
MARINA HIGHBAY BOAT
Kapal Milik Pusat Penelitian Biologi Kelautan di Lepas Pantai Indonesia
Theo merentangkan tangannya ke bawah sejauh mungkin untuk memasukkan sampel air laut ke dalam tabung kecil miliknya. Sudah dua tahun ini ia bergabung dengan Australian Marine Conservation Association (AMCA), sebuah organisasi non-profit berisi para peneliti di bidang kelautan yang memiliki basis di Brisbane, Australia.
Sebulan belakangan ia dikirim kembali ke negaranya untuk meneliti biota laut di kawasan konservasi. Studinya berpusat pada mikroba-mikroba yang mendiami permukaan laut. Terkadang ia juga harus menyelam untuk mendapatkan sampel mikroba yang ditelan oleh ikan-ikan kecil. Gelar Ph.D. dan gaji puluhan ribu dollar sebulan di perusahaan orangtuanya tidak membuat Theo kehilangan rasa ingin tahu atas apa yang terjadi di lautan. Hal itulah yang membuatnya menyetujui ajakan Profesornya untuk bergabung di AMCA tanpa pikir panjang.
Kecilnya mikroba yang sering ia teliti, membuat Theo terbiasa menunduk di atas lensa okuler mikroskopnya, setidaknya pemandangan itulah yang sering dilihat orang jika mereka sedang mencari Theo. Antara Theo sedang berada di atas perahu di tengah laut, atau sedang di laboratoriumnya, meneliti mikroba.
Sebetulnya Theo memiliki tubuh jangkung yang tegap seperti adiknya, Christian. Namun banyaknya waktu yang ia habiskan di laut dan memandangi mikroba lewat miskroskop membuat tubuhnya lebih mirip nelayan kelaparan. Tinggi, kurus, kecoklatan karena sengatan matahari, dan berwajah mengkerut. Christian menganggapnya orang asing karena seringkali saat Theo pulang ke rumah, ia tak mengenali keluarganya sendiri. Hanya Selena yang masih menganggapnya ada dan sering bergaul dengannya ketika ia sedang cuti.
"Radio check, radio check, radio check, Marina Highbay!"
Radio VHF mendesis singkat sebelum suara Adam, -rekan kerjanya di lab-, terdengar. Theo mengabaikannya. Ia tahu jika Adam mengatakan 'Radio Check' berarti ada berita yang akan mengesalkannya jika disampaikan. Apabila Adam memulai dengan 'May Day' maka ada berita yang lebih tidak penting lagi untuk didengar olehnya. Padahal sebetulnya 'Radio Check' digunakan untuk mengetes apakah Radio VHF berfungsi atau tidak, sedangkan 'May Day' digunakan untuk pesan darurat jika sedang dalam bahaya.
Tidak banyak hal mengejutkan terjadi jika bekerja di bidang kelautan seperti Theo. Satu-satunya hal yang dapat membuatnya terkejut dan bereaksi adalah jika ada kapal yang menumpahkan minyak mencemari laut. Maka apapun yang akan Adam katakan lewat VHF tentu bertujuan untuk mengganggu ketenangannya.
"Ini sungguhan, Theo! Kamu mendengarnya?" Adam mencoba mendapatkan perhatian Theo lagi. Keberadaan Adam sendiri sejujurnya sudah cukup mengesalkan bagi Theo.
Dengan sebuah desahan napas, Theo menghentikan kegiatannya di buritan kapal lalu beranjak menuju anjungan, dimana Radio VHF terpasang di atas roda kemudi kapalnya.
"Di sini Marina Highbay, ganti." Ujarnya di depan mic yang digenggam.
"Kembalilah ke pantai! Ada yang harus kamu lihat. Ganti."
"Apa tepatnya yang harus kulihat? Ganti." Mau tidak mau Theo mulai curiga akan rencana jahil Adam yang sering menipunya untuk jauh-jauh kembali ke pantai saat ia sedang di tengah-tengah tugas penelitian.
"Billie terdampar semalam."
Theo tersedak ludahnya sendiri begitu mendengar nama Billie, satu-satunya paus biru yang berhasil didata oleh Adam bulan April lalu di perairan dekat Perth.
Usianya baru dua tahun, dan sekarang ditemukan terdampar?
Apakah masih dalam keadaan hidup?
"Akan kukirimkan kordinatnya padamu. Aku sedang dalam perjalanan ke sana bersama Profesor. Kudengar mereka sudah memasang garis polisi. Ganti." Kata-kata Adam berikutnya membuatnya termenung beberapa detik. Jika ada polisi terlibat maka kecil kemungkinan Billie masih hidup. Theo mulai mengkhawatirkan keadaan rekannya yang pasti sedang terguncang itu. Namun dari nada suaranya, Adam kelihatan cukup tegar menghadapi situasi ini.
"Baiklah, aku segera kesana. Ganti." Sahut Theo kemudian.
Perjalanan menuju kordinat yang dimaksud Adam membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Namun Theo memacu kapalnya secepat mungkin agar dapat sampai kesana dalam waktu lima puluh menit. Begitu mendarat, ia langsung melompat dari kapal dan berlari menuju kerumunan orang yang makin ramai mengelilingi bangkai paus biru sepanjang sepuluh meter dan seberat tiga setengah ton.
Ia melewati garis yang dijaga ketat oleh polisi agar tidak ada penduduk penasaran yang mengganggu kinerja para penyidik memecahkan kasus. Belum lagi beberapa wartawan lokal sedang melakukan siaran langsung tentang ditemukannya mayat tanpa identitas dalam perut paus biru. Theo memperlihatkan ID Card dan menunjuk rekan serta Profesornya yang lebih dulu tiba. Polisi yang berjaga mengangguk mengijinkannya mendekat.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya.
"Anda ini siapa?" Voni, seorang dokter ahli forensik dari Rumah Sakit besar kota, datang kemari bersama timnya menumpang helikopter milik SAR. Ia masih mengenakan sarung tangan karet yang berlumuran darah.
"Ini Theodore. Dia salah satu tim kami yang meneliti paus ini." Profesornya menjawab.
Theo mendekat untuk melihat lebih jelas bangkai Billie. Terdapat gundukan tak wajar berukuran tiga sentimeter di sirip kanannya. Gundukan itu adalah efek samping dari tag yang pernah dipasang oleh Adam dengan cara menembakkan alat dari jarak jauh. Dengan begitu, Adam beserta tim peneliti mamalia laut lainnya dapat mempelajari sifat, pola pergerakan, lingkungan, cara makan, serta bahaya-bahaya yang dihadapi Billie dan kawanannya lewat satelit.
Theo memperhatikan luka-luka di tubuh Billie. Tubuhnya sudah terkoyak-koyak sebelum terdampar. Theo menduga kalau Billie sudah cukup lama mati sebelum ia sampai kemari. Terbukti dari busuknya aroma yang menguar dari bangkai Billie.
"Apa yang terjadi padanya? Mayat siapa ini?" Mata Theo beralih pada mayat setengah membusuk yang mengintip keluar dari kerongkongan Billie. Mayat itu sudah tak dapat dikenali karena dalam kondisi setengah hancur. Tulang belulangnya mencuat dari kulit. Kepalanya hanya berupa gumpalan rambut tebal tanpa wajah. Jika dilihat dari bentuknya, mayat ini berjenis kelamin perempuan.
"Sepertinya Billie tersedak mayat ini saat sedang makan, lalu terbawa arus sampai kemari." Suara Adam bergetar karena marah. Entah marah pada para dokter forensik yang datang dan mengotopsi tubuh Billie seenaknya, atau pada mayat orang asing yang membuat Billie terbunuh. "Perutnya meledak karena ada orang bodoh yang mendengar suara gemuruh dari tubuh Billie lalu menusuknya dengan kayu." Seakan membuktikan hipotesanya, Adam melemparkan sebongkah kayu berujung tajam yang sedari tadi ia bawa. Kini sebulir air mata jatuh di pipi Adam, namun dengan cepat ia menghapusnya. Theo benar, Adam sangat terguncang.
"Sampel dari paus ini akan kami bawa untuk kami analisis. Sedangkan mayatnya akan kami otopsi di Rumah Sakit. Jika dilihat-lihat, usia dari pemilik tubuh ini tak mungkin lebih dari delapan belas atau sembilan belas tahun." Ujar Voni. "Kami akan mencari tahu sebab kematiannya dan juga identitasnya."
"Tidak ada yang hal yang kalian temukan bersama tubuhnya?" Entah kenapa Theo menanyakan hal yang sama sekali bukan urusannya. Yang harusnya ia pedulikan adalah bagaimana Billie mati dan kenapa tubuhnya sampai terdampar ke pantai ini.
"Sebuah anting kecil masih menempel di telinga kirinya." Voni membawakannya sebuah plastik yang berisi anting bertakhtakan berlian yang diameternya hanya beberapa milimeter. "Telinga satunya sudah tak ada. Mungkin dimakan hewan laut. Tubuhnya sudah tidak utuh saat ditemukan dalam perut paus ini." Theo merasakan sesuatu saat melihat anting itu. Ia merasa familiar dan pernah melihatnya entah dimana. Perutnya mulas membayangkan kemungkinan salah satu orang yang dikenalnya mati dalam perut paus.
"Apa boleh diambil gambarnya?" Tanya Theo.
Voni celingukkan mencari seseorang. Ia melambaikan tangan pada seorang pria berkulit gelap yang sedari tadi mendampingi tim forensik. Pria berkulit gelap itu menghampiri mereka. "Ini detektif Rudi dari Satuan Reserse Kriminal." Pria berkulit gelap dan berwajah dingin itu menjabat tangan Theo yang lebih dulu terulur.
"Saya Theodore. Apakah boleh saya mengambil gambar bukti ini?" Telunjuk Theo terarah pada kantong plastik berisi anting berlian, mengulang pertanyaan yang sebelumnya sudah ia katakan. Detektif Rudi hanya mengangguk sekali tanpa mengatakan apa-apa, seakan merasa waktunya sudah cukup banyak tersita hanya dengan bertemu Theo.
"Theo!" Theo menoleh saat namanya dipanggil oleh Profesor. Buru-buru ia mengambil gambar anting itu dari kamera ponselnya lalu berpamitan pada Voni dan detektif Rudi.
"Kita juga harus mengambil sampel Billie. Bagaimanapun penemuan ini harus dilaporkan ke pusat." Ujar Profesor begitu Theo kembali fokus pada bidangnya. Samar-samar ia mendengar Profesornya bergumam, "Sangat disayangkan." meskipun lelaki tua itu tetap menampakkan ekspresi datar. Melihat Adam yang masih sedih dan terguncang sampai tubuhnya gemetar, Theo mengambil alih tugasnya untuk mengambil sampel dari bangkai Billie untuk mengisi laporan mereka. Sambil berurai air mata yang tak mampu dibendung, Adam juga mulai bekerja untuk mengambil foto-foto dokumentasi dari bangkai Billie.
Kerumunan penduduk makin ramai meski hari sudah semakin sore. Terdamparnya hewan laut sebesar ini merupakan kali pertama bagi mereka. Apalagi daerah ini adalah daerah yang lumayan terisolasi. Perjalanan menuju kemari hanya dapat dilalui dengan mobil Jeep karena terlalu terjal. Hal-hal seperti ini dapat menjadi berita yang menghebohkan dalam waktu singkat. Terbukti dari pemandangan para wartawan yang saling berebut untuk mendapat keterangan dari Voni maupun detektif Rudi.
Theo mendengar beberapa warga yang berkumpul sedang membicarakan tentang mitos-mitos di sekitar pantai dan menghubungkan penemuan ini dengan murkanya para makhluk gaib penjaga laut selatan. Awalnya Theo mengabaikan celotehan warga lokal, namun lama-kelamaan ia tidak tahan mendengar teori mereka yang semakin ngawur. Jika tidak ada hubungannya dengan sains, mungkin Theo akan diam saja. Tapi karena warga lokal sudah terlanjur membuat asumsi kalau Billie adalah jelmaan jin yang meminta tumbal manusia untuk keselamatan bangsa, Theo akhirnya meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri mereka.
"Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, paus yang terdampar ini namanya Billie. Billie adalah seekor paus biru jantan yang awalnya sangat sehat. Kami mengawasinya selama beberapa bulan belakangan lewat satelit." Theo menunjuk ke atas. "Paus sejenis Billie tidak mencelakai manusia. Mereka hanya makan hewan laut kecil, seperti udang krill, dalam jumlah yang sangat banyak. Butuh sekitar empat ton udang krill setiap hari agar mereka kuat berenang mengelilingi samudera. Sedangkan mayat itu-" Kini ia menunjuk mayat manusia di perut Billie. "-meskipun belum dapat dipastikan, tapi kami berkeyakinan bahwa Billie tidak sengaja menelan mayat itu saat sedang berburu udang krill dan tersedak sampai mati. Hal itu bisa saja terjadi."
Dari ekspresinya, Theo hampir yakin kalau warga lokal ini tidak langsung percaya apa yang baru saja dikatakannya. Legenda dan mitos masih lebih mudah dicerna dibandingkan sains.
"Adik ini siapa?" Tanya seorang wanita dengan rambut beruban padanya.
"Nama saya Theodore. Saya salah satu anggota tim peneliti kelautan yang membangun laboratorium kecil tidak jauh dari sini. Fokus kami adalah menjaga ekosistem laut dengan terus mengawasi apa yang terjadi di lautan setiap harinya." Jawab Theo dengan senyum seadanya. Mendengar penjelasannya, para warga yang tadinya skeptis mulai manggut-manggut mengerti. Theo berharap dengan adanya tim peneliti di daerah ini dapat mengedukasi masyarakat agar turut serta menjaga laut. Keinginan itu merupakan cita-cita Theo sejak kecil yang dianggap kelewat mulia oleh Christian.
Theo merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ia menoleh dan mendapati Voni sudah melepas sarung tangan karetnya.
"Kami sudah selesai di sini. Mayat itu akan kami bawa serta. Para petugas akan tetap di sini di bawah pimpinan detektif Rudi. Jika ada hal lain yang kalian temukan selama mengambil sampel paus itu, segera beritahu detektif Rudi, ya?" Voni menjabat tangannya untuk berpamitan. Tidak lupa juga mereka saling bertukar kartu nama masing-masing. Tak lama kemudian, tim forensik sudah pergi meninggalkan lokasi bersama mayat tanpa identitas itu dengan helikopter berwarna oranye milik SAR.
***