
Ketika Solar masuk ke kelas, Mindy sudah lebih dulu datang. Ia meletakkan kepalanya di atas meja, mungkin sedang tidur karena datang kepagian. Rambut Mindy dicepol kembar di atas kepala, mirip seperti tanduk bundar. Saat Solar duduk di kursinya, Mindy membuka mata. Ia langsung menegakkan kepala. Dagunya bergetar sedikit, kedua matanya berkaca-kaca, menandakan kalau Mindy sedang berusaha keras untuk tak menangis. Ia sedang marah pada Solar dan tak ingin dengan mudahnya luluh oleh penjelasan tak masuk akal darinya. Solar tak menghubunginya sama sekali. Mindy sangat cemas, namun sepertinya Solar tidak merasa sedang dicemaskan.
Solar menyentuh lengan Mindy, tapi langsung ditepis olehnya.
"Kamu marah?" Tanya Solar hati-hati.
"Untuk apa?" Mindy meletakan kepalanya di atas meja, kali ini tak menghadap ke arah Solar.
"Karena aku sudah keterlaluan. Seharusnya aku menghubungimu. Maaf, ya?"
Selena yang dikenal Mindy tak pernah sekalipun mengatakan 'terima kasih' atau mengakui kesalahannya dengan mengatakan 'maaf'. Kata-kata barusan membuat Mindy menegakkan kepalanya lagi.
"Sungguh?" Sebulir air mata terancam turun dari sudut matanya. Sekarang Mindy tak butuh penjelasan apapun jika kata 'maaf' keluar dari mulut seorang Selena.
Solar mengangguk. Ia merasa bersalah pada Mindy.
Mindy mulai sesenggukkan. "Kukira.. ka.. kamu sudah tak suka padaku! Kemarin-kemarin kamu masih betah bergaul denganku, lalu hari berikutnya tiba-tiba kamu menjauhiku! Huwaaaaa...." Mindy tak menahan emosinya. Ia merengek hingga memancing perhatian teman-teman sekelasnya yang lain.
Di saat bersamaan, Reagan datang. Ia terpaku saat melihat Solar duduk di kursinya dalam keadaan sehat dan utuh. Diam-diam ia menghela napas lega. Reagan berpura-pura mengacuhkan drama apapun yang sedang terjadi antara Solar dan Mindy. Melihat Solar kembali ke sekolah sudah cukup membuatnya puas.
"Sudah, sudah!" Solar menepuk-nepuk bahu Mindy yang bergerak naik turun karena sesenggukan saat sahabat Selena itu tiba-tiba memeluknya.
"Kamu pergi kemana kemarin?"
"Keluar kota."
"Aku kangen sekali!" Ujar Mindy di sela-sela tangisannya.
Di balik pundak Mindy, Solar tersenyum. "Aku juga."
Sebelum bel masuk berbunyi, Solar berinisiatif untuk menemui wali kelasnya. Dalam perjalanan, ia melewati kelas Christian yang selalu riuh jika sedang tak ada guru. Seseorang bersiul saat dia lewat, diikuti siulan-siulan lain. Hal itu selalu terjadi setiap dia sedang berjalan sendirian. Dilihatnya Christian melambai padanya dari dalam kelas, Solarpun membalas dengan sebuah senyuman. Siulan makin tak terkendali. Christian melempari teman-teman sekelasnya yang kedapatan menggoda Solar dengan apapun yang dapat diraih oleh tangan. Christian rupanya sangat hobi melempar. Ia sempat menyuruh Solar cepat pergi dengan isyarat tangan agar ia tak digoda lagi.
Bertepatan dengan bel masuk, Solar masuk ke ruang guru. Ia menghadang wali kelasnya yang bersiap akan mengajar di kelas lain. Wali kelasnya yang tak lain adalah bu Hana, menghembuskan napas berat saat melihatnya. Ia memberi isyarat pada Solar agar masuk ke ruangannya.
"Pagi ini Ibu berniat untuk menghubungi orangtuamu." Ujar bu Hana memulai.
"Saya senang bu Hana belum melakukannya." Seulas senyum tipis muncul di wajah Solar. Dengan memanfaatkan kondisi ruang guru yang sepi, Solar menanamkan pengaruhnya pada wali kelas itu. Bu Hana menatapnya dengan pandangan kosong dan mulut setengah terbuka. Solar membuat bu Hana mengganti absennya yang ditandai Alpha dengan tanda 'masuk'. Berkat itu, nama Selena tak punya jejak membolos sama sekali sekarang.
***
Sebuah bola melesat ke arah Mindy saat keduanya sedang berjalan menuju kantin. Mereka melewati koridor yang bersebelahan dengan lapangan basket. Tangan kiri Solar reflek menahan bola itu sebelum sempat mengenai wajah Mindy, membuat temannya terkesiap.
Christian belari kecil ke arah mereka berdua. Istirahat pertama baru dimulai beberapa menit lalu, namun kaosnya sudah basah oleh keringat.
"Tangkapan bagus!" Christian mengambil alih bola itu dari tangan Solar sebelum mengecup punggung tangannya. Solar memandangi kulitnya yang baru saja bersentuhan dengan mulut Christian.
"Christian. Sanders. Kamu mau membunuhku, hah?!" Bentak Mindy tepat di mukanya, membuat Christian harus mundur selangkah.
"Kalau aku punya kesempatan, akan kucoba. Tapi aku yakin kamu bakal bangkit lagi." Christian terkekeh, mengundang sebuah pukulan keras ke bahunya. Mindy mengepalkan tangannya, merasa puas habis memberi pelajaran pada cowok itu hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"Kamu apakan rambutmu?" Di tengah ringisannya, Christian menunjuk cepol kembar di atas kepala Mindy. "Kamu kira umurmu lima tahun, hah?" Kini ia memandang rambut Solar. "Apa-apaan?" Dengan gerakan kilat ia menarik pensil yang menahan rambut Solar tetap tergelung di atas kepala. "Kamu kira kamu pendekar kungfu?" Kini rambut Solar tergerai lagi.
"Susah payah kubuat rambutnya rapi, malah diberantakin!" Seru Mindy tak terima.
Melihat kobar kemarahan di kedua mata Mindy, Christian langsung kabur ke tengah lapangan tempat ia sedang berlatih basket bersama timnya. Ia tahu Mindy tak akan mengejarnya sampai ke sana karena akan mengundang banyak perhatian.
"Dia bawa berapa baju ke sekolah?" Solar bertanya-tanya karena menyadari Christian selalu berganti kaos yang berbeda setiap jam istirahat.
"Percaya atau tidak, tasnya cuma berisi baju. Sedangkan otaknya berisi bola basket. Dia tak pernah bawa buku ke sekolah. Entah bagaimana dia menyogok para guru supaya tidak didrop out." Mindy bergidik.
"Mungkin mereka tidak ingin kehilangan satu-satunya idola sekolah." Untuk membuktikan ucapannya, Solar menunjuk kerumunan cewek-cewek angkatan campuran yang berkumpul di sekeliling lapangan dengan dagu. Melihat itu, Mindy mendecakkan lidah.
"Dia akan pamer sebentar lagi. Lihat saja!" Christian membuktikan ucapan Mindy dengan mencetak angka setelah memasukkan bola ke ring dari seberang lapangan. Penonton langsung riuh. Solar sempat melihat Wenda dan teman-temannya berada di barisan paling depan, berteriak paling kencang.
"Apa kubilang?" Gerutu Mindy. Mereka berdua geleng-geleng kepala, sebelum meninggalkan lapangan yang ramai oleh fans Christian yang histeris.
***
Sudah setengah jam sejak Solar sampai di rumah. Alih-alih langsung masuk ke dalam rumah, ia berdiri di halaman, memandangi rumah Selena. Susunan rencana bermunculan di kepalanya. Jika ia ingin menghilang tanpa dicurigai, skenario apa yang paling memungkinkan dalam waktu singkat?
Solar menoleh ketika ia mendengar suara klakson dari belakang. Sebuah mobil mengkilap masuk ke pekarangan dan parkir di garasi. Tak berapa lama, turun pasangan lanjut usia dari dalam mobil itu.
"Sayangku!"
Solar butuh waktu beberapa detik untuk mengidentifikasi mereka berdua.
"Oh! Opa dan Oma." Gumamnya. Ia langsung menghampiri Opa Lubis untuk menerima pelukan dari keduanya. Ia dapat merasakan puncak kepalanya dicium oleh sang Oma.
Di saat bersamaan, Ivanka keluar dari rumah.
"Selamat datang!" Sapanya dengan senyum lebar. "Kok tidak telepon dulu? Tumben."
"Memangnya kami harus ijin dulu untuk mengunjungi cucu kami?" Sindir Opa Lubis. Ekspresinya berubah lembut saat memandang cucu semata wayangnya. "Baru pulang sekolah, ya?"
Solar mengangguk.
"Kamu tidak kerja?" Oma menyerahkan bungkusan oleh-oleh pada menantunya.
"Sedang ambil cuti."
Ivanka menawarkan supir yang membawa mertuanya kemari untuk istirahat di dalam rumah.
Sebenarnya Ivanka sudah lebih dulu dapat kabar dari Edgar kalau hari ini orangtuanya akan datang ke rumah. Edgar sendiri mendapatkan informasi itu dari supir orangtuanya. Ia meminta istrinya untuk bersiap-siap menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya Sahetapi di rumah. Ivanka menghabiskan waktu seharian untuk bersih-bersih dan memasak. Ia juga sudah menyiapkan kamar tamu, kalau-kalau mertuanya ingin menginap. Ia tak sabar untuk memberitahu mereka kalau dirinya dan Edgar tak jadi bercerai. Dengan begitu, kedua orangtua Ivanka dan Edgar tak lagi menganggap anak mereka seperti musuh bersama. Selena-pun akan tetap tinggal bersama mereka layaknya keluarga yang utuh. Sayangnya, ia harus bersabar menunggu Edgar pulang. Ia menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makanan.
"Kamu makin tinggi, ya sekarang?" Opa Lubis tak henti-hentinya memuji Solar. Ia tahu bagaimana kedua kakek dan nenek Selena menyayanginya.
Namun Solar bukanlah Selena. Ia tak dapat bersikap natural seperti Selena seharusnya bersikap di sekeliling keluarga besarnya. Sepanjang sore itu ia hanya menjawab pertanyaan Opa dan Omanya dengan anggukan, serta gelengan sesekali. Solar dapat merasakan kharisma yang dipancarkan Opa dan Oma Selena. Mereka bukan manusia sembarangan. Sikap mereka tak seluwes orang-orang lain yang pernah Solar temui. Ia dapat melihat dari ekspresi tertahan Ivanka kalau Mama Selena sendiri juga merasa agak tertekan dikunjungi seperti ini.
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Oma.
Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, menonton saluran National Geographic yang menayangkan induk Jerapah sedang melahirkan bayinya.
"Baik." Jawab Solar sekenanya.
"Sudah menulis essay untuk masuk kuliah?"
Solar menggeleng. "Masih belum tahu apa yang harus ditulis."
"Bukankah ada temanya? Apa tema tahun ini?"
Untungnya MIT dan segala *****-bengeknya sudah terekam jelas dalam memori Selena. Solar dapat mengingatnya tanpa kesulitan.
"MIT tidak terlalu mewajibkan essay. Mereka lebih mempertimbangan nilai tes dan evaluasi. Jadi mereka tidak membuat tema apapun sampai kami menulis narasi panjang omong kosong tentangnya. Mereka hanya memberikan pertanyaan dan membuat kami menjawab. Essay yang harus Selena tulis adalah tentang departemen atau program apa yang akan diambil serta alasannya. Selena suka semua program yang ditawarkan."
Opanya tertawa mendengar penjelasan panjang lebar itu. "Oh, cucuku! Kamu bisa pilih semua program yang kamu mau! Habiskan hidupmu dengan belajar jika itu yang kamu inginkan."
"Waktumu masih panjang, sayang. Pikirkan baik-baik! Meskipun nilai essaymu tidak terlalu bagus, Oma yakin kamu akan diterima dengan nilai-nilai serta prestasi akademikmu selama ini."
"Kamu bahkan bisa menulis tentang teori lubang hitam yang pernah kamu ceritakan pada Opa waktu itu!"
"Teori itu milik orang lain, Opa. Stephen Hawking namanya. Apa gunanya Selena menulis teori milik orang lain?"
Untuk sesaat, Solar merasa dirinya dan Selena sudah melebur jadi satu. Ia hampir lupa kalau waktunya mungkin tidak akan sepanjang itu. Ia tak akan bisa menggantikan Selena daftar kuliah di MIT, universitas yang didambakan sejak kecil. Bahkan waktunya di sini tak sampai hitungan minggu.
"Kenapa, sayang?" Oma menangkap raut wajah Solar yang berubah sedikit murung.
Solar tak sempat menjawab pertanyaan dari Oma karena kedatangan Edgar.
"Selena, sayang... naiklah ke kamarmu untuk mandi dan ganti baju. Akan Mama panggil jika makan malam sudah siap."
Ah, obrolan orang dewasa. Solar dipaksa menyingkir dulu agar orang-orang dewasa ini dapat mengobrol tanpa mengkhawatirkan perasaannya. Solar menduga kalau orangtua Selena akan memberitahu Opa dan Oma Sahetapi bahwa mereka rujuk kembali. Selama itu kabar baik, Solar tak keberatan untuk menyingkir.
Solar mengangguk, kemudian memungut tasnya sebelum naik ke kamarnya sendiri.
***