
"Ram, jalan-jalan yuk." ucap Ryma yang langsung masuk ke kamar Rama tanpa mengetuk pintu.
"Jangan dibiasain masuk ke kamar orang gak ngetuk pintu, coba bayangin gimana kalau seandainya tadi gue lagi telanjang?" sinis Rama kepada kakaknya yang kebiasaan asal masuk kamarnya.
"Tinggal putar balik apa susahnya?"
"Elu enak ngomong tinggal puter balik, lah gue?"
"Ck, iya-iya gue yang salah!" kesal Ryma yang kemudian melipat kedua tangannya ke dada. Rama yang melihat kakaknya yang seperti itu hanya menghela nafasnya.
"Emang jalan-jalan kemana? Muka masih bengkak gini juga." ucap Rama sambil memegang dagu Ryma dan melihat wajah Ryma yang masih sedikit bengkak akibat kejadian kemarin malam.
"Kan bisa pakai masker, lagian udah gak terlalu bengkak lagi." jawab Ryma yang kini tersenyum manis dan melupakan kekesalannya
"Ada aja jawabannya." batin Rama sambil menatap keki. "Yaudah, siap-siap gih."
"Siap, kapten!" seru Ryma dengan semangat dan memutar tubuhnya keluar dari kamar Rama.
Setelah beberapa saat, kini mereka berdua berada disalah satu mall yang ada di kota ini. Terlihat Ryma menggandeng tangan Rama dengan erat dan menariknya kesana kemari.
"Temenin cari baju." ucap Ryma yang langsung menarik tangan Rama tanpa menunggu persetujuan dari adiknya tersebut.
"Iya-iya, tapi gak usah ditarik-tarik gini bisa, kan?" tanya Rama malas tapi tak digubris oleh Ryma.
Kini kereka berada didalam toko baju dan Ryma langsung memilih baju yang ia inginkan.
"Rama, ini cocok gak?" tanya Ryma meminta saran, Rama menatap Ryma yang mengenakan dress merah.
"Nggak deh, lo kayak tante-tante pinggir jalan kalau pake itu." Ryma yang mendengar perkataan Rama itu langsung cemberut. Tapi ia kembali masuk kedalam ruang ganti dan mencoba pakaian yang lain.
"Kalau yang ini?" Rama menatap Ryma sedikit lama dari sebelumnya.
"Sekarang lo kayak ibu-ibu arisan." Ryma lagi-lagi masuk kedalam bilik dan mengganti pakaiannya.
"Ini gimana?"
"Hmm, sekarang lo malah kayak nenek-nenek mau kondangan." jawab Rama sambil tergelak melihat penampilan Ryma.
"Kubakar juga tuh mulut." kesal Ryma karena ia ditertawakan oleh Rama.
Sebenarnya apapun yang Ryma kenakan ia akan tetap terlihat cantik, karena memang sudah cantik dari awal. Yang Rama lakukan sedari tadi hanya untuk membuat Ryma kesal sekaligus balas dendam karena ia sedari tadi selalu diseret Ryma kesana-kemari.
Rama kemudian bangkit dari duduknya dan mendekatkan dirinya dengan Ryma.
"Nih, cobain yang ini." ucap Rama sambil menyerahkan beberapa pakaian kepada Ryma, Ryma yang melihat itu hanya menerima dan langsung masuk kedalam bilik untuk mencoba baju yang diberikan oleh Rama.
Setelah beberapa menit, akhirnya Ryma keluar dari bilik dan berdiri dihadapan Rama. Sebenarnya baju yang Rama berikan ke Ryma hanya model baju biasa, tapi Rama merasa cocok jika Ryma mengenakan baju tersebut, apalagi jika Ryma mengikat rambut panjangnya kebelakang yang akan semakin menambah auranya.
"Cantik ...." ucap Rama tanpa sadar karena terpesona dengan penampilan Ryma dengan baju pilihannya tadi. Ryma yang mendengar pujian dari adiknya itu langsung berjalan kearah cermin full body. Setelah ia melihat dirinya didalam cermin, Ryma tersipu malu karena ia juga merasa bahwa baju yang ia kenakan sangat cocok dengan dirinya.
"Oke, aku ambil ini aja deh."
Setelah membayar, mereka menuju restoran masakan Jepang yang berada dilantai tiga. Mereka berdua mecari tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian karena baik Ryma ataupun Rama tidak suka keramaian.
"Gue mau ke toilet bentar." ucap Rama sambil bangkit dari duduknya.
"Ngapain?" tanya Ryma dengan wajah polos.
"Itupun pake nanya!" Rama memiringkan bibirnya dan meninggalkan Ryma sendirian.
Ryma yang tak tahu harus berbuat apa selagi menunggu pesanannya dan juga Rama kemudian memainkan ponselnya.
"Ryma?"
Merasa ada yang memanggil namanya, Ryma mencari siapa yang menyebut namanya tadi sampai akhirnya seorang gadis cantik berpipi tembem menghampirinya.
"Eh!? Rika?" Ryma terkejut ketika mengetahui bahwa yang memanggil namanya tadi adalah teman waktu SMPnya dulu saat masih tinggal bersama orang tuanya.
"Aaa, lama gak ketemu ...." mereka berdua langsung berpelukan untuk mengobati rasa rindu.
"Kamu ngapain disini, Ka?" tanya Ryma antusias kepada temannya itu.
"Aku pindah kesini, Rym. Udah hampir dua bulan malah." jawab Rika cengengesan.
"Kok gak ngasih tau kalau kamu disini sih!" Ryma memanyunkan bibirnya dan Rika tertawa melihat kelakuan temannya yang sepertinya tidak berubah dari dulu.
"Kamu ini ya, gak pernah berubah dari dulu. Ambekan." Rika tergelak setelah mengatakan itu sedangkan Ryma hanya diam dan terus cemberut.
"Oiya, Rym. Kamu masih sama dia?" tanya Rika tiba-tiba dan itu sukses membuat Ryma terkejut.
"I-iya, masih kok hehe."jawab Ryma sedikit canggung.
"Wahh, langgeng ya kalian. Aku doain deh sampai kakek nenek." ucap Rika semangat sedangkan Ryma hanya tersenyum tipis.
Ryma sedikit canggung ketika Rika menanyakan hal itu, karena yang dimaksud oleh temannya itu tak lain adalah Rama. Rika tak mengetahui hubungan sebenarnya antara Rama dan Ryma, ia masih mengira bahwa Ryma adalah kekasihnya Rama. Karena sewaktu SMP, kedekatan Rama dengan Ryma sudah bukan hal yang rahasia lagi. Mereka berdua terus bersama ketika di sekolah, apalagi Ryma yang selalu menempel dengan Rama.
"I-iya, makasih." Ryma sebenarnya tahu bahwa Rika menyukai adiknya sewaktu masih SMP. Ryma sempat ingin memberitahu Rika bahwa ia dan Rama adalah saudara kembar, tapi waktu itu Rama langsung mengatakan bahwa Ryma adalah kekasihnya. Dari situlah akhirnya hal itu menyebar dan menjadi gosip hangat di sekolah mereka dulu. Sedangkan Rika yang mengetahui itu langsung mengubur perasaannya terhadap Rama.
"Oiya, Rym. Aku duluan ya. Udah ditungguin papa diluar." ucap Rika.
"Oh, iya. Salam buat om Gibran ya." sahut Ryma dan mereka berdua kembali berpelukan.
"Okedeh, nanti kapan-kapan kita double date ya. Kamu ajak Rama." Ryma yang mendengar itu tertawa dan menunjukan jempol dan telunjuknya yang ujungnya menyatu dan berbentuk bulat tanda bahwa ia setuju.
Tak lama setelah kepergian Rika, Rama datang dan langsung duduk dihadapan Ryma.
"Lama banget, keras ya?" tanya Ryma tertawa geli dengan pertanyaanya sendiri.
"Pertanyaan gak mutu." sahut Rama dengan sinis.
Sebenarnya Rama sudah selesai dengan urusannya sedari tadi, ia juga melihat Ryma yang berbicara dengan Rika jadi ia memilih untuk tidak menghampiri kakaknya sampai Rika pergi, itu karena Rama tahu bahwa Rika menyukainya dari dulu.
"Tadi ada Rika, dia nyariin kamu." ucap Ryma tersenyum genit kearah Rama, sedangkan Rama tak menghiraukan perkataan Ryma dan memilih memainkan ponselnya.
"Diihh, sok-sokan cuek." Ryma tertawa melihat tingkah adiknya.
"Ngomongin apa tadi?"
"Dia nanyain kamu, dia nunggu kamu jomblo katanya." ucap Ryma sambil tergelak dengan ucapannya sendiri, tentu saja itu hanya dibuat-buat oleh Ryma.
"Oh." respon Rama cuek dan Ryma langsung menghentikan tawanya dan menatap tajam kearah Rama.
"Sok ganteng!" kesal Ryma kepada adiknya yang hanya merespon satu kata.
"Gue kan emang ganteng." sahut Rama percaya diri.
"Hueekk ...." ekspresi Ryma seolah-olah ia ingin muntah.
"Dan pastinya manis." sambung Rama sambil menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang berbentuk ceklis ke dagunya.
"Mati aja sana! Narsis banget jadi orang." sekarang Ryma malah ingin sekali memukul wajah polos adiknya itu sampai babak belur karena tidak tahan dengan tingkat percaya diri Rama yang jarang keluar. Tapi sekalinya keluar narsisnya tidak bisa ditahan. Tentu hal itu hanya dilakukan Rama ketika ia hanya bersama Ryma dan hanya saat didepan Ryma.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG....
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar biar author semangat ngetiknya, dan vote jika terhibur dengan ceritanya.
Mari saling dukung ;) Makasihh.