
Roy yang saat itu meninggalkan rumah membuat Wirya dan Anjani keluar dari kamarnya.
Meraka yang mendengar tangisan wanita langsung berlari menuju kamar menantunya itu.
"Apa yang terjadi nak? Apa yang Roy lakukan sama kamu " Anjani membangunkan menantunya yang duduk lemas di lantai
Anjani mendudukan menantunya di ranjang dan mengambilkan air minum untuknya.
Anjani dan Wirya yang mendengarkan cerita menantunya itu, Meraka merasa jengkel dengan sifat Roy.
" Sabar lah nak.. sudah berhenti menangis kasian anakmu itu " Anjani menenangkan Clara
Malam itu Clara tidak bisa tidur karena masalah itu. Dia menangis karena dadanya yang sesak karena ulah labil suaminya.
" Maafkan mamah yang tadi menampar papahmu ya nak "sembari mengelus elus perut buncitnya itu
Roy yang saat itu pergi tanpa tujuan menelpon Via. Lalu Roy menghampiri Via yang saat itu berada di apartemen miliknya.
Roy masuk kedalam apartemen milik kekasihnya itu dengan wajah kusut.
"Kamu kenapa, tumben banget kesini malam kini.. Lihat wajah kamu yang jelek itu "Ledek Via
" Jangan membuatku semakin marah vii.. bisakah kamu membuatkan aku minuman " tanya Roy
Tidak menunggu lama Via langsung membuatkan minuman untuk Roy.
"Kamu kenapa?"tanya Via serius
" Habis berantem sama istri. tuh liat hp aku di banting.. Jadi aku marah dan pergi dari rumah " jawab Roy dengan malas
"Jahat banget kamu.. Trus gimana sama istri kamu yang lagi bunting?" tanya Via dengan nada sengit
" Iya di rumah lah,, mau aku bawa kesini biar rame berantem sama kamu " Roy menjawab sambil minum
" Ihh males banget... " jawab Via
Malam itu, Roy benar benar tidak pulang. Dia menginap di tempat Via.
Mereka memang tidur bersama namun tidak melakukan apapun dengan kekasih gelapnya itu.
Keesokan harinya Clara yang bangun dengan mata sebamnya turun ke meja makan untuk membantu mertuanya di dapur.
" Kasian sekali menantu kita pah.. Roy benar benar tidak pulang? " bisik Anjani pada Wirya yang duduk menikmati kopi buatan istrinya
"Kayaknya enggak mah.. awas aja kalo nanti pulang papah kasih pelajaran.. " suara kesal Wirya
" Ihhh papah, jangan gitu dong.. kasih tau aja yang pelan nanti juga tau kok "Kata Anjani
"Tidak bisa seperti itu, papah malu dengan sifat dan sikap dia menyelesaikan masalah dengan pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.. " jawab Wirya dengan kesal
Clara menghampiri mertuanya dengan membawakan roti bakar buatanya.
"Pah Mah.. nanti aku mau keruma mamah papah ya.. boleh kan??" Tanya Clara
" Boleh nak.. tapi apa kamu ingin pulang karena masalah dengan suamimu? kalau itu iya nak, jangan sampai kamu menceritakan masalah kalian berdua ke orang tua nak karna itu tidak baik " nasehat Anjani pada intan
"Enggak kok mah.. Clara kesana cuma pingin nengokin mamah sama papah karena sudah lama tidak main kesana "Jawab Clara
"Iya sudah.. tidak apa nak. kamu kesana menunggu Roy pulang apa gimana?" Tanya wirya dengan suara beratnya
" Tidak mah.. mungkin nanti Roy akan menusul Clara... " jawab Clara
Mereka berdua mengiyakan permintaan Clara itu. Clara yang pergi dari rumah mertuanya ke tempat orang tuanya dengan di antar sopir Wirya.
Sesampainya di sana Clara yang langsung memeluk Indah dan Marteen. Dia menahan tangisnya dan berusaha tersenyum.
Meraka masuk kedalam dan berbincang di meja makan dengan menyantap masakan Indah.
"Nak, kenapa suamimu tidak ikut kemari.. tidak baik loh pergi tanpa seijin suami "Tanya Indah
" Mas Roy sedang ana praktek kuliah di luar kota mah.. Nanti juga menyusul kesini " Clara menjawab dengan mata berkaca namun tetap menahannya.
Setelah selesai, Clara langsung pergi ke atas untuk ke kamarnya. Dia langsung membaringkan badannya di atas ranjangnya.
Dia mengingat Roy yang pergi semalaman tanpa mengabarinya. sesekali dia mengelus perut bincitnya itu.
" Apakah ini yang di namakan sebuah pernikahan.. inikah yang namanya ujian dalam rumah tangga. Apakah ini kesalahan saat menikah di usia yang sangat muda karena belum siap untuk semua ujian " gumam Clara pada batinya
Dia melihat foto pernikahanya, lalu menangis tersendu sendu..