
SMA HARAPAN PERTIWI
Jam pelajaran terakhir baru saja selesai. Semua orang bersiap-siap untuk pulang. Seseorang menghampiri meja Solar sembari menyerahkan sebuah sapu padanya.
"Hari ini giliran absen nomor 31-35 untuk piket." Solar memandangi sapu itu.
"Gila, ya?" Mindy mengambil sapu itu dan membuangnya sembarangan, mencuri perhatian teman-teman sekelas mereka.
"Tapi hari ini giliran Selena! Aku tahu kalau selama ini dia tidak pernah ikut piket." Solar mengingatnya sebagai ketua kelas, namun tidak tahu siapa namanya.
"Memangnya kenapa kalau tidak ikut piket? Toh, masih ada kalian! Kenapa merepotkan orang lain?!" Semprot Mindy.
"Rani dan Stefan tidak masuk hari ini, jadi hanya tinggal aku dan Reagan yang harus membersihkan kelas. Jika Selena ikut, pekerjaan piket bisa cepat selesai."
"Wah, anak ini tidak ada takut-takutnya!" Gerutu Mindy.
Solar melihat Reagan yang sedang menghapus papan tulis. "Baiklah." Ujar Solar akhirnya. Ia memungut sapu di lantai. Selain mereka berempat, semua orang buru-buru keluar kelas. Mereka mengira akan terjadi perkelahian dimana ketua kelas mereka dipukuli oleh Selena. Mereka tidak ingin terlibat dan langsung pergi untuk menyelamatkan diri.
"Hah? Memangnya kamu bisa nyapu?!" Mindy berseru tak percaya.
Sudah bukan rahasia umum kalau Selena dan Mindy adalah anak-anak yang berasal dari keluarga kaya. Mereka tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah selama hidupnya. Walaupun begitu, bukan berarti Selena tidak bisa. Selena yang sekarang adalah Solar.
"Tolong ajari caranya!" Pinta Solar pada ketua kelas. Mindy yang seharian ini uring-uringan dengan tingkah Selena, memilih langsung pulang. Lewat arahan sang ketua kelas, Solar langsung mahir menyapu seisi kelas. Ia memastikan tidak ada debu yang tertinggal di bawah pengawasannya. Begitu melihat Reagan sudah selesai dengan pekerjaannya, Solar menyerahkan sapu pada ketua kelas dan menyusul Reagan keluar.
"Reagan!" Panggilnya.
"Kenapa mengikutiku?" Reagan tidak berhenti maupun sekedar menoleh. Ia berjalan menuju area parkiran tempat sepedanya berada.
"Mau kemana?" Solar balik bertanya.
"Pulang." Jawab Reagan pendek.
"Aku ingin menanyakan sesuatu." Solar berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Reagan. Sambil berjalan, ia mengeluarkan kartu hitam mengkilat yang kemarin ditinggalkan oleh orangtua Selena di atas meja makan. Ia memberikan kartu itu pada Reagan.
"Kenapa memberikan ini padaku?" Keduanya kini sudah berdiri berhadapan di dekat sepeda Reagan yang telah menunggu.
"Aku tidak tahu apa fungsinya."
Reagan mengernyit. "Tidak mungkin kamu tidak tahu. Ini kartu kredit tanpa limit. Mau pamer padaku?"
Solar diam sejenak, berusaha mencerna kata-kata Reagan dengan bantuan memori milik Selena. "Oh, jadi aku bisa beli apa saja dengan kartu itu?" Pertanyaannya dijawab Reagan dengan anggukan. "Aku ingin membelikanmu sesuatu. Ada yang kamu inginkan?" Sambungnya.
Reagan makin mengernyit. "Kenapa kamu bicara denganku?" Ia memiringkan kepalanya sedikit, memandangi wajah Selena untuk menebak-nebak apa yang sedang direncanakan cewek itu. Jika dipikir-pikir, bukan hal wajar jika dirinya dan Selena berada dalam situasi penuh keakraban seperti saat ini. Kenapa tidak sekalian saja mereka mengerjakan PR bersama?
Reagan kemudian menyadari sesuatu. Ekspresinya langsung berubah. "Sekarang aku mengerti. Kamu sedang mengetesku, kan?" Reagan menghela napas sebelum melanjutkan, "Baiklah. Aku berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkanku tempo hari saat aku tenggelam. Jadi kamu tidak perlu memancingku lagi agar balas budi. Apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Justru aku ingin kita.. berteman?" Solar mengucapkannya dengan ragu-ragu.
"Sudah pernah kubilang aku tidak ingin terlibat denganmu. Pulanglah! Supirmu pasti sudah menunggumu." Seakan menegaskan maksudnya, Reagan memaksa Solar mundur selangkah karena ia ingin membuka kunci sepedanya.
"Aku tidak dijemput hari ini. Bisakah kamu mengantarku pulang?" Solar masih tidak menyerah.
Reagan menghentikan kegiatannya, ia mengangkat kedua alis tinggi-tinggi sambil menatap Solar seakan tumbuh tanduk di kepalanya.
Apa yang Solar inginkan dari manusia ini?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Solar seperti gasing tanpa henti. Ia sendiri juga tidak tahu. Solar hanya mengikuti insting yang berasal dari memori Selena semasa hidup. Selena memiliki ketertarikan kuat terhadap Reagan. Rasa tertarik itulah yang diingat oleh Solar. Namun karena minimnya pengalaman, Solar kesulitan untuk mengontrolnya. Yang ia lakukan selama ini berdasarkan insting saja. Ia masih mencari tahu bagaimana cara menghentikan ketertarikan terhadap Reagan agar ia bisa melanjutkan misinya untuk mengases planet ini.
"Aku tidak tahu." Gumam Solar.
Reagan masih menatapnya dengan aneh sampai cowok itu mengayuh sepedanya untuk menjauhi area sekolah. Solar mengikutinya setengah berlari.
"Apa sih maumu?!" Bentak Reagan saat mendapati Solar berlari di belakangnya.
"Aku ingin membelikanmu sesuatu dengan kartu hitam itu. Apa saja! Lalu kamu mengantarkanku pulang!"
"Kenapa harus aku? Cari saja orang lain! Christian atau siapapun!" Reagan mengayuh sepedanya lebih kencang, setengah berharap agar tak terkejar lagi oleh Solar. Tapi tenaganya tidak sekuat tekad Solar saat sedang menginginkan sesuatu.
"Tidak bisa! Harus kamu!"
Mereka bersahut-sahutan di jalanan, mengundang reaksi lucu dari beberapa orang yang melihat mereka. Reagan tidak berhenti. Solar apalagi. Mereka berkejaran sepanjang jalan. Reagan lumayan takjub melihat stamina Solar. Dari wajahnya tidak nampak ada tanda-tanda kelelahan, padahal Reagan sudah mulai merasakan kram pada kedua kakinya.
Dekat pemberhentian bus, Reagan mengerem sepedanya. Ia menghentikan perjalanannya dan sejenak lupa akan Solar ketika melihat gerombolan siswa berseragam merah dan hitam datang dari arah berlawanan dengan membawa balok kayu beragam ukuran.
Tak lama, terdengar seruan-seruan yang berasal dari arah belakang. Reagan menoleh dan terkejut ketika mendapati gerombolan siswa berseragam putih dan biru khas SMA Harapan Pertiwi yang dipimpin oleh Jambul -ketua geng preman sekolahnya-, mengacungkan pipa-pipa besi. Belum sempat Reagan bereaksi, perkelahian-pun pecah. Reagan mengabaikan sepedanya untuk mencari Solar. Ia harus menyelamatkan diri mereka dari tawuran antar sekolah ini.
Reagan menjauhi jalan raya dimana pusat keributan terjadi. Wajah-wajah familiar yang sering ia lihat di sekolah saling terlibat baku hantam dengan pelajar lain yang Reagan tidak kenal. Para warga yang tinggal di sekitar jalan raya sudah masuk ke rumah masing-masing dan menutup toko-toko mereka. Reagan baru menyadari ini. Mungkin mereka sudah lebih dulu tahu jadwal tawuran yang akan terjadi hari ini. Di balik gerobak es balok tempat Reagan berlindung, ia masih sempat celingukkan mencari keberadaan Selena. Ia menduga gerobak es balok itu tak sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya yang ingin menyelamatkan diri saat tawuran pecah.
BRAKK
BUGG
Reagan dikejutkan oleh jatuhnya salah satu peserta tawuran yang berseragam merah hitam di atas gerobak es balok. Ia melihat logo SMK Bunga Bangsa di lengan anak itu. Belum sempat ia bangkit untuk membalas, kubu lawan yang tak lain adalah dari sekolah Reagan sendiri langsung datang mengeroyok, disusul oleh pukulan-pukulan yang membuat Reagan meringis hanya dengan mendengarnya. Perkelahian dua kubu beda sekolah ini tidak hanya terjadi di tengah jalan, melainkan di gerobak es balok juga. Es-es balok yang utuh dilemparkan kesana kemari untuk menyakiti satu sama lain.
Kaca-kaca toko pecah. Botol-botol yang diisi bensin dan disulut api berterbangan di udara sebelum mendarat dengan ledakan api ke segala arah. Reagan sibuk berlarian untuk menyelamatkan diri. Kini ia mulai panik karena tidak menemukan Selena dimana-mana. Ketika ia sudah akan menyerah dan berencana untuk kabur lewat gang kecil yang tak jauh dari tempatnya kini bersembunyi, sosok Selena terlihat.
Cewek itu sedang berada di antara para peserta tawuran. Dengan gagah berani ia ikut mengeroyok salah satu anggota dari SMK Bunga Bangsa. Entah bagaimana sebuah pipa besi sudah digenggam oleh Selena. Wajah Selena bengis penuh semangat. Dia menjadi satu-satunya cewek yang hadir di pertempuran ini. Jambul berada di sisinya. Hal itu membuat Reagan melongo sesaat.
Kenapa Selena bisa bersama Jambul si preman sekolah?, pikirnya heran.
Setelah lama menimbang antara kabur seorang diri atau membawa Selena, Reagan akhirnya memilih untuk kabur saja lewat gang kecil yang tadi dilihatnya. Belum lama beranjak dari tempat persembunyian, Reagan mendengar sirine polisi dari kejauhan. Hal ini belum disadari oleh anak-anak yang sedang sibuk tawuran, termasuk Selena. Reagan benar-benar ingin segera pergi dari tempat itu secepat mungkin dan menghindari polisi, tapi keberadaan Selena di tengah keributan itu membuatnya terganggu. Ia putuskan untuk membawa Selena.
"Selena!!" Reagan keluar dari persembunyiannya untuk menyusul Selena dan berteriak memanggil namanya. Namun sebuah pukulan yang entah datang dari mana menghantam punggungnya sebelum ia bisa menghampiri cewek itu. Reagan membungkuk kesakitan. Belum reda sakit akibat pukulan itu, wajahnya sudah kena tonjok dari samping. Kehadirannya dengan seragam putih biru dianggap musuh oleh kubu lawan Tubuhnya ambruk ke tanah. Kedua tangannya terangkat secara reflek untuk melindungi wajah sembari mengantisipasi serangan berikutnya. Namun serangan yang ia antisipasi tak kunjung datang.
Reagan memberanikan diri menurunkan salah satu tangannya. Ia melihat Selena sedang memukuli anak-anak yang tadi menyerangnya. Anak-anak itu berbadan lebih besar darinya, namun Selena nampak tidak kerepotan sama sekali saat menghajar mereka. Cewek itu sekilas nampak menyeramkan bagi Reagan. Tiga orang dari kubu lawan yang tadi menyerang Reagan sudah ambruk ke tanah.
"Kamu tidak membunuh mereka, kan?" Tanya Reagan cemas melihat kondisi ketiganya yang terkapar penuh darah.
"Entahlah. Aku agak terbawa suasana." Jawab Selena sambil membetulkan rambutnya yang berantakan. Cewek itu menyeringai senang. Meski punggung dan wajahnya nyeri, Reagan buru-buru bangkit dan merebut pipa besi dari tangan Selena.
"Hey-" Selena mulai protes namun lebih dulu dipotong oleh Reagan, "Kita harus pergi dari sini, polisi akan segera datang!" Reagan melempar pipa besi itu sembarangan lalu menarik tangan Selena. Sambil tertatih, Reagan setengah menyeret Selena menjauhi pusat keributan.
***