
Bangunan tiga lantai yang berdiri kokoh di depan Theo ini bernama Legends & Co., salah satu perusahaan retail perhiasan paling terkenal. Bahkan Theo yang lebih banyak menghabiskan waktunya di laut daripada di daratpun pernah dengar namanya. Mamanya punya beberapa kotak perhiasaan keluaran Legends & Co di kloset khusus perhiasan miliknya.
Theo memastikan sekali lagi alamat yang dikirimkan oleh dr. Ivanka ke nomornya.
Sebuah bel berdenting saat Theo masuk melalui pintu putar dengan pegangan berwarna emas. Lantai bawah nampak lengang. Sebuah lampu hias kristal menggantung di tengah-tengah ruang duduk. Theo dapat mencium aroma lavender begitu masuk ke dalam. Seorang pegawai wanita berblouse putih menyambutnya. Tubuhnya tinggi dan ramping seperti model. Dia tak tersenyum begitu melihat Theo dari atas sampai bawah. Ia mengira tamu yang datang ini adalah lelaki pengangguran yang mungkin hanya ingin melihat-lihat saja. Toh, di lantai satu ini tak banyak perhiasan yang didisplay. Ruang pameran sesungguhnya ada di lantai atas, tempat para tamu VIP yang akan ia antar sendiri untuk berkeliling.
Jika diperhatikan, mungkin penampilan Theo memang tidak cocok berada di toko perhiasan high-end seperti ini. Ia hanya mengenakan celana kargo dan sandal crocs lusuh. Belum lagi kaos hitamnya yang bolong di bagian perut tidak terlindung sepenuhnya oleh jaket parka coklat yang sudah berubah warna menjadi agak keabu-abuan karena terlalu sering kena sinar matahari.
"Kami punya brosur yang bisa dibawa pulang." Wanita bak model dengan rambut tergerai lurus itu mengambil brosur di atas meja resepsionis dengan gaya acuh. Ia menyerahkan brosur itu pada Theo tanpa memandangnya.
"Saya bukan cari brosur." Theo menggaruk lehernya karena merasa canggung. "Apa Martin ada?"
Kini Theo mendapatkan seluruh perhatian pegawai wanita itu, namun bukan perhatian dalam kesan yang baik. Dari ekspresinya Theo dapat menduga kalau wanita itu sangat kesal padanya dan ingin menyingkirkan Theo cepat-cepat.
"Martin siapa?"
"Martin si ahli berlian dan designer perhiasan."
"Bos kami maksudnya?" Tanyanya dengan kedua alis terangkat tinggi-tinggi. Seorang petugas keamanan berbadan tinggi besar mendekati mereka, ingin memastikan kalau tidak ada keributan yang terjadi. "Sudah buat janji sebelumnya?"
Theo menggeleng. Dia memang hanya diberikan alamat oleh dr. Ivanka, seharusnya ia tahu kalau harus buat janji dulu. Bagaimanapun, orang yang sedang ia ingin temui bukanlah seorang pedagang biasa.
Pintu lift yang berada di depan mereka terbuka. Dari dalam sana keluar seorang wanita bak model lainnya. Rambutnya dicat pirang dan diikat tinggi dengan gaya ekor kuda. Stilettonya berbunyi nyaring saat ia melangkah di atas lantai marmer menyeberangi ruangan. Wanita itu juga mengenakan blouse putih, namun dengan model berbeda. Kainnya lebih transparan daripada yang dikenakan pegawai di lantai satu ini. Rok pensil hitam ketat yang ia kenakan tidak dapat menyembunyikan kaki mulus dan jenjang miliknya. Theo yang tidak banyak pengalaman dengan perempuan, tentu saja kelihatan sangat kikuk saat berhadapan dengan wanita yang baru keluar dari lift itu.
"Selamat datang di Legends & Co. Anda pasti Theodore." Wanita itu mengulurkan tangannya yang putih bersih lebih dulu. Theo agak terkejut karena wanita itu sudah tahu namanya. Ia membalas uluran tangannya meskipun awalnya ia khawatir jika wanita itu mungkin merasa terganggu dengan tangannya yang dingin dan basah. Theo menarik tangannya dengan cepat, merasa malu sendiri.
"Saya Irene, asisten pribadi Pak Martin. Tadi saya dapat telepon dari dr. Ivanka yang menjelaskan tentang kedatangan anda kemari." Lanjutnya. Pegawai wanita yang tadi bersikap tak ramah pada Theo langsung menunduk malu lalu pamit untuk menyingkir. Begitupun dengan petugas keamanan berbadan raksasa yang tadi sempat membuatnya gemetaran. "Tapi, sayang sekali, Pak Martin sedang tidak di tempat saat ini. Beliau ada meeting sampai malam. Saran saya, datanglah kemari sekitar pukul sembilan sebelum kami tutup, biasanya Pak Martin kembali kesini untuk meeting harian dengan kami. Beliau akan selesai sekitar jam itu."
Theo menghela napas agak kecewa. Padahal ia berencana untuk segera mendapat jawaban sebelum bertemu dengan Voni malam ini. Dengan tangan hampa, Theo keluar dari gedung Legends & Co., menuju rumah sakit tempat Voni bekerja. Ia memutuskan untuk menemui Voni di sana karena merasa tidak enak harus membuat Voni repot-repot bertemu dengannya setelah lelah bertugas. Theo sudah mengirimkan alamat rumah sakit pada Adam agar dirinya dan Profesor dapat bertemu dengannya di sana.
Setidaknya Martin akan memberi jawaban nanti malam saat aku datang kemari lagi, begitu pikirnya.
***
Christian dan Mindy sedang dalam perjalanan menuju pintu depan saat mereka bertemu dengan Adam dan Profesor. Adam sedang membawa sebuah kotak logam berbahan besi yang kelihatan cukup berat. Ia memeluk kotak itu di dadanya.
"Kalian lihat Selena?" Tanya Christian. Mindy nampak cemberut. Ia membetulkan letak tas ranselnya di pundak, sembari menyerahkan tas Selena pada Christian.
Adam dan Profesor saling berpandangan, kemudian kompak menggeleng.
"Perlu kuantar?" Tawar Christian.
"Aku sudah panggil taxi online." Tolak Mindy. "Aku pulang dulu. Sampaikan pada Selena kalau aku menunggu teleponnya malam ini. Jika dia tidak menelepon, maka aku akan mengabaikannya besok!"
Christian tersenyum kecil. Mindy tak akan setega itu. Selena adalah satu-satunya sahabat perempuan yang dia punya. Jika dia mengabaikan Selena, dia mau berteman dengan siapa lagi?
Jika bukan karena Selena, mungkin Christian juga tak akan mengenal Mindy. Cewek itu sering main ke rumah Selena sejak mereka SMP, membuat waktu bermain Christian dan Selena berkurang. Karena tak betah lama-lama sendirian, akhirnya Christian ikut nimbrung juga. Mereka berduapun jadi akrab.
"Tentu. Hanya jika aku bertemu dengannya." Jawab Christian setengah bergumam, mendadak merasa sangsi jika mereka dapat bertemu hari ini mengingat sifat Selena suka menghilang tiba-tiba belakangan.
"Kalian mau pergi juga?" Tanya Christian pada Adam sepeninggal Mindy.
"Kami ada janji dengan Theo malam ini. Kami akan kembali agak larut." Adam dan Profesor melambaikan tangan untuk berpamitan. Christian melihat tingkah Profesor yang agak aneh. Tubuhnya limbung kesana kemari seperti orang mabuk. Tapi ia mengabaikannya. Ada rumah Selena yang harus ia kunjungi malam ini. Ia harus mengecek apa yang terjadi pada Selena sampai harus meninggalkan dirinya dan Mindy tanpa mengatakan apa-apa. Sambil menenteng tas milik Selena, ia keluar rumah.
Rumah Selena berada di balik pagar kayu tinggi. Meskipun bersebelahan, suasananya kontras sekali. Jika rumah Christian sangat sepi tanpa keluarganya, maka rumah Selena lebih sepi lagi. Dr. Ivanka hanya menyewa asisten rumah tangga untuk bersih-bersih di siang hari, tidak seperti keluarga Christian yang menyiapkan paviliun khusus untuk mereka agar bisa tinggal di sana selama dua puluh empat jam, menyiapkan segala kebutuhan Christian.
Pintu gerbang utama terbuka begitu Christian memasukkan enam digit angka sebagai kode. Semua lampu di rumah Selena menyala otomatis saat ia yang masuk ke sana. Christian tak melihat satupun mobil di garasi, yang menandakan kalau orangtua Selena belum pulang. Supir yang biasa mengantar jemput Selena adalah orang dari perusahaan Mamanya. Setelah mengantar jemput Selena dari sekolah, mereka biasanya langsung pergi. Jika Selena butuh pergi ke suatu tempat, maka ia akan selalu naik taxi dari rumah atau meminta Christian untuk mengantar.
Setelah menekan kode masuk ke dalam rumah untuk yang kedua kali, Christian mendapati rumah Selena benar-benar kosong. Ia memanggil nama Selena beberapa kali dan mencarinya kemana-mana termasuk ke kamar. Tapi ia tak menemukan seorangpun di sana. Karena tak tahu harus melakukan apa, akhirnya Christian duduk-duduk sebentar di atas tempat tidur Selena.
Cat dinding sampai segala furniturnya berwarna putih. Segalanya nampak bersih dan rapi, seakan tak pernah ditinggali. Namun inilah kamar Selena biasanya. Di sinilah ia tidur dan belajar. Meskipun sudah sering melakukannya, Christian tetap suka memandangi seisi kamar Selena setiap ada kesempatan seperti sekarang ini. Ia suka melihat langit-langit kamar Selena. Ia suka tidur di atas tempat tidur Selena yang bersih dan selalu wangi. Ia suka memandangi foto mereka yang dipajang di atas meja belajarnya.
Christian beranjak dari tempat tidur untuk duduk di kursi meja belajar Selena agar dapat memperhatikan foto masa kecil mereka lebih dekat. Selena membiarkan rambut hitamnya digerai rapi dan ditutup topi lebar berwarna merah. Christian berdiri di sebelahnya dengan tangan kanan memeluk pundak Selena kecil. Selena dipaksa tersenyum saat foto itu diambil, sehingga hanya sebuah garis tipis yang terbentuk di bibirnya. Sedangkan Christian tersenyum sangat lebar untuk memamerkan kedua gigi depannya yang hilang.
Mereka kelihatan bahagia saat itu, mengambil foto berdua saat piknik bersama keluarga mereka masing-masing. Christian menarik seulas senyum di bibirnya. Saat itu adalah masa paling membahagiakan dalam hidupnya.
Ia meletakkan kembali bingkai foto itu di tempatnya, lalu mengusap gambar wajah Selena dengan telunjuk.
Usianya baru tujuh tahun saat menyadari kalau Selena adalah cinta pertamanya. Ia akan melakukan apapun demi membuat Selena senang dan tertawa. Tawa Selena kini cukup sulit untuk didapat. Sejak Selena memberitahunya bahwa kedua orangtuanya mungkin akan bercerai, ia menjadi lebih murung.
Perubahan itu tidak terlalu disukai Christian. Selena yang dikenalnya adalah orang yang tahu apa yang dia inginkan. Kini Christian tak dapat berbuat apa-apa selain menghibur cewek yang disukainya itu. Pikiran Christian tiba-tiba menerawang kembali ke masa lalu.
Ingatan tentang masa lalu selalu berhasil membuatnya tersenyum kecil, meskipun bukan sebuah senyum bahagia karena momen yang indah. Momen itu merupakan awal titik balik bagi perasaan Christian. Ia merasa harus mengungkapkannya cepat atau lambat. Awalnya ia ingin menyatakan perasaannya saat dewasa nanti, ketika mereka berdua sudah punya karir masing-masing. Kini setelah ia tahu sedikit tentang rencana masa depan Selena, Christian mulai membuat rencana baru juga. Ia terpaksa harus menyatakan perasaannya lebih cepat.
Setelah tim basketnya menang di kejuaraan beberapa hari lagi, ia akan memberitahu Selena tentang perasaannya. Selena mungkin akan menolaknya mentah-mentah dan merusak persahabatan mereka juga, namun jika Selena tahu apa yang ia rasakan, selama waktunya di MIT, Christian berharap agar Selena terus memikirkan dirinya. Dengan begitu, rencananya untuk menjadi satu-satunya pria bagi Selena saat dewasa nanti akan jadi kenyataan.
***