SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Mereka



'Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan-'


Theo mematikan panggilan. Ia menatap layar ponselnya. Kontak Voni tertera di sana. Sudah lima hari sejak Voni berjanji akan menghubungi untuk mengabari tentang hasil penelitian makhluk asing yang Theo temukan di laut. Theo mulai khawatir.


"Tidak bisa dihubungi?" Profesor dan Adam memandangnya serius dari seberang meja.


Theo menggeleng.


"Apa kita perlu ke rumah sakitnya?" Lanjut Adam.


"Sesuatu pasti terjadi." Sahut Profesor.


Selang beberapa detik, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal menghubunginya. Ragu-ragu Theo mengangkat panggilan itu.


"Halo?"


Terdengar suara terengah-engah dan langkah kaki yang buru-buru.'Theodore, kita harus bertemu!'


Itu suara Voni.


Theo mengangkat kepalanya dan memandang Profesor. Profesor dan Adam langsung paham siapa yang sedang bicara dengan Theo. "Dimana kamu?"


'Kita bertemu di stasiun tiga puluh menit lagi. Aku tak bisa menunggu lama. Datanglah sendirian.'


Telepon langsung diputus.


"Dia bilang apa?" Adam mendekatinya.


Theo tak langsung menjawab. "Dia ingin bertemu denganku." Ia menyambar jaket di atas tempat tidur lalu setengah berlari keluar kamar. Jarak rumahnya ke stasiun membutuhkan waktu setengah jam. Dia harus buru-buru jika tak ingin terlambat.


Sesampainya di stasiun, Theo celingukkan mencari-cari keberadaan Voni di tengah suasana lengang pintu masuk dan lobi. Ia tak melihat Voni dimanapun sampai ia masuk ke peron. Di sana tak ada kereta, maupun calon penumpang. Tidak. Ada satu calon penumpang yang sedang duduk di kursi peron. Calon penumpang itu sedang menunduk. Kepalanya ditutupi topi merah di balik hoodie hitam yang ia kenakan. Theo berjalan cepat untuk menghampirinya.


"Voni?"


Orang itu mengangkat kepala. Benar saja, orang yang dilihat Theo memang Voni. Namun penampilannya cukup kontras jika dibandingkan dengan saat terakhir kali mereka bertemu di Rumah Sakit. Wajahnya lebih tirus dan pucat pasi. Lingkaran hitam nampak lebih tebal membingkai kedua matanya yang terlihat selalu terbuka terlalu lebar seakan sedang menghadapi teror. Voni kelihatan amat acak-acakkan.


"Theo.." Namanya terdengar seperti bisikan saat diucapkan oleh Voni.


"Apa yang terjadi padamu?" Theo menyentuh kedua pundak Voni. Tubuhnya gemetar di bawah sentuhannya.


Voni tergagap. "Mereka mencariku." Ujarnya memulai.


"Siapa yang mencarimu? Ada apa? Coba ceritakan pelan-pelan!" Theo berusaha menenangkan Voni yang semakin panik.


"Sampel itu.. mereka mengambilnya."


"Siapa?"


Voni menggeleng. "Aku tidak tahu siapa mereka."


Kedua alis Theo menyatu. Sebenarnya dia merasa amat frustasi juga melihat kondisi Voni begini. Dia ingin mengguncang tubuh perempuan itu demi membuatnya bicara.


"Kamu benar. Makhluk itu bukan berasal dari bumi. Kami selesai menelitinya lalu memberikan hasilnya pada Kementerian Pertahanan seperti yang kamu sarankan. Besoknya, laboratorium kami kedatangan banyak laki-laki bertubuh besar dan berbaju hitam. Mereka menculik semua orang." Voni terisak. Susah payah dia melanjutkan ceritanya. "Dokter Jerome...."


"Apa yang terjadi padanya?"


"Dia tewas."


"Apa?"


"Mereka membunuhnya saat mereka menggeledah laboratorium kami. Mereka mengambil semua sampel dan peneliti yang terlibat di dalamnya. Jenazah dokter Jerome juga diambil."


"Bagaimana kamu selamat? Kamu memanggil polisi, kan?"


Voni menggeleng. "Aku sedang berada di kamar mayat waktu itu. Saat mereka pergi, aku bersembunyi. Aku sudah coba panggil polisi, tapi mereka tidak datang. Tak ada yang datang. Tak ada saksi. Semuanya tiba-tiba menghilang. Rumah sakit juga tidak melakukan apa-apa, mereka bahkan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Aku... aku kabur dari mereka. Mereka mendatangi rumahku, mengobrak-abrik isinya. Mereka juga mendatangi rumah orangtuaku." Voni menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kedua matanya makin melebar karena ngeri. "Mereka mencariku, Theo. Tolong aku... kumohon." Tangisnya pecah.


"Apa yang bisa kulakukan untukmu?" Tanya Theo akhirnya.


"Aku harus pergi. Aku harus kabur dari kejaran mereka. Aku butuh uang."


"Untuk apa?"


"Mereka melacakku lewat transaksi keuangan. Kartu kredit ataupun ATM, semuanya tak aman. Aku butuh uang supaya bisa pergi keluar kota. Aku harus keluar dari kota ini, Theo."


"Lalu bagaimana dengan makhluk itu?"


"Aku tidak tahu. Sampel dan hasil penelitian sudah diterima oleh Kementerian Pertahanan."


"Apa menurutmu mereka yang melakukannya? Siapa lagi yang kamu beritahu selain Kementerian Pertahanan?"


"Aku hanya membicarakan alien itu dengan rekan-rekanku di laboratorium."


Otak Theo berputar, berusaha mengaitkan cerita Voni dengan kemungkinan-kemungkinan yang paling masuk akal. Perlu waktu untuk memikirkannya. Namun pertama-tama, selamatkan Voni dulu.


"Kucarikan hotel untukmu, bagaimana?"


Voni tak dapat menolak. Ia sudah berkeliaran di jalan selama tiga hari. Tubuhnya perlu istirahat. Atas dorongan itulah, akhirnya Voni menurut saja saat Theo menuntunnya keluar dari stasiun.


***


Theo memesan kamar di salah satu hotel milik keluarganya. Begitu masuk ke dalam kamar suite yang biasa ia tinggali saat sedang menginap, Theo tiba-tiba berubah pikiran. Ia merasa kalau membawa Voni kemari adalah ide yang sangat buruk jika semua yang diceritakan Voni di stasiun benar adanya. Mereka kehilangan sampel makhluk asing itu. Mereka tak tahu siapa pencurinya. Namun jika rumah sakit sampai bersikap seolah tak terjadi apa-apa, dan polisi tidak datang saat Voni meminta bantuan, maka pencuri sampel itu punya pengaruh yang cukup besar.


Voni masih kelihatan belum rileks saat Theo membawanya kemari. Kedua mata dokter forensik itu terus-terusan nyalang. Sesekali ia memeriksa keadaan sekitar meskipun tidak ada yang terlihat mencurigakan.


"Apa kamu lapar? Akan kupesankan layanan hotel untukmu." Voni menahan ujung jaket Theo, mencegahnya pergi.


"Ada DNA asing yang ditemukan di bawah kuku mayat itu." Bisik Voni. Theo duduk di sebelahnya. "Mirip dengan milik makhluk asing yang kamu temukan di laut. Berasal dari spesies yang sama. Makhluk itu tidak hanya satu, Theo."


Theo memandang Voni lekat-lekat. "Apa kamu yakin?"


Voni tak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah map bening dari dalam jaketnya. Map itu sudah kusut, sedangkan kertas yang ada di dalamnya lebih kusut lagi. Kertas itu ia berikan pada Theo untuk dibaca.


"Itu hasil otopsi yang kulakukan sendiri. Aku belum memberikannya pada detektif Rudi. 'Mereka' juga tidak tahu karena aku tak mengatakannya pada siapa-siapa."


"Ini..." Theo kehabisan kata-kata. Ia tak pernah berpikir kalau mayat yang ditemukan dalam perut Billie punya kaitan dengan makhluk asing yang ia temukan di laut. Lalu bagaimana dengan Selena? Mereka punya anting yang sama. Apa Selena juga berkaitan dengan ini semua?


Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepala Theo.


"Jika 'mereka' mendapatkan ini juga, kamu dan aku akan menghilang. Mereka akan melakukan apapun untuk melenyapkan kita berdua." Sambung Voni.


"Tapi mereka itu siapa?!" Theo meremas kertas yang dipegangnya. "Kita harus minta bantuan kepada siapa?" Tanyanya lebih pada diri sendiri.


"Kurasa mereka adalah organisasi rahasia yang bekerja untuk seseorang." Voni mengambil kertas dan sebuah pensil dari nakas samping tempat tidur. Ia menggambar sebuah tanda yang berbentuk dua persegi saling berkaitan, lalu menunjukkannya pada Theo. "Mereka punya gambar ini di kerah baju mereka. Cukup terlindung sampai-sampai tak ada yang akan menyadarinya dalam sekali lihat."


"Kamu pernah melihatnya di tempat lain?" Tanya Theo.


Pertanyaan itu dijawab oleh sebuah gelengan kepala. Voni sudah kelihatan hampir pingsan kapan saja. Theo tak tega padanya.


"Kamu aman di sini. Beristirahatlah!"


"Kamu mau kemana?"


"Aku harus pergi memastikan sesuatu dulu."


"Bagaimana jika mereka mencariku sampai ke sini?" Voni kelihatan gusar lagi.


"Tempat ini aman. Siapapun tak bisa sembarangan masuk seenaknya. Percayalah padaku!" Kata-katanya barusan terdengar konyol bahkan di telinga Theo sendiri karena menggambarkan seakan dia sedang mempromosikan keamanan hotel milik keluarganya. "Kamu bisa istirahat selama aku pergi." Lanjut Theo.


***