
ANTARES
Ivanka dan Edgar datang bersamaan dengan kendaraan berbeda. Mereka tiba pukul setengah sepuluh malam di kediaman orangtua Edgar setelah mendapat pesan dari Lubis Sahetapi, ayah Edgar sekaligus mertua Ivanka. Kediaman orangtua Edgar berada di sebuah perumahan mewah di pinggiran kota yang dikenal sebagai Antares. Antares memiliki dua puluh unit rumah saja yang tersebar di sekeliling lahan mereka yang terlalu luas. Jarak antar rumah sangat jauh, hingga memungkinkan masing-masing pemilik mempunyai halaman atau kebun.
"Kenapa Papah mau bertemu?" Edgar berlari kecil untuk menyusul istrinya.
"Mana kutahu!" Jawab Ivanka dengan nada judes. "Papah cuma menyuruhku datang jam berapapun hari ini juga. Dapat pesan begitu, aku langsung berangkat ke sini." Lanjutnya setengah mengeluh. Keluhannya memang tidak berlebihan. Ia sedang melayani pasien saat pesan dari mertuanya untuk segera datang ke rumah masuk ke ponselnya. Ivanka langsung membatalkan janji sisa pasien hari itu agar dapat segera pergi ke kediaman mertuanya yang membutuhkan waktu dua setengah jam dari klinik tempatnya bekerja.
"Apakah menurutmu Papah dan Mamah sudah tahu tentang kita?" Nada suara Edgar terdengar khawatir.
Pertanyaan dari Edgar membuat langkah Ivanka berhenti. Mereka berdiri berhadapan di teras rumah.
"Apa yang kamu katakan pada mereka?" Ada tuduhan di balik pertanyaan Ivanka padanya.
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Kita sudah sepakat untuk merahasiakan perceraian ini hingga putusan pengadilan keluar."
"Kalau begitu, semoga ini bukan masalah yang terlalu penting."
Edgar tertawa setengah mendengus. "Kamu tahu orangtuaku. Mereka tak akan menyuruh kita ke sini 'hari ini juga' jika tak ada masalah serius."
Ivanka menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, mulai gusar. "Kita tak akan tahu jika tidak masuk ke dalam, bukan?"
Edgar setuju. Keduanya mengetuk pintu ganda berbahan dasar kayu jati bersamaan. Tak berapa lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan tersenyum lebar menyambut mereka. Meskipun keduanya datang larut malam, rumah orangtua Edgar nampak masih kelihatan sibuk. Terbukti dengan hilir mudiknya beberapa asisten rumah tangga yang mereka temui sepanjang perjalanan menuju ruang keluarga, tempat Lubis Sahetapi dan istrinya menunggu.
"Duduk." Pria berbaju polo putih dan mengenakan celana pendek di depan mereka tak mengangkat kepala dari cangkir kopi saat mereka tiba.
Ivanka dan Edgar langsung duduk di sofa kosong di samping mereka.
Nyonya Sahetapi yang duduk bersebelahan dengan suaminya hanya melirik anak dan menantunya. Ia lebih fokus pada rajutan di tangan. Kedua tangan wanita berusia tujuh puluh sembilan tahun itu masih lincah menari dengan benang dan jarum.
"Mamah dan Papah sehat-sehat saja, kan?" Edgar mengusap kedua tangannya di atas paha.
"Sudah larut. Papah tidak akan basa-basi." Lubis Sahetapi meletakkan cangkir indah berbahan porselen di atas meja. "Apa kalian akan bercerai?"
Ivanka dan Edgar kompak saling pandang dengan gugup.
Karena tak segera mendapat jawaban, Lubis Sahetapi memberi isyarat di udara dengan tangan kanannya. Tak berapa lama, seorang laki-laki setengah baya yang Edgar kenal sebagai asisten pribadi Papanya selama lima belas tahun terakhir, muncul dengan map kuning di tangan. Ia meletakkan map itu di atas meja lalu langsung pamit. Edgar membuka map itu dan menemukan dokumen-dokumen pengurusan balik nama sertifikat rumah atas nama Selena.
"Apa ini maksudnya, Pah?" Tanya Edgar tak mengerti.
"Harusnya Papah yang tanya kalian." Lubis Sahetapi menyisir rambut putihnya yang masih lebat dengan tangan kanan. Edgar hafal gestur itu. Papanya selalu menyisir rambut ke belakang kepala jika sedang kalut. Namun kekalutan itu sama sekali tak nampak dari wajah rentanya. Mamanya-pun kelihatan tenang-tenang saja saat merajut. "Kalian bodoh sekali jika berpikir kalau kabar tentang perceraian kalian dapat ditutup-tutupi dari kami. Apa kalian lupa kalau Papah adalah pemilik firma hukum terbesar di sini? Papah kenal semua hakim, jaksa, dan pengacara di Indonesia."
"Kami tidak bermaksud-"
"-merahasiakan perceraian kalian?" Potong Lubis Sahetapi dengan sikap tenang yang mulai nampak menyeramkan. Pria yang mendapat gelar guru besar hukum terbaik di Indonesia itu terkekeh singkat. "Tentu saja kalian berniat merahasiakannya sejak awal."
"Lalu apa hubungannya dengan dokumen-dokumen ini, Pah?" Edgar meletakkan dokumen yang dipegangnya ke meja.
"Kalian pernah berpikir tentang Selena saat mendaftarkan gugatan kalian ke pengadilan?" Lubis Sahetapi malah balik bertanya.
"Kami berencana untuk memberitahunya saat waktunya tepat, Pah." Ivanka akhirnya buka suara.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Selena menghubungi salah satu pengacara rekanan firma Papah untuk berkonsultasi. Dia ingin mendapatkan rumah yang kalian tempati setelah kalian resmi bercerai."
Hal itu membuat Ivanka dan Edgar terkesiap. Tak ada yang lebih membuat mereka terkejut selain mengetahui kenyataan bahwa anak tunggal mereka tahu tentang keadaan orangtuanya dan berpura-pura kalau segalanya masih normal. Lalu apa gunanya mereka berusaha menutup-nutupi perceraian mereka selama ini?
"Selena sudah tahu?" Ivanka menutup wajahnya dengan telapak tangan, jantungnya mencelos.
"Kenapa kalian bercerai?" Tuan Sahetapi tidak mengindahkan pertanyaan itu.
"Kami merasa sudah tidak cocok, Pah." Jawab Edgar setelah terdiam cukup lama.
"Itu adalah perkara konyol yang sering dijadikan alasan perceraian." Gerutu Lubis Sahetapi. "Baru merasa tak cocok setelah dua puluh tahun bersama? Kenapa tidak kemarin-kemarin saat Selena belum lahir?"
Anak dan menantunya menangkap sindiran dari pertanyaan itu.
"Papah minta kalian datang kemari bukan untuk menyidang kalian." Lubis Sahetapi menyesap kopi hitam dari cangkirnya. "Papah ingin memberi kalian peringatan karena telah bertindak ceroboh. Kami berdua sama-sama tak peduli dengan pilihan kalian. Mau pisah atau tidak itu urusan kalian. Tapi jika kalian membuat Selena terluka dan mengalami tekanan psikologis karena perceraian ini, maka Papah tak akan segan-segan bertindak."
Ivanka dan Edgar saling bertukar pandang.
"Papah bisa membuat kalian kehilangan hak asuh atas Selena." Lanjutnya.
"Kami orangtua Selena. Papah tak punya hak untuk bicara begitu!" Sergah Ivanka.
"Ivy benar, Pah! Sungguh tidak adil kalau Papah begini padahal kami sepakat berpisah baik-baik dan sedang berunding tentang hak asuh anak kami." Sambung Edgar.
Lubis Sahetapi masih menyesap kopinya dengan tenang. "Selena sudah memutuskan." Ujarnya.
"Apa maksudnya?" Tanya Ivanka, kelihatan gelisah dalam duduknya.
"Selena bilang tak ingin ikut kalian berdua." Lubis Sahetapi memandangi mereka bergantian. "Tandanya kalian berdua tidak becus mengurus anak. Masih berpikir pantas jadi orangtua?"
Edgar dan Ivanka sama-sama terdiam, kehabisan kata-kata.
"Teruskan perceraian kalian." Lanjutnya. "Papah dan Mamah akan bantu Selena mendapatkan apa yang dia mau. Sekalipun itu berarti menjauhkan kalian berdua darinya."
"Tapi Selena anak kami!" Air mata mulai membasahi wajah Ivanka.
"Papah sudah selesai bicara. Kalau kalian mau menginap, silahkan! Banyak kamar kosong di rumah ini." Lubis Sahetapi beranjak dari duduknya, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Nyonya Sahetapi menghentikan rajutannya. Ia menatap anak dan menantunya dengan pandangan datar. "Mamah kecewa sekali." Wanita itu mendecakkan lidah lalu menyusul suaminya.
Kini hanya tinggal Edgar dan Ivanka di ruangan itu, sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Selang beberapa detik, ponsel Ivanka berbunyi. Ivanka mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini.
"Halo?"
"Ivy, kenapa kalian bercerai?! Sudah gila, ya?!" Ivanka harus menjauhkan ponsel dari telinganya karena diteriaki oleh ibunya sendiri.
Edgar juga mendengarnya. Ia langsung menunduk sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.
***
Pasangan yang belum resmi bercerai itu baru kembali ke rumah mereka pukul delapan pagi. Mereka sama-sama tak tahan dengan perlakuan dingin orangtua Edgar, jadi memutuskan untuk berpamitan saat pagi buta. Semalaman Ivanka harus meladeni telepon dari orangtuanya. Mereka mendapat kabar tentang perceraian itu dari nyonya Sahetapi. Keduanya dibuat pusing hingga tak mendapat cukup tidur. Mereka tidak menduga kalau perlakuan kedua orangtua mereka sebegini kerasnya jika itu menyangkut tentang Selena. Seharusnya mereka tahu jika selama ini Selena adalah cucu kesayangan mereka semua. Mereka tak akan membiarkan Selena terluka meski harus menghapus nama Ivanka dan Edgar dari daftar keluarga. Pasangan itu merasa diperlakukan seperti penjahat. Padahal mereka adalah orangtua Selena.
"Edgar, ada yang ingin kutanyakan." Ivanka mengusap pipinya yang sembab. Sepanjang perjalanan ia sudah berpikir panjang hingga menangis terisak-isak.
"Apa?" Edgar menatap wajah wanita yang akan menjadi mantan istrinya itu dengan rahang mengeras. Ia masih peduli pada Ivanka. Wajah sedih yang dipasang oleh wanita kuat itu selalu berhasil membuatnya merasa bersalah meskipun ia tak tahu apa kesalahannya.
"Apa kamu sudah punya wanita lain? Penggantiku?"
Edgar terdiam lama, tak menyangka akan mendapat pertanyaan itu.
"Jawablah."
Edgar menggeleng. Kedua matanya melihat ke segala arah selain Ivanka. Satu kakinya memainkan kerikil di tanah. "Tidak mungkin ada orang yang sebanding denganmu, Ivy."
"Lalu kenapa setuju bercerai denganku?" Sebulir air mata jatuh ke pipi Ivanka, ia buru-buru menghapusnya. Ia sudah capek menangis, namun tekanan emosi yang ia rasakan tak dapat mengendalikan kalenjar air mata.
"Aku setuju karena kamu kelihatan tersiksa sekali bersamaku. Kupikir perceraian adalah satu-satunya jalan terbaik bagi kita."
"Lalu Selena?"
"Jika pengadilan memutuskan hak asuhnya ada padamu. Aku bisa apa?"
Ivanka mendekat. Tanpa peringatan wajah Edgar sudah ditampar dengan amat keras.
"Sikap pasrahmu membuatku muak. Semua alasanmu itu membuatku merasa seperti pecundang. Katakan apa yang ada dalam pikiranmu!" Nada suara Ivanka meninggi. Berbagai emosi nampak dari wajahnya yang memerah dan kini basah oleh air mata yang tak hentinya mengalir.
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Edgar mengusap sebelah pipinya yang perih kena tamparan.
Ivanka berteriak frustasi. Ia melempar tas jinjingnya ke tanah dengan kasar.
"Orangtua kita akan membuatku gila! Mereka tak bisa seenaknya mengambil Selena!" Raungnya. Kedua tangannya mengepal dan terus-menerus memukul kap sedannya sendiri. Edgar yang tak tahan melihat Ivanka begitu tersiksa berusaha menghentikannya menyakiti diri sendiri. Ia menahan kedua tangan Ivanka dengan menggenggamnya.
"Akan kukatakan apa yang sebenarnya kupikirkan." Ivanka tak berontak saat dirinya dibawa ke pelukan Edgar. "Sejujurnya aku tidak tahan membayangkan harus hidup tanpa kalian. Aku mulai belajar membiasakan diri dengan tinggal di rumah sakit selama yang kubisa. Aku takut berdekatan denganmu karena khawatir akan tindakanku yang mungkin membuatmu makin muak padaku. Aku bisa saja memohon di kakimu agar diberikan kesempatan kedua. Sial! Aku bahkan tak tahu apa yang menyebabkanmu melayangkan gugatan ke pengadilan! Aku benar-benar tak mengerti bagaimana cara memperbaiki ini semua. Jadi aku diam dan pasrah saja seperti pengecut. Maafkan aku, Ivy. Aku tidak bisa hidup tanpamu dan Selena. Maafkan aku yang tidak tahu diri ini."
Tangis Ivanka benar-benar pecah. Ia memukuli dada Edgar dengan tenaga yang lemah. Ia kelelahan menahan segalanya seorang diri. Edgar menenangkan istrinya dengan sabar. Ia menepuk-nepuk punggung Ivanka dan sesekali mengelusnya, membiarkan Ivanka menumpahkan semua. Kemeja biru Edgar basah kuyup di seluruh bagian dada. Maskara Ivanka juga luntur hingga membuat garis berantakan di wajahnya. Penampilan Ivanka sebenarnya menggelikan. Tapi Edgar tak bisa tertawa. Ia takut Ivanka akan mengamuk lagi. Selama setengah jam mereka berpelukan di bawah langit. Begitu Ivanka selesai menumpahkan emosinya, ia menjauh.
"Ini semua salahku." Ujarnya memulai. Suaranya berubah sengau. "Aku terlalu mencintai pekerjaanku hingga menjaga jarak darimu dan Selena. Aku tidak ingin begitu. Aku sudah berusaha tak begitu. Tapi jarak yang membentang dan menjauhkanku dari kalian berdua kian hari kian lebar. Kukira aku sudah tak bisa kembali. Aku mencari pembelaan diri dengan menyalahkanmu atas segala kekurangan yang seharusnya jadi milik kita berdua. Karirku gemilang tapi keluargaku berantakan. Aku merasa paling benar, dan kamu yang patutnya disalahkan. Tindakanku membawa kehancuran keluarga kita. Entah apa yang sudah dilalui oleh Selena karena punya Mama menyedihkan sepertiku. Sekarang kamu pasti membenciku, kan?" Ivanka menutup wajahnya dengan telapak tangan, mulai menangis lagi.
"Jadi itu sebabnya kamu menceraikanku?"
Ivanka mengangguk.
Edgar menurunkan kedua tangan Ivanka. Ia menatap istrinya seakan melihat sisi yang baru darinya. Edgar perlahan mendekat dengan hati-hati. Ia tak berharap Ivanka mendorongnya menjauh. Ia memohon dalam hati agar Ivanka membiarkannya saja. Kemudian bibir mereka saling menyentuh. Awalnya saling mengecap, mencoba mengobati kerinduan yang sebenarnya mereka pendam diam-diam.
"Apakah aku bisa mengubah pikiranmu kali ini?" Bisik Edgar di bibir Ivanka. Istrinya tak menjawab. Ia menarik Edgar mendekat dengan meletakkan kedua tangan di belakang kepala pria yang sudah dinikahinya selama dua puluh tahun itu. Bibir mereka saling memagut. Gejolak yang mereka kira sudah padam itu kembali membara dalam sekejap.
***
"Biasanya Selena pulang jam berapa?" Edgar baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambut yang basah dengan handuk.
"Sebentar lagi." Ivanka melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang. Dirinya sendiri sedang sibuk menyiapkan makan siang setelah mandi lebih dulu. Wanita itu belum sempat mengenakan apa-apa di balik jubah mandinya. Edgar memastikan dirinya sibuk seharian di dalam kamar yang sudah lama tak mereka tinggali bersama.
Suaminya mendekat lalu memeluk pinggang Ivanka dari belakang. Ia merasakan dagu kasar milik Edgar menggelitik leher hingga membuatnya tertawa.
"Aku rindu sekali suara tawa ini." Gumam Edgar. Ia menyentuh wajah Ivanka lalu menciumnya lembut.
"Selena sebentar lagi pulang." Ivanka mendorongnya menjauh. Edgar mendesah kecewa.
"Sebaiknya kamu berpakaian. Tinggal cuci piring saja, kan?" Edgar memandangi tubuh istrinya dari atas sampai bawah dengan kerlingan nakal.
"Ah, benar juga! Kuserahkan padamu kalau begitu." Ivanka mengecup pipi Edgar lalu berlari kecil menuju kamar untuk bersiap-siap menyambut anak mereka.
Selesai berpakaian, Ivanka kembali ke ruang makan. Hidangan makan siang sudah terhidang di meja. Keduanya yang belum makan sejak semalam memutuskan makan lebih dulu. Mereka makan sambil mengobrol santai. Ivanka berpikir sudah berapa lama ia tak bicara dengan suaminya sesantai ini.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore lebih sepuluh. Selena masih tak kelihatan. Ivanka dan Edgar sudah pindah ke ruang keluarga. Sesekali mereka bermesraan atau melanjutkan pekerjaan lewat laptop yang berada di pangkuan masing-masing. Ivanka mulai merasa gelisah. Ia memang selalu pulang malam. Biasanya Selena sudah tidur saat ia sampai rumah. Namun ia rutin mendapat pesan dari supir yang ia sewa untuk mengantar jemput Selena. Ia baru ingat jika sudah beberapa hari ini ia tak mendapat kabar tentang jam keberangkatan dan kepulangan anak semata wayang mereka.
"Aku akan ke kamarnya."
Edgar hanya balas menggumam. Kedua matanya sedang fokus pada layar laptop. Ivanka meninggalkannya untuk naik ke atas. Biasanya Ivanka tak pernah repot untuk mengurus rumah karena ada asisten rumah tangga yang selalu datang setiap siang untuk membersihkan rumah dan memasak untuk Selena. Khusus hari ini ia telah mengirim pesan pada asisten rumah tangga itu agar libur bekerja. Suasana hatinya sedang sangat baik. Ia tak keberatan untuk libur beberapa hari demi mengurus rumah dan keluarganya. Tiba-tiba ia merasakan kerinduan pada anak gadisnya. Sudah seminggu sejak mereka terakhir bertatap muka. Bahkan mereka melewatkan ulang tahun Selena yang ketujuh belas. Ia berjanji dalam hati untuk membuatkan Selena sebuah pesta sebagai gantinya.
Ivanka baru membuka setengah pintu kamar Selena ketika melihat anaknya sedang merangkak turun dari jendela.
"Selena?" Ivanka membuka pintu lebar-lebar dan langsung masuk. "Kamu sedang apa, nak?"
Selena mengangkat wajah ketika mendengar seseorang masuk. Ivanka langsung membantunya duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa tidak lewat pintu depan?" Tanya Ivanka keheranan. Ia mengecek kondisi tubuh anaknya, cemas kalau-kalau dia terluka. Seragamnya nampak kusut dan sedikit kumal. Ada bau garam yang tercium samar-samar.
"Selena lihat mobil Mama dan Papa di garasi. Selena tidak ingin mengganggu kalian, jadi naik lewat jendela. Sudah biasa, kok." Selena tersenyum kecil. Ia menghindari kontak mata dengan Mamanya. Ivanka yang agak terkejut dengan sikap tak biasa Selena hanya bisa menghela napas berat. Ia mengusap kepala anaknya penuh sayang.
"Makan dulu, ya?"
Selena mengangguk. "Selena akan turun selesai mandi."
Ivanka beranjak dari kasur lalu keluar kamar menuju ruang keluarga.
Setibanya di bawah, ia langsung duduk di sebelah Edgar. "Aku merasa Selena agak berubah." Ujarnya pada Edgar.
"Berubah bagaimana?" Tanya Edgar tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Sorot matanya bukan seperti Selena yang biasanya. Apa yang terjadi padanya, ya? Menurutmu sekarang waktu yang tepat untuk membahas masalah keluarga kita?"
Edgar menutup laptopnya sambil mendesah. "Jangan terlalu berlebihan! Mungkin Selena hanya kecapekan." Ia terdiam sebentar. "Memangnya Selena sudah pulang? Kok, tidak kedengaran suaranya waktu masuk?"
"Dia memanjat jendela karena melihat mobil kita di garasi. Dia merasa tak nyaman kalau-kalau kita sedang bertengkar."
Edgar terkekeh, "Mungkin Papah benar. Kita memang tidak becus jadi orangtua."
Sebagai balasan, Ivanka memukul lengan suaminya.
***