cukup sering dibicarakan." Ujarnya.


"Siapa Jambul?" Solar mengingat-ingat anak yang dimaksud oleh Reagan. Tiba-tiba ia teringat akan sosok anak laki-laki berwajah boros yang tadi bertempur dengannya. "Ah, saudara seperjuanganku itu?"


Reagan mengernyit, "Seperjuangan apanya?" Ia mencibir. "Kamu kira tawuran tadi itu perang? Merasa bangga karena berkelahi?" Solar tidak suka nada suara Reagan. Ia mulai bertanya-tanya kenapa Selena tertarik dengan sosok yang penuh aura negatif seperti Reagan.


"Dia bilang kalau kita harus mempertahankan harkat dan martabat sekolah. Kita harus bersama-sama bersatu untuk memerangi ketidakadilan. Satu-satunya cara untuk mewujudkan itu adalah dengan menghajar musuh sebanyak-banyaknya." Solar coba menjelaskan. Respon Reagan sangat di luar dugaan. Cowok itu malah tertawa setengah mendengus setelah mendengar penjelasannya.


"Sudah berapa lama kamu kenal Jambul?" Tanya Reagan sinis begitu ia selesai tertawa.


"Baru tadi."


"Jambul itu senior kita yang harusnya sudah lulus sejak dua tahun lalu. Dia tidak naik kelas sebelas dan tidak lulus ujian nasional. Kerjaannya hanya memalak, tawuran, dan buat keributan. Dia itu langganan guru BK. Masa tidak tahu?"


Solar menggeleng. "Dia kelihatan baik. Aku suka dia karena punya prinsip yang sama denganku. Menjunjung tinggi keadilan koloni.. eh maksudku, keadilan bangsa.. maksudku keadilan kita semua sebagai makhluk hidup." Solar merutuk dalam hati karena keceplosan.


Kini giliran Reagan yang geleng-geleng kepala. "Terkadang aku merasa kalau Selena yang sekarang bukanlah Selena yang biasanya."


Jika Solar punya jantung, pasti jantungnya sudah mencelos saat itu juga. Ekspresinya berubah. Kedua matanya hampir membelalak karena terkejut. Apakah penyamarannya sudah ketahuan?


"Bukan dalam artian yang buruk. Kurasa ada hal baik tentangmu. Sedikit." Reagan memandang ke segala arah selain kedua mata Solar. Ia kelihatan salah tingkah. Sayangnya Reagan berkulit gelap, jadi semu kemerahan di wajahnya yang memanas hanya kelihatan samar. "Aku berterima kasih karena sudah menyelamatkanku lagi tadi. Dan juga... terima kasih karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Bapak. Aku berhutang budi lagi padamu." Reagan mengatakannya dengan tulus.


Diam-diam Solar menghela napas lega. Reagan masih belum tahu kalau dia alien.


Tunggu dulu!


"Kenapa kamu tidak percaya alien?" Tanya Solar.


Mendapat pertanyaan yang tidak nyambung begitu, Reagan hanya bisa mengernyit. "Seriusan? Mau berdebat tentang alien lagi?" Reagan mendesah bosan.


"Kamu harus buka pikiranmu lebar-lebar! Dunia tidak berputar di sekeliling bumi." Solar masih tak ingin menyerah untuk meyakinkan Reagan bahwa ada kehidupan selain di planet kecil ini. "Planet ini bahkan tidak sebesar yang kalian kira." Gerutunya.


"Apa?"


"Bukan apa-apa." Solar menggeleng.


"Kenapa masalah alien ini penting buatmu? Asal kamu tahu, ada atau tidaknya alien di dunia sama-sama menyeramkannya, tahu!"


"Menyeramkan?"


"Kalau hanya bumi yang memiliki makhluk hidup di dunia yang luas ini, bayangkan betapa sendirinya kita! Jika suatu saat spesies kita terancam musnah, kita bisa minta tolong siapa?" Reagan terdiam sesaat. "Lalu bayangkan jika bukan hanya ada kita di dunia ini! Apa menurutmu semua ras yang ada akan hidup damai berdampingan? Apakah tidak ada kemungkinan kalau bisa saja pecah perang antar ras? Alasannya bisa macam-macam. Alasan terbesar yang terlintas di pikiranku adalah sumber daya alam. Kalau kenyataan itu terjadi, mungkin setiap ras yang ada di dunia ini bisa saling menyerang untuk memperebutkan sumber daya alam." Reagan memandang Solar. "Bagaimana menurutmu? Sama-sama menyeramkan, bukan? Ada kalanya ketidaktahuan itu lebih baik."


Jawaban Reagan seakan menohok. Tanpa manusia ini tahu, hal itulah yang terjadi pada koloni Solar saat ini.


"Sudah sore. Kamu harus pulang." Lanjut Reagan sambil mengutak-atik ponselnya. Solar juga punya satu yang tak lain milik Selena. Sayangnya ia tak bisa menyentuh teknologi manusia karena benda-benda itu biasanya langsung konslet setiap disentuh. Solar tidak ingin mengambil resiko menjadi pusat perhatian saat ia membuat konslet setiap benda elektronik yang ia sentuh. "Aku pesan taxi online. Dimana alamatmu?"


Solar menyebutkan alamat lengkapnya pada Reagan.


Taxi yang dipesan Reagan sudah sampai. Reagan tidak menunggu sampai Solar pergi ataupun sekedar menoleh untuk memastikan ia masuk ke dalam kendaraan. Ia langsung pulang. Solar harusnya merasa kecewa, namun rasa kecewanya ditelan bulat-bulat oleh perasaan senang. Hari itu Solar sangat bahagia karena bisa seharian bersama Reagan. Reagan bahkan mengajaknya berkunjung ke rumah, mengenalkannya pada sosok Bapak yang hangat dan baik dan menyenangkan.


***