SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Tabir



Christian membuka pintu kamar Theo dengan satu tangan karena tangan lain sedang membawa gelas berisi air hangat. Keluarganya sedang bicara dengan dr. Evan di bawah. Dokter yang telah menjadi dokter keluarga mereka selama bertahun-tahun itu langsung datang begitu dihubungi oleh Mamanya yang panik.


"Waktunya makan malam. Biar aku yang menjaganya." Ujar Christian seraya meletakkan gelas di atas nakas sebelah tempat tidur Theo.


Adam dan Profesor bangkit untuk keluar kamar.


"Kamu tidak ikut makan?" Tanya Profesor.


"Duluan saja. Yang lain sudah menunggu di bawah." Christian tak menoleh saat menjawab. Tangannya sibuk membetulkan selimut yang menutupi tubuh Theo. "Jangan khawatir! Dokter kami bilang Theo akan sadar sebentar lagi." Sambungnya saat menyadari mereka tak juga keluar. Ia harus mendorong mereka agar bisa menutup pintu kamar.


Christian sedang ingin sendirian. Ia tak mau kepergok senyum-senyum sendiri. Bisa-bisa dr. Evan ikut memeriksanya juga. Semua itu karena memori kecupan singkatnya dengan Selena. Setelah bertahun-tahun menahan diri, Christian akhirnya nekat melakukannya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Theo bangkit duduk dengan susah payah. Christian buru-buru membantunya. Ia menawarkan gelas air pada Theo agar bisa diminum.


"Bukan urusanmu."


"Apa yang terjadi?" Kakak keduanya itu memegangi kepala setelah selesai minum.


"Kakak pingsan di pantry. Mama menelepon dr. Evan dan dia bilang kalau Kakak pingsan karena syok." Christian duduk di samping tempat tidur Theo. "Apa yang kalian bicarakan tadi? Selena sudah tidak ada saat aku naik."


Theo mengingat semuanya. Kejadian saat Selena yang ia kenal mengakui bahwa dia adalah alien dari planet Grenoia. Selena yang asli sudah tewas. Tubuhnya mungkin sudah dikremasi oleh pihak Rumah Sakit. Ia memandang adiknya lekat-lekat.


"Bagaimana sikap Selena selama ini?" Tanyanya.


Dahi Christian berkerut mendapat pertanyaan begitu. Tapi ia tetap memikirkan jawabannya. "Dia agak berubah belakangan. Lebih tenang. Kenapa?"


"Bagaimana kalau Selena yang kamu lihat belakangan ini bukan Selena yang asli?"


Christian tertawa. "Dia tidak punya kembaran. Kita semua tahu dia anak tunggal."


Tiba-tiba kakaknya beranjak dari tempat tidur. Ia mengambil sebuah map tebal yang tergeletak di atas meja kerja, lalu mengenakan jaket dengan buru-buru.


"Mau kemana? Memangnya sudah baikan?"


Christian mengikuti Theo keluar dari kamar saat pertanyaannya diabaikan. Mereka turun dan melewati meja makan yang sedang ramai.


"Loh, mau kemana? Theo?" Marlia menghampiri kedua anaknya yang baru saja turun. "Dokter Evan ada di sini." Lanjutnya.


"Bagaimana keadaanmu, Theodore?" dr. Evan ikut menghampiri mereka juga. Dari wajahnya nampak kekhawatiran. Theodore pingsan karena syok. Jadi pasti telah terjadi sesuatu padanya.


"Sudah baikan. Aku harus pergi." Theo mengambil kunci mobil lalu bergegas meninggalkan keluarganya yang kebingungan.


"Apa ada yang terjadi padanya sebelum ini?" Marlia mendengar dr. Evan bertanya.


"Tidak ada. Dia bicara dengan temanku, Selena. Saat aku naik, temanku menghilang, dan keluargaku sudah datang. Apa menurut dokter dia syok karena kaget melihat keluarganya berkumpul tiba-tiba?"


Marlia yang menangkap sindiran dari pertanyaan anak bungsunya langsung menjewer telinga Christian.


"Aduh, sakit!" Rintih Christian. dr. Evan meringis.


"Kira-kira dia pergi kemana?" Marlia bergumam pada dirinya sendiri. "Kondisinya mengkhawatirkanku. Apa dia tertekan karena rencana pernikahannya?"


"Atau... tidak ada pernikahan. Mungkin dia sudah ditolak mentah-mentah." Saat Marlia akan menjewer telinga Christian untuk kedua kali, anak bungsunya itu sudah kabur ke meja makan.


"Maafkan anakku ya, dok? Dia memang suka keterlaluan."


Dokter yang memegang dua gelar spesialis itu hanya tersenyum. "Saya juga punya adik perempuan yang seumuran Christian." Ujarnya.


"Benarkah? Kita harus makan malam bersama kapan-kapan."


"Saya akan mengajaknya jika sempat. Biasanya dia tinggal di asrama. Dia agak susah bergaul."


"Eh, kenapa begitu?"


"Sarah punya masalah pendengaran. Dia tuli. Jadi dia kurang membuka diri karena kondisinya. Dia baru saja pindah ke Cavalrie. Awalnya dia sekolah di Sekolah Berkebutuhan Khusus."


"Ohh..." Marlia meletakkan sebelah tangan di dada, merasa prihatin. "Cavalrie sekolah yang sangat bagus. Christian tidak mau masuk kesana karena ingin satu sekolah dengan Selena. Teman yang dia sebutkan tadi."


"Jadwal praktik membuatku jarang berada di rumah. Jadi tidak bisa mengawasinya setiap waktu. Sarah bilang dia lebih suka tinggal di asrama daripada di rumah yang sepi."


Marlia memaksakan sebuah senyum. Kata-kata dr. Evan agak menohok. Ia memandang anak bungsunya yang sedang mengobrol dengan Phillip. Christian sering ditinggalkan sendirian di rumah. Baru kali ini ia merasa bersalah.


***


 


MAREEN DENTAL CARE


 


Theodore menunggu dr. Ivanka di lobi dengan tidak sabar. Begitu resepsionis mengijinkannya masuk ke ruangan dokter, ia langsung bergegas.


"Akhir-akhir ini tante kedatangan banyak tamu kejutan." Kata dr. Ivanka saat Theo membuka pintu untuk masuk. Ia langsung dipersilahkan duduk. "Jadi apa ada yang bisa tante bantu? Kamu kelihatan agak pucat."


Theo meletakkan sebuah map di hadapan dr. Ivanka. "Tante harus lihat ini dulu!"


Ia tak mengatakan apa-apa saat membuka map tebal yang diberikan oleh Theo. Ia membaca beberapa halaman pertama dengan cermat lalu menghela napas.


"Ini hasil otopsi. Milik siapa?" dr. Ivanka memandang Theo penuh curiga. "Aneh sekali. Beberapa hari lalu juga ada polisi yang datang mengatakan hal-hal aneh tentang penemuan jenazah di dalam perut paus. Mereka bilang itu ada hubungannya dengan tante hanya karena sebuah anting yang mereka temukan."


Theo tak menjawab. Ia terus memandang dr. Ivanka dalam diam, merasakan gejolak batin antara memberitahu semuanya atau bersabar. Theo berhasil menahan diri. Mama Selena harus tahu kebenarannya dari bukti-bukti yang ia berikan. Ia memilih-milih dokumen yang belum selesai dibaca dr. Ivanka, lalu menunjukkan selembar kertas yang berisi catatan gigi beserta foto. Dokter itu membacanya dengan teliti. Ekspresinya berubah ketika menyadari sesuatu.


"Darimana kamu dapat ini??" Desak dr. Ivanka.


"Dari dokter forensik yang sama dengan yang mengotopsi jenazah dalam perut paus." Theo memperhatikan perubahan ekspresi dr. Ivanka yang makin kentara. "Tante benar. Dokumen-dokumen ini berisi hasil otopsi jenazah tanpa identitas itu."


"Tapi catatan gigi ini mirip dengan milik Selena." Bisik dr. Ivanka. "Aku hafal struktur giginya. Bagaimana mungkin?"


"Apa kata polisi yang datang kemari?"


"Mereka memintaku melakukan tes DNA. Ada Surat Perintahnya juga." Dr. Ivanka menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"


"Ini semua tidak masuk akal, Theo!"


"Saya tahu. Awalnya saya juga berpikir begitu. Tapi Selena yang kita tahu bukan Selena yang selama ini kita kenal."


"Maksudmu... anakku sudah tewas, begitu?! Ini benar-benar gila!" dr. Ivanka bangkit dari kursinya. Ia berjalan hilir mudik dengan kalut.


"Dia mengakuinya sendiri, tante. Dia bilang dia bukan Selena."


Mama Selena menjatuhkan dirinya ke kursi. Wajahnya kelihatan amat pucat.


"Tante tahu ada yang berbeda pada Selena belakangan." Lanjut Theo.


"Apa yang dia katakan padamu?"


"Dia bilang namanya Solar. Dia berasal dari tempat yang bernama Grenoia." Dr. Ivanka menundukkan kepalanya di atas meja karena frustasi.


"Tidak mungkin!" Gumamnya pada diri sendiri. "Bagaimana kalau kalian semua salah?"


"Tidak ada salahnya melakukan tes DNA. Jika itu bukan dia, kita anggap semua ini tidak pernah terjadi."


dr. Ivanka mengangkat kepalanya. "Akan kuselesaikan omong kosong ini!"


Theo menunduk. Ia berpikir kalau persetujuan dr. Ivanka untuk melakukan tes DNA mungkin akan menyakiti mereka semua. Namun hanya itu satu-satunya cara untuk memastikan kebenaran.


***


 


Lubis Sahetapi menyeberangi dataran hijau berbukit-bukit di atas golf cart. Sebelah tangannya yang terlindung sarung tangan menggenggam sebuah stick. Seorang caddy muda dan cantik mengemudikan golf cart yang membawa mereka menuju sebuah rombongan yang telah menunggu. Tuan Sahetapi mengenal rombongan itu. Ia datang kemari atas undangan mereka. Pasukan pengamanan yang mengenakan jas hitam berdiri waspada di sekitar lokasi.


"Pak Lubis, orang favoritku!" Rajasa Malik, Menteri Pertahanan Nasional langsung menyambutnya begitu ia turun dari golf cart. Mereka berpelukan erat bagai sahabat lama. Tuan Sahetapi menyunggingkan senyum yang agak dipaksakan.


"Hari ini bukan hari yang cocok untuk main golf, kurasa." Komentarnya pada angin sepoi-sepoi yang tak henti berhembus. Rajasa terkekeh.


"Kalau bukan karena undangan main golf, Pak Lubis tidak akan mau bertemu dengan saya." Sahut Rajasa seraya tertawa. "Bagaimana kabar Pak Lubis dan keluarga?" Ia menuntun Tuan Sahetapi menuju hole 13. Rombongannya mengikuti dari belakang dengan tetap menjaga jarak agak jauh.


"Apa tujuanku datang kemari?" Tanya Tuan Sahetapi tanpa basa-basi. "Ada yang kalian inginkan."


Rajasa lagi-lagi tertawa mendengar keterusterangan Guru Besar Ilmu Hukum itu. "Selalu tanpa basa-basi, seperti biasa. Itu hal yang paling saya kagumi dari anda."


"Sebaiknya langsung saja. Aku tidak punya banyak waktu." Tuan Sahetapi mendesak. Ia sudah merasa tak nyaman berada di tengah-tengah rombongan Menteri Pertahanan itu. Tidak ada hal baik yang datang jika mereka akrab. "Ada sesuatu yang diinginkan Presiden?" Lanjutnya.


Rajasa menggeleng. Senyum tak lepas dari wajahnya. "Tidak ada hubungannya dengan Presiden. Malah, saya tidak ingin Presiden tahu." Seringainnya makin lebar. "Pak Lubis ingat tentang Project Amethyst yang pernah kita bicarakan waktu itu?"


Tentu saja Tuan Sahetapi mengingat project yang sedang direncanakan oleh Rajasa Malik sejak bertahun-tahun lalu itu. Rajasa meminta bantuannya untuk membuat organisasi yang ia sponsori memiliki badan hukum sendiri. Bahkan jika mungkin, Rajasa ingin agar pihak pemerintah selain dirinya tidak bisa ikut campur.


Tuan Sahetapi mendengus. "Sudah kukatakan itu tidak mungkin. Organisasi yang kamu buat sangat bertentangan dengan norma-norma yang ada. Kalian tidak akan mendapat dukunganku."


"Hmm.. saya rasa anda akan berubah pikiran sebelum meninggalkan tempat ini."


"Apa maksudmu?"


"Project Amethyst masih berjalan. Kami belum melepaskan penyihir yang berasal dari Pennsylvania itu. Bahkan, kami mendengar sesuatu yang menarik darinya." Mereka berhenti di atas hole 13. Rajasa berjongkok untuk mengambil bola dari lubang. "Ngomong-ngomong bagaimana kabar cucumu? Namanya Selena, kalau saya tidak salah ingat."


Kedua alis Tuan Sahetapi menyatu. Wajahnya dipenuhi kecurigaan. "Apa hubungannya dengan cucuku?"


"Dua bulan yang lalu Amethyst mendapat visi. Semacam penglihatan. Di dalam penglihatannya ia melihat cucumu, Selena."


"Bukankah sudah kukatakan aku tidak percaya dengan perempuan gila yang kalian kurung dalam bunker itu? Kalian lebih gila jika percaya satupun yang diramalkannya!"


"Kami tidak ingin percaya. Tapi kejadian-kejadian belakangan terjadi sesuai dengan apa yang diramalkannya. Kami menelusurinya dan menemukan hal yang sangat mengejutkan." Rajasa memberi isyarat ke arah rombongannya, memanggil seseorang. Dua orang pria datang menghampiri mereka. Salah satunya mengenakan jas hitam, sedangkan yang lain mengenakan kemeja biru muda dan kacamata.


"Ini Arian, direktur operasional CSL (Containment of Supernatural Object)." Rajasa menunjuk pria berjas hitam. Wajahnya masih tampan di usianya yang sudah kepala empat. "Akhirnya kami menemukan nama yang cocok untuk organisasi itu." Lanjut Rajasa sambil tersenyum. "Nah, yang ini dr. Jerome, dia yang bertanggung jawab atas penelitian kami." Pria berkemeja biru memberi salam pada Tuan Sahetapi namun tak digubris.


"Lalu?"


"Anak buah dr. Jerome belum lama ini mengotopsi jenazah tanpa identitas yang ditemukan dalam perut paus. Anda pasti tahu beritanya, kan? Cukup heboh!" Tuan Sahetapi masih menunggu Rajasa untuk melanjutkan. "Dia juga memimpin penelitian terhadap makhluk asing yang ditemukan oleh Ahli Kelautan beberapa minggu lalu. Lokasinya tak jauh dari penemuan jenazah tanpa identitas itu." Rajasa menimbang-nimbang bola golf di tangannya. "Makhluk asing itu berasal dari luar bumi."


"Aku masih tidak mengerti tentang hubungannya dengan cucuku." Sahut Tuan Sahetapi dengan nada datar.


"DNA makhluk asing itu juga ada di bawah kuku jenazah yang ditemukan." Rajasa memandang Tuan Sahetapi, memperhatikan ekspresinya. "Jenazah itu milik cucu anda."


Tuan Sahetapi membuang muka. Ia tak dapat menahan rasa geli karena omong kosong yang baru ia dengar. "Amethyst meramalkan itu semua?" Tanyanya ingin memastikan.


Rajasa mengangguk, "Dan kami membuktikannya. Arian turun sendiri ke lapangan untuk mendapatkan sampel DNA milik dr. Edgar dan dr. Ivanka. Sedangkan dr. Jerome memastikan semua sampel DNA cocok dengan jenazah yang ditemukan itu. Saya sangat menyesal memberikan kabar buruk ini pada anda." Tidak nampak raut penyesalan sedikitpun di wajah Menteri Pertahanan itu. "Cucuku, Mindy, belum tahu tentang hal ini. Saya memastikan kalau Pak Lubis mendengarnya sendiri dari saya."


"Jangan bicara sembarangan!" Kini Tuan Sahetapi marah. "Cucuku baik-baik saja! Aku baru menemuinya kemarin!"


"DNA makhluk asing itu juga ada di bawah kuku jenazah yang ditemukan." Ulang Rajasa dalam tempo lambat. "Artinya, makhluk asing dari luar bumi mencuri identitas cucu anda. Dia menyamar untuk mengelabui semua orang."


Arian menyerahkan sebuah map yang berisi dokumen sangat rahasia. Di permukaan map itu terdapat simbol berbentuk persegi yang saling terkait. Tuan Sahetapi membuka map itu dan membaca semua isi dokumen di dalamnya. Wajahnya berubah pucat pasi. Seseorang meletakkan sebuah kursi di belakangnya agar ia tak terjatuh. Benar saja, Tuan Sahetapi langsung terduduk lemas begitu selesai membaca.


"Selena, cucuku." Bisiknya. Ia meletakkan sebelah tangan di atas jantung. "Cucuku sudah tiada..." Pandangannya berkunang-kunang. Dengan sigap Rajasa menyuruh ajudannya untuk memberikan segelas air pada Tuan Sahetapi yang sedang syok.


"Kami yakin ada lebih banyak makhluk asing yang akan datang. CSL sedang memburu makhluk yang menyamar jadi cucu anda." Rajasa menepuk pundak Tuan Sahetapi. Laki-laki renta itu megap-megap. Ia sangat terpukul.


"Bagaimana ini... cucuku sudah tiada." Sebulir ait mata turun membasahi pipinya. "Oh, Selena, cucuku..." Ia menarik tangan Rajasa. "Temukan... temukan dia! Temukan makhluk yang membunuh cucuku!!" Tuan Sahetapi mengatakannya sambil menahan amarah. "Akan kubunuh dia! Kubunuh mereka semua!" Sumpahnya.


Rajasa tersenyum melihat pria renta yang sedang emosional itu. "Kami akan menemukannya untuk anda. Cepat atau lambat mereka akan datang. Amethyst memberitahu kami bahwa jumlah mereka sangat banyak."


"Bagaimana kalian akan menghadapi mereka?"


"Kami menghabiskan seumur hidup kami untuk melindungi negara dari serangan musuh. Serangan makhluk yang berasal dari bumi hanya salah satunya. Kami punya sumber daya yang kami butuhkan. Satu-satunya hal yang kami belum punya adalah badan hukum. CSL harus segera diakui agar dapat beroperasi secara terbuka." Rajasa menyunggingkan senyum kecil. "CSL butuh bantuan anda."


***