SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Kilas Balik



Satu tahun yang lalu...


Christian menghabiskan hari minggunya dengan menjadi dompet berjalan bagi Wenda bukan karena ingin. Ia dijebak. Tim basketnya membuat rencana berkumpul di mall bersama kelompok cheerleaders. Rencana itu sudah dibuat sejak lama. Tentu saja ia harus ikut. Yang ia tidak tahu adalah jumlah anggota laki-laki dan perempuan yang datang sama banyaknya hingga membuat acara kumpul-kumpul itu jadi acara kencan massal.


Sudah menjadi tradisi bahwa siapapun anggota tim basket akan selalu memiliki pacar dari kalangan kelompok cheerleaders. Jika diibaratkan, mereka masuk kalangan selebritis sekolah karena populer. Sudah sepantasnya jika atlet sekolah memiliki pasangan cantik-cantik. Cheerleaders merupakan satu-satunya kelompok dimana populasi cewek cantik, manis, dan populer berkumpul dalam satu wadah.


Ketika Christian sampai di tempat janjian, hanya tinggal Wenda di sana.


'Mana yang lain?' Christian langsung mengeluarkan ponsel untuk menghubungi teman-temannya.


'Mereka sudah duluan pergi dengan pasangan masing-masing. Hanya tinggal kita.' Wenda terkekeh malu-malu. 'Mereka akan berkumpul lagi di sini sekitar dua jam lagi. Apa yang akan kita lakukan selama dua jam?' Ia menggigit bibir bawahnya sambil menyelipkan rambut di belakang telinga.


'Terserah saja.'


Jawaban itu cukup untuk membuat Wenda lompat kegirangan. Ia langsung menggamit lengan Christian lalu berkeliling mall untuk berbelanja. Christian, menjadi seorang yang gentleman dengan membayar semua belanjaan Wenda dengan kartu kredit pemberian kakaknya, Phillip. Hanya butuh waktu satu jam bagi Wenda untuk memborong belanjaan di setiap toko high-end di lantai dua dan tiga pusat perbelanjaan itu.


Tangan Christian penuh membawa kantong-kantong belanja. Namun ia tak protes sedikitpun. Ia berpikir jika ia menyenangkan Wenda yang notabene adalah salah satu orang yang masuk daftar hitam Selena dan Mindy, maka sikap menyebalkan Wenda pada kedua temannya itu akan berkurang meski sedikit.


Ponsel Christian berdering. Ia memberi isyarat pada Wenda agar melihat-lihat sendiri toko baru yang mereka datangi. Nama Phillip tertera di layar.


'Ponselku penuh notifikasi dari kartu kreditmu. Apa kamu sedang bersama Selena?' Tanya Phillip begitu ia mengangkat telepon.


'Bukan. Teman sekolah.'


'Sudah kuduga. Selena tidak pernah belanja merk murahan begitu.' Gumam Phillip yang terdengar cukup keras di telinga Christian.


'dr. Ivanka akan membunuhku kalau Selena ketahuan bawa barang-barang dari mall. Bukan budaya mereka belanja di mall.' Sahut Christian. 'Kenapa jadi membicarakan dr. Ivanka?' Gumamnya pada diri sendiri.


Phillip tertawa. 'Ngomong-ngomong kenapa hari ini tidak bersama Selena? Bukankah kalian selalu kencan hari minggu di basement?'


Christian memutar bola mata, 'Kencan apanya! Mindy selalu ikut, tahu!'


Lagi-lagi kakak tertuanya itu tertawa. 'Lalu kamu bersama siapa hari ini? Maksudku, tidak biasanya kamu mentraktir teman sekolahmu barang-barang dari toko yang menjual baju perempuan dan parfum. Kamu punya pacar sekarang?'


Christian mendecakkan lidah, 'Apa itu pacar? Jangan salah paham, kak! Aku sedang bersama salah satu cheerleaders basket. Aku terjebak selama dua jam bersamanya. Dia mau beli ini-itu masa tidak kubayari?'


'Ah! Benar juga. Harga diri laki-laki nomor satu, ya?' Christian menangkap olokan dari nada suara Phillip.


'Apa aku harus pakai kartu kredit dari Mama? Nanti aku dimarahi.' Christian mulai merinding membayangkan omelan mamanya saat mendapat notifikasi pembelian pakaian dalam wanita dari kartu kreditnya.


Christian sudah membagi pengeluaran dari kartu kredit pemberian orangtuanya. Ia punya tiga kartu kredit dengan limit tertentu. Kartu kredit dari mamanya ia gunakan untuk bensin dan keperluan sekolah. Kartu kredit dari papanya untuk belanja gadget, baju, sepatu, tas, dan makanan. Sedangkan dari Phillip yang nilai limitnya lebih besar dari kedua kartu kredit yang ia punya, digunakan untuk berfoya-foya.


'Pakai saja kartu dariku! Sudah dulu, ya? Biaya telepon roaming mahal!'


'Dasar pelit!'


Meskipun Phillip yang berpamitan, Christian jadi orang pertama yang memutus panggilan. Ia tidak pernah khawatir Phillip akan tersinggung. Meskipun mereka hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, Phillip jadi satu-satunya orang di keluarganya yang paling murah hati padanya jika menyangkut masalah keuangan. Sedangkan Theodore, kakak keduanya sangat jarang bisa dihubungi karena hidup di laut bersama ikan. Lagipula Theodore jarang punya uang. Hidupnya berpusat di laut saja. Tinggal di laut tak perlu banyak biaya.


'Christian, coba lihat ini! Menurutmu mana yang lebih bagus? Aku ingin beli salah satu karena harganya terlalu mahal.' Wenda menunjukkan dua baju yang bentuknya sama dengan warna yang sama pula.


'Aku tidak lihat bedanya.'


Kedua bahu Wenda merosot dengan dramatis, 'Ini warna magenta dan yang ini fuchsia. Masih tidak tahu bedanya?'


Christian menggeleng, benar-benar tidak tahu. 'Beli saja semuanya!' Ujarnya memutuskan.


Kedua mata Wenda membulat lebih dramatis. 'Tapi harganya mahal, Christian!'


Christian mengeluarkan kartu kreditnya lalu menyerahkannya pada pelayan toko. 'Bayar semua yang dia ambil dengan ini!' Ujarnya.


'Aww.. Christian.. aku bukannya mau minta ditraktir.'


Christian memandangi tas-tas belanjaan di kedua tangannya. 'Baru bilang begitu setelah belanja segini banyak?' Gumamnya.


Ponselnya berdering lagi. Kali ini nama Mindy yang muncul.


'Christian? Halo?' Suara Mindy terdengar agak mendesak.


'Iya, ini aku! Ada apa?'


'Huwaaaa.... Christian, bagaimana ini?'


Tubuh Christian menegak. Ia sering mendengar dan melihat Mindy menangis, namun tidak pernah lewat telepon.


'Apa yang terjadi padamu?' Kekhawatiran muncul di kepalanya.


'Ini tentang Selena... hiks... Apa kamu bisa menjemputnya di Café XXX? Dia sedang di sana sendirian. Kamu harus jemput dia sekarang, ya?'


Saat itu juga semua tas belanjaan ia letakkan di lantai mall. Ia buru-buru masuk ke dalam toko untuk mengambil kembali kartu kreditnya.


'Eh-' Wenda yang melihat Christian pergi buru-buru hanya bisa terheran-heran.


Christian tidak menutup teleponnya saat ia berlari menuju parkiran untuk mengambil mobil.


'-sepupuku Ramon yang kuliah di kedokteran. Dia memintaku untuk mengatur kencan dengan Selena. Aku menyetujuinya karena dia banyak membantuku mengerjakan PR. Selena setuju dan mereka bertemu hari ini. Lalu... lalu mantan pacar Ramon yang gila dan berengsek itu datang mengacaukan semuanya. Ramon bilang mantannya itu atlet nasional Karate dan agak psycho! Perasaanku tidak enak....' Mindy berhenti sebentar untuk membuang ingusnya. 'Ramon tidak mengatakan apa-apa padaku. Dia hanya bilang ia meninggalkan Selena di café itu untuk menjauhkan mantan pacarnya yang gila dari Selena. Kudengar ada keributan. Aduh Christian, aku cemas sekali! Apa aku harus menghubungi dr. Ivanka dan menerima hukuman mati darinya? Huwaaa...' Tangis Mindy makin kencang.


'Aku sudah hampir sampai di café yang kamu maksud. Akan kubawa Selena pulang.'


Christian melihat Selena yang sedang duduk sendirian dari jendela café yang seluruhnya terbuat dari kaca. Tetangga sekaligus teman masa kecilnya itu duduk sambil menundukkan kepala. Ia mengenakan kacamata hitam besar. Begitu memarkirkan mobilnya, Christian buru-buru masuk.


'Selena? Apa yang-'


Selena mengangkat wajah saat mendengar suara Christian. Saat itulah rasanya jantung Christian seakan berhenti berdetak. Sudut bibir Selena terluka. Terdapat bercak darah kering di sana. Rambutnya acak-acakkan. Bajunya robek di bagian bahu. Belum lagi tulang kering sebelah kanannya yang memar berwarna kemerahan. Lengan kanannya terdapat luka memanjang bekas cakaran.


'Aku baru akan meneleponmu.' Ujar Selena. Suaranya terdengar jernih. Sama sekali tidak serak seperti habis menangis. 'Bantu aku jalan! Kakiku agak sakit.'


Christian kehabisan kata-kata. Ia menurut saja saat Selena memintanya untuk menuntunnya. Alih-alih menuntun, Christian menggendongnya karena tidak tega melihat Selena meringis kesakitan tiap melangkah. Pemandangan itu menarik perhatian pengunjung café. Beberapa dari mereka ada yang merekam. Selena tidak menolak saat Christian menggendongnya. Ketika memandangi wajah Selena lebih dekat, kini Christian mengerti kenapa Selena mengenakan kacamata hitam dengan bingkai lebar. Ada lebam merah kebiruan di pipinya. Darah menggelegak di kepala Christian. Ia berusaha mati-matian agar tidak meledak di depan Selena.


'Awas kepalamu!' Christian juga berusaha membuat nada suara tetap tenang saat mendudukkan Selena di kursi depan.


'Rumah sakit yang tidak ada mereka berdua.' Jawab Selena sambil membuang muka keluar jendela.


Lagi-lagi Christian menurut. Sepanjang perjalanan dihabiskannya untuk membuat sebuah rencana pembunuhan Ramon dan mantan pacarnya itu. Ia tidak peduli kalau Ramon adalah sepupu Mindy yang berarti adalah cucu Menteri Pertahanan juga. Mereka sudah menyakiti Selena sebegini parahnya. Mereka harus membayar dengan cara yang lebih kejam daripada ini! Air mata terancam jatuh dari kedua mata Christian. Ia buru-buru menghapusnya dengan lengan baju karena pandangan yang mengabur menganggunya menyetir. Ia tak berani menanyakan apapun pada Selena. Fokusnya adalah membawa Selena ke rumah sakit dahulu untuk mengobati semua luka-luka ini.


Sesampainya di rumah sakit, Christian bermaksud untuk menggendong Selena ke IGD namun ditolak. Selena menyuruhnya untuk menunggu di lobi selagi ia masuk sendirian untuk diperiksa. Sebelumnya Selena sudah menelepon untuk menyuruh seseorang bertemu dengannya di rumah sakit tempat mereka datang. Christian tidak tahu Selena bicara dengan siapa. Ia terlalu sibuk mengatasi kekhawatiran terhadap Selena sampai ia jadi bodoh. Selama dua jam menunggu di lobi rumah sakit yang lengang, Christian selalu berjalan bolak-balik dengan gelisah. Ia ingin menyusul Selena untuk memastikan keadaannya, tapi Selena sudah memintanya untuk menunggu di sini.


Christian tahu kalau Selena tidak akan suka kalau permintaannya dilanggar. Tidak ada pilihan lain baginya selain menunggu dengan sabar. Christian masih harus menunggu waktu berjam-jam kemudian sampai Selena keluar untuk menghampirinya. Ia menggunakan sebuah tongkat kruk. Lengannya yang terluka sudah diperban. Wajahnya kelihatan lebih bengkak dari sebelumnya. Ia sudah tak mengenakan kacamata hitam lagi, membuat lebam di wajahnya makin kentara. Tanpa sadar Christian sudah mengepalkan kedua tangannya. Ia menyusul Selena untuk membantunya berjalan masuk ke dalam mobil yang diparkir sembarangan di depan lobi.


'Aku tidak bisa pulang dalam kondisi begini.'


'Menginaplah di hotelku!' Ujar Christian tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Kedua tangannya masih terkepal dan makin memutih karena mencengkeram kemudi terlalu kencang.


'Aku baru akan minta ke sana.' Christian dapat merasakan sebuah senyum tipis dari bibir Selena yang terluka.


'Kamu.. baik-baik saja?' Tanya Christian ragu-ragu. Ia tak tahu apakah harus menanyakan pertanyaan itu saat ia dapat melihat sendiri dengan mata kepalanya kalau kondisi Selena kacau.


'Aku akan merasa lebih baik jika perempuan itu dipenjara.' Jawab Selena.


Christian menoleh untuk memandangnya. Selena kini sedang mengetik sesuatu di ponsel. Lalu ia menghubungi seseorang.


'Hasil visum keluar paling cepat besok.....Iya, aku habis dari rumah sakit untuk divisum...... Tidak, aku punya kenalan yang bisa kuhubungi di sini. Mereka langsung datang memeriksaku...... Aku tidak berhasil dapat CCTVnya. Oh iya, aku ingin membuat tuntutan juga untuk café itu karena tidak memberikan CCTV saat aku membutuhkannya.... Aku punya rekamannya. Aku bayar seseorang untuk merekamnya.... Biarkan Ramon, dia tidak salah apa-apa.... Mantan pacarnya atlet karate nasional? Pantas saja, kukira dia hanya gila.... Iya, aku mau dia membusuk di penjara. Aku mau dia tidak punya masa depan.... Opa? Kenapa dengan Opa?.... Oh, tentu saja mereka akan tahu cepat atau lambat. Bisakah kalian merahasiakannya dulu? Setidaknya sampai pengadilan.... Tidak, jangan libatkan media! Tutup semua kemungkinan mediasi!...... Aku baik-baik saja.'


Selena memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah menelepon panjang lebar. Setelah itu, ia menurunkan kursi agar dapat berbaring.


'Bangunkan aku kalau sudah sampai!' Pesannya.


Christian tersenyum untuk pertama kalinya seharian itu. Cengkeramannya pada kemudi sudah tak sekencang tadi. Kini ia lebih tenang setelah mengetahui kalau kekhawatirannya sangat tidak berdasar. Christian yakin kalau orang yang baru saja bicara di telepon adalah pengacara Selena. Seharusnya ia tahu kalau Selena yang dikenalnya bukanlah sosok pengecut yang diam saja saat ia dipukuli sampai babak belur. Ia setuju dengan permintaan Selena untuk membuat mantan pacar Ramon yang psikopat itu membusuk di penjara. Dengan begitu ia jadi tak ada kesempatan untuk punya masa depan. Menghancurkan masa depan seseorang karena telah melakukan kekerasan pada Selena, rasanya masuk akal. Begitu pikirnya.


Hotel milik keluarga Christian adalah salah satu hotel bintang lima paling terkenal di kota itu. Christian dan kakak-kakaknya sering menginap di sana jika sedang bosan di rumah. Mereka punya kamar khusus di lantai paling atas. Lantai paling atas merupakan lantai yang kamar-kamarnya tidak boleh dihuni oleh orang lain selain keluarga Sanders atau tamu-tamunya. Begitu tiba, mereka langsung disambut oleh para manager hotel. Biasanya, jika sedang hari biasa, direksi juga akan turun untuk menyambut mereka dan menyiapkan perjamuan khusus.


'Aku boleh pakai kamarmu?' Kamar yang dimaksud Selena adalah presidential suite. Kamar dengan fasilitas paling mewah dan lengkap yang ada di hotel itu.


Christian mengangguk, 'Kamu yakin tidak perlu kutemani?' Mereka sedang berada di lift yang membawa mereka menuju lantai teratas.


'Lalu siapa yang akan membawakanku seragam dan mengantarkanku ke sekolah besok?'


Christian membelalak. 'Kamu mau sekolah dengan keadaan begini??'


Selena mengangguk untuk mengiyakan.


'Tidak bisa! Apa kata doktermu tadi? Kamu tidak mengijinkanku masuk bersamamu.'


'Mereka bilang aku baik-baik saja. Hanya perlu minum obat pereda nyeri kalau terasa sakit.'


'Kamu meremehkan segalanya.' Sergah Christian.


'Aku baik-baik saja, Christian!'


Pintu lift terbuka.


'Begini kamu bilang baik-baik saja?' Christian menggendong Selena. Tongkat kruk dipeluk oleh Selena karena Christian tidak mengijinkannya berjalan.


'Kita seperti pengantin baru.' Selena memainkan sebelah kakinya yang sehat.


'Jangan menggodaku!'


Selena memutar bola matanya. 'Aku akan sangat kesal kalau tidak ke sekolah besok. Aku sedang mengumpulkan rekor untuk jadi murid paling teladan karena tak pernah bolos.'


'Kerjaanmu hanya tidur di kelas. Bukannya lebih enak tidur di sini?' Christian membanting pintu kamar lalu meletakkan Selena di atas kasur besar dengan hati-hati.


'Aku bisa tidur lebih nyenyak di sekolah. Lagipula Mindy akan khawatir sekali padaku. Dia pasti merasa bersalah karena Ramon.'


'Ramon, si bajingan itu!' Gumam Christian berapi-api, membuat Selena terkekeh.


'Kamu tahu kenapa aku mau datang bertemu Ramon hari ini?'


Ekspresi Christian berubah. Ia duduk di pinggir tempat tidur untuk mendengarkan penjelasan Selena lebih jauh.


'Dulu waktu SMP aku pernah naksir padanya.' Christian langsung mengernyit. Ini benar-benar baru, pikirnya. 'Dia perhatian padaku. Dia baik. Tapi sayang, pacarnya banyak. Aku mau bertemu dengannya demi masa lalu. Awalnya begitu. Ramon bilang dia tidak sengaja melihat fotoku di Instagram Mindy. Jadi dia minta ijin Mindy untuk mengajakku keluar. Lalu kupikir... kenapa tidak sekalian saja aku balas dendam? Bagaimanapun Ramon sudah membuatku rugi waktu dan tenaga karena pernah naksir padanya dulu. Aku mencari tahu siapa pacarnya dan juga mantan-mantannya. Aku meng-upload foto kami berdua di Instagram Ramon untuk memancing keluar mantan pacar Ramon yang paling gila dan delusional.'


'Tunggu dulu! Jadi kamu sengaja?'


'Aku tidak tahu kalau harus babak belur begini. Rencana awalku adalah membuat pacar-pacar Ramon datang ke café itu dengan satu unggahan foto dariku. Kemudian aku bisa merekam saat Ramon dihabisi oleh pacar-pacarnya. Aku tidak menyangka kalau Ramon punya mantan pacar gila. Dia langsung menghajarku tanpa ampun. Untung aku sudah menyuruh seseorang merekam semuanya. Rencanaku langsung berubah dari mengerjai Ramon jadi menghancurkan hidup mantan pacarnya.'


'Aku tidak mengerti. Bagaimana caranya kamu mengunggah foto pakai akun Ramon?'


'Aku minta dia untuk berfoto bersama, lalu mengunggahnya dengan ponsel miliknya saat dia sedang ke toilet.' Selena mengedikkan bahu, seakan apa yang dilakukannya sangat sederhana.


Christian geleng-geleng kepala, tidak habis pikir. 'Kenapa melakukan ini semua?'


'Hiburan. Mindy sedang ke Singapura, sedangkan kamu pergi bermain dengan tim basketmu. Aku jadi tidak ada kegiatan.'


Christian menghela napas berat, lalu ia tertawa. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Selena.


'Kamu tahu siapa mantan pacarnya itu?' Tanyanya.


'Tidak. Pengacaraku bilang dia atlet karate nasional. Mereka berpacaran sekitar enam bulan. Itu rekor pacaran terlama Ramon. Kurasa dia masih peduli pada cewek gila itu. Kalau cewek itu dipenjara, Ramon tidak mungkin tidak gelisah, kan?'


'Kamu bahkan tidak tahu siapa namanya?'


'Tidak.' Selena merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. 'Aku lelah sekali karena proses visum tadi. Datanglah kesini jam setengah enam pagi besok! Jangan lupa ambil seragamku juga! Dan tolong katakan pada Mindy kalau orangtuaku menelepon, bilang saja aku menginap di rumahnya!'


Christian belum sempat menjawab, namun Selena sudah terlelap. Selena tahu benar kalau Christian akan menurutinya. Ia menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Selena yang habis dipukuli. Tangan kanannya terulur untuk mengusap kepala Selena. Christian sadar betul kalau Selena tidak seperti perempuan-perempuan lain yang pernah ditemuinya. Kreatifitasnya tak pernah berhasil ditebak satupun oleh Christian meskipun mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Hal-hal dalam diri Selena yang tidak ada pada perempuan manapun membuat Christian mudah terpesona. Tanpa sadar ia sudah merasakan cinta yang terlalu dalam untuk Selena.


***