
Disebuah taman terlihat sepasang remaja bergandengan tangan dengan sesekali bercanda dan tertawa bersama, bahkan mereka berdua menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berada disana.
"Sayang, aku pengen es krim." ucap sang gadis kepada pemuda disampingnya sambil menunjuk kearah penjual es krim.
"Ya udah, kamu tunggu disini." balas pemuda itu.
Setelah beberapa menit, pemuda tadi kembali dengan dua es krim rasa vanila ditangannya. Ia memberikan satu es krim ditangannya kepada gadis yang tampak sudah tersenyum manis dan menerima es krim itu dengan bahagia.
"Makasiihh." ucap gadis itu dengan suara lucunya. Sedangkan pemuda itu hanya tersenyum kecil dan menikmati es krim yang dibelinya.
"Oiya, Rama. Besok aku ada acara keluarga, jadi rencana jalan-jalan kita besok ditunda dulu ya." pemuda yang dipanggil Rama tadi menoleh seraya tersenyum.
"Iya, gapapa. Masih banyak waktu kok." balasnya yang kemudian mengusap lembut puncak kepala gadis disampingnya.
Tak ada kata setelah itu, mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing. Rama memandang lurus kedepan sambil tetap menikmati es krimnya, sedangkan gadis disampingnya tengah sibuk mengabadikan momen mereka berdua meski ada beberapa gambar yang dia ambil saat pemuda disampingnya tak sadar.
"Salsa," panggil Rama setelah menghabiskan es krimnya, begitu pula dengan gadis bernama Salsa itu.
"Hm?" Salsa menoleh kearah Rama.
"Pulang yuk, udah mau malam. Kita kan udah janji sama orang tua kamu pulangnya gak bakal sampai malam."
"Ya udah, ayok."
Rama langsung mengantar Salsa pulang kerumahnya yang tak terlalu jauh dari taman.
Salsa dan Rama adalah sepasang kekasih, tentu saja Salsa mengetahui hubungan asli antara Rama dengan Ryma yang merupakan saudara kembar. Karena Salsa adalah sahabat dekatnya oleh Ryma, jadi hal yang wajar jika Ryma sedikit terbuka dengan gadis tersebut. Hal itu pertama kali diketahui oleh Salsa saat ia berkunjung ke rumah Ryma, ia tak sengaja melihat Rama yang sedang bermain basket sendirian disamping rumah. Saat itu adalah pertama kalinya Salsa berkunjung ke kediaman keluarga Pratama.
Salsa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sosok Rama yang terlihat keren saat memainkan bola basket ditangannya, postur tubuh Rama yang tinggi dengan dada bidang. Apalagi ketika Rama melemparkan bola kearah ring dengan wajah cueknya semakin menambah kesan tersendiri didiri Salsa yang melihat itu. Ryma yang mengetahui hal itu hanya tertawa dan memberitahu bahwa Rama adalah saudara kembarnya
Salsa yang mendengar itu langsung meminta bantuan sahabatnya itu untuk membuat dirinya dekat dengan Rama. Ryma yang mempercayai sahabatnya itu tentu saja setuju dan membantu Salsa untuk kenal dengan Rama, tapi dengan syarat merahasiakan hubungan asli mereka berdua dan jangan pernah mengurusi gosip tentang mereka berdua yang memiliki hubungan spesial. Salsa yang sudah menyukai Rama langsung saja menyetujui persyaratan tersebut.
Setelah empat bulan berlalu, akhirnya Salsa berhasil mendapatkan hati dari pemuda tampan bernama Rama itu.
~
Keesokan harinya, terlihat Rama tengah bersantai di balkon kamarnya sambil memetik senar gitar akustik miliknya. Hari ini rencananya ia akan menghabiskan waktu liburan bersama Salsa, tapi hal itu terpaksa ditunda karena Salsa yang tiba-tiba ada acara dengan keluargannya. Selagi asik memainkan gitarnya, dering ponselnya mengalihkan perhatian Rama. Tertera dilayar ibunya Salsa menghubunginya.
"Halo, tan. Ada apa?" tanya Rama langsung setelah menyapa ibunya Salsa lewat telpon.
"Rama, tante bisa minta tolong gak?"
"Tante dari tadi nelpon Salsa, tapi gak diangkat. Kayaknya dia masih tidur. Bisa gak kamu ke rumah tante buat ngasih tau Salsa kalau nanti sore ada temen tante yang datang buat nemenin Salsa." Rama yang mendengar penjelasan ibunya Salsa menyeringitkan keningnya.
"Salsa gak ikut tante sama om ya?" tanya Rama memastikan.
"Dia mana pernah mau ikut acara keluarga." jawab ibunya Salsa sambil tertawa kecil.
Setelah mendengar itu, entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan aneh tentang Salsa dalam diri Rama. Tapi Rama langsung menepis perasaan itu dan mencoba berpikir positif tentang kekasihnya itu.
"Baik, tan. Sekarang juga Rama ke rumah tante." sahut Rama dan setelah melakukan basa-basi sedikit, sambungan panggilan pun berakhir.
Rama langsung bersiap untuk ke rumah Salsa untuk menyampaikan pesan dari ibunya Salsa. Sebelum pergi ke rumah Salsa, Rama terlebih dahulu singgah disebuah toko bunga sekedar memberikan kejutan untuk kekasihnya itu. Setelah memilih bunga kesukaan Salsa, Rama langsung menjalankan motornya ke kediaman keluarga Salsa.
Setelah sampai di halaman rumah Salsa, Rama mengendap-endap memasuki rumah tersebut karena memang Rama sudah sering berkunjung dan ia sudah hapal rumah tersebut dan juga kamar Salsa. Saat ia berada ditengah ruang tamu, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendapati jaket laki-laki yang tergeletak di lantai. Entah kenapa tiba-tiba jantung Rama berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Jaket siapa nih?" batin Rama sambil mengambil jaket tersebut. Awalnya Rama mengira bahwa jaket itu adalah milik ayahnya Salsa. Tapi ketika melihat merk dari jaket itu, pikiran Rama sebelumnya langsung hilang karena setahu Rama jaket itu cukup mahal untuk dibeli oleh keluarga Salsa yang hanya memiliki toko kecil didepan rumah.
Saat Rama hendak melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam, tiba-tiba Salsa keluar dari salah satu ruangan bersama dengan pemuda yang berdiri disampingnya. Rama yang melihat itu terdiam dan menatap Salsa dengan pandangan tak percaya. Rama tak tahu harus berbuat apa, bahkan perasaannya saja terasa campur aduk. Rama kembali menatap Salsa dengan pandangan seolah-olah minta penjelasan dari Salsa, tapi gadis didepannya hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Rama menundukan pandangannya dan melihat sebucket bunga yang ia beli untuk Salsa, kemudian ia kembali menatap Salsa dengan senyum tipis yang dipaksakan, mata yang memerah dan berkaca-kaca. Ia tak tahu dengan perasaannya saat itu, kecewa, sedih, tak percaya dengan apa yang terjadi bercampur menjadi satu. Tiga varian rasa itu menyatu membuat Rama tak dapat bersuara dan hanya menatap Salsa dengan senyum paksa.
Rama dengan perlahan membalikan tubuhnya dan keluar dari rumah itu dengan perasaan yang sangat kecewa, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Ia sepenuhnya percaya terhadap Salsa, tapi siapa sangka ternyata Salsa mengkhianati cintanya.
Dengan hati yang kacau, Rama melajukan motornya dengan kecepatan penuh tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. Sampai disebuah pertigaan, tiba-tiba sebuah mobil melintas didepannya, Rama yang tak sempat menghentikan laju motornya pun akhirnya terpental beberapa meter dari motornya.
Orang-orang yang melihat kejadian itupun langsung berlarian kearah Rama yang sudah tak sadarkan diri. Mobil itupun langsung melarikan diri.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
"Aaarrggh!" Rama tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan keringat mengucur deras dikening dan lehernya.
"Kenapa gue malah mimpi kejadian itu lagi." batin Rama yang merasa heran karena ia bermimpi tentang masa lalunya saat ia masih tinggal bersama orang tuanya.
Rama kemudian membaringkan tubuhnya kembali dan mencoba melupakan mimpinya tadi yang merupakan kejadian dimasa lalunya. Bahkan alasan ia meminta pindah sekolah ke Jakarta pun karena hal itu, karena ia ingin mencoba melupakan sosok Salsa yang telah mengkhianatinya dan itulah penyebab Rama menjadi cuek dan dingin terhadap wanita yang mencoba mendekatinya, karena ia berpikir bahwa semua perempuan itu sama yang hanya menyakiti perasaan orang lain.
"Haahh, pokoknya gue harus bisa move on dari dia." ucap Rama kepada dirinya sendiri.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ...