SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Mereka Datang



GEDUNG AXL ARENA


Christian mencari-cari keberadaan Selena di antara para supporter yang datang menyemangati tim mereka. Cewek itu menghilang lagi. Semalam rumahnya kosong. Ponsel Selena juga mati. Semalaman ia gelisah. Christian takut Selena menghilang selama berhari-hari seperti sebelumnya.


"Belum melihatnya?" Mindy baru saja tiba. Lewat kartu pass, ia bisa menonton dari pinggir lapangan. Christian menggeleng.


"Jangan cemas, dia pasti muncul!" Mindy menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri tak yakin dengan apa yang dia katakan. "Fokuslah bermain! Kalau Selena datang, aku akan menariknya ke sini supaya kamu bisa lihat sepuasnya!" Temannya tersenyum, meski agak dipaksakan.


"Jujur saja, aku merasa gelisah." Ujarnya Christian.


"Bukan hanya kamu!" Mindy memeluk Christian. Ia menepuk-nepuk punggungnya sebagai bentuk dukungan dan semangat. "Apapun yang terjadi kalian harus menang! Kamu harus jadi MVP! Kulihat ada empat sponsor besar yang datang menonton hari ini." Christian mengangguk dari balik punggungnya.


"Pastikan kamu menyeret Selena kemari kalau dia datang!" Ujar Christian terakhir kali sebelum bergabung bersama timnya.


Pelatih mereka memberi isyarat untuk segera berkumpul. "Tetap jaga tempo! Jangan terlalu agresif di awal! Christian, Reagan, ini peringatan buat kalian!" Christian memandang Reagan yang nampak tenang. Tak terlihat kegugupan sedikitpun dari ekspresinya. "Fokus kita adalah final! Tunjukkan siapa kalian, mengerti?"


"Ya, coach." Tim Garuda Sakti menjawab kompak penuh semangat.


Suara peluit panjang menunjukkan dimulainya pertandingan. Semua orang berada di posisinya masing-masing. Pihak lawan sudah lebih dulu masuk lapangan setelah nama mereka diumumkan satu persatu.


Christian sempat melihat ke pinggir lapangan. Mindy masih sendirian. Tak ada tanda-tanda Selena dimanapun. Ia menggeleng, meyakinkan dirinya untuk berkonsentrasi pada pertandingan.


Bola pertama dikuasai oleh timnya saat Felix mengambil bola dari lawan. Ia mengatur ritme permainan dan melakukan passing pada Reagan yang memiliki posisi sebagai guard. Bola digiring ke area lawan sebelum ia melemparkannya pada Christian. Mendapat kesempatan, Christian mengelabui pemain lawan dan langsung melakukan three-point. Penonton bersorak saat Garuda Sakti mencetak angka di babak pertama.


Menit berikutnya, tim lawan berhasil merebut bola. Mereka bergerak agresif menembus pertahanan Kaleb yang bertugas sebagai power forward di tim. Untungnya Leon, sang center berhasil mematahkan serangan dan membuat bola dikuasai kembali oleh Reagan. Ia bergerak lebih lincah dari biasanya untuk membawa bola menuju ring lawan. Reagan punya kesempatan untuk mencetak poin, namun malah melemparkannya ke belakang, dimana Christian sedang dihadang oleh lawan. Keputusan itu membuat timnya harus bekerja dua kali untuk melakukan dribble dan passing, mempertahankan bola. Reagan melindungi Christian agar dirinya bisa menerobos pertahanan lawan untuk melakukan three-point lagi. Usahanya berhasil. Wasit mengonfirmasi angka mereka.


Christian memandang Reagan. Tidak biasanya ritme permainan Reagan seperti ini. Waktu latihan, Reagan dan Christian selalu agresif untuk menguasai bola dan mencetak angka. Kali ini Reagan lebih banyak mengalah dan melakukan passing bola padanya. Christian tak punya waktu untuk memikirkan itu karena waktu pertandingan terus berjalan.


Babak pertama berakhir cepat dengan kedudukan 18:26 dan tanpa pergantian pemain dari kedua tim. Poin tertinggi milik Garuda Sakti. Mereka punya waktu istirahat sepuluh menit untuk mengatur ulang strategi.


"Reagan!" Pelatih menghampiri mereka. "Aku tidak bilang permainanmu kacau, tapi kamu punya banyak kesempatan untuk mencetak angka. Kenapa malah mengulur waktu??" Tuntut Pelatih.


Reagan meneguk air banyak-banyak. Tubuhnya tidak berkeringat setetespun, padahal yang lain sudah ngos-ngosan dan mandi keringat. Ia mengedikkan bahu sebagai jawaban sembari memandangi Christian yang juga sedang melihatnya. Christian menyipitkan kedua mata curiga. Sebelah tangannya sibuk mengelap wajah dan leher dengan handuk.


"Kamu membuat Christian jadi bulan-bulanan mereka!" Ujar Pelatih setengah membentak. Kini Reagan menunduk, seakan sedang merenungi kesalahannya. Pelatih menghela napas. "Permainan kalian sudah bagus. Sayangnya kita harus ubah strategi. Mereka terlalu agresif." Pelatih mengganti Leon yang kelelahan karena bekerja keras menjadi tembok pertahanan. Kaleb juga minta diganti agar dia bisa beristirahat. Lawan kali ini cukup berat karena keagresifan mereka.


Begitu istirahat selesai, semua tim kembali ke lapangan dengan formasi baru. Babak kedua berjalan lebih alot dari sebelumnya. Masing-masing tim belum ada yang mencetak angka sampai ronde ketiga berakhir. Sesuai dugaan Pelatih, Christian menjadi bulan-bulanan tim lawan. Dia selalu dihadang, tak mendapat kesempatan untuk menerima bola. Di lain pihak, Reagan yang hari ini kelihatan sangat bugar, selalu berhasil mengelabui lawan dan merebut bola. Namun tak pernah sekalipun ia mencetak angka. Ia selalu melakukan passing saat sudah berada di dekat ring.


Saat ronde keempat dimulai, Kaleb kembali ke lapangan. Felix diganti oleh pemain lain. Sedangkan Christian bersikukuh untuk tetap lanjut bermain karena tidak mau kalah. Reagan sendiri masih diomeli oleh Pelatih karena lagi-lagi tak mencetak angka. Ia diancam untuk dikeluarkan jika masih terus mengulur-ulur waktu.


Sepanjang permainan, Christian terus memperhatikan gerak-gerik Reagan yang nampak aneh. Kemampuannya masih bagus, tapi kenapa dia tak mau mencetak poin? Apakah dia sengaja?


Di menit ke delapan, Reagan tiba-tiba berhenti, padahal bola ada di tangannya. Selama beberapa detik ia tak bergerak. Pandangannya kosong. Bola terlepas dari tangannya. Di saat yang sama, lampu arena padam. Listrik mati secara tiba-tiba, membuat semua orang kebingungan. Untungnya masih ada cahaya yang masuk dari atas gedung. Pertandingan otomatis berhenti sementara.


Terdengar dengung dari luar. Suaranya cukup mengganggu gendang telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti merasakan bagian dalam telinga mereka bergetar. Semua orang berbondong-bondong keluar dari arena untuk melihat apa yang terjadi.


Langit berubah gelap. Awan berkumpul di atas mereka. Petir dan guntur bersahut-sahutan seakan membelah langit. Semua orang ketakutan. Mereka kembali masuk ke dalam arena karena mengira akan ada badai besar. Beberapa orang, termasuk Christian dan Mindy tetap tinggal karena penasaran. Mendadak awan terbelah, menampakkan sesuatu di baliknya.


"Apa itu UFO?" Tanya Mindy karena tak mendapat ide lain.


Sebuah kapal besar berbentuk seperti payung raksasa dan bersinar keperakan muncul dari balik awan gelap. Bentuknya asing dan cukup membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri. Tidak ada pesawat buatan manusia yang berbentuk seperti itu. Seruan-seruan berisi 'UFO' dan 'alien' terdengar bersahut-sahutan.


"Aku harus telepon kakekku!" Mindy mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan tangan gemetar. "Kok mati?!" Ia panik karena ponselnya tak mau menyala. Christian mendengar ribut-ribut di sekitar mereka.


"Ponsel semua orang juga mati. Kapal itu membuat listrik padam dan menganggu alat elektronik." Ujar Christian. "Ayo masuk! Kita berlindung di dalam sampai bantuan datang." Christian menarik lengan Mindy agar masuk ke dalam arena.


Bersamaan dengan itu, terdengar sebuah pengumuman agar semua orang masuk kembali ke dalam arena untuk berlindung. Semua orang jadi panik. Situasi mulai tak terkendali.


Christian membawa Mindy untuk berkumpul dengan timnya.


"Semua ada di sini? Christian, dimana Christian?" Christian mendengar Pelatihnya mencari-mencari. Ia langsung mendekat bersama Mindy. "Syukurlah! Kalian harus tetap berkumpul. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi. Dimana Reagan? Aku tidak melihatnya."


Semua anggota tim menoleh kesana kemari, mencari keberadaan Reagan. Beberapa memanggil namanya. Dia tidak ditemukan.


"Astaga, dimana anak itu? Cepat cari dia! Felix, Leon, Christian, tolong cari dia, ya? Aku akan mencari para official untuk meminta penjelasan."


Ketiganya keluar dari barisan untuk berpencar. Christian meminta Mindy agar tetap bersama tim basket apapun yang terjadi. Terakhir kali ia melihat Reagan di lapangan dengan pandangan kosong. Ia agak khawatir kalau-kalau Reagan pingsan di suatu tempat dan terinjak-injak. Ia harus terbiasa dengan cahaya minim dari langit-langit arena. Kedua matanya berkeliaran mencari tanda-tanda keberadaan teman satu timnya itu. Pencarian itu membawanya kembali ke pintu utama gedung. Ia baru akan putar balik saat melihat punggung Reagan di luar. Christian langsung bergegas keluar dari gedung untuk menyusulnya.


Angin berhembus makin kencang. Objek besar tak dikenal yang berada di langit bergerak kian dekat dengan daratan. Sebelum Christian sadar, badai sudah bergulung-gulung di dekatnya.


"Reagan!! Hey!!" Seru Christian. Reagan tak bergeming. Ia masih berdiri tak bergerak menatap langit, ke arah objek asing raksasa itu. Christian mulai panik karena badai semakin kencang. Ia berusaha untuk mendekati Reagan.


"Reagan, sadarlah!!" Teriakan Christian akhirnya didengar oleh Reagan. Teman satu timnya itu menoleh. Ekspresinya sulit diartikan. Kedua matanya sayu, nampak sedih ketika melihat Christian. "Apa yang kamu lakukan di sana?! Ayo cepat masuk! Pegang tanganku!" Christian mengulurkan satu tangannya sambil menahan hembusan angin yang sewaktu-waktu bisa melemparnya. Reagan masih bergeming meskipun kini tubuhnya sudah berbalik untuk menghadap Christian. Angin kencang tak mempengaruhi Reagan. Kedua kakinya seakan sudah dipaku di atas tanah. "Ayolah!" Christian masih tak menyerah.


"Selena sudah meninggal." Reagan buka mulut.


"Apa?" Christian tak mendengarnya dengan jelas.


"Dia sudah tiada. Maaf karena baru bisa memberitahumu sekarang."


"Dasar brengsek, ngomong apa sih dia?" Christian melindungi matanya dari debu dan pasir.


"Kembalilah ke dalam! Aku harus pulang." Lanjut Reagan.


"Pulang kemana?! Ayolah, bisa-bisa kita diseret angin kalau begini terus!" Christian coba mengulurkan satu tangannya lagi untuk Reagan.


Tanpa diduga, tubuh Christian terlempar kembali ke depan gedung. Sebuah kekuatan tak kasat mata menahannya agar punggung Christian tak membentur tembok. Ia syok berat. Jantungnya serasa baru saja ditarik keluar dari rongga dada. Angin masih mengamuk di luar. Reagan lenyap. Christian mengerjapkan mata dan melihat sekali lagi. Dia sudah tak ada di tempat Christian melihatnya terakhir kali.


Pintu utama gedung terbuka lebar oleh hembusan angin kencang. Lagi-lagi tubuh Christian didorong masuk ke dalam oleh kekuatan tak terlihat. Pintu langsung dibanting menutup begitu ia sudah di dalam. Sekarang dia aman dari amukan badai.


***