SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Kecurigaan Theo



RUMAH SAKIT UNIVERSITAS DWISAKTI


Voni memandangi ketiga tamunya secara bergantian. Setelah beberapa detik, sebuah tawa menyembur dari mulutnya. Dia nampak agak mengkhawatirkan karena lingkaran hitam tebal di bawah matanya, menandakan bahwa dokter forensik itu tak mendapat cukup tidur belakangan.


Mereka sedang berada di ruangan kerja Voni. Ruangannya tak terlalu besar, namun mereka berempat sudah mendapat tempat duduk ternyaman.


"Sudah kuduga dia tak akan percaya kalau kamu langsung to-the-point." Gerutu Adam sambil menyikut rusuk Theo yang duduk di sebelahnya.


"Tunjukkan saja padanya!" Pinta Theo.


Adam menghela napas berat, mengabaikan tawa Voni yang mulai mereda. Dokter forensik itu tertawa kencang sekali sampai mengeluarkan air mata dari kedua sudut matanya. Ia bersandar ke kursinya begitu tawanya berhenti, seakan sedang menunggu kekonyolan apa lagi yang akan ditunjukkan ketiga peneliti kelautan di ruang kerjanya itu. Adam membuka tutup kotak yang ia taruh di meja, lalu mendorongnya agar Voni dapat melihatnya lebih dekat. Melihat sesuatu bersinar dari dalam kotak, Voni menjulurkan tubuhnya ke depan untuk mencari tahu.


"Apa.. ini?" Kedua mata Voni membulat saat melihat makhluk aneh yang bersinar di dalam kotak.


"Makhluk asing yang coba kami beritahukan padamu." Jawab Theo.


"Indah sekali." Gumam Voni dengan wajah takjub. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap ketiga tamunya. "Aku pernah dengar tentang makhluk yang tinggal di laut dalam dapat menghasilkan cahaya dari tubuh mereka sendiri. Ini bukan salah satunya?"


"Kami ini ahli kelautan. Jika ini hewan laut yang kami kenali, kenapa kami jauh-jauh kemari untuk menunjukkannya padamu?" Adam mulai kelihatan tak sabar. Padahal mereka belum satu jam berada di sana.


Voni menyentuh makhluk berpendar itu dengan ujung pulpen, mengharapkan respon.


"Dia sudah mati." Ujar Theo. "Sebuah mutiara berpendar kutemukan saat aku membelah tubuhnya. Kami berpikir kalau itu adalah semacam inti sel." Lanjut Theo lalu memandang Adam. Adam memandangnya balik. Theo memberinya kode lewat gerakan mata untuk mengeluarkan toples kecil yang berisi inti dari makhluk itu.


"Apa?" Bisik Adam.


"Mana toplesnya?" Tanya Theo.


"Bukan kamu yang bawa?" Adam malah bertanya balik.


"Aku meninggalkannya di rumah sebelum aku pergi tadi. Bukankah aku menitipkannya padamu agar dibawa saat kita bertemu di sini?" Theo coba membuat Adam mengingat-ngingat, namun Adam malah mengernyit. Ia menggeleng.


"Aku tidak melihatnya dimanapun saat masih di rumah." Bantah Adam. "Profesor, anda membawa toples kecil itu?" Semua orang menatap Profesor yang sedang duduk di sudut sofa. Kepalanya bergerak naik turun saat diajak bicara. Kedua matanya tak fokus.


"Tidak." Jawab Profesor setelah menggumam tak jelas.


"Begini saja, makhluk ini akan kubawa untuk kami teliti. Ada laboratorium khusus di rumah sakit kami. Bukan berarti aku mempercayai kalau ini benar-benar alien seperti yang kalian katakan. Aku hanya menawarkan bantuan untuk penelitian lebih jauh." Kata Voni yang disambut sebuah dengusan dari Adam. "Serius, deh! Apa yang terjadi pada Profesor kalian?" Lanjutnya.


Profesor sedang menggeliat di sofa dengan mulut menganga.


Theo menatap Adam, meminta penjelasan juga.


"Profesor mengambil sebotol anggur dari rumahmu. Dia menghabiskannya. Aku hanya minum sedikit karena harus menyetir." Adam meringis.


"Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk mendapatkan hasil?" Tanya Theo pada Voni.


"Aku tak bisa memastikan. Akan kukabari kalian secepatnya."


"Jika apa yang kami katakan benar, apa yang mau kamu lakukan?"


"Aku juga tidak tahu. Mungkin teman-teman dari laboratorium akan melaporkannya ke Profesor mereka. Lalu para ahli akan datang untuk memverifikasi. Kemudian akan ada konferensi pers."


"Jangan lakukan konferensi pers!"


"Bukan aku yang membuat keputusan."


"Jika kalian membuat konferensi pers, maka akan timbul kepanikan massa. Pemerintah tidak bisa bekerja dengan maksimal jika terus mendapat tekanan dari masyarakat."


Lagi-lagi Adam mendengus, "Sejak kapan kamu jadi ahli hubungan masyarakat begini?" Tanyanya tak percaya.


"Lalu apa saran kalian?" Tanya Voni mulai gusar. Bagaimanapun, makhluk yang berada dalam kotak itu sudah mengusiknya. Ia ingin percaya bahwa yang dikatakan Theo dan temannya ini hanya asumsi belaka. Namun logikanya mengatakan hal sebaliknya. Mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi di bidang kelautan. Voni mulai takut jika yang mereka katakan benar.


"Bawa langsung ke Kementerian Pertahanan Nasional! Negara dalam bahaya jika alien-alien ini ternyata punya agenda khusus."


"Ya ampun, Theo! Coba dengar dirimu sendiri! Kamu mengatakan hal absurd!" Seru Voni. "Kita bahkan belum memastikan kalau makhluk ini adalah alien."


"Lebih baik kita bawa saja ke Australia! Siapa tahu NASA akan datang untuk menelitinya. Begitu lebih cepat daripada mengharapkan pemerintah Indonesia bertindak. Bumi keburu dijajah!" Adam coba meyakinkan Theo.


"Tolong jangan menakutiku!" Kini Voni benar-benar gusar. Ia menutup kotak itu dengan kasar, lalu mengambil gagang telepon untuk menghubungi seseorang. "Dokter Jerome ada?" Ia terdiam sebentar sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh. "Tidak apa-apa. Kuhubungi saja ponselnya. Terima kasih." Ia menutup telepon lalu menghela napas berat. "Aku akan menghubungi semua orang malam ini. Kuharap besok pagi kami sudah bisa mulai meneliti. Dokter Jerome adalah kepala bagian kami. Aku harus meyakinkan dia dulu agar semua berjalan dengan lancar. Akan kuhubungi kalian dalam waktu sehari-dua hari, apa cukup?"


Theo dan Adam kompak mengangguk.


"Inti dari makhluk ini yang tadi kamu bicarakan..." Voni menunjuk kotak. "Biasakah kalian membawakannya juga?"


"Kami akan mencarinya dulu." Tiba-tiba firasat Theo buruk. Dia khawatir mutiara itu sudah hilang.


"Ada lagi yang ingin kalian sampaikan padaku?" Karena kegusarannya, Voni ingin segera menyingkirkan kotak itu ke laboratorium. Ia merasakan ketakutan konyol yang membuatnya berpikir kalau semakin lama makhluk itu berada dalam ruangannya, maka semakin besar kemungkinan makhluk itu akan bangkit lagi. Tiba-tiba dia bergidik.


"Bagaimana perkembangan kasus jenazah dalam perut Billie?" Tanya Theo tiba-tiba.


"Bagaimana dengan identitasnya? Sudah ditemukan?"


Voni menggeleng dengan wajah sayu, "Detektif Rudi benar-benar kesulitan kali ini. Karena minimnya data, mereka tidak bisa mengetahui siapa pemilik DNA jenazah itu. Catatan gigi, usia, dan sidik jarinya tidak sesuai dengan satupun data orang hilang yang diterima kepolisian."


"Lalu barang buktinya?"


"Seperti yang kalian tahu, jenazah itu tidak mengenakan sehelai benangpun saat ditemukan. Hanya sebuah anting berlian kecil. Detektif Rudi sedang mencari tahu tentang anting itu. Kami tidak bisa sembarangan menunjukkan foto jenazah dan barang bukti ke media. Hal itu dapat menimbulkan kegelisahan karena kondisi jenazah sudah tak utuh lagi. Dan.... jika dalam beberapa hari ke depan kami masih belum menemukan titik terang, jenazah itu harus secepatnya kami kuburkan atau kremasi, meskipun kasusnya masih berjalan."


"Apakah selalu orang hilang yang dijadikan patokan pencarian?"


Voni mengangguk, "Rata-rata penemuan jenazah tanpa identitas selalu ada kaitannya dengan laporan orang hilang yang polisi terima."


"Hey, kenapa tertarik dengan mayat itu? Tiba-tiba begini?" Bisik Adam. Ia merasa tak nyaman karena menyinggung-nyinggung mayat dan Billie.


"Benar. Kenapa kamu tertarik padanya? Apa mengingatkanmu pada seseorang?" Sahut Voni.


Theo buru-buru menggeleng. "Semua ini masih tentang Billie. Aku merasa terganggu karenanya."


Voni mengangguk memaklumi. Sedangkan suasana hati Adam kian memburuk. Theo yang menyadari hal tersebut memutuskan untuk berpamitan.


"Tolong kabari kami jika hasilnya sudah keluar." Ujar Theo akhirnya.


Adam setengah memapah dan setengah menyeret Profesor yang sudah ketiduran sambil mengigau. Theo membukakan pintu untuk mereka, namun tidak langsung keluar.


"Ini akan terdengar sangat mencurigakan bagimu, aku juga tidak punya alasan yang masuk akal untuk melakukannya. Namun aku perlu bantuanmu."


"Apa itu?" Voni tidak benar-benar penasaran. Dia sudah sangat kelelahan dan ingin tidur. Selain itu ada jasad alien yang harus ia pindahkan dari ruang kerjanya malam ini juga.


"Catatan gigi mayat perempuan itu. Apakah aku boleh minta salinan catatan giginya?"


Voni mengerutkan dahi. "Untuk apa?"


"Aku ingin menunjukkannya pada seseorang jika itu dapat membantu mengidentifikasinya."


"Hanya keluarga atau penyidik yang boleh mendapatkannya."


"Jadi maksudmu aku tidak bisa?"


Voni menghembuskan napas lelah. "Aku tidak tahu apa kaitanmu dengan jenazah yang ditemukan itu. Tapi ketertarikanmu padanya mulai membuatku bertanya-tanya."


"Sudah kubilang permintaanku agak tidak masuk akal."


Voni nampak berpikir sejenak, ia tidak benar-benar selesai memutuskan saat kalimat berikutnya meluncur keluar dari mulut. "Akan kukirimkan semuanya padamu. Termasuk foto-fotonya." Tiba-tiba ia merasa mungkin dirinya akan mendapat kesulitan jika dengan mudahnya memberikan informasi medis pada ahli kelautan ini.


***


Theo melangkah keluar dari Legends & Co. Ia menghela napas dalam-dalam lalu berjongkok di depan pintu gedung yang sudah tutup. Kedua tangannya terangkat ke atas kepala untuk mengacak-acak rambut. Dirinya baru saja selesai menemui Martin. Kini ia mendapatkan konfirmasi mengenai anting berlian yang terus mengganggu pikirannya sejak ia melihatnya di telinga Selena tadi siang. Namun kenyataan yang diberitahukan Martin makin membuatnya kepikiran.


'Ini anting buatanku. Tunggu sebentar!' Martin, pria kemayu berkepala plontos menyeberangi ruang kerjanya yang berantakan untuk mengambil sebuah kertas yang penuh coretan desain di lemarinya setelah Theo menunjukkan foto. 'Anting berlian dua karat dan emas putih delapan belas karat. Pesanan dr. Ivanka sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Aku sudah lama membuat desain ini, namun tidak menemukan pembeli yang cocok selain dr. Ivanka. Harganya sekitar delapan ribu dollar saat itu. Potongannya sangat rapi. Anting itu adalah karya terbaikku selama berkarir di industri ini.' Ujar Martin dengan tatapan menerawang saat memandangi desain karyanya.


'Tapi untukmu, sayang... aku punya beberapa desain lain yang mungkin cocok. Mau lihat-lihat dulu sebelum memilih?' Lanjutnya sembari menggulung kertas desain yang dipegangnya.


'Apakah anting itu satu-satunya?'


'Tentu saja! Aku agak tersinggung kamu menanyakan itu, sayang.' Kedua sudut bibir Martin menekuk ke bawah. 'Semua karyaku orisinil! Apalagi untuk pelanggan seperti dr. Ivanka. Aku hanya buat satu dan satu-satunya. Dr. Ivanka tak akan senang jika tahu aku membuat desain perhiasan yang sama untuk orang lain.' Martin membetulkan syal merah yang melilit lehernya.


Theo ingin sekali mendapatkan kenyataan yang berbeda, sehingga ia tak perlu menggunakan catatan gigi yang dikirimkan oleh Voni. Ia ingin kecurigaannya selama ini salah. Namun informasi dari Martin malah semakin membuat kepalanya berputar. Tidak mungkin Selena punya sangkut paut dengan mayat perempuan itu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan dalam kepala Theo. Pertanyaan satu berujung pada pertanyaan berikutnya. Ia makin tak tahan. Ia harus menemukan setiap jawabannya sampai ia tenang kembali. Bagaimanapun, masih ada masalah alien yang harus diselesaikan selain masalah mayat tanpa identitas dalam perut Billie.


Buru-buru Theo mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Nomor detektif Rudi tersimpan di sana. Ia langsung menekan tombol panggil sebelum berubah pikiran. Teleponnya diangkat secepat ia menekan tombol panggil.


"Halo?"


"Selamat malam, detektif. Ini Theodore. Kita bertemu di pantai saat penemuan bangkai paus terdampar yang berisi jenazah manusia."


"Theodore ahli kelautan?" Terdengar keraguan dalam suara detektif Rudi. "Ada apa malam-malam begini?"


"Ada yang perlu saya sampaikan. Sebentar lagi saya akan mengirim alamat tempat detektif bisa mencari informasi baru mengenai barang bukti yang ditemukan bersama mayat itu."


Hening sebentar di seberang.


"Baiklah."


***