She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Bakso



Keesokan harinya, Rama sedang menuju kantin untuk membeli roti agar mengganjal perutnya sementara karena ia tak sempat sarapan. Ryma juga berjalan kearah kantin, hanya saja posisi gadis cantik tersebut berada didepan Rama beberapa meter. Rama hanya mengikuti kakaknya dari belakang karena ia tahu bahwa Ryma sedang kesal kepadanya karena kejadian tadi pagi.


"Dia yang tidur di kamar gue, kok jadi gue yang dibuat bersalah." gumam Rama pelan sambil menatap punggung kakaknya itu.


Sesampainya di kantin, Rama menuju stand yang berbeda dengan Ryma.


"Kok gue bisa sekhilaf ini ya." batin Rama sambil duduk dibangku panjang. "Bang, bubur ayamnya satu sama teh anget." ucap Rama kepada penjual bubur ayam. "Padahal rencananya cuma mau beli roti, malah beli bubur ayam, sekhilaf ini ternyata pas udah sampai kantin." gerutu Rama yang kini menyibukkan diri dengan smartphonenya.


"Bang, bubur ayamnya satu ya, kerupuknya banyakin." ucap seorang gadis yang duduk diujung kursi yang sama dengan Rama.


Rama melirik sebentar untuk melihat siapa gadis itu, bertepatan dengan Rama menoleh, gadis itu juga menoleh kearah Rama. Pandangan mereka menyatu dan terjadi keheningan diantara mereka.


"Nenek lampir rupanya," batin Rama saat mengetahui siapa gadis yang baru saja datang dan memesan.


"Ini, mas. Bubur ayam sama teh hangatnya." ucap penjual bubur ayam sambil meletakkan pesanan Rama.


"Makasih, bang."


Setelah kepergian penjual bubur ayam tadi, Rama mulai menikmati bubur ayamnya dengan khidmat sampai akhirnya seseorang memberatkan tubuh disampingnya.


"Pagiii ...." sapa gadis yang sebelumnya duduk dipojok kini berpindah tepat disamping Rama.


"Hmm," balas Rama cuek dan terus menikmati sarapannya.


"Dihh, sok keren." balas gadis itu setelah menerima bubur ayamnya. Rama hanya menoleh sebentar dan kembali menikmati sarapannya.


"Gak boleh cuekin istri sendiri." ucap gadis itu cuek sambil memasukan kerupuk kedalam mulutnya, berbeda dengan Rama, pemuda satu ini malah tersedak akibat ucapan gadis disampingnya yang tak lain adalah Mion.


"Uhhuk, uhhuk ...." melihat itu, Mion langsung menyodorkan minumannya kepada Rama dan mengelus punggung Rama.


"Makan bubur aja bisa keselek, gimana kalau makan durian." sindir Mion dengan tangan masih mengelus punggung pemuda disampingnya itu. "Makanya kalau makan itu pelan-pelan, jangan kayak orang gak makan tiga hari." sambung Mion lagi dan langsung dibalas tatapan tajam dari Rama.


"Lo yang bikin gue keselek!" sewot Rama sedangkan Mion hanya cekikikan.


"Iya, maaf, papa." jawab Mion cekikikan dan geli sendiri dengan perkataannya.


"Suutt! Diem!" bulu tangan Rama seketika meremang setelah mendengar perkataan Mion yang memanggilnya 'papa'.


Mion akhirnya diam dan menikmati sarapannya dengan pelan dan Rama kembali tenang. Sebenarnya Rama tidak terlalu peduli dengan gadis disampingnya ini, ia juga tidak ingin setiap kali bertemu dengan Mion harus berdebat, tapi selalu saja ada tingkah Mion yang bisa memancing kekesalan Rama.


Rama yang tegas, pendiam, cuek dan terkesan misterius kini berubah menjadi orang yang emosian ketika berada didekat Mion, sangat klop jika mereka berdua disandingkan. Cowok cuek dengan cewek yang tak pandai diam, setidaknya jika seandainya mereka berjodoh tentu hubungan yang akan mereka jalani tidak terlalu monoton dan datar.


"Rama." panggil Mion sambil mengunyah kerupuk dimulutnya, tak ada jawaban dari pemuda disampingnya membuat Mion menoleh.


"Rama!" teriak Mion tepat disamping telinga pemuda tersebut, Rama yang merasa kesal langsung menatap Mion tajam.


"Apa sih!?"


"Dipanggil dari tadi juga." balas Mion kembali memasukan kerupuk kedalam mulutnya. "Kamu beneran pacaran sama Dara?" sambung Mion menatap Rama.


"Pikir aja sendiri, gue aja baru kenal sama tuh anak."


"Terus kenapa dia bilang kemarin kalau kalian pacaran?"


"Mana gue tau, gue kan gak tau." balas Rama nyeleneh dan membuat Mion menatap kesal kearahnya.


"Harusnya kamu tau dong,"


"Tau apa?" tanya Rama menoleh kearah gadis berambut sebahu itu.


"Tau diri kalau kamu itu jelek, wleeee." jawab Mion sambil menjulurkan lidahnya untuk meledek Rama.


"Terserah." kembali terjadi keheningan antara mereka, Rama terlihat cuek menyantap bubur ayamnya yang tersisa sedikit, sedangkan Mion sibuk menatap Rama dari samping.


"Katanya gue jelek, tapi dari tadi ngeliatin mulu." sindir Rama yang menyadari Mion menatapnya sedari tadi.


"Diih, geer banget. Siapa juga yang ngeliatin kamu." sewot Mion dengan tangannya mencubit pinggang Rama.


BRAK


Tiba-tiba gebrakan meja membuat Rama maupun Mion terkejut, bahkan Mion sampai tersedak saat hendak meminum teh hangatnya.


"Ish, Arya! Gak usah gebrak meja bisa gak sih!" kesal Mion setelah batuknya reda.


"Ya maaf, kan biar surprise gitu." sahut Arya.


"Surprise gigi lu." batin Rama dengan ekspresi datar.


"Kalian pacaran?" tanya Arys sekali lagi.


"Nggak!" sahut Rama dan Mion bersamaan dan itu membuat Arya menatap mereka berdua bergantian.


"Mantap," ucap Arya sambil mengacungkan jempolnya. "Percaya ama gue, kalian pasti jodoh." sambungnya sambil berkacak pinggang.


"Sotoy!" balas Mion yang melemparkan tisu kearah Arya.


"Gue?" ucap Rama sambil menunjuk dirinya sendiri. "Jodoh sama nih nenek lampir?" kini tangannya beralih menunjuk Mion, sontak saja hal itu membuat Mion kesal dan menendang kaki Rama. "Yang ada kdrt terus kalau gue sama dia." sambung Rama lagi.


"Iya sih." sahut Arya membenarkan ucapan Rama. "Yon, lu jangan galak-galak gitu bisa, kan? Coba kalem dikit kayak cewek pada umumnya." sambung Arya lagi.


Mendengar itu membuat Mion kesal dan melipat kedua tangannya kedada. Rama yang melihat tingkah Mion pun merasa heran.


"Kayak cewek aja lu ngambek gitu." ucap Rama sambil terus menatap kearah Mion.


"Aku kan emang cewek!" sahut Mion dengan perasaan kesalnya.


"Lah? Cewek rupanya, gue kira cowok pake casing cewek." balas Rama enteng dan itu benar-benar membuat Mion kesal.


BRAK


Lagi-lagi Arya menggebrak meja gara-gara melihat perseteruan antara Mion dengan Rama.


"Sekali lagi lu gebrak meja, abang gebrak pala lu ke aspal." seru penjual bakso disamping mereka sambil terbatuk-batuk.


"Waduh, keselek bakso tuh kayaknya." bisik Arya pelan kepada Rama, sedangkan Rama hanya mengangguk bahwa ia juga sependapat.


"Apa lagi sekarang?" tanya Mion sinis setelah melihat tatapan mata Arya.


"Kalian emang serasi, gue dukung." jawab Arya yang lagi-lagi mengangkat jempolnya kearah Rama dan Mion.


Rama yang memang tidak terlalu akrab dengan Arya hanya diam tanpa protes.


"Ya udah, gue kekelas duluan ya." pamit Arya seraya bangkit dari duduknya dan ....


BRAK


Arya lagi-lagi menggebrak meja dengan keras.


"WOI!" teriak abang bakso sambil mengangkat botol tomat seolah ingin melemparkannya kearah Arya, sedangkan pelaku sudah melarikan diri dari kantin.


"Temen lu punya nyawa sembilan keknya." ucap Rama sambil mengelus dadanya karena terkejut akibat gebrakan Arya tadi.


"Sisa delapan berarti nanti pas istirahat." mendengar itu membuat Rama menoleh dan menatap Mion dengan ekspresi bingung.


"Kenapa gitu?"


"Soalnya nanti pas istirahat kita semua mau makan bakso, otomatis Arya juga kesini ketemu abang bakso itu." jawab Mion enteng, Rama yang mendengar itu tertawa kecil sehingga membuat Mion menoleh.


"Kamu ketawa?" tanya Mion memastikan sambil tersenyum.


"Nangis!" ketus Rama.


Mion cekikikan mendengar itu, untuk kedua kalinya Mion mendengar tawa renyah dari pemuda disampingnya.


"Nih cewek emang bakat bikin orang kesel." batin Rama dalam hati.


*SHE'S MY SISTEE, NOT MY GIRLFRIEND*


#BERSAMBUNG ....