
Solar, Mindy, dan Christian sedang berada di dalam mobil milik Mindy. Mereka berdua memaksa Solar untuk ikut ke rumah Christian setelah pulang sekolah.
'Mumpung Christian libur latihan', begitu alasannya.
Berkat memori Selena, Solar jadi mengingat berbagai kebiasaan yang mereka bertiga lakukan bersama saat sedang ada waktu untuk kumpul. Biasanya, Christian terlalu sibuk dengan latihan basket, sedangkan Mindy sibuk dengan berbagai macam les yang didaftarkan oleh orangtuanya. Khusus hari ini, Mindy bolos les biola supaya bisa bergabung dengan kedua temannya itu.
Selena sendiri sebenarnya tidak merasa kesepian jika tidak sedang bersama Mindy ataupun Christian. Malah, dia bisa melakukan banyak kegiatan sendirian. Terutama kegiatan sukarela yang dapat mengisi daftar panjang portofolionya agar bisa diterima di MIT.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" Tanya Mindy.
"Theodore pulang. Bukankah kalian selalu bersemangat kalau bertemu dengannya?" Jawab Christian acuh tak acuh dari kursi depan.
"Benarkah? Sudah setahun kita tidak bertemu dengannya!" Mindy memekik girang.
Solar mengaduk-aduk memori Selena, mencari tahu tentang silsilah keluarga Christian. Theodore adalah kakak kedua Christian. Ia adalah seorang peneliti yang lebih banyak menghabiskan waktunya di laut daripada di rumah. Ia pernah menjabat sebagai direktur operasional di perusahaan milik keluarganya, namun dua tahun lalu mengundurkan diri karena menerima tawaran sebagai peneliti di Australia. Bisnis memang bukan minatnya sejak dulu.
Begitupun dengan Christian yang lebih suka olahraga daripada belajar. Phillip, kakak Theodore dan Christian, merupakan satu-satunya penerus bisnis keluarga. Usianya tiga puluh dua tahun, dan belum menikah. Dia sibuk mengelola dan mengembangkan bisnis keluarga mereka, hingga lebih sering berada di luar negeri. Selama tiga tahun terakhir, Selena hanya pernah bertemu dengannya sekali saat ulang tahun pernikahan orangtua tiga bersaudara itu.
Sebenarnya kondisi Christian tidak jauh berbeda dengan Selena saat ini. Dia tidak dekat dengan keluarganya, karena semua anggota keluarga punya kehidupan masing-masing. Orangtuanya juga lebih suka menghabiskan waktu tujuh bulan dalam setahun untuk pesiar keliling dunia.
"Dia tiba-tiba pulang untuk cuti. Aku yakin rasanya akan sama saja seperti hari-hari saat dia tidak ada di rumah. Dia jarang keluar kamar. Kerjaannya cuma tidur. Hanya keluar untuk makan dan berak." Sambung Christian.
"Sikapmu yang begitu yang membuat Theo malas pulang." Komentar Mindy sambil membenahi poninya.
"'Begitu' yang bagaimana maksudnya?"
"Kamu harus lebih baik pada kakakmu. Setidaknya kamu punya saudara. Coba lihat Selena dan aku! Kami kesepian di rumah karena tidak ada teman bertengkar." Jawab Mindy.
"Kalau kalian punya saudara seperti Theo dan Phillip, rasanya akan sama saja seperti jadi anak tunggal, percaya deh!"
Perdebatan kecil mereka berhenti saat mereka tiba di pekarangan rumah Christian. Sebuah mobil Jeep dan van putih diparkir di samping rumah. Sungguh pemandangan yang janggal saat melihat rumah Christian kedatangan tamu. Namun ketika ingat Theodore pulang hari ini, rasanya masuk akal jika ada kendaraan lain selain milik Christian ada di sana.
"Sepertinya Theo membawa teman." Komentar Christian saat melihat mobil van yang diparkir bersebelahan dengan Jeep milik Theo.
Solar merasakan sesuatu yang familiar. Ada hentakan energi yang samar-samar menjalarinya. Sensasinya sama seperti saat ia sedang berada di antara koloni.
Christian dan Mindy sudah berada di puncak undakan yang terhubung dengan teras. Mereka menoleh saat menyadari Solar tidak juga naik.
"Kenapa?" Tanya Mindy.
Solar menggeleng. Ia tidak mengerti kenapa ia merasakan sinyal salah satu koloninya saat tiba di rumah ini. Sinyal itu sangat lemah, hampir tak terdeteksi jika saja Solar bukan seorang heloxe. Kemampuannya melebihi spesiesnya kebanyakan. Ia memutuskan untuk mencari tahu.
Mindy sudah turun dari undakan untuk menggamit lengan Solar. Mereka berjalan bersisian mengikuti Christian dari belakang.
Keadaan dalam rumah Christian tak berbeda dengan ingatan terakhir Selena tentang rumah itu. Christian tinggal di sini sendirian. Ada beberapa asisten rumah tangga yang tinggal di paviliun belakang untuk mengurus rumah dan juga Christian. Selebihnya, rumah besar ini merupakan milik Christian seorang.
"Umm.. hai!" Seorang bule berbadan tegap dengan rambut ikal gelap menyapa mereka dari puncak tangga lantai dua. Ia sedang memeluk sebotol besar jus jeruk dan snack. Solar menduga bule itu mendapatkannya dari pantry. Dia sedang dalam perjalanan ke kamar Theo saat melihat mereka masuk dari pintu depan. Bule itu buru-buru turun untuk menghampiri mereka bertiga. "Namaku Adam." Bule berambut ikal itu mengelap tangan kanannya di jeans sebelum mengulurkannya pada Christian. "Kamu pasti.. Christian?" Christian menjabat tangan bule itu singkat. Dari aksennya, Solar menebak kalau bule itu berasal dari Australia. Ingatan Selena punya banyak database tentang aksen dari seluruh dunia. Solar jadi merasa beruntung karena bertemu dengan Selena sebelum manusia itu tewas di depannya.
"Dimana Theo?" Tanya Christian tanpa basa-basi.
"Di atas. Bersama Profesor kami." Jawab Adam agak terkejut dengan sikap Christian.
Theo, laki-laki berbadan jangkung yang kelihatan lebih kurus dari yang diingat Selena, muncul dari atas.
"Kalian sudah pulang?" Kakak Christian berlari kecil saat menuruni anak tangga.
Solar merasakannya lagi. Ia merasakan sinyal dari kaumnya yang terasa semakin dekat. Suara Solar tercekat di tenggorokan. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari-cari darimana asal sinyal itu.
"Hey, bro!" Theo yang sudah berdiri di depan mereka langsung mengacak rambut Christian dengan gemas. Christian menjauh agar rambutnya terselamatkan. "Selena! Mindy! Sudah berapa lama aku tidak bertemu kalian?"
Mindy tersenyum lebar, "Setahun, kak." Jawabnya dengan suara manis yang dibuat-buat.
Kini Solar menyadari darimana sinyal lemah itu berasal. Theo.
Solar memandangi Theo lekat-lekat. Pandangannya bergerak dari atas ke bawah, seakan sedang memindai tubuh Theo untuk mencari tahu apakah dugaannya benar. Tentu saja Solar tidak benar-benar punya kekuatan supernatural untuk memindai tubuh seseorang. Ia hanya ingin tahu dimana tepatnya 'lokasi' sinyal kaumnya berasal.
"Kamu baik-baik saja?" Theo melambaikan tangannya di depan wajah Solar.
"Halo, kak." Sapa Solar dengan suara tercekat. Ia benar-benar merasakan sinyal keberadaan salah satu Grenoiave, koloninya. Kenapa manusia ini punya sinyal itu?
Secara tak terduga, Theo memeluknya. Solar terkesiap, namun ia tak melepaskan diri dengan gegabah.
"Kak Theo lebih kurus daripada yang kuingat." Solar menawarkan senyum kecil yang canggung.
"Kakak kalian ini," Adam merangkul pundak Theo, "suka mengasingkan diri di laut. Dia tidak makan apapun selain kornet kalengan dan bir."
Sikap luwes Adam dianggap menyenangkan oleh Mindy. Mereka langsung cepat akrab saat makan siang bersama. Christian masih bersikap cuek, seakan hanya ada dia di rumah ini. Theo beberapa kali mengajak Solar bicara, menanyakan keadaannya dan keluarganya. Profesor duduk di ujung meja makan, tempat ayah Christian dan Theo biasa duduk jika sedang makan bersama keluarga. Semua orang menganggapnya wajar duduk di sana, mengingat usianya yang paling tua di antara mereka.
"Sudah memikirkan essay yang akan kamu tulis?" Tanya Theo pada Solar.
Essay yang dimaksud merupakan salah satu syarat masuk universitas di luar negeri. Selain nilai yang tinggi, surat rekomendasi, dan portofolio, essay yang bagus juga menjadi faktor utama untuk dapat diterima oleh MIT. Tentu saja Theo tahu tentang MIT. Selena selalu membicarakan MIT dan sering meminta saran pada Theo tiap kali mereka bertemu. MIT merupakan universitas yang sangat selektif dalam memilih mahasiswanya. Dari setiap seratus pendaftar, hanya tujuh orang yang diterima setiap tahunnya. Selena berjuang keras untuk menjadi salah satu dari tujuh orang itu. Hanya itu impiannya selama ini. Meskipun Theo bukan lulusan universitas Amerika, namun Selena yakin proses seleksinya tak akan jauh berbeda dengan universitas bergengsi di Australia.
Solar menggeleng untuk menjawab pertanyaan Theo.
"Bagaimana dengan jurusan. Apa kamu sudah punya pilihan?"
Lagi-lagi Solar menggeleng. Selama ini, Selena hanya ingin masuk MIT. Dia belum memutuskan akan mempelajari apa. Rasanya ia tidak berhak untuk memilih pilihan orang yang sudah mati. Tiba-tiba Solar merasa canggung. Ia tidak tahu bagaimana Selena harusnya bersikap dalam situasi ini. Tanpa sadar ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Gestur ini sempat dilirik oleh Theo, membuatnya tertegun sesaat ketika melihat anting yang dikenakan oleh Solar.
"Anting yang bagus." Komentar Theo.
Anting itu nampak mirip dengan barang bukti yang ditemukan pada mayat dalam perut Billie. Theo mencoba berpikir positif. Mungkin anting itu cukup pasaran. Namun batinnya menolak setuju. Barang bukti yang ditemukan itu bukanlah sembarang anting. Anting itu bertakhtakan batu berlian. Meskipun berukuran kecil, pemilik anting berlian pasti bukan dari kalangan orang biasa. Karakter Selena dan latar belakang keluarganya sangat cocok untuk bisa memiliki salah satu.
Dalam kasus Solar, anting yang menempel di kedua telinganya bukan benar-benar berlian. Ia hanya meniru Selena dan menganggap kedua anting yang melekat di telinganya merupakan bagian tubuh Selena sendiri.
Solar tak langsung menjawab, melainkan tersenyum tipis. "Mama membelikannya untukku saat ulang tahunku ke empat belas." Senyumnya makin lebar, merasa bangga pada diri sendiri karena telah bersikap meyakinkan.
Jawaban Solar membuat kernyitan di dahi Theo makin dalam. Ia tidak terlalu dekat dengan keluarga Selena, namun ia tahu pasti jika selera Mama Selena cukup tinggi. Mama Selena bukan orang kaya yang suka memakai barang dengan brand pasaran. Sekalipun brand itu sering dipakai oleh orang lain, ia akan memastikan kalau barang miliknya adalah custom, alias buatan khusus. Naluri Theo mengatakan kalau anting Selena juga pasti buatan desainer perhiasan langganan Mamanya. Apalagi jika itu adalah hadiah ulang tahun Selena, anak tunggal mereka. Artinya, hanya ada satu jenis anting itu saja di dunia. Theo menggaruk lehernya secara tak sadar karena tidak tahan untuk tidak memikirkannya dalam-dalam.
"Theo sering bercerita tentangmu, Selena." Untuk pertama kalinya, Profesor membuka mulut. "Dia bilang kamu adalah anak jenius yang ingin masuk MIT sejak masih SD."
Semua orang yang baru tahu tentang cita-cita Selena memandang ke arahnya serentak. Solar merasa canggung lagi karena menjadi pusat perhatian di meja makan.
"Kamu tidak pernah menceritakan itu padaku." Mindy langsung cemberut.
"Untuk apa dia menceritakannya pada kita? Kita tak akan bisa membantunya masuk kesana." Sebenarnya Christian bermaksud membela, namun malah terdengar seperti sindiran. Kedua temannya itu memang mengenal Selena sebagai sosok yang irit bicara dan memiliki kepedulian rendah terhadap sekitar. Dia tak akan mulai membicarakan sesuatu jika hal tersebut tidak betul-betul perlu dikatakan. Selena mengatakan cita-citanya pada Theo karena dia tahu saran dari Theo akan membantunya untuk lolos seleksi. Sesederhana itulah jalan pikirannya.
Tanpa diduga, Profesor malah tertawa. "Aku mengatakan ini karena ingin menawarkan bantuan."
Jika Selena yang asli mendengar ini, mungkin dia akan langsung tertarik. Jadi Solar berpura-pura bersikap seakan hidupnya bergantung pada 'bantuan' itu. Christian tersenyum melihatnya. Pemandangan saat Selena sedang amat menginginkan sesuatu cukup langka untuk dilihat.
"Salah seorang sahabatku, Profesor Broom –mungkin kalian berdua ingat-" Profesor memandang Theo dan Adam bergantian, "-dia punya anak yang menjadi dosen di Cambridge. Mungkin dia bisa merekomendasikanmu pada rekan-rekannya di MIT, jika itu membantu. Masih setahun lagi, kan?" Universitas Cambridge merupakan institusi yang berbeda dengan MIT, namun keduanya terikat kerja sama. MIT punya sistem pembelajaran yang lebih intensif dan kelas yang lebih kecil. Terlebih, MIT juga masih memegang catatan terbaik di dunia sebagai tempat untuk belajar sains dan teknologi.
Solar mengangguk singkat dan menawarkan senyum penuh terima kasih.
"Kita akan atur waktu untuk bertemu dengannya. Bagaimana menurutmu?" Lanjut Professor.
"Tentu saja." Solar tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain menyetujui ide itu.
"Kurasa aku juga harus sekolah di Massachusetts." Celetuk Christian dan Mindy hampir bersamaan.
"Sebenarnya aku ingin menawarkan saran untuk masuk lewat beasiswa yang kamu dapat dari kejuaraan olahraga. Tapi prestasimu tidak sebagus itu untuk bisa dilirik universitas luar negeri manapun." Ujar Theo pada adiknya. Mendapat komentar mengesalkan begitu, Christian melempari kakaknya dengan buah anggur.
"Akan kuadukan pada Mamamu!" Theo berusaha menghindari peluru anggur yang dilempar oleh adiknya.
"Mamaku itu Mamamu juga, dasar gila!" Christian masih terus melempari anggur pada Theo.
"Kita perang makanan? Asyikk!!" Adam ikut-ikutan melempari Theo dengan buah-buahan manapun yang dapat diraihnya.
Mengabaikan keributan di meja makan, Mindy memeluk lengan Selena. "Kalau kamu kuliah di MIT, aku akan cari universitas swasta di dekat kampusmu. Uang kakekku banyak. Aku bisa kuliah dimanapun." Mindy memperhatikan piring yang masih utuh. "Makanannya tidak enak?" Tanyanya.
Solar menggeleng, "Tidak nafsu makan."
Mindy melepaskan pelukannya. "Aku jarang sekali melihatmu makan belakangan ini. Kamu sakit?" Untuk membuktikannya, Mindy menempelkan punggung tangannya ke dahi Solar. Suhunya rendah, namun tak terlalu dingin sampai menimbulkan kecurigaan. "Kamu tidak kelihatan kurusan." Berkat hipotesanya sendiri, Solar tidak perlu mengkhawatirkan kecurigaan Mindy.
Usai makan siang, Christian, Mindy, dan Solar pergi ke ruang bermain mereka di basement. Sebuah basement sangat tidak lazim ditemui pada rumah-rumah di Indonesia. Namun rumah Christian adalah pengecualian. Basement rumah sudah diubah sebagai ruang bermain bagi Christian dan teman-temannya. Sebuah meja bilyard diletakkan di sudut ruangan. Home Theatre terpasang di seberang ruangan dan dilengkapi sofa-sofa besar untuk penontonnya. Beberapa mesin permainan arkade, satu set peralatan permainan Virtual Reality, dan ring basket juga dipasang di sana.
Meskipun mereka bertiga akrab, Christian juga punya teman-teman lain. Terutama dari kalangan tim basket sekolah yang cukup sering ke rumah Christian saat sedang tidak ada latihan. Demi membuat teman-teman basketnya terkesan, Christian sengaja memasang semua permainan yang mereka suka di sini. Sebuah lemari es besar tidak pernah dibiarkan kosong oleh asisten rumah tangganya. Bagi remaja seusia mereka, basement Christian adalah salah satu definisi surga.
Mindy menyalakan TV besar sambil merebahkan diri di atas sofa. Ia memencet remote secara acak, tidak tahu akan menonton saluran apa. Solar menyandarkan pinggulnya di meja bilyard sambil melipat kedua tangan di dada. Matanya terus memperhatikan gerak gerik Christian yang sedang bermain basket solo. Tiap kali bola dilempar ke dalam ring, Christian selalu berhasil membuat poin.
***