
Kerumunan penguin yang kepalanya memiliki corak seperti sedang mengenakan helm tentara memisahkan diri hingga membentuk jalan kosong bagi Solar yang bepergian dalam wujud aslinya. Begitu naik ke daratan, Solar bergerak lincah di atas permukaan es lingkar kutub antartika. Ia berdiri dengan kedua kaki, seperti halnya manusia meski kulitnya masih berpendar keperakan. Kulitnya transparan, namun pada detik berikutnya, kulit sudah dilapisi oleh pakaian. Reagan menerka tempat ini adalah tujuan Solar ketika ia menghilang selama berhari-hari.
Kedua kaki Solar tak pernah berhenti melangkah di dataran terkering dan terdingin di bumi itu. Ia tak terpengaruh oleh suhu minus dua puluh tujuh derajat meskipun masih di area pesisir Antartika. Reagan terkagum-kagum dibuatnya. Solar melenggang santai di atas es bagaikan berjalan di rumahnya sendiri. Semakin jauh ke pusat benua, maka suhu akan semakin turun drastis. Tempat kapalnya mendarat berada di dataran yang suhunya minus enam puluh derajat. Tak ada hujan salju, apalagi air. Tak ada makhluk hidup yang berkeliaran di sana selain nematoda yang tak akan nampak oleh mata manusia. Tempat itu benar-benar tandus.
Solar berjongkok saat menemukan cangkang milik Jazho yang tergeletak tak jauh dari pesisir. Jazho pasti melepaskannya sebelum menyelam ke dalam lautan karena terlalu berat.
Semakin dilihat, Reagan merasa kalau penampakan Solar yang sedang berkeliaran dengan seragam di kutub ini merupakan pemandangan yang janggal. Pemandangan itu juga tak sengaja dilihat oleh seorang laki-laki berpakaian tebal yang sedang berjongkok untuk mengamati penguin. Laki-laki itu memiliki janggut yang tebalnya hampir menutupi seluruh wajah. Dari balik janggut tebal itu, Reagan dapat melihat kulitnya yang kemerahan dengan kedua mata sayu. Sebelah tangannya menggenggam sebuah teropong.
"Oii!" Seru orang asing itu. Reagan memandang Solar yang nampak tak terganggu. Ia terus berjalan tanpa menoleh, apalagi menyahut. "Oii!!" Panggilnya lagi dengan suara lebih keras. Beberapa penguin menegakkan kepalanya, mencari asal suara berisik itu. Kini ia mendapatkan perhatian Solar.
Setengah berlari sedikit sempoyongan, laki-laki itu menghampiri Solar. Reagan mulai berpikir kalau laki-laki itu mungkin sedang ingin memastikan kalau Solar bukanlah ilusi. Tubuh laki-laki asing itu tingginya hampir dua meter, sangat kontras jika dibandingkan dengan tubuh Solar yang hanya setinggi perutnya.
"Gadis kecil Asia rupanya." Ujar laki-laki itu dengan napas terengah-engah. Ia menyeringai dari balik janggut tebal yang tertutup butir-butir salju. "Kamu tidak kedinginan?" Namanya Olga. Aksen Rusianya sangat kental. Reagan memperhatikan kalau kedua mata orang asing ini berwarna biru terang. "Ke tendaku saja!" Ajaknya saat tak mendapat reaksi apapun dari Solar.
Solar mengikutinya. Ia dituntun menuju sebuah tenda besar berwarna kuning yang mampu melindungi penghuninya dari cuaca ekstrim kutub selatan. Sebuah helikopter kecil diparkir tak jauh di tenda itu. Olga menyibak pintu tenda untuk mempersilahkan Solar masuk lebih dulu.
Tak banyak barang di dalam tenda itu. Hanya sebuah tempat tidur dan meja lipat. Sebuah tungku perapian juga menyala konstan, membuat tenda semakin hangat.
"Kubuatkan coklat panas untukmu. Apa kamu lapar?" Olga Dmitry mengaduk cairan kental di dalam cangkir lalu menyerahkannya pada Solar. Solar mengendus minuman itu dan mencicipinya. Karena tak suka, ia memuntahkan kembali cairan itu ke dalam gelas saat Olga berpaling. Solar tetap menggenggam cangkirnya demi sopan santun. Tanpa diminta, Solar duduk di pinggir tempat tidur lipat milik Olga. Sedangkan pemilik tenda itu hanya berdiri sambil menikmati coklatnya sendiri.
"Kamu benar-benar tidak kedinginan?" Olga menunjuk pakaian Solar, lalu ke pakaiannya sendiri. Wajar jika Olga merasa heran karena peneliti penguin itu mengenakan pakaian tebal berlapis-lapis. Bahkan tudung kepalanya terbuat dari bulu-bulu untuk membuatnya tetap hangat. Solar belum punya penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan orang asing ini.
"Namaku Olga Dmitry. Siapa namamu?"
Solar menunjuk tag nama di seragamnya.
"Selena. Nama yang indah." Olga menyesap coklatnya, kedua matanya tak lepas dari Solar. Sesekali ia menatap tubuh Solar secara terang-terangan. "Darimana asalmu dan apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?"
"Orangtuaku bilang aku tidak boleh bicara dengan orang asing." Ujar Solar, teringat pesan Mama Selena untuk hati-hati terhadap orang tak dikenal.
Olga tertawa. Tawanya berat karena terbiasa minum alkohol. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja. Wajahnya makin merah, agak kepanasan. Ia telah mencampur coklatnya dengan minuman keras sejenis vodka.
"Gadis kecil Asia yang lucu. Berapa usiamu?"
"Tujuh belas."
"Di negaraku, usia segitu sudah boleh menikah."
Solar mengernyit. Ia menerka-nerka jalan pikiran orang asing berjanggut tebal ini.
"Apa yang manusia sepertimu lakukan di sini? Tempat ini terlalu dingin bagi kalian." Ujar Solar.
"Aku sedang mengamati Penguin Chinstrap. Stasiun penelitianku di Vostok, lokasinya sangat jauh dari sini. Jaraknya sekitar tujuh ratus empat puluh lima mile." Reagan mengingat-ingat burung berhelm hitam yang ia jumpai saat perjalanannya ke sini. Lagi-lagi lelaki itu menyeringai. "Helikopter yang kamu lihat di depan itu sudah dua hari terpakir. Bahan bakarnya hanya cukup untuk kembali ke Vostok."
Reagan menatap laki-laki Rusia itu dengan perasaan jengkel. Ia tak tertarik dengan pembicaraannya.
"Aku sendirian. Ada sembilan rekanku di Vostok, tapi aku lebih suka sendirian." Lanjutnya tanpa diminta atau ditanya.
"Kukira tempat ini tak berpenghuni." Solar menyuarakan hal yang berputar di kepalanya sejak ia bertemu Olga Dmitry.
"Benua ini memang tidak berpenghuni. Hanya hewan dan tumbuhan yang bisa bertahan di tempat tandus seperti Antartika. Meskipun begitu, ribuan orang datang kemari setiap tahun dengan tujuan penelitian setiap musim panas. Saat musim dingin hanya beberapa saja yang tinggal karena pekerjaan. Tidak ada orang yang tinggal secara permanen di sini. Itu sebabnya kami mendirikan stasiun-stasiun penelitian yang tersebar di daratan ini."
"Benarkah?" Reagan mengerti akan kecemasan Solar pada kapal dan teman-temannya. "Berapa banyak stasiun penelitian yang dibangun di sini? Lokasinya dimana saja?" Lanjutnya.
"Mungkin ada sekitar tujuh puluhan pusat penelitian yang didirikan permanen. Lokasinya berbeda-beda. Paling banyak berada dekat pesisir. Vostok berada dekat daerah kutub. Tak ada penguin di sana."
"Semuanya milik Rusia?"
"Tentu saja tidak. Ada banyak negara yang mendirikan stasiun penelitian di sini. Daratan ini bukan milik negara manapun. Semua orang bebas kemari dengan tujuan penelitian atau hiburan. Tidak boleh ada markas militer ataupun eksploitasi di sini berkat Perjanjian Antartika."
"Perjanjian yang ditandatangani dua belas negara di dunia demi memanfaatkan Antartika sebagai tujuan perdamaian." Gumam Solar. Reagan tak kaget akan pengetahuan umum Selena.
Solar mengangkat kepala untuk memandangnya, "Yang mana?"
"Darimana asalmu dan apa tujuanmu datang ke tempat dingin ini hanya mengenakan pakaian tipis seperti itu?" Lagi-lagi Olga menunjuk tubuh Solar.
Tiba-tiba Solar berdiri. Olga juga berdiri tegak, mengantisipasi kepergian Solar. Benar, kamu harus pergi!, seru Reagan tanpa suara.
"Aku harus pergi." Ujar Solar.
"Pergi kemana? Kamu tidak bisa bertahan di luar sendirian dengan pakaian seperti itu." Olga mendekatinya. Ia menyentuh pundak Solar, menekannya untuk membuat Solar duduk kembali. Tanpa sengaja rok seragam Solar tersibak sedikit. "Kamu tahu, aku tak pernah bertemu wanita sejak datang ke kutub ini." Hembusan napas Olga tercium seperti campuran alkohol dan asam.
Saat Olga lengah, Solar menghindar. Ia berjalan keluar.
"Hey, tunggu dulu!" Seruan Olga tak digubris oleh Solar. Ia tahu kalau Olga sudah sangat mabuk sejak ia bertemu dengannya. "Kumohon mengertilah! Biarkan aku menyentuhmu saja!" Olga mengejarnya. Ia menarik pundak Solar dengan kasar. "Kamu akan menikmatinya."
Kini mereka berdiri berhadapan. Olga terus mendekat, menutup jarak antara mereka. Tiba-tiba tangannya sudah membelai leher Solar. Wajah mereka kian dekat, membuat Reagan merasa muak dan marah.
"Aku tidak suka disentuh." Ujar Solar, masih berharap agar orang asing itu berhenti. "Aku tidak ingin menyakitimu." Rupanya peringatan Solar dianggap maksud lain oleh Olga. Ia terkekeh, gejolaknya makin menyala.
"Lakukan yang kamu mau. Aku tidak keberatan meski harus kesakitan." Bisik Olga. Ia meletakkan sebelah tangannya yang bebas di pinggang Solar, menariknya. Solar tak memberikan perlawanan saat Olga menyentuh rahang dan telinganya dengan bibir. Ia memberikan kesempatan pada Olga untuk menghentikan segala niatnya.
"Eh?" Olga tertegun ketika gadis kecil Asia yang tadi direngkuhnya tiba-tiba lenyap. Ia hanya memeluk udara. Olga celingukkan mencari kemana-mana. Tanpa ia sadari, salju mengeras di bawah kakinya, bergerak dengan cepat menutupi seluruh betis sampai ke paha. Salju itu berubah menjadi es. Olga kehilangan keseimbangan lalu jatuh terjungkal ke depan, namun kakinya yang mengeras di dalam es menahannya. Ia kebingungan. Olga berusaha melepaskan diri dari es yang terus membeku hingga membuat kakinya mati rasa. Matanya dialihkan oleh sebuah genangan air yang merambat mendekatinya dengan gerakan cepat. Genangan itu naik ke tubuhnya. Pupil Olga membulat karena ketakutan. Ia berusaha menyingkirkan air aneh yang dapat bergerak itu. Namun usahanya sia-sia. Kini air itu menyelimuti kepalanya. Tangannya bergerak liar untuk melepaskan wajahnya dari air itu. Kini ia kesulitan bernapas. Teriakannya diredam oleh air. Semakin lama, air di wajahnya makin dingin. Air itu berubah menjadi es dan membekukan kepalanya. Hanya beberapa detik sampai Olga akhirnya tewas karena hipotermia dan kehabisan napas.
Solar melepaskan diri dari tubuh Olga. Ia memandangi sosok tubuh tak bernyawa di bawah kakinya. Lalu ia melangkah pergi untuk melanjutkan perjalanan. Reagan menahan napas selama ia melihat kejadian itu. Ia tak dapat menggambarkan perasaan ngerinya atas kejadian barusan. Ia tak sempat mencerna semua itu karena ia juga harus pergi bersama Solar.
Tak ada satupun makhluk hidup terlihat di sana selain Solar. Suhu terlalu ekstrim untuk makhluk hidup bumi. Namun bagi Solar, suhu minus empat puluh derajat celcius sangat menyegarkan setelah sekian lama tinggal di tempat tropis. Ia memutuskan kembali kemari karena ia mendapati kapten kapalnya –Jazho-, dibedah paksa dan dibawa oleh Theodore, kakak Christian. Reagan terkejut saat keluarga Christian terlibat dalam ini semua. Sekarang ia bukan lagi satu-satunya orang yang tahu tentang kebenaran Selena. Reagan baru sadar kalau Solar naik ke daratan sendirian. Tanpa diberitahu, Reagan langsung tahu kalau Jazho sudah musnah saat dalam perjalanan ke Selatan. Inti Grenoiave tak dapat bertahan lama tanpa tubuh.
Selama dalam wujud Selena, kepala Solar sibuk berpikir tentang informasi yang Jazho berikan padanya. Karena keputusan sepihak Jazho, Solar harus menyesuaikan rencana baru. Sejujurnya, ia masih belum yakin apakah planet ini bisa ditinggali oleh koloni. Penduduk bumi sudah cukup padat. Setelah bertemu dengan Olga Dmitry, Solar cemas akan keselamatan koloninya. Masih banyak manusia yang berkeliaran di benua tandus yang terisolasi ini. Selan itu, ia juga cemas dengan sikap penduduk bumi, terutama manusia yang bisa saja menolak kedatangan mereka. Kalau sudah begitu, perang tak mungkin terelakkan. Mau tak mau, Reagan juga merasa khawatir. Ia bahkan simpati pada Solar karena beban tanggung jawab yang harus ia tanggung sendirian.
Salah satu hal yang paling dicemaskan Solar adalah senjata canggih yang amat berbahaya milik kapal Genomeda. Jika semua koloni sepakat, Grenoiave bisa dengan mudahnya memusnahkan salah satu spesies atau bahkan semua spesies yang mereka pilih dengan senjata itu. Solar tidak ingin itu terjadi. Jika ia masih punya waktu, ia ingin membuat keadaan jadi lebih memungkinkan bagi koloninya tinggal di sini dalam damai. Dan jika spesies cerdas bernama manusia itu menolak mereka, Solar akan mencari planet baru meskipun butuh waktu seumur hidup. Koloni tak akan punah dalam waktu dekat jika mereka tetap tinggal di Genomeda.
Perjalanan sehari semalam membawa Solar kembali pada kapal yang ia tinggalkan. Solar tak habis pikir mengapa Jazho mengorbankan diri untuk mencarinya. Padahal ia adalah kapten kapal. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Solar. Saat Korr, Palean, Ytzo, dan Feh, keluar dari kapal menyambutnya, untuk pertama kali dalam hidup Solar selama mengases planet baru, ia tak bersemangat kembali pada koloni. Jika Reagan bisa, ia ingin meletakkan tangannya di pundak Solar untuk memberinya dukungan.
Mereka terkejut melihat Solar dalam wujud manusia. Solar langsung mengubah wujudnya menjadi Grenoiave.
'Jazho pergi menyusulmu.' Ujar Korr memberi info yang sudah lebih dulu diketahui Solar.
'Aku menemukan cangkangnya saat aku naik ke daratan. Kenapa dia pergi? Apakah kapal sudah selesai diperbaiki?'
'Karena kapal sudah diperbaiki, maka dia pergi mencarimu.' Jawab Palean. 'Sebelum pergi, ia mengirim sinyal ke Genomeda berupa kordinat planet ini.'
'Aku belum selesai mengases.' Sanggah Solar, ia terdengar gelisah.
'Kami setuju dengannya karena tempat ini tidak berpenghuni. Iklimnya juga lumayan cocok.' Sahut Ytzo.
'Apakah heloxe menemukan sesuatu saat mengases wilayah ini? Ada yang bisa dibagi dengan kami sebelum melaporkannya ke koloni?' Solar selalu merasa Korr adalah Grenoiave paling culas di antara yang lain.
'Aku menemukan sumber energi.' Solar memandangi awak kapalnya bergantian. 'Kapan Genomeda tiba?'
'Paling cepat empat belas hari di planet ini sejak Jazho mengirimkan sinyal. Sudah enam hari berlalu setelah Jazho pergi. Waktunya cukup lama sampai koloni datang. Genomeda terlalu besar untuk melakukan lompatan jarak, terlalu berbahaya bagi koloni.' Jawab Feh. 'Aku tak melihat Jazho daritadi. Terjadi sesuatu dalam perjalanan?'
'Jazho tewas.' Berbeda dengan manusia, Solar tak melihat ekspresi apapun pada Grenoiave di depannya ini. 'Ia tewas saat dalam perjalanan kemari. Aku menemukannya sudah terpisah dengan tubuh. Ia musnah tak lama setelah itu.' Lanjut Solar.
'Kalau begitu, komando ada padaku.' Ujar Korr. Tak ada yang menyanggah. Kedudukan Korr memang tepat di bawah Jazho. Jika terjadi sesuatu padanya, maka tim ini otomatis diambil alih oleh Korr.
***