
Reagan tahu ia tidak sedang dalam kondisi terbaik. Tubuh dan pikirannya telah diambil alih. Ia tak ingat darimana ini bermula. Tahu-tahu ia sudah dibawa ke sebuah tempat asing yang ia sadari bukan rumahnya. Tempat ini bukanlah tempat yang biasa ia jumpai dimanapun, bahkan di TV. Reagan tak dapat merasakan kaki atau tangannya. Semuanya kebas. Penglihatannya selalu berubah-ubah, seperti sedang dipaksa untuk melihat-lihat channel TV mana yang akan ia tonton. Pikirannya melayang-layang. Anehnya, ia tak masalah sedikitpun dengan itu semua. Jauh dalam lubuk hatinya, ia tahu kalau ia baik-baik saja. Ia merasa aman. Seseorang menuntunnya dan tak membiarkannya tersesat dalam limbo.
Tempat yang ia datangi adalah tempat bercahaya paling terang. Di depannya berdiri sebuah gedung pencakar langit yang berbentuk trapesium di bagian ujungnya. Gedung ini tidak mirip seperti gedung pencakar langit yang ada di kota tempat ia tinggal. Bangunannya hanya berupa bebatuan keperakan yang bertakhta permata jenis peridot berwarna hijau kekuningan. Bangunan itu berdiri tegak di tengah-tengah dataran yang dikelilingi air dangkal. Pantulan langit terang penuh bintang terlihat sebening kristal. Bangunan yang dilihat Reagan itu tak berpintu, namun dindingnya terbuka lebar saat ia dituntun masuk ke dalam.
Reagan memperhatikan sekelilingnya, dimana makhluk-makhluk kecil berbentuk ubur-ubur transparan berenang kesana kemari dengan lincah. Jika dilihat lebih dekat, rupanya mereka tak mirip ubur-ubur sama sekali. Tubuh mereka lentur dan berpendar keperakan seperti bangunan yang mereka tinggali. Reagan menatap ke atas. Makhluk-makhluk bernama Grenoiave itu juga bergerak di ruang kosong di atas kepalanya seakan sedang terbang. Oh iya, sekarang Reagan tahu nama tempat itu. Planet Grenoia, tempat asal Grenoiave. Rumah bagi koloni Solar, 'seseorang' yang telah membawanya kemari.
Kini Reagan dibawa masuk lebih dalam. Ia dihadapkan dengan sebuah perkumpulan yang dikenal dengan sidang koloni. Grenoiave berkumpul mengelilingi sebuah wadah berupa mangkok kaca besar yang dipenuhi air berpendar.
'Sekarang hiduplah, heloxe. Gunakan hidupmu kembali untuk melayani koloni. Hiduplah...'
Seiring dengan ucapan itu, seorang Grenoiave baru telah terlahir kembali. Sosoknya muncul dari dasar wadah kaca. Pendarnya makin lama makin terang. Dari dalam wadah itu, lahirlah Solar. Hari ini adalah kali keempatnya lahir setelah hidup beberapa millenia. Solar menjadi heloxe termuda di koloninya. Belum ada jiwa heloxe baru selama Solar hidup di antara Grenoiave. Ada enam heloxe senior lain yang telah menjadi mentornya selama ini. Mereka semua tak pernah berkumpul bersama-sama dalam satu waktu karena selalu dalam misi ke galaksi lain untuk mengases planet atau koloni tertentu.
Reagan tak mengerti bagaimana menggambarkan keadaan Solar saat itu. Semua Grenoiave kelihatan sama. Tidak ada yang membedakan mereka selain cara mereka berkomunikasi. Meskipun begitu, Reagan dapat dengan mudah menemukan sosok Solar di antara yang lain. Ia selalu dibawa mengikuti Solar yang baru saja terlahir kembali dalam tubuh baru.
Reagan belum sempat dibawa berkeliling Grenoia saat ia mendengar sebuah pesan darurat. Pesan itu membuat semua Grenoaive, tak peduli apapun statusnya, berhenti bergerak sekaligus. Mereka terdiam selama sepersekian detik, mendengarkan dengan seksama instruksi dari para pemimpin koloni untuk segera masuk ke dalam kapal Genomeda, kapal perang terbesar koloni. Ketika pesan itu usai, seluruh koloni kompak pergi ke arah barat, tempat kapal Genomeda berada.
Prajurit-prajurit Grenoiave bergerak teratur untuk menuntun koloni mereka. Solar berada di antara barisan itu. Tak banyak yang dipikirkannya. Ia masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tubuh baru, meskipun ini adalah kali keempatnya terlahir kembali. Tak peduli berapa kalipun ia lahir, atau berapa millenia lagi ia hidup, proses kelahiran kembali menjadi salah satu momen paling sulit yang pernah ia rasakan.
Reagan sudah berada di dalam Genomeda yang lepas landas saat ia akhirnya mengerti mengapa seluruh koloni diangkut kemari. Langit Grenoia berwarna kuning kemerahan saat asteroid yang luar biasa besar menabraknya. Semua terjadi dalam gerak lamban saat planet terang itu perlahan hancur sampai akhirnya meledak menjadi debu semesta. Dalam waktu singkat, Solar dan koloninya sudah kehilangan rumah.
Tak ada korban jiwa. Mereka hanya kehilangan rumah. Rumah satu-satunya bagi spesies Grenoiave.
Solar ikut menghadiri sidang koloni saat para pemimpinnya berkumpul untuk mencari rumah baru. Heloxe-heloxe seniornya sudah dikirim ke seluruh penjuru semesta untuk menentukan planet mana yang dapat mereka tinggali. Planet-planet lain yang pernah mereka jelajahi tidak memiliki kualitas atau iklim yang cocok bagi kehidupan Grenoiave. Ratusan jam menunggu, semua kapal yang membawa heloxe selalu memberi kabar buruk. Dua di antaranya hancur menabrak asteroid akibat kehilangan navigasi, sedangkan sisanya hilang ditelan lubang hitam.
Sampai suatu waktu, para pemimpin koloni mendapatkan sebuah sinyal kehidupan dari galaksi yang jauhnya dua koma tiga juta cahaya dari lokasi Genomeda saat ini. Satu-satunya heloxe yang tersisa adalah Solar. Ia menjadi harapan terakhir koloni. Satu-satunya Grenoiave yang dapat mengases galaksi itu demi menemukan planet baru untuk ditinggali.
Reagan ada di sana.
Ia tahu bagaimana Solar menerima tugas itu dengan keberanian besar dan tekad kuat. Ia melihat sendiri bagaimana Solar membawa kapal kecil berisi lima prajurit Grenoaive yang ia kenal selama hidupnya untuk menghindari lubang hitam raksasa yang siap menelan mereka kapanpun. Kapten kapal mereka –Jazho-, melakukan kesalahan dalam menghitung kordinat sebelum melakukan lompatan jarak. Reagan melihat semuanya. Ia mengagumi kemampuan dan besarnya tekad Solar untuk mengabdi pada kepentingan koloni.
Reagan tak tahu berapa lama ia bersama Solar di dalam kapal kecil itu sampai ia melihat sebuah planet hijau kebiruan dari kejauhan. Reagan merasa akrab dengan planet asing yang dilihat Solar itu. Ia sering melihatnya di buku, TV, ataupun internet, saat NASA melakukan siaran langsung dari luar angkasa. Planet yang sedang mereka tuju adalah planetnya.
Jazho menyalakan mode menghilang saat kapal mereka memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan dahsyat. Mereka tak memperhitungkan bagaimana kapal mereka akan terbakar hebat saat bergesekan dengan udara di lapisan ionosfer bumi. Dari kejauhan, manusia hanya melihatnya sebagai salah satu bintang jatuh sebelum membuat keinginan.
Kapal mereka mendarat dengan hentakan kuat saat menabrak lapisan es di kutub selatan. Sebuah kawah besar terbentuk akibat hantaman itu. Seluruh awak kapal selamat, walaupun kapal mereka rusak berat. Jazho dan timnya harus lekas memperbaiki kapal agar mereka dapat mengirimkan sinyal kordinat ke Genomeda setelah Solar selesai mengases planet baru ini.
Awak kapal keluar dengan mengenakan cangkang yang sudah seperti baju zirah bagi prajurit Grenoiave. Cangkang itu terbuat dari metal terkuat di Grenoia. Cangkang yang besar dan berat. Cangkang yang dapat melindungi tubuh Grenoaive yang kecil dan rentan dari serangan makhluk manapun. Selama jutaan tahun, cangkang itu selalu membawa mereka pada kemenangan melawan makhluk penjajah yang menyerang dari seluruh semesta. Prajurit Grenoiave menganggap cangkang mereka sebagai sebuah status kehormatan.
Daratan tempat mereka berada adalah sebuah dataran tandus dingin di ujung selatan Bumi. Sejauh mata memandang, tak ada apapun yang dapat dilihat selain es dan salju. Langit tak pernah cerah di sini. Tak ada air maupun cahaya matahari. Namun suhunya yang amat dingin menjadi tempat yang sangat nyaman bagi Solar dan teman-temannya. Tugas mereka belum selesai. Masih ada kapal yang harus diperbaiki, dan Solar juga harus mengases sekitar untuk memastikan planet ini layak ditinggali koloninya.
'Planet ini luas,' Solar mengirimkan pesan yang lebih mirip telepati pada teman-temannya. '-butuh waktu lama untuk mengases wilayah ini seluruhnya.'
'Kapal ini juga butuh waktu lama untuk diperbaiki. Kami tak bisa menemanimu.' Solar mendengar Jazho menyahut.
'Selesaikan secepatnya selagi aku mengases!'
Solar pergi meninggalkan teman-temannya. Ia mengubah wujudnya menjadi apapun yang dilalui. Awalnya ia adalah salju yang bergerak membelah es. Kemudian ia adalah angin yang berhembus lambat sebelum berubah lagi menjadi badai. Solar mengarungi daratan tanpa henti dengan kecepatan tak masuk akal hingga ia sampai ke pesisir, dimana ia menemukan lautan. Heloxe itu hampir yakin kalau planet ini adalah planet yang tepat bagi Grenoiave sebelum ia menemukan spesies lain ternyata tinggal di tempat ini secara berkelompok. Spesies itu dapat dikenali Reagan sebagai penguin dan gajah laut. Hewan-hewan itu menyingkir saat Solar mendekat dengan niat untuk mempelajari mereka. Menyerah karena hanya bisa mempelajari spesies-spesies itu dari kejauhan, akhirnya Solar menceburkan diri ke laut.
Bagi Solar, lautan itu hampir mirip dengan rumah. Kedalaman samudera yang gelap dan dingin dijelajahi oleh Solar dengan semangat. Di sana ia menemui lebih banyak lagi spesies-spesies baru penghuni laut dalam, yang bahkan nampak asing dan menakutkan bagi Reagan. Solar mempelajari semuanya. Ia harus mengumpulkan informasi banyak-banyak untuk disampaikan pada koloni. Seperti yang sudah-sudah, makhluk-makhluk yang tinggal di laut dalam selalu menghindari Solar, sekalipun predator raksasa yang tinggal di sana sejak masa prasejarah. Entah karena ketakutan, atau sekedar terganggu. Sekalipun Solar sudah merubah wujudnya menjadi air, penghuni lautan itu tahu kalau Solar bukan makhluk Bumi.
Berhari-hari Solar menjelajahi kedalaman samudera menuju utara. Solar tak pernah merasa terburu-buru karena ia suka berada di laut. Energinya tak pernah habis meskipun sudah berenang mengarungi planet. Air laut terasa makin hangat. Solar menduga kalau ia sedang mendekati garis khatulistiwa. Langit sudah gelap saat Solar melihat daratan untuk pertama kali.
Semakin jauh ia menuju daratan, perairan semakin dangkal. Sebuah ceruk di dekat pantai menarik perhatiannya. Di balik ceruk itu, ia melihat sebuah sosok yang sedang berdiri di atas tebing. Penglihatan Solar sangat baik hingga ia bisa melihat dengan jelas sosok itu. Sosok yang sedang berdiri di atas sana sangat berbeda dengan spesies-spesies yang pernah ditemui Solar sebelumnya saat dalam perjalanan kemari.
Cukup lama Solar mempertimbangkan wujud apa yang akan diambilnya saat naik ke daratan itu. Ia mencoba segala bentuk yang pernah ia tiru. Solar tak ingin terlihat menakutkan bagi sosok di atas sana. Ia ingin mendekat agar bisa betul-betul mempelajarinya. Semakin dekat ke daratan, ia berubah menjadi ombak, lalu busa laut. Makhluk itu masih berdiri di atas sana, tak goyah sedikitpun. Jika Solar tak salah lihat, makhluk asing itu bahkan berani mendekat selangkah sebelum akhirnya ia terpeleset jatuh. Solar memperhatikannya terjun bebas ke bawah, dimana karang-karang tajam mencuat dari permukaan air yang dangkal. Solar tak mengerti mengapa makhluk itu tak terbang seperti spesies-spesies lain yang dilihatnya sebelum ini. Ia langsung bergegas menghampiri sosok yang terjatuh itu karena rasa penasaran.
Kini Solar dapat melihat lebih jelas sosok yang baru saja terjun bebas dari atas tebing itu. Reagan memekik terkejut, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia melihat Selena di sana. Sosok yang dilihat Solar itu adalah Selena yang selama ini dikenalnya. Tubuhnya terluka parah. Reagan tak perlu menduganya karena ia langsung tahu dari posisi tubuh Selena yang tersangkut di karang. Darah menggelegak dari mulutnya yang terbuka. Selena batuk-batuk, mempertahankan kesadaran dengan seluruh tenaga yang tersisa.
Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian terakhir yang Reagan lihat malam itu, saat acara api unggun di malam terakhir karyawisata mereka. Belum hilang keterkejutan Reagan, Solar sudah mengubah wujudnya menjadi Selena. Sekalipun Solar memiliki kemampuan untuk meregenerasi sel atau memanipulasinya, ia tetap tidak dapat menyelamatkan Selena. Reagan hanya bisa menatap nanar ke arah Selena yang sekarat tepat di hadapannya.
Solar mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Selena, namun gerakannya ditahan oleh sebuah cengkeraman. Selena mencengkeram lengan Solar sekuat ia bertahan hidup di ujung usia. Tatapan matanya tak akan bisa dilupakan oleh Reagan. Solar berusaha berontak, meskipun seharusnya ia tak perlu melakukannya. Selena terkulai tewas tak lama kemudian. Solar memandangi lengannya yang terluka akibat cengkeraman barusan. Luka itu menutup dengan sendirinya dalam hitungan detik. Solar mengambil ingatan Selena dengan tujuan untuk menggantikan dirinya sekaligus sebagai penyamaran selama dia mengases planet.
Kini Solar kebingungan bagaimana cara memusnahkan tubuh tak bernyawa Selena usai mengambil ingatannya. Satu-satunya elemen di planet ini yang dapat ia kendalikan adalah air. Air tidak bisa mengurai tubuh Selena dengan cepat. Ia merasa kasihan padanya. Akhirnya Solar memutuskan untuk membawa tubuh yang makin mendingin itu ke laut. Ia akan menguburkannya di samudera. Dengan begitu, spesies lain yang mendiami lautan akan mengurus pemakamannya. Ide itu terdengar brilian ketika dipikirkan. Reagan merasa ia akan muntah saat itu juga.
***
Hari sudah berganti siang saat Solar kembali ke daratan. Ia tak langsung naik, melainkan bersantai di permukaan dengan tubuh baru sembari menikmati cahaya matahari. Solar menyukai bintang yang satu ini. Panasnya sangat sempurna bagi tubuh Grenoiavenya yang bersuhu rendah. Reagan melihat Solar terombang-ambing di atas permukaan laut sebelum ia mendengar sebuah suara meneriakkan nama Selena dari kejauhan. Reagan melihat dirinya sendiri sedang memanggil-manggil Selena. Detik berikutnya bagaikan reka ulang. Ia hanya bisa menonton saat dirinya tenggelam karena mencoba menyelamatkan Selena yang ia kira sedang tenggelam, padahal sosok yang ia coba selamatkan adalah Solar. Solar menyelamatkannya saat ia tenggelam karena tak bisa berenang.
Segala hal yang terjadi dalam hidup Selena sekembalinya dari karyawisata merupakan bagian dari reka ulang yang diputar dalam sudut pandang Solar. Semua ingatan Selena semasa hidup dapat ia intip sedikit demi sedikit berkat ijin Solar. Ia jadi tahu bagaimana perasaan Selena selama ini terhadapnya. Semasa hidup, Selena menganggap Reagan sebagai objek yang ia sukai sekaligus ia benci. Selena tak menerima kenyataan kalau sebenarnya ia menyukai Reagan. Selama ini ia terlalu sibuk meyakinkan diri kalau dirinya membenci Reagan. Reagan mendefinisikannya secara sepihak sebagai rasa gengsi. Karena Solar tak pernah punya pengalaman akan perasaan negatif itu, ia hanya mengikuti instingnya untuk terus menyukai Reagan. Perubahan sikap Selena yang sebelumnya ia anggap aneh kini terjawab sudah.
***