
Setelah selesai sarapan, Rama dan Mion jalan berdampingan untuk kembali ke kelas masing-masing. Kelas Rama yang berada di lantai empat dan harus melewati kelas Mion dulu untuk menuju tangga.
"Rama," panggil Mion kepada Rama yang hanya menatap lurus kedepan.
"Hm,"
"Katanya di sekolah ini ada murid baru, anak dari pemimpin Pratama Group, kamu tau gak orangnya yang mana?"
"Mana gue tau, gue kan juga murid baru, mana kenal murid lama atau murid baru disini." mendengar itu membuat Mion menoleh.
"Jangan-jangan kamu lagi orangnya,"
"Kenapa bisa mikir gitu?"
"Yaaa, soalnya anak dari Pratama grup itu kembar, nah kamu kan murid baru, masuknya juga barengan sama Ryma, terus nama kalian juga mirip, cuma beda satu huruf."
Mendengar penjelasan Mion, Rama menghentikan langkahnya. Pemuda ini menatap lekat kearah Mion.
"Iya, gue anak yang kalian maksud beberapa hari ini." jawab Rama cuek dan itu membuat Mion membelalakan matanya.
"Kamu serius!?" tanya Mion tak percaya. "Berarti Ryma juga dong." sambungnya.
Melihat ekspresi wajah gadis didepannya membuat Rama tak dapat menahan tawanya.
"Lo harus liat ekspresi lo sekarang." ucap Rama yang masih tertawa kecil.
"Jadi kamu?"
"Ya enggak, lah. Mana mungkin gue anak Pratama grup." jelas Rama sambil mengacak-acak rambut Mion dengan gemas, sedangkan Mion tertegun ketika diperlakukan seperti itu.
"Iih, jangan dihancurin! Susah tau ngebenerinnya!" Mion menepis tangan Rama yang masih berada dikepalanya. "Sekarang aku percaya kalau kamu bukan anak dari pemimpin pratama grup, kamu itu nyebelin, jelek, nyebelin!" sambung Mion sambil melipat tangannya dan cemberut.
"Kok nyebelinnya dua kali?"
"Nyebelin, nyebelin, nyebeliiiiinnn!" teriak Mion geram dengan tangan yang ingin mengacak-acak wajah tampan Rama.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan yang Rama dan Mion lakukan.
"Awas aja lo! Lo berani ngerebut kak Rama, siap-siap berurusan sama gue." gumam gadis itu menatap tajam kearah Mion yang kini sibuk mencubiti Rama.
"Kak Rama itu milik gue, gak ada siapapun yang boleh deketin kak Rama selain gue." sambung gadis itu lagi dan berbalik masuk kedalam kelasnya.
Rama dan Mion kini sudah berada di kelas mereka masing-masing, Rama terlihat begitu serius mengikuti pelajaran pertama ini, Niko dan Egi yang melihat teman mereka itu tengah serius hanya menatap heran.
"Baru kali ini gue liat cowok seserius itu pas belajar." bisik Niko yang kepada Egi.
"Iya, serius amat."
"Jangan-jangan dia mau ngambil posisi Geby, biar bisa jadi ranking satu nanti pas ulangan semester." bisik Niko lagi.
"Bisa jadi."
Mereka berdua kembali memperhatikan Rama yang tengah serius, begitu pula dengan Geby, gadis yang langganan berada diperingkat pertama di kelas mereka. Geby sendiri juga menyadari Rama yang serius memperhatikan penjelasan pak Edi didepan, melihat itu membuat Geby tersenyum karena sepertinya ia akan mendapat saingan yang cukup berat. Disaat sebagian siswa sibuk dengan urusannya masing-masing, cuma Rama siswa laki-laki yang seserius itu.
"Menarik juga si Rama, tapi aku gak bakal nyerahin peringkat pertama dengan mudah." batinnya dan kembali memperhatikan setiap penjelasan pak Edi.
Tak terasa bell jam pelajaran terakhir berdering, semua murid langsung membereskan alat tulis mereka untuk segera pulang kerumah. Begitu juga dengan Rama, pemuda ini membereskan buku dan alat tulis lainnya kedalam tas dengan santai dan ia akan keluar paling akhir.
"Hei, Ram." Geby mendekati Rama yang sudah menenteng tasnya.
"Geby, belum pulang?" tanya Rama.
"Belum, jemputannya belum dateng."
"Ohh, lo dijemput." Geby hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum.
"Oiya, rumah kamu dimana?" mendapat pertanyaan seperti itu membuat Rama terdiam sesaat.
"Gak jauh kok dari sini, dekat taman Kamboja." jawab Rama jujur, karena memang komplek rumahnya berada dekat dengan taman Kamboja.
"Wahh, deket dong sama rumah aku."
"Di komplek Lily nomer 69." jawab Geby santai, sedangkan Rama yang mendengar itu tertegun. Itu artinya mereka satu komplek, hanya beda gang saja.
"Untung jauh dari rumah gua, kalau nomer 69 berarti agak kebelakang sih dari jalan komplek. Aman." batin Rama lega.
"Nanti kapan-kapan jalan bareng yuk, ke taman kamboja." ajak Geby semangat.
"Hmm, boleh. Kalau gue gak sibuk tapi."
"Okesip," Geby mengangkat tangannya untuk melakukan tos dengan Rama karena jemputannya sudah datang. "Duluan ya, Ram. Sopir aku udah di depan." pamit Geby setelah melakukan tos.
"Yo, hati-hati."
Setelah kepergian Geby, Rama akhirnya memutuskan untuk segera ke parkiran karena Ryma sudah menelpon dia berkali-kali.
"Nik, tuh si Rama udah keluar. Jadi gak?" ucap Egi kepada Niko.
"Jadi lah, kalau gak jadi ngapain kita dari tadi ngumpet disini." jelas Niko.
"Yaudah, ayo. Gue juga penasaran si Rama tinggal dimana. Tiap ditanya tuh anak diem mulu."
"Gue juga,"
Mereka berdua akhirnya membuntuti Rama yang berjalan mengarah parkir.
"Eh, itu siswi baru di kelas Arya, bukan?" tanya Egi saat melihat Ryma menyerahkan helm kepada Rama. Terlihat oleh Niko dan Egi kedekatan antara Rama dengan Ryma.
"Widih, romantis juga si Rama." ucap Egi sambil terkekeh yang melihat Rama memasangkan helm kepada Ryma.
"Iya, gue gak nyangka." balas Niko, ada perasaan sesak saat Niko melihat itu, tapi ia mengabaikannya karena bagaimanapun Rama adalah teman sekelas mereka, Niko tidak ingin egois untuk menghancurkan kebahagiaan temannya itu.
"Nah, tuh. Mereka udah jalan. Buruan ikutin."
Mereka berdua mengikuti Rama dengan jarak yang cukup jauh agar menghindari kecurigaan Rama ataupun ketahuan.
"Ini bukannya arah perumahan Lily ya?" tanya Niko yang baru sadar bahwa mereka menuju kearah perumahan elit di kota ini.
"Iya," sahut Egi yang juga baru sadar. "Wahh, jangan-jangan mereka anak orang kaya?" sambungnya, Niko hanya mengangkat kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan Egi.
Rama akhirnya masuk ke perumahan tersebut, saat Niko dan Egi ingin masuk melewati pos penjaga, mereka berdua diberhentikan oleh satpam.
"Bisa tunjukin kartu khususnya, mas?" tanya satpam itu Ramah.
"Ebuset, sampe pake kartu khusus." Egi terkejut.
"Harus pakai kartu khusus ya, pak?"
"Iya, mas. Kartu itu sebagai tanda pengenal bahwa mas berdua tinggal di perumahan ini." jawab satpam itu lagi dengan ramah. Niko dan Egi terdiam sesaat.
"Yaudah, pak. Kalau gitu kita putar balik aja." ucap Niko dan langsung pergi.
"Gila, pantes ini perumahan mahal banget. Keamanannya aja udah gak diragukan lagi." ucap Niko kagum.
"Iya, itu baru luarnya, belum lagi keamanan dari dalam." sahut Egi yang juga kagum.
Sore harinya, terlihat Rama baru saja keluar dari minimarket yang ada di perumahan tersebut. Dengan tangan yang menenteng beberapa kantong plastik yang berisi makanan ringan dan juga minuman soda.
"Untung bawa mobil, kalau pakai motor bakal susah bawanya." gumam Rama sambil memasukan belanjaannya kedalam mobil.
"Ng? Itu bukannya Rama ya?" ucap seorang gadis yang berada tak jauh dari mini market. Ia melihat Rama hendak masuk kedalam mobil.
"RAMA!" gadis itu berteriak untuk memanggil Rama, tapi pemuda itu sudah masuk kedalam mobil dan tak mendengar panggilan tersebut.
"Apa jangan-jangan Rama juga tinggal disini?" batin gadis tersebut.
"Oke, Geby. Kita harus cari tau." gumam gadis bernama Geby itu kepada dirinya sendiri.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG