She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Tuan Muda Rama dan Nona Muda Ryma



Di salah satu rumah megah, terlihat Ryma tengah mengobati luka diwajah Rama dengan hati-hati sampai seorang pria paruh baya datang.


"Tuan muda Rama, nona muda Ryma." ucap pria tersebut dengan sopan yang merupakan pak Anto.


"Aku ingin kau mencari tahu identitas dari anak bernama Bams dan orang tuanya, cari semua bisnis ataupun aset orang tua Bams, langsung buat mereka bangkrut dalam semalam dan buat mereka jatuh miskin dan tak dapat bangkit lagi." titah Rama kepada Anto.


Anto yang mendengar perintah dari tuan mudanya itu mengangguk mengerti.


"Baik tuan muda, saya tidak akan mengecewakan anda." balas Anto. "Apa ada lagi yang perlu saya lakukan tuan muda? Nona muda?


"Tidak ada, lakukan saja tugasmu dengan benar. Aku ingin Bams dan keluarganya jatuh malam ini juga, karena mereka bermain-main dengan anak dari keluarga Pratama." ucap Rama dingin sambil menyebutkan nama keluarga besarnya.


Sebenarnya Rama bukan orang pendendam, ini adalah kali pertamanya ia memerintah Anto untuk melakukan tugas seperti itu, bagi Anto tugas yang diperintahkan Rama tadi adalah hal mudah bahkan tak perlu waktu satu malam untuk menghancurkan bisnis dari keluarga Bams. Jika saja Bams tidak melibatkan saudarinya kedalam masalah tadi mungkin Rama masih bisa mentoleransi perbuatan Bams, tapi Bams menculik Ryma bahkan hampir melecehkan Ryma, itu yang membuatnya sangat marah dan ingin menghancurkan Bams berkeping-keping.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


Di rumah sakit kini terjadi keributan disalah satu kamar, diatas tempat tidur terlihat seorang pemuda tengah terbaring tak berdaya dengan kedua kaki yang terbalik arah. Dokter yang menangani pun angkat tangan karena tidak ada harapan lagi untuk pemuda itu bisa berjalan normal seperti dulu. Dari pihak keluarga sudah mencoba memaksa dokter untuk menyembuhkan pasien tersebut bahkan siap membayar dokter spesialis dari luar jika perlu, tapi bahkan dokter spesialis pun tak banyak bicara. Kaki pemuda itu benar-benar dibuat lumpuh total.


"Apa tidak ada cara lain, dok?" tanya pria paruh baya dengan penuh harap.


"Maaf, pak. Bahkan dokter spesialis terbaikpun angkat tangan. Satu-satunya cara adalah amputasi kedua kaki pasien." mendengar perkataan dokter itu, wanita paruh baya menangis sejadi-jadinya melihat keadaan putranya.


"Kalau begitu saya pamit karna masih banyak pasien yang perlu saya tangani."


Dokter itupun berbalik meninggalkan suami istri tersebut yang tak lain adalah orang tuanya Bams. Mereka tak mengetahui siapakah orang yang sudah membuat anak mereka menderita seperti ini.


Sebagai keluarga yang berpengaruh di kota itu, ayahnya Bams langsung menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki dan mencari orang yang sudah membuat anaknya lumpuh baik dalam keadaan hidup ataupun mati.


"Sialan!" ayahnya Bams memukul dinding beton untuk melampiaskan amarahnya. "Bams, siapa yang sudah melakukan ini, nak?" tanya ayahnya Bams kepada anaknya.


"Aku ga tau namanya, pah. Tapi dia satu sekolah sama Bams, dia murid baru di sekolah Bams."


"Murid? Dia teman satu sekolah kamu?" tanya ibunya Bams yang bernama Rina.


"Iya, mah." jawab bams lemah.


"Berani-beraninya bocah itu membuat anakku lumpuh!" ayahnya Bams terlihat sangat geram dan berniat akan mencari orang yang telah mencelakakan anaknya itu. "Kalau sampai dia ketemu, aku sendiri yang akan mematahkan kedua kakinya!" sambung ayahnya Bams.


Bams yang mendengar perkataan ayahnya tersenyum penuh arti, ia yakin kalau sampai ayahnya sendiri yang turun tangan pasti orang yang mematahkan kakinya itu tak akan bisa melawan. Ia merasa bangga dengan ayahnya yang selalu membelanya.


Tak berapa lama kemudian ponsel ayahnya Bams berdering dan sebuah panggilan dari sekretarisnya.


"Selamat malam, pak Angga." terdengar suara sekretaris itu sedikit panik.


"Ada apa, Yessi?"


"Gawat, pak. Dokumen rahasia perusahaan tiba-tiba bocor dan tersebar luas. Semua data dan aset perusahaan juga telah diretas oleh seseorang." jelas Yessi dengan suara bergetar.


"APAA!?" Angga tak dapat menahan keterkejutannya.


"Semua aset kita dibocorkan dan dijual, saya sudah memerintahkan orang-orang ahli diperusahaan untuk mencari tahu siapa orang yang melakukan hal ini, tapi sepertinya orang itu sangat ahli dan pintar, pak. Orang-orang kita tidak bisa melacak ataupun mencari tahu orang dibalik layar yang menyerang perusahaan." bagai disambar petir disiang bolong, Angga langsung terduduk lemas dilantai. Ia berusaha mengingat apakah ia mempunyai masalah dengan orang penting sehingga melakukan pembobolan ke perusahaannya. Tapi sekeras apapun ia mengingat, ia tak akan mendapatkan jawabannya karena memang itu bukan kesalahannya.


"Perintahkan orang-orang kita untuk terus berusaha untuk mencari tahu siapa orang yang telah melakukan hal ini." perintah Angga dengan suara berat dan sorot mata tajam seperti ingin membunuh.


"Baik, pak." sambungan telepon pun terputus dan Angga menghampiri istri dan anaknya.


"Ada apa, pah?" tanya Rina yang melihat wajah suaminya tampak kusut.


"Ada orang yang membobol data perusahaan, dia juga mengambil semua aset perusahaan." ucap Angga lemah. Bams yang mendengar itu terkejut bukan main.


"B-berarti ki-kita jatuh miskin dong, pah?" tanya Bams dengan rasa takut akan jatuh miskin.


"Kamu tenang saja, papa akan berusaha untuk mencari tahu siapa orang yang telah menyerang perusahaan kita, dan sekaligus mencari tahu orang yang membuat kamu seperti ini." ucap Angga berusaha menenangkan Bams hingga dering ponselnya mengalihkan perhatiannya kembali.


Sebuah panggilan tak dikenal tertera dilayar ponsel Angga, tanpa ragu Angga menerima panggilan tersebut.


"Halo," ucap Angga dengan suara berat.


"Ya, saya sendiri."


~"Bagaimana keadaan anak dan perusahaan anda?" tanya orang itu lagi, sedangkan Angga yang mendengar itu terkejut.


"Apa maksudmu!? Jangan-jangan kau yang menghajar anakku dan membobol perusahaanku!"


~"Menurut anda siapa lagi?" orang itu menjawab pertanyaan Angga sambil tertawa.


"Kenapa?" Angga bertanya dengan suara berat seakan-akan ia sedang menahan seluruh amarahnya.


-"Saya akan menjelaskan sedikit dan sisanya silahkan anda tanyakan sendiri kepada anak anda yang bodoh itu." sahut orang itu dengan nada meledek. "Anak anda telah menghajar tuan muda kami dan juga menculik nona muda, bahkan ingin melecehkan nona muda kami." sambungnya.


"Tuan dan nona muda? Siapa maksudmu, brengs*k!" Angga mulai terpancing emosi karena ia merasa bahwa di kota ini, ia adalah orang terkaya nomor satu dengan bisnis dari perusahaannya. Ia tak mengira ada yang berani menyerang anaknya dan juga perusahaannya.


"Hei, tenanglah sedikit. Anak anda telah melakukan kesalahan, kenapa anda menyalahkan kami?"


"Apa urusanmu!? Dia anakku, aku bebas untuk membela keluargaku."


"Hmm, menarik juga. Ternyata kami tidak salah untuk menghancurkan anak anda dan melenyapkan bisnis perusahaan anda."


"Apa maksudmu, sialan!"


"Anda pikir saja, apa anda kira anak anda pantas melakukan itu kepada tuan dan nona muda kami? Anak anda telah bermain-main dengan orang yang bukan tandingannya."


"Siapa!?" tanya Angga semakin geram.


"Anak anda telah menyerang dan menculik anak dari pengusaha besar nomor satu di negara ini." jawab orang itu dengan suara dingin dan berat.


"Pengusaha nomor satu di negara ini? hahaha. Jangan bercanda kau, bod*h! Lelucon mu tidak lucu!"


"Jangan pernah bermain api dengan keluarga besar dari Pratama group, kau hanyalah seekor semut kecil bagi pemimpin Pratama group." setelah berkata seperti itu, orang itu langsung memutuskan sambungan telepon dengan Angga yang kini diam mematung setelah mendengar perkataan terakhir dari orang tak dikenalnya.


"P-pr-pratama group?" ucap Angga gagap ketika mengetahui bahwa anaknya membuat masalah dengan anak dari orang nomor satu di negara ini.


Siapa yang tak kenal dengan Pratama group, sebuah perusahaan terbesar di negara ini dengan segala macam bisnisnya. Pratama group juga banyak memiliki cabang diberbagai kota di seluruh provinsi. Bagi para pengusaha atau pembisnis tidak mungkin tidak mengenal perusahaan sebesar itu. Bahkan perusahaan milik Angga tidak akan ada nilainya jika dibandingkan dengan Pratama group.


Angga langsung menatap tajam kearah Bams, Bams yang melihat ayahnya menatapnya seperti itu ketakutan. Angga melangkahkan kakinya dengan langkah berat mendekati anaknya.


PLAK


Sebuah tamparan keras bersarang dipipi Bams, Rina yang melihat suaminya menampar anak mereka langsung menarik suaminya dan berusaha menenangkan Angga. Rina tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh orang yang menelpon suaminya tadi sampai-sampai Angga menampar anaknya.


"DASAR ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG! KAU SUDAH MEMBUAT KELUARGA KITA HANCUR!" kini amarah yang sedari tadi ditahan oleh Angga pecah seketika.


"Papa kenapa sih!?" Rina tampak tidak terima dengan Angga yang menyalahkan Bams.


"Anakmu inilah yang membuat perusahaan kita bangkrut!" Bams yang mendengar perkataan ayahnya hanya diam ketakutan meski ia sendiri penasaran apa yang dimaksud oleh ayahnya itu.


"Maksud papa apa?" tanya Bams pelan karena masih takut dengan marah ayahnya.


"Apa benar kau menculik seorang anak perempuan?" tanya Angga dengan dingin. Bams seketika teringat dengan wanita yang ia culik, yang ia kira adalah kekasih dari orang yang telah membuat malah dengannya. Bams tidak berani menjawab pertanyaan ayahnya.


"Memangnya dia itu siapa?" tanya Rina mewakili Bams.


Angga menghela nafasnya. "Mereka adalah anak dari pengusaha nomor satu di negara ini, anak dari Pratama Group."


Bams yang mendengar itu terkejut bukan main, ia tak menyangka orang yang ia remehkan dan ia hina ternyata berada jauh diatas dirinya. Bams bahkan sadar diri bahwa ia bagaikan seekor semut yang hanya sekali tiup akan terbang menjauh jika harus berhadapan dengan anak dari pemimpin Pratama Group. Ada perasaan menyesal dalam diri Bams tapi nasi sudah menjadi bubur.


Anak dari pemimpin Pratama Group adalah tuan muda Bagas Rama Pratama dan nona muda Billa Ryma Pratama.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


#BERSAMBUNG ...