
"KALIAN UDAH NIKAH!?" teriak Ryma dan Dara bersamaan, sedangkan Rama baru saja sadar bahwa ia telah keceplosan langsung salah tingkah. Mion pun sama halnya, gadis satu ini hanya tersenyum kikuk saat melihat ekspresi Ryma dan Dara.
"Nggak!" bantah Mion cepat karena menurutnya jika tidak dijelaskan justru akan lebih berbahaya.
"Terus?" tanya Ryma dengan alis yang mulai tidak sinkron.
"Rama!" Mion menatap tajam kearah Rama agar pemuda ini membantunya untuk menjelaskan bahwa semua itu tidak benar.
"Tadi cuma becanda." jelas Rama singkat dengan ekspresi datar, karena ia juga sudah sangat malu. Namun itu justru membuat Ryma menatap Mion dan Rama secara bergantian.
"Yaudah gue pulang duluan." Rama langsung pergi menuju motornya, dalam hatinya ia merutuki mulutnya yang bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu didepan Ryma. "Gue yakin, pasti di rumah nanti Ryma ngotot minta ceritain." batin Rama sambil mengacak-acak rambutnya.
Setelah kepergian Rama, Ryma dan Mion pun memutuskan untuk pergi setelah berpamitan dengan Dara.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
Di rumah, Rama berkurung didalam kamarnya dan mengunci pintu agar Ryma tidak masuk dan meminta kepadanya untuk menceritakan kejadian di taman tadi. Selagi melamun di balkon kamarnya, Rama teringat Niko dan Egy yang ingin berkunjung kerumahnya.
"Apa gue harus nyari kontrakan ya? Gak mungkin dong gue ngajak Niko sama Egy ke rumah ini, yang ada identitas gue sama Ryma bakal ketahuan." gumamnya dan memikirkan rencana untuk mencari kontrakan sementara.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Ram! Buka pintunya." Ryma mengetuk pintu kamar Rama.
"Tuhkan bener, pasti bakal kesini." batin Rama dan berpura-pura tidak mendengar panggilan saudari kembarnya tersebut.
"Jangan pura-pura gak denger deh!" Rama terkejut ketika mendengar ucapan Ryma itu.
"Ni anak cenayang apa gimana sih?" batin Rama lagi dan tetap berdiam diri.
"Awas aja kalau sekarang ngatain gue dalam hati!" teriak Ryma yang terus mengetuk pintu kamar Rama tanpa henti.
"Tajem bener instingnya." lagi-lagi Rama hanya membatin.
"Insting gue setajam pisau dapur kalau lo gak buka pintu ini sekarang!"
"LO CENAYANG ATAU APA!?" teriak Rama dalam hati karena Ryma seolah-olah mengetahui apa yang ia pikirkan.
DOR ... DOR ... DOR ...
Ketukan pintu yang awalnya tak berhenti dan berisik berubah menjadi gedoran yang cukup kuat, siapa lagi kalau bukan Ryma pelakunya.
Rama yang mulai berisik melangkahkan kakinya dengan kesal kearah pintu.
"Apa sih!? Ganggu orang istirahat aja." ucap Rama sambil menatap kesal kakaknya tersebut, tanpa menjawab kekesalan adiknya itu, Ryma langsung menerobos masuk kedalam kamar Rama.
"Yang ngizinin lu masuk siapa?" tanya Rama sambil menarik kerah baju tidur Ryma dari belakang.
"Kenapa sih? Masuk aja gak boleh." gerutu Ryma.
"Ini kan kamar gue," Rama tak kalah sewot.
"Terus? Gue gak boleh masuk gitu!?" balas Ryma dengan mata melotot.
"Kalah garang gue." batin Rama sambil menatap tajam kakaknya itu.
"Lo utang cerita sama gue." ucap Ryma yang langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan berguling-guling untuk menikmati dingin di kasur itu yang dihasilkan oleh AC di kamar Rama.
"Cerita apa?" tanya Rama balik.
"Kejadian di taman tadi."
"Kenapa emangnya?"
"Gue kan kepo!" sahut Ryma yang langsung bangkit dari ranjang. Mendengar itu Rama hanya memiringkan bibirnya dan menatap malas kearah kakaknya tersebut.
"Gak enak, kan kita baru kenal."
"Heleh." Rama memutar bola matanya dengan perasaan kesal.
Mau tak mau akhirnya Rama menceritakan kejadian saat ia dikerjai Mion yang berpura-pura mengandung anaknya. Ryma yang mendengar cerita dari Rama tak bisa menahan tawanya. Ia tak menyangka bahwa Mion bisa seberani itu untuk mengerjai adiknya, apalagi ditengah kerumunan.
Tapi mengingat tingkah Mion yang pecicilan dan tak pandai diam membuat Ryma memaklumi hal tersebut, tapi justru ia malah semakin tergelak.
"Puas lo ngetawain gue, hah!?" kesal Rama karena sedari tadi ditertawakan oleh Ryma, sebenernya ia juga malu untuk menceritakan hal itu, tapi kalau tidak diceritakan justru akan membuat Ryma semakin penasaran.
Ryma kembali berbaring di kasur Rama dan menekan remote tv.
"Keluar sana! Di kamar lo kan udah ada tv " usir Rama sambil melemparkan bantal yang mengenai muka Ryma.
"Males kebawah, nanti aja."
"Awas lu kalau sampe ketiduran di kamar gue, gue lempar lu ketangga." ancam Rama namun tak dihiraukan oleh Ryma.
Rama yang merasa bosan akhirnya merebahkan tubuhnya disamping Ryma yang asik menonton acara tv malam.
"Ada yang kurang." ucap Ryma sambil turun dari ranjang dan mengarah ke lemari pakaian Rama. Setelah membuka pintu lemari, mata Ryma berbinar melihat isi lemari adiknya tersebut dan langsung mengambilnya dan kembali keatas ranjang.
Rama yang baru saja menyadari sesuatu dipelukan Ryma langsung bangkit.
"Dari mana lu tau cemilan gue!?" tanya Rama yang tak menyangka Ryma dengan semudah itu menemukan cemilan yang ia sembunyikan.
"Lo nyembunyiinnya gak pro." jawab Ryma enteng sambil memasukan keripik ke mulutnya. Melihat hal itu, Rama hanya menghela nafasnya dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Kalau udah kelar, balik ke kamar lo, gue mau tidur."
"Hmm," balas Ryma sambil mengangguk karena mulutnya sibuk mengunyah makanan.
Tak lama kemudian Rama akhirnya tertidur dan menyisakan Ryma yang masih asik menonton tv.
"Ngantuk." gumam Ryma sambil melihat jam dinding yang menempel di atas tv. "Pantes udah pukul 10 malam." sambungnya dan mematikan tv.
"Haahh, males balik kamar. Bentar lagi deh." Ryma merebahkan tubuhnya dan menghadap kearah Rama yang sudah tertidur pulas.
"Hihi, ganteng juga kalau diliat dari dekat." gumam Ryma sambil mendekatkan dirinya ketubuh Rama. Ia mencium wangi tubuh adiknya itu, sebuah kebiasaan yang kini sudah menjadi candu bagi Ryma.
Tanpa sadar, akhirnya Ryma tertidur disamping Rama dengan tangannya memeluk tubuh pemuda tersebut dan kepalanya berada di atas dada bidang milik Rama.
Keesokan paginya, baik Rama maupun Ryma bangun bersamaan karena bunyi alarm dari ponsel Rama. Setelah mengucek matanya, Rama menoleh kesamping dan mendapati Ryma yang juga baru bangun dan menoleh kearahnya.
"WAAAA!!" Rama dan Ryma berteriak kaget secara bersamaan.
"Ngapain lo di kamar gue!?" kesal Rama sambil menarik selimutnya.
"Ya mana gue tau!" balas Ryma tak kalah sewot.
"Lo gak ngapa-ngapain gue, kan?" tanya Rama lagi dengan tatapan menyelidik.
"Seharusnya itu pertanyaan gue!" sahut Ryma dengan perasaan kesal, ia beranjak dari kasur dan keluar dari kamar Rama dengan terus menggerutu.
BRAK
Ryma membanting pintu kamar Rama dengan keras sampai-sampai Rama terjatuh dari kasurnya karena terkejut.
"Kaget gua." batin Rama sambil mengelus dadanya.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ...