
Salah satu hal yang paling dinikmati Reagan sepulang latihan adalah mengayuh sepedanya dengan santai ketika senja seperti ini saat ini. Kedua telinganya dipasangi earset yang terhubung ke ponsel. Lagu-lagu kesukaannya berbeda dengan Bapak. Jika Bapak suka tembang Jawa, maka Reagan punya playlist lagu-lagu indie yang dimainkan oleh Dustin Tebbutt atau All Faces. Baginya, genre musik jenis itu adalah yang paling ramah di telinga. Bahkan cenderung menenangkan untuk menemaninya belajar. Reagan baru akan memulai momen santainya ketika Solar tiba-tiba berdiri menghadang perjalanannya menuju rumah. Untungnya kedua tangan Reagan bisa dengan sigap menarik rem.
Solar nampak manis mengenakan celana pendek dan kaos putih longgar. Rambutnya digelung ke atas dengan gaya cepol asal-asalan. Tanpa sadar, jantung Reagan sudah berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Untuk menghindarinya, Reagan menarik stang sepeda ke kiri. Namun lebih dulu ditahan oleh Solar.
"Ajari aku naik sepeda!" Ujarnya,
Tentu saja Reagan punya pilihan lain. Ia bisa saja mengabaikan Solar lalu segera pulang. Tapi ia tak bisa. Ia malah membiarkan Solar naik sepedanya, sedangkan ia sendiri memegangi bagian belakang. Menjaganya agar tak jatuh ke aspal. Mereka tidak saling bicara selama beberapa waktu. Solar sibuk berkonsentrasi agar cepat mahir bersepeda. Reagan juga sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala.
Bagaimana kabarnya?
Apa yang dilakukannya sampai bolos berhari-hari?
Kenapa dia bertemu denganku sekarang?
"Kenapa diam saja?" Solar akhirnya buka suara. Dalam hitungan menit, ia sudah mahir mengendalikan sepeda. Reagan sudah tak memegangi bagian belakangnya lagi. Ia mulai curiga kalau ini hanya akal-akalan Solar saja. Solar sebenarnya berpura-pura untuk minta diajari naik sepeda hanya untuk mengganggunya.
Pasti begitu, pikirnya.
"Kenapa mencariku?" Reagan malah balik bertanya. Solar mengerem sepedanya, ia menunggu Reagan yang ketinggalan agak jauh di belakang.
"Ajak aku ke rumahmu! Kamu bisa memboncengku di depan karena aku sedang tidak mood lari-lari mengejarmu."
Reagan mengernyit. Ia bingung apakah Solar sedang serius atas bercanda.
"Ayolah!" Lanjut Solar.
"Tunggu dulu! Mau apa ke rumahku?"
"Aku mau minum air kendimu." Reagan sukses melongo. "Aku bercanda." Lanjut Solar. "Aku ingin main saja. Tidak boleh?"
"Bukan begitu! Hanya saja ini terlalu tiba-tiba. Kita tidak akrab sebelumnya, kan?"
Solar terdiam sebentar. "Tapi aku suka bicara denganmu."
"Tidak ada hal yang perlu dibicarakan." Bantah Reagan.
"Meskipun tidak ada hal yang perlu dibicarakan, aku tetap suka bicara denganmu."
Reagan selalu memandangnya dengan aneh. Kali inipun begitu. Tapi pada akhirnya mereka tetap berboncengan dengan akur.
"Kamu sedang mendengarkan apa?" Solar menarik kabel earset di telinga kiri Reagan tanpa ijin, lalu memasangkannya ke telinga sendiri. Reagan menatapnya tak percaya namun tak berbuat apa-apa untuk menghentikannya. "Lebih enak lagu Bapakmu." Komentar Solar tak lama kemudian. Ia mengembalikan earset ke telinga Reagan.
"Kamu ada masalah di rumah?" Tanya Reagan tiba-tiba.
"Kenapa kamu berpikir aku sedang punya masalah?"
"Ini semua terasa ganjil. Jadi aku bertanya-tanya apa yang sedang kamu rencanakan."
"Aku kabur dari rumah. Di rumahku sedang ada Opa dan Oma. Aku suka mereka, hanya saja kehadiran mereka membuat rumahku terasa pengap. Ditambah aku rindu padamu."
Kepala Solar terantuk ke depan karena sepeda tiba-tiba direm oleh Reagan. Ia dipaksa turun.
"Siapa kamu?!" Reagan hampir berseru saat menanyakannya.
Solar memandang sekeliling. Untung baginya lingkungan sekitar sedang lengang. Apakah ini adalah waktu yang tepat baginya untuk membuka penyamaran?, pikirnya.
"Kamu sudah tahu kalau aku alien?"
Reagan tertegun. Ia tidak menyangka kalau selama ini Selena memiliki kepribadian ganda. Perubahan kepribadian itu agak menakutkannya. "Dasar gila!" Reagan mengayuh sepedanya secepat kilat, meninggalkan Solar yang termenung sendirian di pinggir jalan.
***
MAREEN DENTAL CARE
Ivanka merasa suasana hatinya baik seharian ini. Ia terus menebar senyum pada semua pasiennya yang datang untuk berkonsultasi. Saat alarm ponselnya berbunyi, ia menghentikan semua pekerjaannya untuk bersiap-siap pulang. Ia sudah meminta asistennya untuk membatasi jumlah pasien yang berkonsultasi dengannya mulai hari ini. Ia juga memasang alarm agar berbunyi setiap jam tiga sore. Ivanka sudah berjanji pada keluarganya untuk selalu pulang tepat waktu agar mereka punya waktu lebih banyak bersama-sama. Saat ia sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas, pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk!"
"Katakan pada pasien agar datang lagi besok! Jam kerjaku sudah selesai. Masih ada dokter-dokter lain yang bertugas sore ini, kan?"
"Mereka bukan pasien. Mereka dari kepolisian."
Ivanka mengernyit. "Kenapa mereka kemari?"
"Katanya mereka ingin bertemu denganmu untuk membahas sesuatu yang penting."
Ivanka melihat jam tangannya. Dia akan luangkan waktunya sepuluh menit saja untuk para polisi itu.
"Baiklah, suruh mereka masuk ke ruanganku sekarang!" Ivanka mengenakan kembali jas dokternya.
Karena suasana hatinya yang masih baik, Ivanka menyambut kedua orang laki-laki berjaket kulit cokelat ke dalam ruangannya dengan senyum lebar. Salah satu dari mereka bertubuh tinggi dan memiliki wajah tampan. Usianya tak lebih dari empat puluhan. Satu-satunya hal dari wajahnya yang membuat Ivanka tak nyaman adalah caranya tersenyum. Ivanka selalu merasa pria pemilik wajah tampan sepertinya selalu punya motif tersembunyi di balik senyum yang mereka tampilkan. Pria yang lain bertubuh lebih pendek dengan perut tambun dan berkulit gelap.
"Selamat sore, dok. Maaf kami datang tanpa pemberitahuan." Ivanka menjabat tangan laki-laki berkulit gelap yang mengulurkan tangannya lebih dulu. "Saya detektif Rudi dari Satuan Reserse Kriminal. Ini rekan saya Arian." Laki-laki itu menyerahkan sebuah kartu nama padanya. Ivanka membacanya sekilas.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ivanka tanpa basa-basi meskipun senyumnya belum hilang dari bibir.
"Kami sedang menyelidiki kasus penemuan mayat tanpa identitas di pinggir pantai Selatan. Barang bukti berupa anting berlian kami temukan di telinga kiri korban. Apa anda merasa familiar dengan ini?" Detektif Rudi mengeluarkan selembar foto anting yang sudah diperbesar, agar Ivanka dapat melihatnya lebih dekat.
"Hmm... entahlah. Saya bahkan tak ingat setiap perhiasan yang saya miliki di rumah."
"Coba anda perhatikan sekali lagi!" Desak detektif itu. Ivanka menurutinya. Ia melihat sekali lagi foto itu dengan lebih teliti.
"Maaf, saya benar-benar tidak ingat. Kenapa anda menanyakan ini pada saya?"
Kedua detektif itu saling berpandangan. "Menurut saudara Martin dari Legends and Co., anda adalah pemesan anting berlian ini. Berlian dua karat dikelilingi emas putih delapan belas karat."
Mendengar nama Martin, Ivanka agak terkejut. Kali ini ia melihat lagi gambar anting yang disodorkan di depannya.
"Saudara Martin menunjukkan salinan sertifikatnya pada kami. Dari jenis dan bentuk, semuanya mirip dengan barang bukti yang kami miliki. Dia bilang anda adalah pemilik anting ini. Boleh kami melihat sertifikat aslinya?"
Ivanka melipat kedua tangannya di atas meja. "Saya memang memesan anting itu padanya. Anting itu menempel di telinga anak saya. Tapi bukan berarti hanya saya saja pemilik anting ini. Mungkin Martin juga menjual perhiasan dengan desain yang sama pada yang lain."
"Saudara Martin bersikukuh kalau ia hanya membuat satu desain untuk setiap pelanggannya."
Ivanka nampak berpikir sebentar.
"Ini agak tak masuk akal." Ujar Ivanka akhirnya. Ia menyandarkan tubuh ke kursi dengan sikap lebih santai. "Jika Martin bersikukuh kalau anting itu buatannya yang dia jual hanya untuk saya, lalu bagaimana dengan anting yang ada di foto ini? Itu berarti dia mengakui kalau dia menjual perhiasan dengan desain yang sama pada orang lain selain saya. Benar, kan? Artinya selama ini dia sudah tak jujur pada pelanggan VIP-nya! Kurasa aku harus menuntut Legends & Co.!"
Lagi-lagi kedua detektif itu saling berpandangan. "Kami hanya ingin mengecek sertifikatnya untuk memastikan. Lebih baik lagi jika kami bisa bertemu dengan putri anda untuk melihatnya sendiri."
"Tidak!" Tolak Ivanka dengan tegas. "Kalian terdengar seperti penipu!"
Detektif Arian membuka mulut hendak protes.
"Kalian tidak bisa seenaknya datang kemari dan menyuruhku untuk menunjukkan sertifikat perhiasan yang kumiliki. Kalian bahkan tidak punya Surat Perintah!" Hilang sudah sopan santun Ivanka. Ia kehilangan lebih dari sepuluh menit waktu berharganya untuk meladeni kedua polisi ngawur ini.
"Tenang dulu, bu dokter!" Ujar detektif Rudi. "Kami bawa Surat Perintah, tapi bukan untuk menunjukkan sertifikat perhiasan." Ia menyerahkan surat yang dimaksud pada Ivanka.
Ivanka membacanya dengan cermat. "Permintaan tes DNA? Untuk apa?" Kini Ivanka sukses dibuat kebingungan.
"Kami perlu membuktikan kalau anda tidak ada hubungannya dengan mayat yang ditemukan itu."
Dokter gigi itu menggebrak meja dengan keras, mengejutkan kedua detektif yang sedang menunggu jawabannya.
"Ini benar-benar gila! Saya menolaknya! Silahkan bicara dengan pengacara saya kalau tidak suka!"
"Bu dokter-"
"Keluarga kami tidak ada sangkut pautnya dengan mayat itu! Saya merasa prihatin pada siapapun dia, tapi kami tidak ada hubungan dengannya! Jadi untuk apalagi tes DNA?! Benar-benar absurd!"
Dektektif Rudi menghela napas berat. "Kami datang kemari dengan Surat Perintah bukan untuk menawarkan anda melakukan tes DNA. Anda wajib melakukannya! Kami tidak akan terburu-buru. Datanglah ke Rumah Sakit kapanpun anda siap!" Kedua detektif itu berpamitan, meninggalkan Ivanka yang termangu seorang diri, memikirkan apa yang baru saja terjadi.
***