She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
TAK KENAL



"Aku duluan ya, mau ke toilet bentar." pamit Ryma sambil beranjak dari duduknya.


"Bareng, Rym. Aku juga mau ke toilet." tiba-tiba Mion langsung bangun dan menyenggol tangan Izy yang hendak menyendok baksonya.


"Astaga, Yon ... Pelan-pelan ga bisa ya?" Izy berdecak kesal sambil menatap nanar bakso yang mengelinding tepat disamping sepatunya sedangkan Mion hanya cengengesan.


"Yamaap, Zy. Buru-buru soalnya." ucap Mion. "Yuk, Rym. Nanti keburu bell." sambung gadis berambut sebahu itu sambil menarik tangan Ryma.


Saat melewati meja Rama, Ryma melirik kearah adiknya tersebut dan tersenyum manis karena dilihatnya Rama cukup akrab dengan teman barunya.


"Wihh, siapa tuh? Cantik banget." ucap pemuda yang duduk didepan Rama ketika melihat Ryma dengan Mion melewati mereka. Karena penasaran Rama dan yang lain menoleh kearah yang dimaksud oleh pemuda tadi.


"Murid baru kayaknya, soalnya gua baru liat tuh cewek."


"Yang sama Mion itu, kan?"


"Iya."


"Cantik, kan? Kalau gua bisa pacarin tuh cewek, pasti bahagia banget." ucap pemuda tadi sambil tersenyum manis sampai akhirnya sebuah toyoran dikepalanya menghilangkan senyuman tersebut.


"Apasih lu, Gi! Sirik aja."


"Siapa juga yang sirik, elu tuh kalau ngayal jangan ketinggian." sahut pemuda yang dipanggil dengan sebutan 'Gi' tadi.


"Menurut lu gimana, Ram?" karena terlalu memperhatikan Ryma dan Mion, Rama tak mendengar pertanyaan dari Egi.


"Ram?" panggil Egi lagi sambil menepuk pelan pundak teman barunya itu.


"Hah? Apanya?" Rama sedikit kaget karena sentuhan Egi dipundaknya.


"Tuh cewek yang dibilang sama Niko tadi gimana? Cantik gak menurut lo?" Egi mengulang pertanyaannya.


"Ohh, yaaa lumayan sih."


"Kok lumayan? Mata lo katarak ya, Ram?" mendengar ucapan Niko membuat Rama memiringkan bibirnya.


"Lu belum tau aja tuh anak kelakuannya gimana, garangnya ... Behhh, horor." batin Rama sambil menatap punggung kembarannya tersebut yang semakin jauh.


"Cocok gak sama gue?" tanya Niko dengan percaya diri.


"Mana gue tau, kenal juga nggak." bohong Rama.


"Yaudah kalau gitu, nanti lu bantuin gue kenalan sama tuh cewek ya." Rama yang hendak minum jusnya seketika tersedak dengan permintaan Niko.


"Uhhuk-uhhuk ...." Rama menepuk-nepuk dadanya karena merasa sedikit sesak." K-kok gue? Sama Egi aja, sama Dinda, Sisca, Geby, Chika juga bisa, kan?" Rama mencoba berkilah sambil menunjuk teman-temannya yang ia sebutkan tadi.


"Males gue sama Egi, nih anak ga pandai diam. Kalau Dinda, Sisca, Geby sama Chika mana mau, mereka malu gara-gara kalah saing sama bidadari tadi."


"Dihh, sok ganteng banget jadi cowok." Dinda kesal mendengar perkataan Niko.


"Tau, kayak tuh murid baru mau aja sama elu si playboy cap gajah." tambah Chika dan didukung dengan anggukan oleh Sisca dan Geby.


"Kalau gini ceritanya, Nih anak jangan sampai tau kalau gue adik dari cewek yang dia gebet. Kalau sampai ketahuan, gue juga nanti yang ribet."


"Bantuin gue ya, Ram." ucap Niko dengan wajah memelas sedangkan Rama hanya tersenyum kikuk.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


Tak terasa bell jam pelajaran terakhir menggema, semua murid berhamburan untuk segera pulang ke rumah dan beristirahat ataupun sekedar santai disore hari. Begitu juga dengan Rama yang tengah berjalan dikoridor seorang diri dengan headset menempel dikedua telinganya. Ia melangkahkan kakinya dengan mantap dan tenang tak peduli dengan siswa yang berlarian menuju kearah parkir maupun siswi yang tengah berbisik tentang dirinya.


Sampai akhirnya disebuah belokan, tiba-tiba Rama menabrak seseorang hingga orang tersebut terjatuh.


"Aww ...." ringis gadis yang ditabrak oleh Rama.


"Eh, sorry-sorry. Gua ga sengaja." Rama langsung membantu gadis tersebut untuk berdiri.


"Makanya kalau jalan itu pakai mata!"


"Jalan pakai kaki keles." batin Rama sambil memandang datar gadis didepannya yang tengah sibuk membersihkan roknya.


"Denger gak!?" gadis itu kesal karena Rama tidak menanggapi ucapannya tadi.


"Iya-iya, denger kok. Nanti saya pindahin mata saya ke kaki." sahut Rama malas.


Mendengar jawaban sembrono dari pemuda yang menabraknya, gadis itu langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat rupa dari pemuda itu.


"Ya ampuun, ganteng bangeett ...." ucap gadis tersebut tanpa sadar ketika melihat wajah Rama yang menatapnya cuek. Gadis itu seolah lupa dengan kekesalannya tadi dan langsung tersenyum manis.


"Hah?" Rama menaikan sebelah alisnya ketika mendengar perkataan gadis didepannya dan itu membuat gadis berambut sebahu itu seketika sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Seketika wajah gadis tersebut memerah karena malu.


"Ng-nggak! Kamu jelek!" gadis itu salah tingkah karena perbuatannya sendiri dan mencoba mencari cara untuk menghilangkan rasa malunya.


Sedangkan disisi lain, Arya, Izy, Ryma dan Veranda melihat teman mereka tengah memarahi pemuda yang mereka lihat di kantin saat jam istirahat pertama.


"Mion ngapain tuh?" tanya Izy yang melihat Mion tengah memukul dada milik pemuda didepannya yang tak lain adalah Rama.


"Itu cowok yang di kantin tadi, bukan?" kini giliran Veranda yang bertanya.


"Iya, yang kata Sinka anak orang kaya cuma karena cara makannya." jawab Arya yang kembali keki ketika mengingat ucapan Sinka waktu di kantin sebelumnya.


Sedangkan Mion semakin salah tingkah ketika Rama menempelkan punggung tangannya dipipi Mion.


"Nggak panas kok ...." gumam Rama pelan tapi bisa didengar oleh Mion.


"Kamu kira aku sakit apa!? Iihh, ngeselin banget sih jadi cowok!" teriak Mion kesal. "Aaaa, mimpi apa kemarin bisa dipegang sama cowok ganteng ...." batin Mion yang bertolak belakang dengan ucapannya.


"Yon, lu ngapain?" Arya yang baru saja tiba langsung menepuk pundak Mion.


"Kamu kenal sama dia, Yon?" tanya Veranda.


"Nggak!" jawab Mion cepat sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Dia ngeselin!"


Arya dan Niko menatap Rama dengan seksama dan mencari jawaban kenapa sampai Mion bilang kalau pemuda itu mengesalkan. Karena menurut mereka Mion saja sudah mengesalkan, dan sekarang dia malah bilang bahwa Rama mengesalkan.


"Eee, sorry ya, bro. Temen kita ini emang rada-rada gitu." ucap Arya ramah kepada Rama seraya meminta maaf mewakili Mion.


"Iihh, Arya! Kenapa belain dia!"


"Udah diem, gak ada orang yang lebih ngeselin dari pada elu sama Sinka, jadi jangan nyalahin orang seenak jidak."


Ryma dan Veranda tertawa kecil mendengar penuturan Arya terhadap sosok Mion. Ryma tahu bahwa Mion telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada adiknya tersebut saat ia dan Mion menuju toilet saat istirahat pertama.


Sedangkan Rama hanya menatap datar kearah Mion dan dua orang pemuda dibelakangnya. Kemudian ia melihat kearah Ryma dan juga gadis berambut panjang disamping saudara kembarnya itu. Tanpa sepatah kata Rama langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Mion dan teman-temannya dan langsung menuju parkiran.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


"Ram, gue bosen dirumah daritadi."


"Jangankan elu, gue aja bosen."


"Jalan-jalan yuk."


"Kemana?"


"Ya kemana aja, kita kan baru aja pindah, jadi ya sekalian keliling."


"Hmm," Rama tampak berpikir sebentar. "Ya udah deh, gue siap-siap dulu." sambung Rama kemudian beranjak dari sofa menuju kearah tangga untuk kekamarnya yang berada dilantai dua. Ryma juga langsung bangkit dari duduknya dan melangkah dengan semangat untuk bersiap.


Tak berapa lama mereka berdua sudah siap, Rama mengenakan jaket berwarna hitam dan celana levis sedangkan Ryma mengenakan baju yang memperlihatkan sedikit perut ratanya dengan mengenakan jaket terbuka dibagian depan dan juga celana jeans.


"Lo gak punya baju lagi ya, Rym?" tanya Rama yang melihat penampilan kakaknya itu yang memperlihatkan perutnya.


"Emang kenapa? Kan pakai jaket."


"Ck, terserah. Tapi nanti kalau masuk angin jangan panggil gue." ucap Rama memberitahu lebih awal, karena bagaimana pun sekarang sudah malam.


"Iya-iya, yuk berangkat." Ryma langsung menggandeng tangan Rama menuju motornya.


Awalnya perjalanan mereka tak ada tujuan, karena memang mereka berdua belum begitu mengenal tempat tinggal mereka. Tapi sampai akhirnya Ryma melihat pasar malam yang ramai pengunjung.


"Eh, Ram. Itu pasar malam, kan? Kesana yuk." Rama tak menjawab pertanyaan Ryma dan langsung saja mengarahkan motornya kearah yang ditunjuk oleh kakaknya tersebut.


Ryma terlihat begitu senang karena sudah lama ia tak pergi ke pasar malam saat di Bandung. Ia langsung mencoba semua permainan yang ada disana, sedangkan Rama hanya mengikuti disamping. Sesekali Ryma merengek minta belikan sesuatu kepada Rama dan sekarang ditangan Ryma sebuah mainan berbentuk pistol yang mengeluarkan gelembung sabun. Ryma terlihat begitu bahagia sambil menekan pelatuk pistol tersebut yang mengeluarkan gelembung. Sesekali ia melompat girang, sedangkan Rama yang melihat itu hanya memalaskan wajahnya.


Rama mendekati Ryma dan menarik baju kaos kakaknya kebawah. Itu karena setiap kali Ryma mengangkat kedua tangannya untuk menembakkan gelembung ke udara, bajunya tersingkap dan memperlihatkan perut mulusnya. Ryma yang melihat tingkah adiknya itu hanya tertawa kecil dan kembali mengangkat kedua tangannya, sedangkan Rama kembali menarik baju bagian bawah Ryma untuk menutupi perut kakaknya tersebut. Meskipun Rama terkesan cuek, tapi ia sangat menyayangi saudara kembarnya tersebut meski ia sering kesal dengan sifat Ryma.


"Rym, gausah loncat-loncat gitu bisa gak sih?" Rama kesal karena Ryma selalu mengangkat kedua tangannya dan melompat seakan-akan mempermainkan adiknya tersebut.


"Kan lagi seneng." sahut Ryma yang kembali mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan mainan ditangannya keatas yang mengeluarkan gelembung. Lagi-lagi Rama menarik baju bagian bawah Ryma agar pakaian kakaknya menutupi bagian perut.


"Sekali lagi lu gitu, gue tinggal." ancam Rama. Mendengar ancaman adiknya tersebut, Ryma mengangkat kedua tangannya keatas sambil tersenyum manis kearah Rama. Melihat tingkah kakaknya tersebut Rama langsung membalikan tubuhnya berniat meninggalkan Ryma tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena Ryma langsung memeluk Rama dari belakang sambil tertawa geli melihat Rama yang kesal kepadanya.


"Maaf." ucap Ryma sambil mencoba menahan tawanya.


"Pulang yuk, udah jam sepuluh nih." ajak Rama tapi Ryma tidak menggubrisnya.


"Rama, pengen ituuu ...." rengek Ryma sambil menunjuk kearah penjual permen kapas.


"Gak ah, nanti kalau lu pilek gimana?"


"Aaa, pengeeenn ...." Ryma memeluk tangan kanan Rama manja. Melihat kelakuan kakaknya tersebut membuat Rama tak berkutik.


"Ck, tunggu disini."


"Oke." Ryma langsung tersenyum senang ketika keinginannya dituruti oleh Rama. Sedangkan Rama langsung berjalan mengarah penjual permen kapas yang terdapat beberapa orang juga sedang mengantri menunggu permen kapas mereka.


"Bang, permen kapasnya satu."


"Bentar ya, mas." sahut penjual permen kapas tersebut.


Dua orang gadis yang sedari tadi menunggu permen kapasnya menoleh kearah pemuda yang baru saja memesan. Ketika melihat sosok Rama, kedua gadis itu langsung heboh saat melihat wajah pemuda tersebut. Ryma yang berada tak jauh dari sana melihat tingkah kedua gadis itu seperti malu-malu melihat kearah Rama dan sesekali curi pandang kepada adiknya tersebut.


Melihat hal itu membuat ide jahil Ryma muncul, langsung saja ia mendekati Rama dan memeluk tangan Rama dengan manja.


"Sayang, masih lama ya?" tanya Ryma dengan suara manja yang dibuat-buat menggemaskan


Sadar dengan tingkah kakaknya tersebut, Rama hanya tersenyum geli karena ia tahu bahwa Ryma bermaksud mengerjai kedua gadis disampingnya tersebut. Terbukti kedua gadis itu terlihat terkejut ketika Ryma datang langsung menggandeng tangan Rama, terlebih ia memanggil Rama sayang dengan manja.


Sedangkan disisi lain, terlihat seorang pemuda tengah mengamati Rama bersama Ryma yang terlihat begitu romantis.


"I-itu bukannya Rama ya?" gumamnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"NIK! NIKO! WOI BUDEG!" seorang pemuda lainnya berteriak tepat disamping telinga Niko.


"Apa sih, Gi! Rusuh amat lu!" balas Niko kesal sambil mengusap kupingnya.


"Elu tuh yang apaan, dipanggil dari tadi kagak nyaut-nyaut. Yuk pulang, capek gua."


Niko hanya menuruti dan kemudian mengikuti Egi.


"Gue ga salah liat, kan? Tadi itu Rama. Sama cewek yang gue liat di kantin. Kalau bener itu Rama, kok pas di kantin dia bilang ga kenal sama tuh cewek." batin Niko yang sekarang merasa sesak ketika melihat Rama dengan gebetan barunya yang begitu romantis.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


#BERSAMBUNG


Jangan lupa tinggalkan komentar kalau suka dengan cerita ini biar author semangat untuk ngetik lanjutannya hehe.


Kalau ada kritik, saran dan masukan juga silahkan coret dikomentar ya, biar author bisa memperbaiki tulisan agar lebih rapi dan enak dibaca hehe.