SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Mama Selena



MAREEN DENTAL CARE


Theodore menyadari dirinya bukanlah seorang pribadi yang suka mencampuri urusan orang lain. Apalagi jika urusan itu sama sekali tidak berhubungan dengannya. Namun kali ini dia merasakan dorongan kuat untuk menyelidiki anting yang ditemukan di telinga kiri mayat perempuan dalam perut Billie. Ia merasa terganggu dengan kemungkinan bahwa mayat perempuan itu adalah orang yang ia kenal. Apalagi ia melihat anting yang sama pada telinga Selena. Dorongan itulah yang membawanya ke lobi klinik gigi milik dr. Ivanka, yang tak lain adalah Mama Selena. Resepsionis memintanya menunggu setelah ia mengonfirmasi kedatangannya pada dr. Ivanka sepuluh menit yang lalu.


Klinik itu adalah klinik pertama yang didirikan oleh Mama Selena dan kini menjadi kantor pusat. Tidak heran jika gedung klinik ini merupakan gedung paling besar dan yang paling ramai dari cabang-cabangnya yang lain.


Theo sedang melatih dialog dalam kepalanya, sembari menunggu dr. Ivanka selesai dengan pasien terakhir. Ia tak biasa berbohong karena belum pernah berada dalam situasi yang mengharuskannya begitu. Theo sedikit bersyukur karena dapat menggunakan waktu tambahan untuk berlatih sebelum benar-benar berhadapan dengan dr. Ivanka.


"Theodore?" Mama Selena selalu memanggilnya begitu, alih-alih menyingkatnya dengan 'Theo' saja.


"Tante." Sapa Theo saat melihat dr. Ivanka dengan jas putihnya mendekat. Usia dr. Ivanka hanya terpaut lima tahun dari usia Mamanya, yang berarti usianya menginjak lima puluh lima tahun saat ini. Namun perawakannya lebih kelihatan seperti wanita karir berusia tiga puluhan. Mama Selena bisa dibilang cukup handal dalam menjaga tubuhnya agar tetap bugar dan awet muda.


Usia dr. Ivanka sudah tiga puluh tujuh tahun saat mengandung Selena. Seharusnya usia itu sangat rentan bagi kehamilan. Namun siapa sangka, Selena malah tumbuh dewasa menjadi gadis cantik dan cerdas. Karena memiliki anak seumuran, sangat wajar bagi dr. Ivanka dan Mamanya menjadi sangat akrab meskipun mereka jarang bertemu. Keduanya selalu tahu kabar masing-masing. Bahkan sang Mama menitipkan pengawasan Christian pada dr. Ivanka selama orangtua mereka pergi keliling dunia dengan kapal pesiar.


"Kamu kurus sekali!" Kedua alis dr. Ivanka menyatu saat berdiri berhadapan dengan Theo, menilainya dari kepala sampai kaki. "Sudah makan?" Pertanyaannya dijawab anggukan disertai cengiran khas Theo. "Ayo kita ngobrol di kantin! Ada kopi enak yang dijual di sana. Cocok untuk cuaca hari ini."


Mereka berdua berjalan bersama menuju kantin yang dimaksud. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mendapat tempat kosong karena sudah lewat jam makan siang. Di depan mereka sudah ada kopi pesanan masing-masing. Theo dengan kopi susu, sedangkan dr. Ivanka dengan segelas espresso.


"Tante kaget sekali waktu dengar kamu kemari. Kapan terakhir kali kita ketemu, ya?"


"Saya juga tidak ingat." Theo menggaruk lehernya, sebuah kebiasaan saat ia sedang gelisah atau berpikir.


"Bagaimana kabarmu? Tante dengar kamu sedang meneliti kasus tumpahan minyak di lepas pantai Australia."


"Iya. Kasusnya sudah selesai empat bulan yang lalu." Theo meneguk kopi susu dinginnya lambat-lambat.


"Tante melihat namamu muncul di artikel berita kemarin. Kamu jadi salah satu narasumber di lokasi tempat penemuan mayat tanpa identitas dalam perut paus biru." dr. Ivanka meletakkan kedua tangannya di atas meja, tubuhnya condong ke depan. Theo menggigiti bagian dalam pipinya untuk menahan kegelisahan. "Dunia makin gila." Lanjut dr. Ivanka setengah bergumam sambil geleng-geleng kepala, "Jadi sekarang kamu cuti, ya?" Ia kembali bersandar di kursinya.


Theo menggeleng sebelum menjawab, "Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sini."


"Oh, ya? Apa ada hubungannya dengan kedatanganmu hari ini ke klinik tante?" Mama Selena mengangkat sebelah alisnya.


Theo tertawa sumbang. Hasil latihannya sejak dalam perjalanan tadi langsung menguap tanpa bekas. "Tidak juga. Sebenarnya saya ingin minta saran."


"Tentang gigi?"


"Hmm... Apa tante harus merasa khawatir? Kamu tidak habis berbuat yang aneh-aneh, kan?" Kecurigaan yang sangat khas ibu-ibu.


"Saya ingin minta saran tentang perhiasan yang cocok untuk hadiah." Theo sudah mengatakannya. Kebohongan pertamanya selama hidup. Lagi-lagi ia menggigiti pipi bagian dalamnya untuk menenangkan degup jantung yang tak terkendali.


Mama Selena tertegun. Ia menopang dagunya ke atas meja dengan sebelah tangan. "Hadiah?" Tanyanya. Kedua matanya menyipit curiga. Tiba-tiba ia terkesiap, "Untuk pacarmu? Kamu ingin melamarnya dengan cincin? Atau kalung? Tunggu dulu! Kamu punya pacar?" Rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut dr. Ivanka membuat Theo tergagap.


"I-iya. Sa-saya mau mencari perhiasan yang didesain khusus. Hadiah un-untuk seseorang."


"Oh... Theodore." Theo tidak tahu apa yang membuat dr. Ivanka berwajah haru sambil meletakkan telapak tangannya ke dada. Hening beberapa detik sebelum akhirnya dr. Ivanka melanjutkan, "Perhiasan seperti apa yang ada di benakmu? Ruby? Emas? Tante punya beberapa kenalan designer perhiasan. Tergantung jenis apa yang kamu mau."


"Saya memikirkan tentang sebuah anting berlian."


"Anting? Kenapa anting? Bukankah lazimnya perempuan suka cincin atau kalung?"


"Saya merasa kalau sepasang anting berlian pasti kelihatan cantik waktu dipakai."


Lagi-lagi dr. Ivanka memasang wajah terharu, seakan baru melihat anaknya sukses belajar berjalan. "Tante tidak menyangka kalau kamu sudah cukup dewasa untuk menyadari kalau bukan hanya laut dan seisinya yang bisa kamu cintai." Sebuah senyum keibuan menghiasi wajahnya. "Orang yang akan kamu beri hadiah ini pasti sangat istimewa, ya?"


Theo tak tahu harus berkata apa, jadi dia mengangguk saja.


"Satu-satunya ahli berlian sekaligus desainer perhiasan terbaik yang bisa tante rekomendasikan padamu adalah Martin. Tante sering memesan perhiasan padanya, dan hasilnya sangat bagus. Tante bahkan membuatkan anting berlian untuk Selena sebagai hadiah ulang tahunnya." Nah, ini dia!, pikir Theo. "Selena memakainya sampai sekarang. Meskipun tante memberikannya perhiasan lain untuk dipakai, dia tak mau memakainya. Hanya anting berlian itu yang lolos standarisasinya."


Theo hampir tertawa mendengar bagaimana dr. Ivanka menggambarkan sifat anaknya secara tak langsung. "Maksud tante, anting yang dipakai Selena itu berlian sungguhan?" Theo langsung merutuki dirinya sendiri karena dengan bodohnya mengatakan hal yang tak seharusnya ia katakan. Pertanyaan konyol itu pasti melukai harga diri dr. Ivanka.


"Memangnya sejak kapan tante pakai berlian palsu?" Wajah cantik dr. Ivanka berubah mendung, namun dengan cepat berubah cerah kembali karena telah berpikir tentang kemungkinan kalau peneliti kutu buku seperti Theodore tidak akan mengerti tentang perbedaan emas dan perunggu. Tak ada gunanya merasa tersinggung karena sebuah pertanyaan polos. Tak ada gunanya juga menjelaskan seberapa banyak uang yang ia keluarkan untuk membeli anting Selena saat itu.


"Martin selalu pilih-pilih klien. Dia tak mudah dibujuk untuk mendesain perhiasan secara khusus. Katakan saja kalau kamu adalah keponakan tante, dia pasti akan langsung melayanimu." Lanjut dr. Ivanka. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengetik sesuatu. Tak berapa lama, ponsel Theo mendapat notif pesan masuk. "Tante sudah kirimkan alamatnya padamu."


Theo sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Tidak ada alasan lagi baginya untuk berlama-lama di klinik gigi ini. Ia langsung berpamitan pada dr. Ivanka setelah sebelumnya berterima kasih. Kepergiannya tidak diantar oleh dr. Ivanka. Wanita itu masih duduk termenung sambil sesekali menyesap espressonya hingga tetes terakhir. Sebelum kembali bekerja, ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Marlia, yang tak lain adalah Ibu Christian bersaudara.


"Halo? Marlia, kapan kalian kembali ke Indonesia?" dr. Ivanka tak basa-basi begitu mendengar suara Ibu Christian di seberang. "Ah, masih tahun depan, ya?" Ia terdiam sejenak, mendengarkan lawan bicaranya. "Hmm.. tidak ada hal mendesak. Tapi kurasa kamu harus mulai merencanakan pesta pernikahan...... Oh, bukan Phillip. Ini tentang Theo. Aku baru saja bertemu dengannya di klinikku. Dia minta saran tentang perhiasan apa yang cocok untuk melamar..... Tidak, aku tidak bercanda.... Sungguh, Marlia. Kurasa dia ingin membuat kejutan....." dr. Ivanka menghabiskan sisa waktu luangnya untuk mengobrol lebih banyak.


***