Single Mom

Single Mom
Pernikahan



Malam semakin larut. Malam yang begitu pait bagi Clara. Kesalahan terbesar untuk pertama kalinya.


" Ayo kita pulang, sudah malam angin di sini sedang tidak bersahabat nanti km sakit lagi " ajakan Roy


Clara membalas dengan anggukan dan mereka bergegas berdiri untuk pulang.


Di rumah Clara...


Indah yang saat itu sedang membersihkan kamar putri semata wayangnya itu, tiba tiba terkejut saat menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi terdapat test pack yang melihatkan garis dua dengan jelas. Indah yang kaget memanggil Marteen dengan keras.


Marteen yang saat itu sedang menonton tv di temani secangkir kopi pun sangan terkejut dengan teriakan Indah. Marteen langsung menyusul Indah.


Saat sudah di kamar Clara, Marteen mendapati Indah sedang menangis di kamar mandi.


" Pah, lihat ini.. Apakah yang di pikirkan mama sama dengan papah " suara indah gemetar


" Apa ini mah... apakah ini punya Clara " Jawab Marteen dengan emosi


Di tempat biasa Roy berhenti karena Clara yang memintanya.


Clara berjalan menuju rumahnya, di ruang tamu terdapat Indah dan Marteen dengan Raut wajah datar penuh dengan amarah.


plakk.. tamparan keras di layangkan untuk Clara dari Marteen.


Clara menangis memegang pipinya yang merah " Pah, kenapa papah nampar Clara "


Marteen melempar Test pack yang ada di tangannya.


Indah yang masih duduk di sofa sudah tidak berdaya dan terus menangis karena rasa kecewa pada putrinya.


" Anak ***** A*** . jadi seperti ini balasan untuk mamah dan papahmu ini. Harus di taro mana muka keluarga kita " suara emosi Marteeen


" Maafkan Clara pah" menangis lalu sujud di depan marteen dan indah untuk meminta maaf.


"Siapa yang menghamilimu " tanya Marteen


"Roy pah, pacar Clara.. " menangis tersendu sendu


"Lihat putrimu itu mah, karena kejelihannya berbohong sampai kita tidak tau di mempunyai orang kekasih " emosi nampak jelas di wajah marteen.


Malam itu adalah malam yang tidak akan pernah terlupakan oleh Clara.


Malam yang penuh dengan amarah kedua orang tuanya, tamparan pertama kali untuk dirinya.


Keesokan Harinya..


Indah dan Marteen bersiap untuk kerumah Roy bertemu keluarganya. Kebetulan hari itu adalah hari minggu.


Dengan terkejut, Anjani pun berdiri karena tumben sekali ada tamu sepagi ini


Indah dan Marteen turun dari mobil dan langsung menyapa wirya dan Anjani.


" Permisi bapak, apakah ini rumah Roy " tanya marteen dengan sopan


" Iya betul, ada perlu apa ya bapak ke sini sepagi ini ? " jawab wirya


" Begini pak, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada bapak, ibu dan Roy " suara Marteen


"Baiklah mari masuk "


Indah dan Marteen di persilahkan masuk, mereka duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Roy yang sedang di panggil oleh Anjani.


Tak lama Roy pun menghampiri Marteen dan indah.


"Langsung saja pak, Saya ingin sekali bertanya kepada anak bapak dan ibu ini. Apakah kanu benar yang menghamili anak saya Clara? Tanya Marteen pada Roy


Anjani yang mendengar hal itu langsung terduduk lemas karena kaget dengan pertanyaan itu.


Wirya yang tadinya tersenyum ramah , sekejap berubah menjadi tatapan tajam pada putranya itu


Roy terdiam sejenak lalu Menganggukan kepalanya seraya memberi jawaban bahwa iya dia yang melakukan kesalahan terbesar dan terceroboh dengan Clara.


Dengan spontan, Wirya berdiri dan menampar Roy sampai tersungkur di lantai


Lalu Marteen menenangkan suasana, " sudah pak jangan seperti itu, kita selesaikan secara kekeluargaan saja "


Wirya yang mendengar Marteen langsung duduk dengan sedikit tenang.


" Seperti ini pak, kami kesini meminta pertanggung jawaban Roy untuk putri kami, kami ingin menikahkan mereka besok pagi" ajakan Marteen dengan tegas


Keluarga Roy mengiyakan rencana itu.


Hari esok pun telah tiba, Acara pernikahan mereka pun perlangsung di hadiri oleh keluarga dan kerabat dekat mereka.


Acara berlangsung tertutup, dan tidak ada pesta yang meriah seperti halnya pernikahan lainnya.


Setelah selesai acara, Clara langsung di bawa kerumah Roy.


Clara yang terlihat begitu sedih saat meninggalkan rumah kesayangannya ke tempat mertuanya.


di dalam mobil terdapat orang tua Roy dan mereka berdua. Suasana mobil terlihat begitu hening karena kecanggungan Clara.


" Nak, jangan canggung seperti itu. Sekarang kita adalah keluarga " Suara Anjani mencairkan suasana


Clara yang saat itu duduk di sebelah Roy tersenyum sambil menganggukan kepalanya. dengan mata yang berkaca kaca.