
Malam harinya, di kediaman kakak beradik ini terlihat cukup tegang karena Ryma sedang mengintrogasi adiknya atas kejadian disekolah tadi pagi.
"Kamu punya hubungan apa sama Dara?" tanya Ryma menatap serius kearah Rama.
"Nggak ada, astagaa ... Harus berapa kali gue jelasin sih, Rym." mendengar itu tak membuat Ryma langsung percaya.
"Terus kenapa bisa barengan ke kantin? Pegangan tangan segala lagi."
"Itu ..." Rama terdiam dan terlihat kebingungan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa?"
"Ituu, emm ...."
"Apa? Ngomong yang jelas." karena didesak terus, akhirnya Rama menceritakan kejadian sebenarnya, saat dimana ia melihat Dara sedang adu mulut dengan seorang pemuda didepan toilet. Rama menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, begitu juga Ryma tak sedikitpun menyela cerita adiknya.
"Terus kenapa bisa sampai gandengan tangan?"
"Ya mana gue tau, tanya aja Dara nya langsung."
"Sejak kapan kamu akrab sama dia?"
"Setelah negara api menyerang kampung duriah runtuh." jawab Rama asal karena ia sudah lelah duduk dilantai sedari tadi.
"Kenapa bisa sampai akrab gitu?" tanya Ryma yang tak memperdulikan jawaban asal dari adiknya.
"Karena Spongebob menyerang Adit sama Jarwo." jawab Rama semakin asal.
"Sudah sedekat apa hubungan kalian?"
"Sedekat persahabatan antara Doraemon sama Soneo."
"Nobita keles!" Ryma menjitak kepala Rama. "Udah jawab ngasal, salah lagi."
"Diam kau Giant!" sewot Rama sambil mengelus kepalanya yang kena jitak.
"Kurang ajar kamu Shizuka!"
Ryma akhirnya ketularan gila ringan dari Rama, kakak beradik ini tertawa lepas ketika mengingat perdebatan mereka tadi yang aneh dan tidak jelas. Karena kejadian itu, kedekatan kakak beradik ini tidak usah diragukan. Meskipun terkadang bertengkar, tapi itu tak mengurangi rasa sayang satu sama lain antara mereka.
"Jadi gimana?" tanya Ryma kepada adiknya itu dengan sisa tawanya, mendengar itu membuat Rama menoleh dengan ekspresi polos.
"Gimana apanya?"
"Kamu sama Dara pacaran, kan?"
"Sontoloyo!" sahut Rama keki karena Ryma lagi-lagi menyebut dirinya berpacaran dengan Dara, mendengar jawaban adiknya itu membuat Ryma tertawa kecil.
"Terus sama Mion gimana?"
"Kenapa sekarang malah bahas Mion?" tanya Rama heran dan mencoba untuk bangkit dari duduknya tapi hal itu ditahan oleh Ryma.
"Ett, siapa yang nyuruh bangun? Duduk lagi dilantai." ucap Ryma sambil menekan pundak adiknya tersebut.
"Yaelah, Rym. Gitu amat sama adik sendiri." jawab Rama dengan suara memelas.
"Pantat gue pegel, Rym." jawab Rama jujur sambil mengelus bokongnya. Mendengar itu membuat Ryma menghela nafasnya.
"Yaudah, duduk sini." ucap Ryma menyuruh Rama duduk disampingnya, Rama awalnya ingin duduk di kursi santai miliknya, tapi Ryma memaksa ia untuk duduk disampingnya.
Setelah Rama duduk disampingnya, Ryma memeluk pergelangan tangan Rama dan menyandarkan kepalanya dibahu Rama. Melihat tingkah kakaknya itu membuat Rama terkekeh.
"Gue boleh minta sesuatu gak?" tanya Rama yang kini mengelus puncak kepala kakaknya.
"Apa?"
"Beberapa hari ini, anak-anak di sekolah makin gencar cari tau identitas anak dari pemimpin Pratama Grup. Gue cuma khawatir kalau suatu saat mereka tau yang sebenarnya." jelas Rama memandang lurus kedepan. "Gue cuma minta, siapapun diantara kita yang ketahuan lebih dulu, jangan kasih tau siapa orang satunya lagi." sambung Rama.
Ryma yang mendengar itu terdiam, memang benar yang dikatakan adiknya. Sejak berita kepindahan anak dari Pratama tersebar, hampir seluruh murid SMA 2 mencari identitas mereka berdua. Semua murid seolah-olah berlomba untuk mengetahui sosok kembar yang sering mereka dengar di televisi atau media online lainnya. Sosok saudara kembar yang masih belum diketahui nama maupun rupa oleh seluruh media yang ada di negara ini.
Selain karena penasaran, tentu ada beberapa orang yang ingin memanfaatkan ketenaran si kembar tersebut untuk menjadi terkenal. Bahkan teman-teman Ryma seperti Veranda, Sinka, Vanya dan yang lain juga ikut mencari tahu.
"Iya, bakal aku usahain identitas kita berdua gak bakal terbongkar." jawab Ryma mempererat pelukannya. Entah kenapa ia begitu nyaman dengan posisinya sekarang yang bersandar dipundak adiknya.
"Kalau identitas kita ketahuan, gimana ya?" ucap Rama pelan.
"Yang jelas itu berbahaya buat keselamatan kita, karena banyak yang menginginkan posisi kita berdua. Contohnya kayak kamu yang nanti bakal jadi penerus Pratama Grup, tentu banyak orang yang juga mengincar posisi itu. Kalau ketahuan sekarang, tentu itu jadi satu ancaman."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari kakaknya tersebut, Rama hanya mengangguk paham. Akhirnya Rama mengerti kenapa waktu itu ayahnya menunjuk dirinya untuk menjadi penerus utama Pratama Grup, sebenarnya Rama tidak mau menjadi penerus dari Pratama Grup, karena ia punya cita-citanya sendiri. Tapi karena Ryma menolak tawaran dari ayah mereka, akhirnya Rama menerima tawaran tersebut yaitu menjadi pewaris utama dari Pratama Grup ketika sudah tiba waktunya.
Setelah mendengar penjelasan Ryma, Rama mengerti bahwa akan sangat berbahaya jika perusahaan sebesar Pratama Grup harus dipimpin oleh seorang wanita, karena banyaknya orang yang menginginkan posisi tersebut. Ia tidak sanggup membayangkan jika seandainya waktu itu ia menolak dan memaksakan Ryma yang berada diposisi tersebut, betapa bahayanya keselamatan kakaknya itu suatu hari nanti.
"Semoga aja gue mampu buat nerusin Pratama Grup nanti." batin Rama .
"Oiya, sama Mion gimana?" tanya Ryma mengulang pertanyaan sebelumnya, Rama menoleh dan menatap datar kearah kakaknya.
"Gue gak ada hubungan apa-apa sama anak cewek di sekolah!" jawab Rama kesal.
Ryma menatap sendu jearah adiknya itu.
"Kenapa kamu berubah banget, Ram? Dulu kamu gak segitu bencinya sama cewek." batin Ryma yang mengingat bahwa Rama yang sekarang sangat berbeda.
Rama yang dulu meski terkesan cuek dan dingin, tapi ia tetap ramah dengan semua orang. Tapi setelah kejadian ia dengan Salsa mantan kekasihnya, Rama kini benar-benar berubah. Ia seperti membenci semua wanita meski tidak ia tunjukan secara langsung, ia mengira bahwa semua wanita itu sama seperti Salsa.
"Apa ada hubungannya dengan Salsa sampai-sampai kamu seperti ini?" tanya Ryma pelan dan Rama menoleh setelah mendengar pertanyaan kakaknya itu.
"Hati-hati dengan hati, karena hati yang tak berhati-hati akan tersakiti oleh hati yang tak berhati-hati." jawab Rama yang sedikit terbelit-belit tapi masih bisa dipahami oleh Ryma.
Mendengar jawaban adiknya itu membuat Ryma menunduk sedih, ia juga membenci Salsa sahabatnya saat di Bandung. Ia tak menyangka bahwa Salsa akan berselingkuh dan menyakiti hati Rama. Akibat itu Rama mengalami kecelakaan dan sempat koma tiga minggu. Beruntungnya Rama adalah anak dari Pratama Grup yang tidak takut kehabisan uang untuk menyelamatkan anak mereka itu.
"Gak semua wanita seperti itu, setiap orang memiliki kepribadian masing-masing." lirih Ryma sambil melepaskan pelukannya dari pergelangan adiknya.
"Gak usah bahas itu lagi, gue udah lupa sama kejadian itu." Rama beranjak dan keluar dari kamarnya.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ...
Jangan lupa klik like jika suka cerita ini dan beri masukan, kritik atau saran jika ada yang ingin disampaikan ( jangan sungkan-sungkan ) dan dukung author dengan bantu vote biar semakin semangat hehe.