She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Gembel Menjadi Pemenang



Mion menghembuskan nafasnya perlahan dan mengusap dadanya, andai saja Rama tidak menghentikan langkahnya, mungkin ia akan berada dirumah sakit untuk beberapa minggu. Itu karena Mion tak memperhatikan jalan, tepat didepan tangga ada tanda bahwa lantai basah, jika ia meneruskan langkahnya bisa saja ia tersandung dan akan terguling ditangga.


"Jalan itu pakai mata." Rama membalas perkataan Mion kemarin ketika ia tak sengaja menabrak Mion saat hendak ke parkiran. Mendengar itu membuat Mion memicingkan matanya kearah Rama.


"Iya-iya, makasih udah ngingetin." mendengar Mion yang pasrah seperti itu membuat Ryma tertawa geli.


Tak berapa lama kemudian mereka bertiga sampai di uks, Rama langsung membaringkan Ryma diatas kasur sedangkan Mion memanggil suster yang biasa menjaga uks. Sesaat kemudian Mion datang dengan kotak P3K ditangannya dan suster disampingnya.


"Itu dia, sus. Yang tiduran dikasur." tunjuk Mion kearah suster.


Suster mendekati Ryma untuk mengecek pergelangan kaki gadis tersebut sedangkan Mion menghampiri Rama yang tengah duduk disofa sambil mencoba membersihkan darah dibibirnya yang sudah mengering.


"Sini biar Mion bantu." tanpa seizin Rama, gadis tersebut langsung duduk dan membuka kotak P3K yang dibawanya. Mion menumpahkan sedikit alkohol keatas kapas dan mulai membersihkan darah.


"Gausah, gue bisa sendiri." tolak Rama sambil mencoba merebut kapas yang ada ditangan Mion.


"Udah kamu diem, tenang aja Mion udah mahir kok." Mion menarik tangannya agar Rama tidak bisa mengambil kapas ditangannya.


Melihat Rama yang tak membalas dan hanya berdiam diri membuat Mion tersenyum manis, ia mengusapkan kapas dengan perlahan. Sesekali Rama meringis karena efek perih dari alkohol.


"Kenapa lo?" tanya Rama merasa risih dengan Mion yang sedari tadi tersenyum.


"Kenapa apanya?"


"Lupakan saja." Mendengar pertanyaan balik Mion membuat Rama malas untuk berbicara.


"Eits, gabisa gitu dong. Udah terlanjur inget, mana bisa lupa." Rama tak memjawab perkataan Mion dan mengalihkan perhatiannya.


"Kenapa apanya?" tanya Mion lagi dengan wajah polos.


"Ga ada."


"Kok gitu ...." Mion cemberut mendengar jawaban Rama, sedangkan pemuda itu kembali diam.


"Ngeselin banget sih jadi orang!" Mion geram dan menekan kapas ditangannya dengan sedikit tenaga sehingga membuat Rama mengaduh karena lukanya yang tertekan. "Makanya jangan ngeselin!" sambungnya lagi sedangkan Rama menatap tajam kearah Mion.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


Jam istirahat pertama dimanfaatkan Rama untuk mengisi perutnya di kantin, ditemani Chika, Siska, Egy dan juga Niko.


"Nik, tumben lo diam aja dari tadi." ucap Siska yang merasa heran dengan sikap temannya itu.


"Gapapa, lagi sariawan." balas Niko berbohong. Itu karena ia kecewa dengan Rama yang sudah berbohong kepadanya kemarin. Sebelumnya Rama bilang bahwa ia tak kenal dengan Ryma, tapi nyatanya mereka berdua terlihat sangat mesra saat bermain di pasar malam.


Tak berapa lama, beberapa siswi baru datang ke kantin dan mencari tempat duduk.


"Eh, Nik. Tuh cewek yang lu suka, samperin gih." ucap Egi sambil menunjuk kearah Ryma.


"Buat apa?" tanya Niko dengan sedikit malas.


"Lah? Bukannya lu naksir sama tuh anak?"


"Siapa yang bilang?"


"Lu sendiri yang bilang, ****." Egi terlihat kesal dengan sikap Niko.


Mendengat itu membuat Rama semakin yakin bahwa penyebab Niko diam sedari tadi adalah Ryma. Tanpa perlu memberitahu, Rama langsung menarik tangan Niko dan langsung menghampiri meja Ryma dan teman-temannya.


"Ram! Ngapain sih!?" Niko kesal dan menghentakkan tangannya tapi Rama tak menggubrisnya.


"Hai, boleh gabung gak?" tanya Rama to the point, meski ia sedikit canggung karena itu bukan kebiasaannya. Ryma, Veranda, Vanya, Sinka dan juga Mion kompak menoleh.


"Oh, boleh-boleh. Silahkan duduk." Veranda mempersilahkan Rma dan Niko duduk.


"Makasih."


Rama dan Niko tampak sedikit canggung karena duduk bersama dengan siswi yang bahkan tak mereka kenal, terlebih lagi Rama.


"Errr, boleh kenalan gak?" tanya Rama sedikit kikuk sambil menyodorkan tangannya kearah Ryma, melihat tingkah adiknya itu membuat Ryma ingin tertawa terpingkal-pingkal. Ryma tahu bahwa Rama melakukan itu pasti karena pemuda yang duduk disamping adiknya tersebut.


"Oh, boleh. Kenalin aku Ryma." balas Ryma sambil menerima uluran tangan Rama.


"Gue Rama dan temen gue ini namanya Niko."


"Siapa tadi? Rama? Kok hampir mirip ya nama kita." ucap Ryma sambil berusaha menahan tawanya melihat Rama yang sedikit salah tingkah.


"Iya ya, nama kalian mirip. Jangan-jangan kalian kembar." ucap Sinka dan itu membuat Ryma tersedak minumannya sendiri.


"Kalau bukan gitu, berarti kalian jodoh dong." sekarang giliran Rama yang tersedak karena ucapan Sinka yang asal ceplas-ceplos.


"Tuh, sampe kesedak aja gantian."


"Iyalah orang kesedak, kamu ngomongnya kayak gitu. Gimana orang gak kaget coba." Veranda yang sedari tadi diam mencoba menghentikan perdebatan kecil antara Ryma dan Sinka.


"Mana mungkin jodoh atau kembar, Ryma kan kalem, cantik dan anggun. Sedangkan dia ngeselin." Mendengar itu Rama langsung menatap tajam kearah Mion. "Tuh, tatapannya aja ngeselin. Ngapain natap aku gitu? Mau ku colok tu mata?" sambung Mion sedangkan Rama hanya menghela nafas dan memalaskan wajahnya.


"Nih anak mulutnya gak ada filternya apa? Asal ceplos aja." batin Rama yang sedikit keki. "Kalau bukan karena Niko yang pengen kenalan sama Ryma, ga bakalan gue gabung disini."


"Huss, ga boleh ngomong gitu." Vanya menggeplak pergelangan tangan Mion.


"Emamg kenapa? Ngomong sama dia ga usah dibaikin." mendengar perkataan Mion itu membuat Rama sedikit geram, kalau saja tidak banyak orang, mungkin Mion sudah dikerjai oleh Rama habis-habisan.


"Oiya, Nik. Lu tunggu disini, gue mau ke toilet bentar."


"Nggak ah, gue balik ke meja kita tadi aja." balas Niko yang terlihat malu-malu menatap Ryma.


"Udah, tunggu sini aja." Rama menahan tubuh Niko agar tidak bangkit dari duduknya. "Oiya, Ryma. Nitip temen gue ini bentar ya, ajakin ngobrol aja terus, dia ini pemalu soalnya." sambung Rama, sedangkan Ryma kini terlihat bersusah payah menahan tawanya ketika melihat adiknya tersebut yang sedikit canggung dan bicara ramah kepadanya.


"Oke siap." balas Ryma dengan suara gemas yang dibuat-buat untuk mengejek Rama.


Sesampai di toilet, Rama hanya mencuci mukanya dan menatap wajahnya dicermin. Luka disudut bibirnya sudah kering.


"Haahh, baru dua hari sekolah disini udah dihajar orang." gumam Rama sambil memegang lukanya.


Tak lama kemudian tiga orang siswa masuk dan berdiri tepat dibelakang Rama. Tanpa perlu membalikan badanpun Rama sudah mengetahui siapa yang baru datang.


"Mau apa kalian." tanya Rama sambil memandang pantulan bayangan ketiga pemuda tersebut dicermin.


"Mau apa kita itu tidak penting, yang jelas kali ini gua bakal perhitungan sama lo." mendengar itu Rama membalikan tubuhnya dengan santai dan kini ia berhadapan dengan tiga siswa tersebut.


"Sorry, gua ga suka matematika, jadi gak usah kasih hitungan."


"Waahh, songong juga nih anak baru."


"Iya, hajar aja, Bams." kedua teman siswa bernama Bams itu mencoba mengompori.


"Kenapa ngehajar gua? Emang gua ada salah?"


"Iya! Gua belum puas ngehajar lu tadi pagi gara-gara cewek lo datang." mendengar itu membuat Rama memalaskan pandangannya.


Tanpa aba-aba, Bams langsung menyerang Rama dengan brutal. Awalnya Rama terkejut dengan serangan Bams, tapi setelah beberapa saat ia sadar bahwa gerakan Bams lambat dan tidak gesit.


"Cuma segitu?" ucap Rama setelah berhasil mendorong pukul mundur Bams.


"Sialan lo!" Bams terlihat berang dan kembali menyerang Rama. Melihat itu membuat Rama menyeringai dan langsung melayangkan pukulannya tepat kearah perut Bams.


"OHHOK!" wajah Bams seketika memerah ketika menerima pukulan telak oleh Rama.


"UUAARRGGGHH!" seketika Bams meringkuk dilantai toilet dan tak memperdulikan keadaan lantai yang saat itu basah.


"Sialan!" kedua teman Bams langsung menerjang Rama, meskipun tidak seimbang jumlah, tapi terlihat Rama lebih leluasa menghajar dua orang tersebut dan tak butuh waktu lama mereka tumbang dan meringkuk dilantai sama seperti Bams.


Rama sengaja tidak menyerang kebagian wajah mereka karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan siswa lain ketika melihat Bams dan temannya berwajah babak belur. Jadi Rama lebih memilih untuk memukul perut ataupun dada.


"Gua menang, jadi jangan ganggu gua lagi." Rama langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Bams.


"Sial, pukulan apa itu tadi ... Aarggh,"


"Kita harus pikirkan cara lain untuk memberi pelajaran ke anak baru itu." ucap Bams mencoba untuk bangun.


"Lihat aja nanti, lo berani macam-macam sama gue, gue anak terkaya disekolah ini. Anak miskin kayak lo harus gue pelajaran dan gue bikin lumpuh total." batin Bams yang kini mengeluarkan smartphonenya dan menghubungi seseorang.


"Dasar gembel sialan!" temannya Bams juga mencoba bangun dan mengumpat.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


Apa yang akan terjadi dengan Rama?


Siapakah yang Bams telpon?


#BERSAMBUNG ....