She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Tantangan sang Kapten Basket



She’s My Sister, Not My Girlfriend


(Tantangan Sang Kapten Basket)


Mion kini bersama teman-temannya, sedangkan Rama sudah pamit beberapa menit yang lalu setelah kedatangan Ryma, Ve, Vanya, Sinka dan beberapa teman sekelasnya.


“Iya, resek banget dia. Mentang-mentang kapten basket dan ganteng, dia jadi seenaknya. Nyebelin banget jadi orang.” Kesal Sinka ketika mengingat saat kapten basket meninggalkan Mion sendirian seolah-olah sengaja menjebak temannnya itu dengan memanfaatkan ketenarannya.


“Iya, coba aja aku jago main basket, udah aku tantang duel si Rendy itu dan yang kalah harus keluar dari tim basket sekolah.” Sambung Vanya yang juga terlihat geram. Ve dan Ryma hanya mendengarkan tanpa ikut berkomentar karena menurut mereka juga percuma kalau hanya cuma omong biasa.


“Mentang-mentang kemarin berhasil menduduki juara dua turnamen basket, dia jadi makin songong.” Komentar Sinka pedas.


“Udah, gak ada gunanya juga ngatain orang.” Ucap Ve menenangkan Sinka dan juga Vanya yang semakin menggebu-gebu mengatai Rendy si kapten basket sekolah mereka. Ryma yang sedari tadi diam mulai buka suara.


“Oiya, tadi kalian bilang kalau sekolah ini juara dua di piala walikota, juara satunya dari sekolah mana?”


“Hmmm, kalau gak salah inget …” Sinka mengetuk-ngetuk dagunya seraya mengingat. “SMA 2 Bandung.” Mendengar itu membuat Ryma melamun sebentar lalu tak lama kemudian ia tersenyum dan tentu saja itu membuat teman-teman heran.


“Kenapa, Rym? Kok kayak seneng gitu.” Tanya Ve yang penasaran melihat temannya itu.


“Oh, nggak kok.” Jawab Ryma enteng.


Bagaimana ia tidak merasa lucu, ternyata kapten basket di sekolah ini pernah kalah melawan sekolahnya dulu. Terlebih lagi sekolah ini waktu itu kalah telak dengan SMA 2 Bandung karena ia menonton secara langsung bagaimana aksi pembantaian yang dilakukan oleh adiknya terhadap basket SMA 2 Jakarta. Ya, Rendy CS bertemu dengan Rama di final piala walikota, dimana saat itu Rendy dan timnya tidak berkutik menghadapi Rama dan teman-temannya.


“Padahal meski juara dua, tapi pas ngadepin SMA 2 Bandung, mereka gak berkutik sama sekali dan bisa dibilang kalah dengan sangat memalukan.” Komentar Sinka lagi dan itu mendapat pukulan pelan dari Veranda dibagian paha.


Ditempat Rendy dan teman-temannya, terlihat Rendy duduk dengan santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa tadi pagi.


“Ren, lu liat gak cowok yang sama Mion tadi pagi setelah kejadian itu.” Ucap Anto kepada Rendy.


“Cowok tinggi itu?” Tanya Rendy memastikan.


“Iya, kok gue kayak gak asing ya sama dia.” Sahut Anto. “Rizal sama Ginan juga ngerasa gitu.” Sambungnya lagi.


“Hmm, gue juga gitu sih sebenernya. Kayak pernah ketemu, tapi gue lupa dimana.” Rendy mencoba mengingat dimana ia pernah melihat pemuda yang tak lain adalah Rama.


“Kalau diliat sih tuh anak kayaknya hobi olahraga juga, liat aja postur tubuhnya.” Ginan yang baru saja tiba langsung menyambung obrolan Anto dengan Rendy.


“Kalau diliat dari postur tubuhnya sih, kalau gak voli, ya basket.” Ucap Rizal yang datang bersama Ginan.


“Kenapa gitu?” Tanya Anto heran.


“Liat aja tinggi dia, terus badan dia juga berisi gitu, terus lu liat pergelangan tangannya. Cukup tiga hal itu aja udah cukup untuk menganalisa.” Jelas Rizal singkat, sedangkan Anto, Ginan dan Rendy mengangguk mengerti karena diantara pemain basket di timnya, Rizal memang ahli dalam menganalisa. Bahkan berkat kelebihan Rizal itu, tim basket sekolah bisa mendapat juara satu berturut-turut sebanyak tiga kali untuk turnamen basket tingkat SMA se-Jabodetabek. Bahkan ketika piala walikota beberapa bulan lalu, berkat analisis Rizal mereka bisa masuk ke final dan bertemu dengan SMA 2 Bandung yang saat itu dipimpin oleh Rama.


“Ngomongin basket, gue jadi keinget turnamen kemarin.” Ucap Anto yang teringat kekalahan telak mereka untuk pertama kali.


“Iya, gue gak nyangka ternyata mereka kuat banget. Sampe-sampe si Rizal kewalahan mengamati permainan mereka.” Sambung Ginan yang saat itu juga ikut bertanding.


“Mau gimana lagi, mereka punya banyak strategi. Meski beberapa strategi mereka berhasil gue baca, tapi ada juga beberapa strategi mereka yang menipu analisa.” Sahut Rizal sambil membenarkan kaca matanya.


“Apa tim mereka juga punya orang yang ahli menganalisa?” Tanya Rendy kearah Rizal.


“Bisa jadi sih, soalnya mereka waktu itu gak ada pelatih. Bisa dibilang mereka ikut turnamen itu dari awal tanpa pendamping. Jadi kemungkinan besar ada anggota tim yang juga jago menganalisa permainan musuh.” Mendengar itu Anto dan Ginan berdecak kagum, hanya Rendy yang berdiam tanpa ekspresi.


Selagi asik mengobrol, Anto melihat Rama dari kejauhan mengikuti beberapa temannya yang lain. Sontak saja Anto menunjuk kearah yang dilihatnya tersebut.


“Kayaknya mau main basket.” Ucap Ginan yang melihat Egy memantul-mantulkan bola basket ke lantai.


“Bukan kayaknya lagi, tapi emang mau main basket.” Sahut Rizal seraya menoyor kepala Ginan, sedangkan Ginan hanya cengengesan.


“Mau nonton mereka, Ren?” Tanya Rizal kepada Rendy.


“Boleh, tapi sebentar aja. Soalnya pasti ngebosenin.” Jawab Rendy bangkit dari posisinya dan diikuti oleh teman-temannya.


Bagaimana tidak membosankan, karena bisa dibilang anak-anak di kelas Rama tidak ada yang tergabung dengan tim basket sekolah. Jadi wajar saja jika Rendy bilang membosankan karena ia sudah biasa dengan yang namanya basket.


Terlihat Rama berada ditengah lapangan melakukan pemanasan kecil sendirian , sedangkan teman-temannya langsung melempar bola basket kearah ring.


“Heh,” Rendy memandang kearah Egy, Niko dan yang lain melempar bola kearah ring tapi tidak ada yang bisa memasukkan bola tersebut. “Cupu.” Sambungnya lagi sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dan menatap kearah Rama yang tampak baru saja selesai melakukan pemanasan dan menghampiri teman-temannya.


“Gak ada yang masuk satu pun dari tadi gue liat.” Ledek Rama sambil terkekeh melihat tingkah teman-temannya.


“Gaya lu, Ram. Kayak jago main basket aja lu.” Sinis Egy dan itu membuat Rama tertawa kecil. Tak lama kemudian Rama meminta bola yang dipegang oleh Doni untuk dilempar kepadanya, tau maksud Rama, Doni pun langsung melempar bola kearahnya.


“Gue gak terlalu jago sih, tapi gak kayak elu yang dari tadi paling banyak ngelempar tapi gak masuk-masuk.” Ledek Rama kepada Egy, dan tentu saja mendapat toyoran dari Egy.


Kemudian Rama mengambil ancang-ancang untuk melempar bola kearah ring, saat ingin melempar tiba-tiba ia melihat Ryma yang berada di lantai tiga melambaikan tangan kearahnya sambil menunjuk kearah Mion. Sontak saja fokus Rama teralihkan dan itu membuat lemparannya melenceng dan hanya mengenai besi ring dan bola memantul ke tepi lapangan lebih tepatnya kearah Rendy dan teman-temannya. Bola itu diambil oleh Rendy dan dimantul-mantulkannya ke lantai.


“Gue kira lo jago basket soalnya gue tadi liat lo mau ngelempar bola itu dengan posisi dan gesture tubuh yang pas, tapi ternyata dugaan gue salah.” Ucap Rendy kearah Rama seraya melemparkan bola yang berada ditangannya kearah ring dan masuk.


“Yahh, begitulah. Tidak sejago kapten basket sekolah ini yang berhasil mendapat juara dua di piala walikota.” Jawab Rama enteng sambil tersenyum penuh arti.


“Oh, lo tau soal pertandingan itu ya.” Balas Rendy sambil mendekatkan dirinya kearah Rama. “Ngomong-ngomong lo itu siswa baru kan? Dari sekolah mana lo? Dan juara berapa kemarin sekolah lo itu?” sambung Rendy meremehkan Rama. Mendengar pertanyaan itu Rama hanya mengangkat kedua bahunya.


“Entah, gue lupa kemarin peringkat berapa.” Mendengar jawaban Rama yang terkesan meremehkannya membuat Rendy kesal.


“Songong juga lo ya.”


“Tidak sesongong kapten basket sekolah ini yang setelah ditolak perempuan, langsung meninggalkan dan membiarkan perempuan itu dihina dan dicemooh hampir seluruh siswi di sekolah ini.” Sahut Rama santai dengan intonasi memprovokasi.


“Emang kenapa? Lo gak suka?” tantang Rendy yang mulai terpancing dan sontak saja itu mencuri perhatian murid-murid yang berada disekitar lapangan basket.


“Heh, tipikal orang yang gila jabatan, memanfaatkan ketenarannya untuk menjatuhkan orang lain.” Ucap Rama enteng dan langsung saja Rendy mencengkram kerah seragam Rama.


“Eh, eh. Ada apa tuh?” ucap Vanka yang melihat Rendy mencengkram kerah seragam Rama dengan kasar.


“Hmm, kayaknya bakal ada yang menarik.” Sahut Ryma seraya memangku dagunya dengan tangannya dipembatas.


“Maksudnya, Rym?” Tanya Sinka Heran.


“Liat aja nanti.” Jawab Ryma sengaja membuat teman-temannya penasaran.


Ryma terus menatap kearah Rama dan juga Rendy yang masih berseteru. Terutama kearah bibir kedua pemuda tersebut.


“Gimana? Lo tertarik duel dengan gue?” ucap Rendy dengan nada meremehkan.


“gak.” Jawab Rama enteng. “Gak ada untungnya buat gue.” Sambungnya.


“Oh, tentu ada.” Balas Rendy cepat. “Kalau lo kalah, lo harus keluar dari sekolah ini. Kalau gue yang kalah terserah lo mau apa.” Sambungnya lagi. Mendengar itu membuat Rama tersenyum.


“Benarkah apapun yang gue mau?”


“Ya, kalau gue kalah.” Jawab Rendy mantap.


“Hmm, oke. Kapan?”


“Besok, sepulang sekolah.” Mendengar itu Rama hanya mengangguk dan menyentak tangan Rendy yang sedari tadi mencengkram kerahnya dan itu tentu membuat Rendy tersentak kaget karena tenaga yang Rama miliki.


Setelah itu Rendy berbalik dan meninggalkan lapangan dengan diikuti teman-temannya. Sedangkan Rama terlihat tenang mendekati teman-temannya.


“Lo serius mau duel sama dia, Ram?” Tanya Doni yang khawatir dengan temannya itu.


“Kenapa emangnya?” Tanya Rama balik.


“Dia itu kapten basket, Ram.” Mendengar itu Rama hanya membentuk mulutnya seperti huruf O.


“Kalau gue bilang gue ini mantan kapten basket di sekolah lama gue, kalian percaya?”


Mendengar itu membuat Doni, Egy, Niko dan yang lain terdiam.


“Kalian tenang aja, gue gak bakal keluar dari sekolah ini.” Sambung Rama dengan percaya diri.


“Gaya lu, tadi aja lu gak masuk ngelempar bola.” Ledek Egy dan itu membuat Rama terkekeh.


“Don, ambilin bolanya dong.” Pinta Rama kepada Doni karena temannya itu berada dekat dengan ring dimana Rendy melempar bola sebelumnya. Doni menuruti dan mengambil bola tersebut dan hendak melemparkan kearah Rama, tapi ia bingung ketika tidak mendapati Rama diposisi sebelumnya.


“Gue disini, Don.” Panggil Rama setengah berteriak yang mana pemuda itu berada tepat dibawah ring yang satunya.


“Jauh amat.” Sahut Doni yang juga setengah berteriak karena posisinya dengan Rama bersebrangan, tapi Doni tetap melempar bola basket kearah Rama.


Dengan sigap Rama menangkap bola yang dilempar oleh Doni dan memantulkannya beberapa kali ke lantai dan menatap kearah ring yang mana Doni berada dibawahnya. Melihat itu membuat Egy dan yang lain tertegun karena Rama ingin memasukan bola dengan jarak sejauh itu yaitu dari ring satu ke ring yang diseberang. Bukan hanya Egy dan teman-temannya, tapi juga siswa siswi yang melihat perseteruan Rama dengan Rendy tadi juga ikut tertegun melihat apa yang ingin Rama lakukan.


Kemudian Rama mengambil ancang-ancang untuk melemparkan bola ditangannya dengan pandangannya fokus ke ring yang berada jauh didepannya.


PROK


Bola yang Rama lempar memantul-mantul di lantai setelah melewati jaring yang ada di ring tersebut. Semua orang yang melihat itu tampak takjub karena Rama yang sukses memasukan bola basket dengan sempurna dan mendapatkan three point.


“Apa itu cukup untuk meyakinkan kalian?” Tanya Rama kepada teman-temannya, dan tidak ada jawaban karena masih takjub dan kagum dengan lemparan Rama tadi.


Apakah yang akan terjadi dengan Rendy ketika berhadapan dengan Rama yang merupakan mantan kapten basket dari SMA 2 Bandung?


Apakah Rendy yang menang atau justru kalah?


BERSAMBUNG...