SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Keliling Lapangan



SMA HARAPAN PERTIWI


Pagi itu amat cerah. Matahari bersinar hangat-hangatnya pada pukul 07.30 tepat. Semua siswa sedang berbaris di tengah lapangan karena suatu hal yang sangat mendesak untuk disampaikan oleh Kepala Sekolah. Beberapa dari mereka sudah tahu apa yang akan terjadi, namun sebagian besar -yang umumnya adalah siswa baik-baik- sama sekali tidak mengerti alasan Kepala Sekolah menjemur mereka di bawah matahari selama satu jam pelajaran.


"Nama-nama yang saya panggil, maju ke depan!" Suara berat yang dipaksa agar terdengar marah tanpa kehilangan wibawa, menggelegar. Semua orang terperanjat saat mendengarnya.


Nama-nama disebut satu persatu. Ada tiga puluh enam murid angkatan campuran yang kini sudah berdiri di depan podium, menghadap ratusan siswa yang sedang berbaris. Mereka berdiri menunduk dengan kedua tangan di belakang punggung. Salah satunya adalah Jambul, ketua geng preman sekolah yang menjadi langganan BK. Jambul di kepalanya layu karena basah oleh keringat. Sebutan Jambul disematkan padanya sejak kelas sepuluh karena gaya rambut yang menjadi trademarknya itu.


"Dua nama terakhir yang akan saya panggil adalah anak-anak yang paling saya sesalkan. Membuat hati saya hancur berkeping-keping hanya dengan membayangkannya saja." Kepala Sekolah menghela napas berat, "Reagan Bagus Sujiwo Narendra. Selena Mareen Lubis. Maju ke depan!"


Kasak-kusuk langsung terdengar. Christian dan Mindy saling berpandangan sebelum mereka memperhatikan punggung Selena yang menjauh untuk keluar dari barisan.


"Mereka yang berdiri di depan kalian ini adalah anak-anak yang tidak tahu diri! Mempermalukan sekolah dengan ikut tawuran!!" Ujar Kepala Sekolah berapi-api. Peluh mengalir deras dari puncak kepalanya yang setengah botak. Wajahnya memerah karena matahari sekaligus amarah.


"Sudah berapa kali saya katakan, JANGAN TAWURAN!! Kalau mau sok jagoan, ikut saja ekskul bela diri! Kegiatan ekstrakurikuler kita tidak kurang-kurang! Taekwondo, karate, capoeira, tinggal pilih! Habiskan energi kalian untuk olah raga bukannya tawuran! Mau jadi apa kalian, hah?! Preman?? Kalau cita-cita kalian jadi preman, silahkan mengundurkan diri dari sekolah ini! Tidak perlu merepotkan orang banyak untuk cari masalah! Kalian tidak kasihan dengan orangtua kalian yang kerja banting tulang untuk membiayai kalian, hah?!" Kepala Sekolah menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Ini... adalah peringatan terakhir yang saya berikan. Jika sampai ada kasus seperti ini lagi, tidak peduli siapa yang terlibat, maka akan langsung saya drop out! Mengerti?"


Semua siswa menjawab 'Mengerti, pak' dengan serempak.


"Untuk kalian, para bintang memalukan hari ini, hukuman kalian adalah diskors selama tiga hari, keliling lapangan seratus kali-" Terdengar gumaman protes dari peserta tawuran kemarin. Namun langsung dipotong oleh Kepala Sekolah, "-dan membersihkan semua toilet di sekolah tanpa terkecuali!"


Lima belas menit kemudian, Reagan dan Selena sudah berada di ruang Kepala Sekolah yang sejuk karena Air Conditioner dipasang pada suhu terendah. Keduanya berdiri kikuk dengan pandangan ke lantai.


"Sekarang jelaskan kronologi versi kalian!" Nada suara Kepala Sekolah sudah tak segalak saat tadi di lapangan, namun aura mematikannya masih sama. Reagan dan Solar saling berpandangan. Solar tidak ingin jadi orang yang harus menjelaskan kejadian kemarin pada Kepala Sekolah. Reagan langsung menangkap maksud itu dari sorot matanya.


"Kami hanya berada di waktu dan tempat yang salah, Pak." Reagan memulai. "Kami sedang dalam perjalanan ke rumah saya untuk belajar bersama," Ia menelan ludah, "-mendiskusikan mata pelajaran fisika terakhir tentang kemungkinan adanya kehidupan selain di bumi. Jika bapak tak percaya, bisa langsung tanyakan pada bu Hana," lahutnya cepat.


"Lalu kenapa banyak yang bersaksi kalau mereka melihat kalian ikut berkelahi?" tanya Kepala Sekolah dengan nada penuh selidik.


"Kami terjebak di sana. Memangnya kami harus bagaimana lagi jika kubu yang satunya mengira kami musuh mereka?" Reagan segera menutup mulutnya ketika menyadari pertanyaan sarkasmenya barusan terdengar sinis. "Maksud saya, kami hanya coba membela diri. Kami benar-benar tidak terlibat dalam rencana tawuran itu, pak. Membayangkannya saja sudah tidak mungkin," lanjutnya.


Kepala Sekolah mangangguk-angguk seakan sedang membayangkan kemungkinannya. Penjelasan Reagan masuk akal. Rasanya sangat tidak mungkin jika dua murid terpintar seprovinsi seperti Reagan dan Selena menghabiskan waktu mereka untuk terlibat tawuran. Hal itu dapat mencoreng catatan prestasi mereka.


Reagan dan Selena sama-sama ambisius dalam hal akademik, meskipun kepribadian keduanya cukup bertolak belakang. Reagan rajin belajar dan berprestasi di bidang olahraga basket. Tim basket sekolah menjadi langganan juara sejak Reagan bergabung dalam tim. Lain halnya dengan Selena yang cenderung jenius. Anak itu tidak pernah kelihatan belajar atau serius mendengarkan pelajaran di kelas. Dia juga tidak berpartisipasi dalam kegiatan apapun di sekolah. Tetapi ia punya daftar panjang portofolio di bidang non-akademik. Mulai dari rutin mendonorkan darah, menjadi relawan panti jompo, magang di firma hukum besar -yang belakangan diketahui Kepala Sekolah ternyata milik Opanya sendiri- setiap libur semester, sampai menjadi relawan kebun binatang juga pernah dilakoninya.


Reagan dan Selena sama-sama tertarik dengan sains dan matematika. Keduanya sering menjadi peserta olimpiade sampai tingkat nasional. Intinya, dua murid secemerlang mereka sudah terlalu sibuk bersaing hingga tak ada waktu untuk bergaul dengan komplotan bandel, apalagi berpartisipasi dalam tawuran antar sekolah. Rasanya terlalu berlebihan jika dipikirkan. Kepala Sekolah akhirnya mendapatkan kesimpulan.


"Meskipun kalian tidak terlibat, sanksi tetap akan diberikan kepada kalian karena telah terlihat hadir di sana." Kepala Sekolah mengangkat telunjuknya saat Reagan membuka mulut hendak protes. "Sanksi kalian lebih ringan dari yang lain. Lari keliling lapangan tiga puluh kali. Kalian tidak perlu diskors."


Meskipun keberatan, Reagan menutup mulutnya. Ia cukup bersyukur karena tidak perlu diskors dan menjelaskan alasannya kepada Bapak. Setidaknya mereka tidak membersihkan toilet sekolah seperti yang lain.


Begitulah.


Selama sisa jam pelajaran hari itu dihabiskan Reagan dan Selena keliling lapangan sepakbola sebanyak tiga puluh kali. Pemandangan itu diperhatikan oleh Mindy dan Christian dari lantai tiga gedung sekolah saat jam istirahat kedua. Mereka berdiri bersisian. Mata mereka tak lepas dari sosok Selena dan Reagan.


"Situasi langka macam apa ini?" Ujar Christian, menempelkan ibu jarinya di bawah bibir. Kedua alisnya bertaut.


"Selena?" Tanya Mindy memastikan, tangannya bergerak konstan untuk mengipasi wajah. Christian mengangguk. "Bukankah sudah kukatakan sejak kemarin? Kurasa kamu tidak mendengarku." Mindy cemberut.


"Kamu teman sebangkunya. Apa dia pernah memberitahumu sesuatu?"


Mindy menggeleng, "Kami jarang bicara saat di kelas. Dia tidak pernah mengangkat teleponku. Ponselnya mati setiap waktu saat kutelepon. Bagaimana denganmu? Rumah kalian bersebelahan."


"Akhir-akhir ini aku sibuk latihan. Sepulangnya ke rumah, aku langsung tidur. Mana sempat bertemu dengannya!"


Keduanya saling terdiam. Mata mereka tak lepas dari sosok Selena.


"Menurutmu apa yang sedang direncanakan Selena tanpa memberitahu kita?" Sambung Christian.


Mindy mengangkat bahu. "Bukan kebiasaannya begini. Setidaknya dia akan memberitahu salah satu dari kita tentang rencananya. Kamu yakin dia tidak pernah membicarakannya denganmu? Coba ingat-ingat lagi, deh!"


"Jika rencana ini melibatkan Reagan seperti dugaanku, tentu aku akan dengan senang hati membantunya. Sudah lama aku ingin memberi pelajaran pada anak itu."


"Memangnya Reagan ada salah apa padamu?" Tanya Mindy penasaran.


"Eksistensinya membuatku terganggu." Jawab Christian penuh misteri.


Mindy mengernyit, lalu tiba-tiba memukul lengan Christian dengan kipas tangannya. "Sok keren! Memangnya kamu Selena?"


Christian mengusap-usap lengannya yang habis kena pukul. "Gara-gara dia, aku tidak pernah terpilih jadi tim basket!" Sahut Christian berapi-api.


"Itu sih, karena mainmu yang kurang bagus!" Komentar Mindy sambil mendecakkan lidah.


"Jangan lupa kalau aku ini pernah ikut seleksi tim junior nasional waktu SMP!" Balas Christian. Mindy hanya merespon dengan memutar bola mata. Ia kembali mengipasi wajahnya sambil menghela napas.


"Sejak kita kembali dari karyawisata, Selena sering menempel padanya." Christian lanjut berkomentar, kepalanya masih sibuk menganalisis.


Tiba-tiba Mindy menutup kipasnya dengan kasar "Ah!" serunya. "Selena pernah bilang kalau dia sering memikirkan Reagan karena merasa hutang budi padanya."


Mulut Christian membulat. "Menurutmu Selena sedang membalas budi? Dengan mengikuti Reagan kemana-mana?"


"Kurasa Selena sedang mencari tahu apa yang diinginkan Reagan. Kita paham betul dengan sifat Selena. Reagan bukan orang yang mudah didekati. Selena tidak akan menyerah."


Giliran Christian yang mendecakkan lidah. "Kenapa repot-repot, sih?" Gerutunya.


Di lain tempat, Reagan dan Selena masih menjalani hukuman mereka. Mereka sudah lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali. Reagan sudah basah kuyup karena keringat. Matahari sedang bersinar dengan terik-teriknya, seakan menambah siksaan hukuman baginya. Reagan selalu punya fisik yang prima, namun berlari keliling lapangan sepakbola sebanyak ini tentu menguras tenaga. Berbeda dengan Solar yang kelihatan segar bugar tanpa keringat setetespun.


"Kamu baik-baik saja?" Solar mensejajarkan langkahnya dengan Reagan yang fokus mengatur napas sambil berlari. Yang ditanya tidak menyahut. Solar memperhatikan keringat yang membanjiri tubuh Reagan dengan heran. "Seorang manusia bisa mengeluarkan air sebanyak ini. Sungguh sia-sia." Gumamnya lalu menelan ludah, tiba-tiba merasa haus.


Langkah Reagan melambat, begitu juga dengan Solar. "Kamu membelikanku sepeda," ujar Reagan seakan teringat sesuatu. Nada suaranya ingin memastikan, namun tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan. Solar mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu suka?"


"Kamu membelikanku sepeda hybrid seharga delapan setengah juta. Lalu mengirimkannya ke rumahku seperti sedang mengirim paket biasa berisi belanjaan online."


Lagi-lagi Solar mengangguk. "Tokonya bilang gratis ongkir."


"Kamu gila, ya?" Kini nada suara Reagan benar-benar seperti sebuah pertanyaan.


"Memangnya kenapa? Kamu kehilangan sepedamu kemarin. Sudah kubilang aku ingin membelikanmu hadiah dengan kartu hitam yang kupunya."


"Kenapa kamu melakukannya? Aku sudah berhutang banyak sekali padamu. Sepeda itu terlalu mahal bagiku. Akan kukembalikan nanti." Reagan melanjutkan larinya.


"Begini saja. Semua hutang budimu akan kuanggap lunas jika kamu menerima sepeda itu." Reagan menghentikan langkahnya lalu menatap Solar dalam-dalam. "Kita impas kalau kamu menerima sepeda itu," lanjut Solar. Reagan hanya geleng-geleng kepala, merasa tak habis pikir. Ia berbalik untuk melanjutkan hukumannya. Solar berlari di belakangnya. Merasa menang, Solar menyunggingkan senyum tipis.


"Harganya delapan juta tujuh ratus lima puluh ribu."


"Apa?" tanya Reagan bingung.


"Harga sepedanya. Kamu hampir benar saat menebaknya." Solar mendahului Reagan. Ia menikmati setiap saat ia membuat Reagan terbengong.


"Saudari seperjuangan!" Terdengar teriakan dari arah belakang. Reagan dan Solar kompak menoleh ke asal suara. Selama sepersekian detik, Reagan merasa déjà vu saat melihat segerombolan anak-anak yang dipimpin oleh Jambul berlari mendekati mereka. Jambul menghampiri Solar dengan cengiran lebar. Ia jadi teringat tawuran kemarin.


"Hai," sapa Solar tanpa semangat. Gara-gara Jambul dan gerombolannya, dia jadi terlibat tawuran. Pagi ini ia hanya beruntung karena Reagan membuat hukuman mereka berdua jadi lebih ringan dari yang lain.


"Saudariku ini pasti sudah capek lari-lari keliling lapangan. Sini biar Jambul gendong!" Jambul mengambil posisi berjongkok di depan Solar, membuat mereka semua berhenti.


Reagan mendengus secara terang-terangan.


"Kalian bohong padaku. Kalian bilang pertempuran kemarin demi kepentingan bangsa." Kedua mata Solar menyipit curiga.


"Tawuran, maksudnya," gumam Reagan sambil menahan tawa.


Jambul bangkit berdiri, memasang tampang garang saat menatap Reagan, membuat nyalinya ciut. Kemudian ekspresinya berubah saat memandang Solar. "Saudari salah paham. Kemarin kita memang bertempur untuk membela SMA Harapan Pertiwi tercinta. Saudari tahu sebabnya?"


Solar menggeleng.


"Anak-anak Bunga Bangsa itu habis menghajar Ucok kemarin. Saudari tahu Ucok siapa?"


Lagi-lagi Solar menggeleng.


"Ucok itu anak Bu Kantin. Dia itu sudah seperti kakak pertama kami."


Reagan garuk-garuk kepala. Ia ingat Ucok anak salah satu penjual di kantin. Si Cowok pengangguran yang kerjanya hanya nongkrong di belakang sekolah. Ia kerap terlihat bersama gerombolan Jambul sedang berbagi rokok dan minum es dari plastik.


"Jadi kalian balas dendam?" tanya Solar memastikan.


Jambul mengangguk. "Saudari tahu Ucok sekarang ada di rumah sakit? Sudah seminggu belum boleh pulang karena kakinya patah dan bahunya tetanus karena ditusuk pakai linggis." Kedua mata Jambul membulat meyakinkan. "Berkat bantuan Saudari kemarin, dendam kami sudah terbalaskan. Karena dendam kami terbalaskan, kami ingin berterima kasih pada Saudari. Nah, ayo naik ke punggung Jambul, biar kita lari bersama!"


Solar memandang Reagan karena ragu. Tapi Reagan tidak memedulikannya. Ia malah melanjutkan lari agar hukumannya cepat selesai.


"Tunggu apalagi? Ayo naik!" Kini giliran gerombolan Jambul ikut berkumpul untuk mendorong Solar agar segera naik ke punggung yang basah oleh keringat milik Jambul. "Basah dikit, tidak apa-apa, ya? Habis ngepel toilet tadi." Jambul cengengesan. Solar menurutinya. Semua gerombolan Jambul bersorak gembira.


Alih-alih tersiksa karena harus melalui hukuman lari keliling lapangan seratus kali, rombongan mereka lebih mirip seperti sedang konvoi. Seruan-seruan penuh semangat yang keluar dari mulut mereka menarik perhatian semua orang. Kepala sekolah yang saat itu sedang kebetulan lewat di pinggir lapangan sampai melempar sepatunya ke arah rombongan itu karena dinilai terlalu berisik. Ketika melihat Selena yang sedang diarak keliling lapangan, Kepala Sekolah hanya mengelus dada, berharap agar siswi terpintar itu tidak ikut-ikutan jadi liar karena bergaul dengan Jambul dan komplotannya.


***