
Mindy enggan berpisah dari Solar. Ia sangat iri pada Christian yang dapat menghabiskan waktu dengan Solar berdua saja saat pulang sekolah. Besok adalah hari pertandingan yang ditunggu-tunggu oleh Christian. Jadi tak akan ada latihan basket hari ini. Pelatih Christian menginginkan semua pemainnya mendapat istirahat yang cukup untuk menghadapi hari esok. Bocah itu beruntung karena Solar bersedia menghabiskan waktu bermain dengannya hari ini. Sedangkan Mindy sendiri harus les Cello. Padahal dia ingin sekali ikut berkumpul dengan Solar dan Christian, apalagi setelah acara mereka batal saat terakhir kali Solar menghilang.
"Besok kalian akan bertemu lagi di pertandinganku!" Christian menarik tangan Solar. Ia menggerutu pada Mindy karena bertingkah seolah-olah tidak rela Solar pulang bersamanya. "Aku butuh Selena hari ini."
"Butuh dia untuk apa?" Mindy makin cemberut, kedua tangannya masih bergelayut manja di lengan Solar yang bebas.
"Recharge energi!" Christian mendorong Solar agar segera masuk ke dalam taxi. Hari ini dia tidak membawa kendaraan karena terlalu ngantuk untuk menyetir ke sekolah.
"Jangan terlalu bersenang-senang, ya!!" Mindy melambai pada keduanya.
"Kak Theo dan teman-temannya masih di rumah?" Tanya Solar begitu taxi berjalan perlahan meninggalkan area sekolah. Ia perlu menghapus ingatan Theo dan teman-temannya tentang apapun yang berhubungan dengan Jazho.
"Masih." Jawab Christian sambil membalas pesan dari teman-teman setimnya di ponsel. "Mau makan apa hari ini? Pizza? Aku memikirkan pizza seharian ini." Lanjutnya. Ia memilih-milih topping pizza lewat pesanan online setelah selesai membalas pesan.
"Terserah saja."
"Mau bahas apa dengan Theo? MIT lagi?" Christian tak mengangkat kepalanya dari layar ponsel.
"Tidak juga."
Christian sudah selesai memesan. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Hari ini orangtuaku pulang. Phillip juga."
"Benarkah?"
Christian mengangguk sebelum menjawab, "Mereka seharusnya pulang tahun depan. Bahkan Phillip... Wah! Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di keluargaku. Mereka jarang sekali pulang mendadak dan pada waktu bersamaan begini."
"Kamu tidak bertanya kenapa mereka pulang cepat?"
"Tidak. Untuk apa juga? Kalau mereka masih ingat rumah tinggal pulang saja!" Solar menangkap kekesalan dari nada suaranya.
"Kamu tidak senang mereka pulang?" Solar terheran-heran. Bukankah seharusnya dia senang karena keluarganya pulang ke rumah setelah sekian lama?
"Aku hampir tak kenal mereka." Christian mengedikkan bahu. "Aku capek! Tadi habis ulangan kimia. Kepalaku sakit sekali karena berpikir terlalu keras." Ia merebahkan kepalanya di bahu Solar.
"Kamu jarang menggunakan otakmu untuk belajar." Christian yang diingat Selena memang tidak suka belajar atau sekolah.
Christian mengangkat wajahnya agar bisa berbisik di telinga Solar, "Sejujurnya aku membiarkan kertas jawabanku kosong." Lalu ia merebahkan kepala lagi di bahunya.
"Kenapa?"
"Tidak tahu jawabannya."
"Semuanya?"
Christian mengangguk dengan santai. Kedua matanya sudah terpejam. "Biar kuingat dulu! Ah! Ada satu kolom yang kuisi."
"Benarkah?"
"Iya. Kolom namaku." Jawabnya sambil terkekeh. "Diamlah, aku mau tidur sebentar! Bangunkan aku kalau kita sudah sampai di rumah!"
"Bagaimana kalau nilai rapormu jelek?"
Christian mendecakkan lidah karena ia sudah mendapatkan posisi ternyaman untuk tidur, sedangkan pemilik bahu terus mengajaknya bicara. "Sejelek apapun nilaiku, aku pasti menyusulmu ke Massachusetts. Uang keluargaku banyak. Aku bisa kuliah dimanapun yang aku mau."
Kata-katanya mirip dengan ucapan Mindy. Tiba-tiba ia memikirkan Reagan. Keluarga Selena, Christian, dan Mindy tak pernah punya kesulitan jika itu menyangkut uang. Jika Reagan sekaya mereka, apakah ia akan kuliah di Massachusetts juga jika tahu Selena akan pergi kesana?
Reagan menghindarinya sejak kemarin. Di kelas, Reagan tak menganggap Solar ada. Solarpun tak pernah punya kesempatan untuk bicara berdua dengannya. Mindy bersamanya setiap waktu selama di sekolah. Ia berencana untuk menemui Reagan di rumahnya setelah ia selesai dengan Theo dan tim penelitinya.
Mereka sampai di rumah Christian bersamaan dengan tibanya pesanan pizza Christian. Mata Christian langsung terbuka lebar ketika mengendus bau makan siang dari kotaknya. Padahal sebelumnya Christian tidur pulas selama perjalanan pulang sampai membuat bahu Solar kaku. Mereka beriringan masuk ke dalam rumah. Christian memeluk pundaknya, sedangkan tangannya yang lain membawa pizza.
"Hai, Selena!" Sapa Adam dari pantry ketika melihat mereka lewat.
Solar tersenyum singkat sambil melambai. Christian tak membiarkannya menghampiri Adam untuk sekedar mengobrol basa-basi karena tangannya sudah ditarik menuju basement. Adam memandangnya penuh pengertian. Kelihatannya Adam sudah terbiasa dengan sikap Christian yang seenaknya sendiri.
"Kurasa Adam ingin ngobrol denganku." Solar memutar otak untuk mencari alasan agar bisa bicara dengan Adam.
"Kalian tidak akrab." Christian mengatakannya dengan santai.
"Christian..."
"Aku sedang butuh recharge energi darimu. Besok aku ada pertandingan. Kamu mau aku kalah?"
Solar menghela napas. Sejujurnya ia sendiri tak tahu recharge energi macam apa yang diinginkan Christian darinya. Satu-satunya dukungan yang bisa Solar berikan adalah dengan menyalurkan energinya sendiri untuk Christian agar ia merasa lebih bugar dan bersemangat. Setelah itu Solar akan perlu waktu berjam-jam untuk berendam agar dapat pulih seperti sedia kala.
Solar menurut saja saat Christian terus menggenggam tangannya dan menuntunnya turun ke dalam basement, tempat bermain mereka. Christian melempar tasnya sembarangan. Kotak pizza ia letakkan di atas meja selagi ia mengambil minuman dari dalam lemari es.
"Aku tidak lihat Theo ataupun Profesornya." Ujar Solar. Ia terkesiap ketika Christian menempelkan botol air dingin di pipinya secara tiba-tiba.
"Mungkin di kamar. Kenapa kamu peduli pada mereka?"
"Kenapa kamu bersikap begitu pada kakakmu dan teman-temannya?"
Christian tersenyum simpul, "Akhir-akhir ini kamu sering jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain." Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Aku hanya tidak suka mereka. Aku tidak suka semua orang, kecuali kamu." Sambungnya.
"Apa salah semua orang padamu?" Solar duduk di sebelahnya.
Christian mengedikkan bahu, "Mereka hanya tidak semenyenangkan dirimu."
"Memangnya apa yang menyenangkan dariku sampai membuatmu benci semua orang?"
Christian tidak buru-buru menjawab, melainkan memandangi dengan ekspresi seolah sedang berpikir. "Aku tidak tahu. Kamu ya, kamu." Lagi-lagi dia mengedikkan bahu. Tiba-tiba dia menegakkan tubuhnya, memutus jarak antara mereka berdua. "Kamu tidak suka aku yang seperti ini? Sebelumnya kamu tidak pernah protes."
"Aku tidak sedang protes."
Kedua mata Christian menyipit, "Kamu baru saja melakukannya." Ia menggenggam kedua tangan Solar. "Apa yang kamu ingin aku lakukan? Jangan bertanya ini-itu! Katakan saja sejujurnya!"
"Aku merasa sikapmu kurang menyenangkan. Bukannya bermaksud membanding-bandingkan, tapi aku pernah melihat Reagan bersikap lebih baik darimu."
Christian melepas genggamannya sembari memutar bola mata. "Jadi itu sebabnya..." Ia menggerutu sambil memasukkan sepotong besar pizza ke mulut. Christian mengunyah dengan perasaan kesal. "Ah, tidak enak!" Keluhnya pada pizza yang sedang ia makan. Ia melemparkan potongan sisa ke kotaknya lagi.
"Kamu kesal." Ujar Solar.
Christian menelan lalu mendengus. Ia lanjut membuka sekaleng minuman dan menenggak banyak-banyak. "Tentu saja aku kesal! Kenapa membandingkan Reagan denganku? Sebelumnya dia hanya orang asing! Kamu pernah bilang kalau dia mirip kecoa!"
Wajah Christian seketika mengeras. Ia menolak memandang Solar. Biasanya Solar sering merasa kalau Christian selalu memandangnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia suka ditatap seperti itu oleh seseorang. Jika diingat-ingat, selain keluarganya, hanya Christian-lah yang sering menatapnya begitu. Ia jadi merasa berharga karena memiliki arti bagi seseorang. Melihat Christian sedang kesal seperti ini, Solar juga ikut gelisah.
"Sudah kubilang aku tidak bermaksud membandingkan. Aku hanya mencari contoh paling mudah." Solar menyentuh lengan Christian, diam-diam menenangkannya melalui energi.
"Sedekat apa kamu dengannya?"
"Kami tidak dekat."
"Ada hal yang belum kamu ceritakan padaku? Maksudku tentang Reagan ini."
"Tidak banyak yang terjadi. Dia sering menghindariku di sekolah."
"Kamu suka padanya?"
"Tentu saja. Dia baik."
"Aku suka padamu. Aku suka Mindy."
"Selena..." Akibat saluran energi dari Solar, Christian merasa tidak lagi ingin marah padanya. Ia menghela napas berat.
Solar tiba-tiba tersenyum, "Jika ada yang melihat, mereka pasti mengira masalah hidupmu cukup berat karena helaan napasmu barusan."
Christian terkekeh. "Maaf, aku tadi kesal sekali. Sekarang sudah tidak lagi."
"Apa sebuah pelukan bisa membuatmu merasa lebih baik?" Solar membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Christian hanya memandangnya. "Hentikan!"
Solar menurunkan kedua tangannya, agak kecewa. "Kenapa?"
"Aku butuh recharge energi."
"Ah! Kamu sering mengatakannya sejak tadi. Apa maksudmu dengan recharge energi? Kamu ingin dihibur, kan?"
Christian tak menjawab, ia masih menatap Solar dengan pandangan yang sulit diartikan. Tiba-tiba Christian mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengecup Solar. Hanya sebuah kecupan singkat di sudut bibir, namun cukup untuk membuat Solar terkejut sampai ia tak sempat berbuat apa-apa.
Berkat memori Selena, Solar jadi belajar bagaimana manusia berkomunikasi melalui kontak verbal maupun fisik. Yang baru saja Solar alami adalah sebuah kontak fisik untuk menunjukkan ketertarikan dengan tindakan intim antar dua gender berbeda. Christian tidak hanya sekedar menempelkan bibirnya di wajah Solar, ia juga punya maksud tertentu yang hanya bisa ia tunjukkan dengan tindakan.
Meskipun Christian sudah menjauh, namun jarak wajah mereka berdua masih tergolong terlalu dekat.
"Kamu marah?" Tanya Christian hati-hati.
Solar menggeleng. Christian mengecupnya sekali lagi, kali ini tepat di bibirnya. Tindakan impulsif Christian membuat Solar bingung.
"Kalau hanya sekali, bisa dianggap kecelakaan. Kamu melakukannya dua kali. Apa ada yang ingin kamu katakan tapi tidak bisa?"
Christian masih memandanginya. Kali ini Solar dapat melihat perasaan Christian hanya dari tatapan matanya. Sorot itu sama dengan sorot mata Selena saat diam-diam memperhatikan Reagan dari kejauhan. Jika Solar punya jantung, mungkin suara detaknya akan sangat keras.
"Aku akan mengatakannya nanti. Tidak sekarang." Jawab Christian akhirnya.
Mereka dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka kasar. Suara langkah kaki menuruni basement terdengar kemudian. Keduanya kompak saling menjauh.
"Selena!" Sosok Theo muncul. "Bisa bicara sebentar?"
Dari ekspresinya, Solar langsung tahu kalau proses untuk menghapus ingatan Theo tidak bisa ditunda lagi. Tanpa menunggu persetujuan Christian, Solar langsung mengikuti Theo ke atas.
Theo membawanya menuju ruang makan yang sepi. Adam dan Profesor sedang berada di kamar Theo melakukan entah apa. Asisten rumah tangga juga tidak terlihat dimanapun. Theo meremas selembar koran yang sedari tadi ia bawa.
"Ada apa?" Solar perlu tahu seberapa banyak memori Theo yang harus dihapusnya.
Theo berbalik ke arahnya. Raut wajahnya gelisah. Ia membetulkan koran kusut akibat perlakuan tangannya. Koran itu ia buka lebar-lebar di atas meja makan agar Solar dapat membacanya. "Apa kamu tahu sesuatu tentang ini?"
Koran itu edisi beberapa pekan lalu. Theo menunjuk sebuah artikel berita tentang penemuan mayat perempuan di dalam perut seekor ikan paus. Berita itu disertai gambar paus terdampar di pantai yang diambil dari kejauhan. Solar membaca seluruh isi artikelnya sampai tuntas.
Solar mengangkat kepala lalu menggeleng. Kedua bahunya mendadak dicengkeram oleh Theo, membuatnya terkesiap. "Jangan bohong, Selena!" Ekspresi Theo kini setengah memohon. "Anting yang sedang kamu kenakan mirip dengan yang dikenakan mayat itu!"
Solar terkejut bukan main, namun ia dapat mengatasi keterkejutannya dengan cepat dan tanpa menunjukkannya sama sekali. Ia mendapat kesimpulan kalau jenazah Selena yang asli sudah ditemukan. "Anting?" Tanyanya pura-pura bodoh. Solar ingin menyelamati petualangan bawah laut Selena dalam hati meskipun ia tahu kalau hal itu tak patut dilakukan.
"Satu-satunya barang bukti yang kami dapatkan adalah sebuah anting yang masih menempel di telinga mayat itu. Anting yang persis seperti ini!" Theo menyematkan rambut Solar ke belakang telinga, hingga membuat anting palsunya terekspos.
"Aku tidak mengerti yang kak Theo katakan."
Theo menatap kedua mata Solar, merasa putus asa. "Kamu sungguh tidak tahu?"
Solar menggeleng.
"Lalu apa kamu tahu tentang isi toples kecil yang kamu ambil dari kamarku?" Ini merupakan pertanyaan jebakan. Theo mempertaruhkan segalanya saat menanyakan pertanyaan itu pada Solar, berharap mendapat sedikit saja reaksi yang ia harapkan.
Solar termakan jebakannya, ia terdiam. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Jazho musnah di kegelapan Samudera Hindia setelah mereka bertukar informasi. Ia ingat bagaimana Jazho menyerahkan memori terakhirnya saat ia dipisahkan dari tubuhnya secara paksa. Solar tidak bisa mengenyahkan bagaimana rasa sakit Jazho saat inti tubuhnya direnggut keluar.
"Toples itu berisi inti dari makhluk asing yang aku temukan di laut."
"Makhluk yang kamu bunuh." Sahut Solar. Kedua bahu Theo merosot mendengarnya.
"Jadi kamu tahu." Ujar Theo.
"Jazho masih hidup saat kamu membedah tubuhnya. Tanpa tubuh, Jazho musnah."
"Namanya Jazho?"
Solar mengangguk.
"Lalu siapa namamu?" Lagi-lagi Theo bertaruh saat menanyakan itu, setengah berharap kalau Selena yang sedang ia ajak bicara adalah Selena yang ia kenal. Ia tidak ingin dugaannya tentang tubuh tak bernyawa Selena terombang-ambing di laut dan berakhir di dalam perut Billie menjadi kenyataan. Hanya itu satu-satunya yang terlintas di kepala sejak ia melihat anting itu di telinga Selena. Semua itu tidak mungkin, kan?, pikirnya.
"Solar. Namaku Solar. Aku berasal dari Grenoia."
Kedua lutut Theo lemas hingga membuatnya jatuh terduduk di depan Solar. Pandangannya kabur dan darah serasa dipaksa turun dari kepalanya. Tentu bukan pengakuan ini yang ia harapkan. Jika sosok di depannya ini adalah salah satu dari mereka, maka Selena benar-benar sudah tiada. Tubuh yang sudah membusuk di kamar mayat itu adalah milik Selena.
Terdengar ribut-ribut dari pintu depan. Theo tak mendengarnya karena pikirannya sudah dipenuhi oleh Selena dan makhluk Grenoia itu. Kedua matanya terpejam. Tubuhnya begitu lemas untuk sekedar membuka mata. Cairan asam mendadak naik dari perutnya. Ia merasa sangat mual dan ingin muntah saat itu juga.
"Theodore!" Seru Marlia, Ibu Christian bersaudara. Marlia mengenakan gaun cocktail yang terbuka di kedua pundaknya. Sebuah topi lebar berwarna merah tua serta kacamata hitam berbingkai lebar langsung ia lepaskan saat melihat anak keduanya. "Kapan kamu akan kenalkan tunanganmu pada kami?"
Suaminya berjalan di sisinya, mendorong dua buah koper yang sangat besar. Sedangkan Phillip, anak pertama mereka, mengikuti dari belakang.
"Kenapa duduk di lantai?" Tanya Phillip.
Theo mengangkat kepalanya. Solar tak telihat dimanapun. Ia lenyap. Theo berpegangan pada meja pantry kokoh agar dapat membantunya berdiri meskipun agak sempoyongan. "Kalian lihat Solar.. maksudku Selena?" Tanyanya panik.
"Ada Selena di sini?" Marlia langsung bersemangat. "Dimana dia?" Ia dan suaminya celingukkan mencari-cari keberadaan Selena. Mereka berdua tidak menyadari keadaan putra kedua mereka karena posisi Theo membelakangi mereka semua. Marlia langsung menghilang untuk mengambil champagne dari dapur favorit.
"Kalian sudah datang?" Christian yang keluar dari pintu basement memandang keluarganya yang baru saja tiba. Phillip melambai padanya.
"Tentu saja kami harus datang! Sebentar lagi kalian akan punya saudara ipar!" Jawab Papa mereka dengan semangat, ia duduk di atas kursi meja makan, memanggil para asisten rumah tangga untuk membereskan barang bawaan mereka.
"Siapa yang menikah? Phillip?" Tanya Christian lagi.
Phillip menggeleng, ia menunjuk Theo yang nampak seperti orang linglung dengan dagunya.
"Siapa pengantinnya? Putri duyung?" Christian keheranan, otaknya coba mengingat-ingat kapan terakhir kali Theo berkencan.
"Jangan sembarangan!" Marlia tiba-tiba muncul sambil membawa sebotol champagne berkualitas paling bagus yang dapat ia temukan. Ia merasa keluarga mereka harus segera merayakan momen ini. "Theo baru saja melamar seorang gadis! Benar, kan?"
"Hah?" Theo tiba-tiba tersadar dari linglungnya. "Gadis siapa? Siapa yang melamar?"
Keluarganya saling berpandangan.
"Ivanka bilang kamu datang ke kliniknya untuk minta saran tentang perhiasan yang akan kamu gunakan untuk melamar pacarmu. Kapan kamu akan mengenalkannya pada kami?"
"Theo menikah??" Pekikan terkejut terdengar dari lantai dua. Adam dan Profesor yang awalnya buru-buru keluar untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi justru dibuat terkejut oleh informasi pernikahan Theo.
Theo hanya bisa tergagap. "Ini salah.. paham." Kepalanya tiba-tiba terasa amat pusing. Pandangannya menggelap seiring dengan ambruknya tubuh Theo ke lantai. Semua orang memekik terkejut, namun tak ada yang sempat bereaksi untuk menahan tubuh Theo yang menghantam lantai marmer di bawahnya. Phillip dan Christian jadi orang yang paling sigap untuk langsung berlari menghampirinya. Phillip mengguncang tubuh adiknya. Sebelah tangannya menyentuh dahi Theo yang sudah dipenuhi keringat dingin.
***