She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Kekuatan Tuan Muda Sesungguhnya



( Episode 06 ini mengandung adegan kekerasan, harap kebijakannya dari para pembaca. Terimakasih. )


Rama mencoba bangkit dan melangkahkan kakinya kearah motornya dengan susah payah, ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat dibagian punggungnya akibat pukulan dari pemukul baseball. Rama langsung menjalankan motornya kearah komplek rumahnya, sepuluh menit kemudian ia sampai didepan gerbang rumah yang paling megah dibanding dengan rumah disampingnya. Bahkan bisa dibilang rumah ini adalah rumah paling besar dan megah dari seluruh rumah yang ada di komplek tersebut.


Rumah itu adalah rumah yang ditempati oleh Rama dan Ryma. Tak berapa lama kemudian seseorang yang Rama tunggu datang, seorang pria paruh baya mengenakan pakaian khas pelayan dari keluarga kalangan atas.


"Tuan muda? Apa yang terjadi?" tanya orang tersebut yang sedikit terkejut setelah melihat keadaan Rama yang terlihat sangat kacau. Rama kemudian menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan juga Ryma yang diculik oleh orang-orang yang tak dikenal. Pria paruh baya itu mendengarkan dengan seksama tanpa menyela sedikitpun sampai akhirnya Rama memintanya untuk mencari keberadaan Ryma dan juga mencari tahu siapa dalang dari penyerangan dirinya dan Ryma.


"Baik tuan muda, tuan muda tenang saja, saya sudah membawa beberapa orang untuk mencari keberadaan nona muda Ryma seperti yang tuan muda minta, mereka semua ada didepan."


"Perintahkan mereka semua untuk langsung mencari keberadaan Ryma dan mencari dalang dari kejadian tadi." titah Rama kepada pria paruh baya tersebut yang merupakan kepala pelayan dari keluarga Rama. Ia diutus oleh orang tuanya Rama untuk mengawasi kedua anak mereka.


"Kita lihat saja, seberapa besar kekuatan orang yang berada dibalik layar penculik Ryma." batin Rama dengan senyum penuh arti.


Kemudian ia langsung menaiki motornya dan memakai helmnya setelah memasang handsfree ditelinga kanan.


"Tuan muda mau kemana?"


"Mau mencari Ryma."


"Sebaiknya tuan muda istirahat saja, biarkan mereka semua yang mencari orang dibalik layar itu." Kepala pelayan itu sedikit khawatir dengan keadaan Rama yang terluka parah.


"Tidak apa, pak Anto. Saya masih bisa kok." sahut Rama sambil tersenyum dan langsung menjalankan motornya keluar dari halaman rumah megah tersebut.


Rama percaya bahwa orang-orang yang diperintahkan oleh Anto adalah orang yang memiliki keahlian tingkat tinggi, baik dari bidang IT ataupun bela diri. Beberapa orang suruhan Anto langsung mengeluarkan perangkat yang mereka butuhkan untuk melacak keberadaan Ryma.


Setelah beberapa menit, terlihat dilayar monitor titik merah berkedip-kedip yang berasal tanda dari smartphone Ryma. Titik merah itu menunjukan disebuah gudang tua dipinggir pelabuhan. Orang tersebut langsung mengirimkan lokasi Ryma yang sudah berhasil ia lacak kepada Rama.


"Tuan muda, posisi nona muda sudah berhasil dilacak. Lokasinya berada dipelabuhan Trisakti disalah satu gudang tua yang sepertinya sudah tak terpakai." ucap orang tersebut yang terhubung dengan hands free milik Rama.


"Baiklah, tunggu aku disana dalam lima belas menit." sahut Rama dan langsung melajukan motornya kearah lokasi yang disebutkan oleh anak buah dari Anto.


Lima belas menit kemudian Rama sampai dipelabuhan Trisakti, ia melihat beberapa buah mobil terparkir didepan gudang dua lantai tersebut dan juga puluhan motor dari anak buah Anto.


"Tuan muda, sepertinya nona muda berada didalam."


"Iya, kerja yang bagus. Sekarang kita masuk dan cari siapa dalang dari penculikan Ryma, tapi ingat jangan dibunuh." ucap Rama dengan suara berat yang menandakan bahwa ia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


"Baik tuan muda." sahut orang itu sambil menundukan badannya dan langsung menyuruh yang lain untuk segera beraksi.


Seratus orang lebih langsung masuk kedalam gudang itu bersama dengan Rama yang masuk terakhir. Rama berjalan dengan santai tapi sorot matanya bisa menggambarkan betapa marahnya ia dengan orang yang sudah menghajarnya dan juga menculik saudarinya.


"Si-siapa kalian!?" tanya salah satu pemuda dengan kaki bergetar ketika melihat begitu banyak orang yang datang.


"Siapa kami itu tidak penting, mana wanita yang kalian culik dan suruh bos mu menghadap kami." mendengar itu membuat pemuda tadi tak berkutik, mereka semua tak ada pilihan lain selain memberitahu bos mereka dan menyerahkan Ryma.


"Bos!" pemuda tadi langsung berlari kelantai dua dan langsung masuk ke dalam salah satu ruangan tempat dimana bos dan tuan muda yang mereka segani berada, disana juga ada Ryma yang terikat disalah satu kursi.


"Gawat, bos. Markas kita diserang!" pemuda itu panik.


"Memangnya kenapa? Apa kalian tidak bisa menghadapi orang itu?"


"Me-mereka jauh lebih banyak dari ju-jumlah kita." mendengar penuturan anak buahnya itu membuat pemuda berambut merah menyeringitkan keningnya, begitu juga dengan pemuda yang duduk didepannya.


"Seberapa banyak?"


"Mungkin lebih dari seratus orang .. Dan mereka meminta kita mengembalikan gadis itu." mendengar itu sontak saja pemuda berambut merah itu terkejut dan langsung bangkit dari duduknya. "Dan mereka meminta tuan muda dan juga bos untuk menghadap kepada mereka." sambung pemuda itu lagi.


"Tuan muda diam disini saja, biar saya yang menemui mereka." pemuda berambut merah itu langsung keluar ruangan dan menuruni tangga.


Betapa terkejutnya ia ketika melihat begitu banyak orang yang ada dilantai satu, melihat itu membuat nyalinya menciut.


"Halo, apa kabar?" suara seseorang mengalihkan perhatian pemuda berambut merah itu.


"K-kau?" pemuda itu terkejut saat melihat Rama yang baru saja muncul dari kerumunan orang berbaju hitam didepannya.


"Kenapa? Apa kau terkejut?" tanya Rama dengan nada mengejek.


"Si-siapa kau sebenarnya?"


"Siapa aku itu tidak penting." sahut Rama menatap tajam pemuda berambut merah yang telah menghajarnya beberapa waktu lalu. "Mana gadis yang kalian bawa tadi?" sambung Rama lagi dengan suara berat membuat pemuda berambut merah itu bergegar.


"Kau pikir, kau itu siapa, hah? Bisa memerintahku seperti itu." sahut pemuda itu dengan nada menantang.


"Siapa aku? Aku adalah orang yang dapat menghancurkan dirimu dan orang yang menyuruhmu dalam satu malam." balas Rama dengan tenang meski ia sedari tadi sudah mengepalkan kedua tangannya.


"Cih! Sombong sekali, kau tidak tahu tuan muda kami. Dia adalah orang terkaya di kota ini."


Pertarungan tak terelakkan, tampak orang-orang dari pihak Rama sangat brutal menghajar pemuda-pemuda yang menyerang tuan muda dan menculik nona muda mereka. Dari pihak sebelah hanya kumpulan remaja berandalan yang hanya berani keroyokan, berbeda dengan orang-orang Rama yang merupakan mantan anggota pasukan khusus dan orang-orang yang terlatih. Tak sampai lima menit akhirnya semua remaja berandalan itu ambruk dengan keadaan yang mengenaskan.


Rama menatap tajam kearah pemuda berambut merah didepannya.


"Kau tertarik duel?" tanya Rama sambil melangkahkan kakinya kearah pemuda tersebut.


"Satu lawan satu, brengs*k! Jangan seperti pecundang yang berani keroyokan!" pemuda berambut merah itu bergetar karena melihat anak buahnya tumbang dengan keadaan mengenaskan.


"Pecundang?" ucap Rama sambil menaikan sebelah alisnya. "Jangan sama kan aku dengan dirimu. Apa kau lupa sebelumnya kau menyuruh anak buahmu untuk menyerangku? Disaat aku hampir mengalahkan semua anak buahmu kau menyerangku dari belakang menggunakan pemukul baseball. Apa kau lupa itu?" tanya Rama sambil memandang hina pemuda didepannya.


Tanpa perlu menunggu persetujuan pemuda tersebut, Rama langsung berlari untuk menerjang pemuda berambut merah tersebut. Pertarungan satu lawan satu terjadi, orang dipihak Rama maupun anak buah pemuda berambut merah terkejut melihat Rama begitu brutal menghajar bos mereka.


Bahkan Rama tak memberi waktu kepada pemuda yang ia hajar untuk bernafas. Beberapa kali pemuda itu hendak terjatuh tapi Rama menahan tubuh pemuda tersebut dengan menarik rambutnya dan terus melayangkan pukulannya.


"KAU PIKIR KAU ITU SIAPA, HAH!?" Rama terus menghajar pemuda itu tanpa ampun, setelah merasa puas Rama langsung menendang lutut pemuda tersebut sampai berbalik arah.


"AAARRRGGHHH!!" tak ayal teriakan pemuda itu menggema diseluruh penjuru gudang tersebut, bahkan teriakan itu didengar oleh pemuda yang berada di lantai dua dan juga Ryma.


"Aku bisa bertindak lebih dari ini ketika aku mendapati gadis yang kalian culik terluka." ucap Rama dengan suara berat meski terkesan tenang.


Rama kemudian menuju lantai dua untuk mencari keberadaan Ryma, ia melihat satu pintu di lantai dua.


Rama langsung membuka pintu tersebut dan mendapati seorang pemuda yang hendak membuka kancing baju Ryma.


"BAMS!?" Rama sudah curiga bahwa Bams lah dalang dari penyerangan dirinya dan juga penculikan Ryma, tapi ia tak memiliki bukti untuk menjatuhkan tuduhan tersebut. Tapi kini akhirnya semua terjawab jelas.


"Sialan kau ...." tiba-tiba urat disekujur tubuh Rama menimbul dan sorot mata yang tajam membuat nyali Bams hilang seketika.


"Ja-jangan coba-coba menyerangku! Atau kau akan menyesal seumur hidupmu." ucap Bams dengan suara bergetar karena takut tapi Rama terlihat tidak memperdukikan ancaman dari Bams.


"Jangan mendekati! Atau aku akan menghubungi ayahku!" mendengar itu langkah Rama terhenti tapi sorot matanya sangat tajam.


"Silahkan kau hubungi orang tua kau itu." tantang Rama balik, mendengar itu membuat Bams kesal dan langsung menghubungi ayahnya.


"Halo, ayah. Tolong ak ... AARRGGHHH!" ucapan Bams terganti dengan suara teriakan tertahan akibat cekikan Rama yang sangat kuat. Rama kemudian mengambil ponsel Bams dan menempelkan ketelinganya.


"Anak anda telah menculik saudari saya, saya tidak akan membebaskan anak anda." setelah berkata seperti itu Rama langsung memutuskan sambungan telepon itu.


"ARRGHH!" wajah Bams mulai memerah akibat cekikan Rama yang semakin kuat.


"KAU PIKIR KAU SIAPA, HAH!? TUAN MUDA!" Rama berteriak tepat didepan wajah Bams dan langsung menghajar Bams membabi buta, seluruh wajah dan tubuh Bams tak terlewatkan oleh pukulan Rama.


Teriakan Bams sudah tak terdengar lagi karena sudah kehabisan tenaga, ia hanya bisa meringsut dilantai dengan wajah yang sulit untuk dikenali.


"Kau ingin bermain dengan mengandalkan kekuasaan?" Rama menendang perut Bams. "Mari kita lihat, siapa tuan muda sesungguhnya. Kau atau aku."


Rama kemudian mengangkat tubuh Bams dan melemparkannya keatas kursi kayu yang tak jauh dari dirinya.


"UUAARRGHH!" teriakan Bams kembali terdengar saat Rama sukses mematahkan kaki kirinya, tak cukup sampai disitu, Rama kembali menendang kaki kanan Bams dan mematahkan kaki Bams tanpa perasaan.


Sedangkan Bams kini menangis menahan sakit diseluruh tubuhnya, ada perasaan menyesal karena ia telah membuat orang didepannya marah.


Rama tak memperdulikan Bams dan melepaskan ikatan dikedua tangan Ryma dan kakinya. Setelah ikatannya terlepas, Ryma langsung memeluk Rama dengan erat seakan-akan tidak ingin terpisah dengan adiknya itu.


"Lo gapapa, kan?" tanya Rama dengan lembut dan mengelus kedua pipi tembem Ryma.


"Gapapa."


"Mau pulang?" tanya Rama dan dibalas anggukan oleh Ryma.


Tapi sebelum keluar ruangan, Rama mengambil ponsel Bams dan kembali menghubungi orang tua Bams.


"Anak anda berada di gudang tua di pelabuhan Trisakti, dalam lima belas menit kalau anda tidak datang maka anak anda tidak akan selamat." setelah berbicara seperti itu Rama langsung memutuskan sambungan teleponnya dan menatap miris kearah Bams yang sudah tak berdaya.


Sedangkan di kediaman orang tua Bams, terjadi kepanikan yang luar biasa setelah mendapat telpon dari orang tak dikenal melalui ponsel anak mereka.


"CEPAT KITA KE PELABUHAN TRISAKTI!" teriak ayahnya Bams kepada sopir pribadi keluarganya.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


#BERSAMBUNG ....


Jangan lupa like, komen dan rate ⭐5 ya hehe