
Setelah kejadian malam kemarin, Rama dan Ryma memutuskan untuk tidak masuk sekolah selama penyembuhan luka dan lebam diwajah. Sebenarnya bisa saja mereka untuk tetap berhadir seperti biasanya, hanya saja dengan keadaan wajah seperti sekarang tidak memungkinkan untuk dilihat oleh teman-temannya karena akan membuang waktu jika harus menceritakan apa yang terjadi.
"Bosen juga di rumah dari tadi." gumam Rama sambil sesekali menguap karena kebosanan. Ia kemudian menuruni tangga dan masuk ke ruangan yang berada disamping tangga. Terdapat begitu banyak buku-buku tersusun rapi dilemari. Rama kemudian mengambil salah satu buku dan mulai membacanya.
Sedangkan disisi lain, Ryma terlihat menonton televisi dengan posisi tiarap diatas kasur. Sesekali ia tertawa ketika ada adegan yang menurutnya lucu, didekatnya terdapat beberapa bungkus snack yang semua isinya telah habis.
"Masih laper." gumam Ryma dan mulai beranjak dari posisi sebelumnya dan melangkah keluar kamarnya.
Ia melangkahkan kakinya kearah kamar adiknya, tanpa mengetuk pintu dan asal masuk, Ryma tak menemui adiknya di kamar. Saat hendak keluar dari kamar Rama, tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang yang hendak masuk.
"Ngapain lo di kamar gue?" tanya orang itu.
"Aduuhh ...." Ryma meringis sambil mengusap pipi kanannya pelan karena masih ada lebam.
"Ngapain?" Ryma menatap kesal kearah Rama yang berbicara sok cuek kepadanya.
"Mau ngajak cari makan, laper." balas Ryma cemberut.
"Males keluar, udah sore gini juga. Mending pesen online aja." ucap Rama sambil mengeluarkan smartphonenya. "Mau makan apa? Sekalian buat makan malam." sambung Rama lagi.
Ryma langsung merebut smartphone Rama dan mencari makanan yang ingin ia makan. Setelah beberapa menit, ia menyerahkan kembali smartphone adiknya itu.
"Banyak amat, gak takut gendut?" tanya Rama sambil terkekeh melihat apa saja yang dipesan kakaknya.
"Gak bakal, porsi tubuh gue udah mentok gini. Gak bakal melar lagi."
"Heleh." Rama kemudian menatap layar ponselnya dan memesan roti yang sebelumnya sudah ia lihat. "Enak juga nih roti kalau diliat dari gambarnya." batin Rama sambil nyengir karena merasa lucu ia menilai dari penampilan roti itu.
Ryma langsung menuju tangga untuk mencari asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka.
"Bi, malam ini ga usah masak ya, Ryma sama Rama udah pesen diluar." Ryma memberi tahu seorang ART yang ia temui.
"Baik, nona muda."
"Oiya, bi. Nanti kalau pesanannya dateng, bibi tolong ambilin ya. Ryma mau mandi."
"Iya, non. Nanti bibi letakin diatas meja makan."
Ryma langsung menuju kamarnya dan masuk ke kamar mandi.
Sedangkan ditempat lain, terlihat seorang gadis berambut sebahu sedang menata roti kedalam sebuah kotak, ia terlihat begitu semangat dengan senyum yang terus terpancar dibibirnya.
"Mion, ini alamat rumah orang yang memesan roti itu." seorang wanita paruh baya menghampiri dan menyerahkan selembar kertas.
"Komplek Lily? Ini komplek perumahan elit itu, kan?" tanya gadis bernama Mion itu setelah menerima kertas yang berisikan alamat pembeli.
"Iya, yaudah cepet siap-siap, jangan bikin pelanggan kecewa gara-gara kamu telat nganter."
"Siap, Ma. Mama tenang aja, Mion ini kan pembalap hehe." ucap Mion cengengesan dan ibunya tertawa kecil melihat tingkah anaknya.
"Kamu ini ya ... Udah mau lulus SMA masih aja kelakuannya kayak anak kecil." balas ibunya Mion sambil mengelus lembut puncak kepala anaknya tersebut, sedangkan Mion merasa keenakan diperlakukan oleh ibunya seperti itu.
"Ya udah, Ma. Mion berangkat dulu. Deket kok komplek Lily. Paling cuma 15 menitan." ucap Mion dan mencium punggung tangan ibunya tersebut.
Mion keluar dari toko milik keluarganya dan meletakkan kotak roti yang sudah terbungkus dengan kantong plastik kedalam keranjang disepedanya. Ia langsung mengayuh sepedanya ke alamat pembeli.
Mion berasal dari keluarga yang biasa saja, keluarganya memiliki sebuah toko roti kecil yang dikelola oleh Ratna yang merupakan ibu kandung Mion. Seandainya saja Mion tak mendapatkan beasiswa, mungkin ia tak akan bersekolah disalah satu SMA terfavorit di kota itu, karena biaya yang mahal di sekolah tersebut. Mion merupakan murid dengan nilai yang selalu diatas rata-rata, jadi tak heran gadis ini bisa mendapat beasiswa dari pihak sekolah.
Kini Mion berdiri didepan gerbang yang menjulang tinggi, ia melihat kertas yang menunjukkan nomor rumah dari pembeli.
"99," gumam Mion melihat papan nomor yang menempel ditiang disamping pagar. "Ini bener rumahnya? Gede banget." sambung Mion yang melihat rumah megah didepannya meski ia sendiri masih berada diluar pagar.
"Ngomong-ngomong gimana ya pemiliknya, masih muda gak ya." ucap Mion sambil nyengir membayangkan wajah artis Korea kesukaannya. "Astaga, Mion. Ga boleh mikir gitu. Sadar." Mion kemudian menekan bell dan menunggu beberapa saat dan keluar seorang wanita paruh baya.
"Permisi, bu. Apa betul ini rumah tuan Bagas?"
"Iya, bener, non."
"Saya nganter roti pesanan tuan Bagas."
"Ooh, mari masuk dulu, non."
Mion kemudian masuk, ia sangat kagum dengan halaman yang sangat luas dan terlihat asri. Ia mengikuti wanita didepannya dengan mata kesana-kemari melihat keindahan halaman rumah megah didepannya.
"Ini orang pasti kelebihan uang, halamannya aja luas kayak gini." Mion lagi-lagi nyengir dengan batinnya yang aneh.
"Silahkan duduk dulu, non."
"Ah, iya, bu. Makasih." Mion duduk disofa, matanya tak lepas menatap isi rumah dari pembeli roti di toko kue nya.
"Ini kalau aku jual, bisa dapet berapa ya." batin Mion lagi sambil tertawa kecil dengan matanya menatap guci besar didepannya.
Mion melihat beberapa foto yang menempel di dinding, foto sepasang anak kecil yang terlihat begitu bahagia diusianya. Melihat senyum anak kecil difoto itu membuat Mion ikut tersenyum, ia melihat foto disampingnya dan terlihat didalam foto itu sepasang remaja yang terlihat begitu serasi dengan menggunakan baju couple.
"Bentar," Mion menatap sepasang remaja didalam foto itu dengan seksama. "Kok mirip Ryma ya, cuma ini lebih kecil dari Ryma." batin Mion.
Foto sepasang remaja tadi tak lain adalah Ryma dan Rama, foto saat mereka masih sekolah SMP. Jadi wajar saja Mion merasa kurang yakin dengan apa yang ia lihat.
"Cowoknya juga mirip sama Rama siswa baru dikelas IPS itu."
Selagi melamun dan memikirkan kedua remaja yang terlihat begitu romantis, wanita paruh baya sebelumnya datang dan menyerahkan beberapa lembar uang.
"Waduh, bu. Gak ada uang kecil aja, bu?" tanya Mion yang terkejut melihat uang yang diserahkan oleh wanita tersebut.
"Gapapa, non. Kembaliannya ambil aja."
"Tapi ini banyak banget, bu."
"Anggap aja ini rejeki, non. Tuan muda tadi nyuruh saya buat bilang kembaliannya buat non aja."
"Tuan muda?" batin Mion bingung tapi tangannya mengambil selembar uang dan menyisakan dua lembar diatas meja. "Ya udah, makasih ya, bu."
"Non, ambil semuanya aja."
"Eh!?" Mion terkejut, karena selembar uang itu saja sudah lebih dari harga rotinya. "Gausah, bu. Roti itu cuma 40 ribu, Masa ibu ngasih saya 300 ribu."
"Gapapa, non. Tuan muda gak suka pemberiannya ditolak."
"Kalau ditolak emangnya kenapa, bu?" tanya Mion berbisik dengan perasaan was-was.
"Nanti dikawinin sama tuan muda, non." wanita itu balas berbisik, sedangkan Mion membelalakan matanya. Tanpa aba-aba tangannya langsung mengambil sisa uang yang diatas meja.
"Yaudah, makasih ya, bu." Mion langsung berbalik dan keluar dari rumah besar tersebut, sedangkan wanita itu tertawa melihat ekspresi Mion sebelumnya.
Sedangkan di lantai dua, Rama juga tertawa melihat ekspresi gadis pengantar kue tadi yang tak lain adalah Mion. Rama tak sengaja melihat Mion masuk kehalaman rumahnya saat ia duduk di balkon kamarnya, ia melihat Mion masuk sambil menenteng kantong plastik jadi ia sudah menduga bahwa gadis tersebut membawa roti pesanannya, karena pesanan punya Ryma sudah datang lebih awal.
Sedangkan Mion mengayuh sepedanya secepat mungkin meninggalkan rumah besar tersebut.
"Tuan muda gila!" batin Mion ketakutan setelah mendengar jawaban asisten rumah tangga keluarga Rama tadi.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ...