She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Membuat Tuan Muda Marah



Malam hari kali ini, Rama dan Ryma berencana untuk makan diluar karena bahan makanan didapur sudah habis.


"Kok perasaan gue gak enak ya." batin Rama sambil membuka pagar rumahnya.


"Hui, kenapa bengong?" tiba-tiba Ryma datang menepuk pipi Rama pelan.


"Ngagetin aja lu." balas Rama sambil mengelus dadanya.


"Yuk berangkat." Ryma menggandeng tangan Rama dan menarik pemuda tersebut kearah motor yang sudah dalam keadaan hidup.


Saat diperjalanan, Rama lebih banyak diam seperti biasanya, ia hanya mendengarkan tiap ocehan dari kakaknya yang tak pernah habis. Terlebih lagi perasaan sebelumnya semakin kuat setelah ia keluar dari komplek rumahnya.


"Kok gue tiba-tiba jadi kepikiran bakal kepisah sama Ryma, biasanya gak pernah gini." batin Rama yang merasa kekhawatirannya semakin menjadi.


Tanpa mereka berdua sadari, dibelakang mereka terlihat tiga buah mobil mengikuti kemana saja Rama bersama Ryma melajukan motornya. Didalam salah satu mobil, terlihat seorang pemuda menyeringai melihat keakraban Ryma dengan Rama.


"Cih! Dasar miskin, ngajak jalan cewek secantik itu pake motor?" ucap pemuda tersebut menyeringai.


"Kali ini lo ga bakal selamat, gembel. Lo bakal gua habisin malam ini juga dan cewek lo gue rebut, gue yakin tuh cewek sama aja kayak yang lain, mata duitan." pemuda itu tersenyum dengan membanggakan kekayaan orang tuanya.


"Selama ini gak pernah ada cewek yang nolak gue, tuh cewek ga bakal nolak gua kalau liat mobil mewah gua ini."


Rama masih tak menyadari dengan tiga buah mobil yang mengikutinya, karena jalanan yang masih terbilang cukup ramai membuat Rama tak memperhatikan mobil dibelakangnya. Tapi semakin ia mencoba untuk tenang, justru kekhawatiran dan rasa cemasnya semakin menjadi.


"Ini kenapa sih, kok gua gak kayak biasanya." batin Rama yang mencoba fokus kejalan sampai perkataan Ryma membuat konsentrasi Rama pecah seketika.


"Ram, lo ga bakal ninggalin gue, kan?" mendengar pertanyaan tersebut membuat Rama semakin khawatir dan dengan terpaksa Rama menghentikan motornya depan minimarket karena takut akan terjadi hal yang tak diinginkan karena perasaan Rama kali ini benar-benar kacau.


"Kenapa lo nanya gituan?" Ryma terdiam sebentar mendengar pertanyaan balik dari Rama.


"Gak tau, entah cuma perasaan gue aja kita bakal kepisah jauh." jawab Ryma dan kali ini Rama benar-benar tak dapat mengeluarkan suaranya, nafasnya terasa sesak dan tenggorokannya terasa sakit. Rama turun dari motornya dan menggenggam kedua tangan kakaknya tersebut.


"Ga bakal ada yang misahin kita kecuali maut, selain dari itu gue percaya kita bakal tetap bersama." Rama mencoba menenangkan saudara kembarnya itu meski ia sendiri masih merasakan khawatir.


"Janji?" tanya Ryma dengan ekspresi wajah yang lucu menurut Rama.


"Iya, janji." dengan gemas Rama mencubit pipi kiri Ryma.


"Pinky swear," ucap Ryma dengan suara lucu seperti anak kecil, melihat itu membuat Rama tersenyum.


"Pinky swear," Rama kemudian mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ryma. Hal itu sering mereka lakukan ketika akan membuat janji, sebenarnya Rama selalu menolak ketika Ryma mengajaknya untuk melakukan janji jari kelingking seperti itu karena menurut Rama hal itu seperti anak kecil. Tapi Ryma selalu saja berhasil merayunya untuk melakukan janji jari kelingking atau yang sering mereka sebut dengan pinky swear.


Sedangkan didalam mobil yang berada cukup jauh dari posisi Rama, pemuda tadi yang mengikutinya terlihat tersenyum sinis kearah Rama dan Ryma yang mengaitkan jari kelingking mereka.


"Dasar miskin, sok-sokan romantis, didepan minimarket lagi, emang gak ada tempat yang lebih elit apa?" ucapnya sambil memandang remeh Rama. "Oiya, dia mana punya uang buat ngajak pacarnya ke tempat romantis." sambungnya dengan tawa yang menggelegar seolah-olah yang ia ucapkan tadi adalah hal yang lucu.


"Tapi tenang aja, sayang. Sebentar lagi kamu akan merasakan arti dari romantis yang sesungguhnya setelah aku menyingkirkan pacarmu yang miskin itu." pemuda itu menatap Ryma dengan penuh arti.


Kini Rama kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju kesalah satu warung makan pinggir jalan karena rasa lapar yang sudah tak bisa ditahan.


"Kalian semua bersiaplah." ucap pemuda yang berada dalam mobil mewah kepada teman-temannya melalui smartphonenya.


Tak lama kemudian Rama dan Ryma keluar dari warung makan dan langsung melajukan motornya untuk segera pulang kerumah.


"Makanan yang lo makan tadi akan menjadi makanan terakhir lo," ucapnya sambil menatap tajam kearah Rama. "Makanya jangan pernah macam-macam sama tuan muda seperti gua." sambungnya.


Kini Rama berada dijalan yang cukup sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perasaan tidak enak Rama kembali hadir bahkan kali ini sangat kuat, ia merasa akan terjadi sesuatu kepadanya dan juga Ryma bahkan lebih parahnya akan memisahkan mereka berdua. Rama menambah kecepatan motornya saat ia melihat ada dua buah mobil berada tepat dibelakangnya, Ryma yang menyadari ada yang aneh dengan tingkah adiknya itu mencoba bertanya.


"Kenapa?"


"Sepertinya ada yang ngikutin kita." sahut Rama yang semakin melajukan motornya karena dua buah mobil dibelakangnya juga menambah kecepatannya.


Ryma yang baru saja menyadari itu langsung memeluk erat Rama seolah-olah tidak ingin terpisah dengan adiknya tersebut.


"Arrghh, sialan!" Rama mengerem mendadak ketika mobil yang mengikutinya sedari tadi berhasil menyalip dan menghalangi jalan.


Rama turun dari motornya dan melepaskan helmnya, begitu juga dengan Ryma. Rama tidak khawatir dengan Ryma karena ia tahu bahwa kakaknya sangat pandai bela diri, hanya saja ada perasaan yang mengganjal sedari tadi. Rama dan Ryma menatap mobil didepannya dan menunggu orang yang berada didalam keluar.


Tak lama kemudian pintu dari dua buah mobil itu terbuka dan keluar sepuluh orang dari dalam. Rama sedikit terkejut karena ia tak menyangka bahwa ada sebanyak itu orang didalam mobil.


"Mereka siapa, Ram?" bisik Ryma yang mulai siaga jikalau tiba-tiba sepuluh orang itu menyerangnya.


"Wahh wahh wahh, lihat mereka, sangat tidak cocok." ucap pemuda berambut merah yang berdiri tepat didepan Rama. "Ceweknya cantik gini, sedangkan cowoknya gelandangan." sambungnya. Rama yang mendengar itu hanya menyeringitkan keningnya.


"Mau apa kalian?" tanya Ryma dengan tegas.


"Hahaha, dia tanya kita mau apa, bos." ucap pemuda lainnya yang berada dibelakang pemuda berambut merah tadi.


"Kita mau bikin perhitungan sama cowok lo itu." mendengar itu membuat Ryma terkejut, terlebih lagi Rama karena ia merasa tidak pernah mempunyai masalah dengan mereka.


"Kali ini kau tidak punya kesempatan, kita lihat apakah kau mampu menghadapi anak buahku. Hajar dia." pemuda berambut merah menyuruh anak buahnya untuk menyerang Rama.


Rama yang melihat itu langsung mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dan akhirnya perkelahian pun tak bisa dihindari. Terlihat Rama sedikit kewalahan menghadapi tujuh orang sekaligus, meski ia jago bela diri tapi jika harus menghadapi tujuh orang sekaligus tentu akan cukup sulit. Wajah Rama yang semula putih bersih kini terlihat darah mengalir dipipinya. Pelipis mata kanannya robek dan bibirnya kembali berdarah.


Meski sudah terluka cukup parah, tidak ada tanda-tanda Rama akan tumbang, justru lima orang yang menyerang Rama kini tumbang. Ada yang memegang wajah dan ada juga yang memegang perut sambil mengerang kesakitan. Sedangkan disisi lain, Ryma menghadapi dua orang yang menyerangnya membabi buta. Tampak Ryma menghindari tiap serangan dari dua orang itu dengan lincah meski beberapa kali ia harus menerima pukulan dibagian perut, tapi itu tidak berakibat terlalu fatal karena Ryma memang jago bela diri sama seperti Rama.


"UGH!" Ryma mendengar suara teriakan tertahan dibelakangnya, ia sangat mengenali suara tersebut dan benar saja ketika ia memutar tubuhnya, ia melihat Rama yang terbaring di aspal dengan wajah yang sudah penuh darah.


"RAMA!" Ryma langsung berlari untuk menghampiri adiknya yang sudah terbaring tak berdaya, tinggal beberapa langkah lagi dengan posisi Rama. Tiba-tiba sebuah benda padat melayang kearah perutnya dengan cukup kuat.


"ARRGHH ...." Ryma seketika ambruk dan tak sadarkan diri saat menerima pukulan telak dibagian perut.


Rama yang mendengar teriakan saudara kembarnya itu berusaha untuk melihat apa yang terjadi, betapa terkejutnya ia ketika melihat Ryma yang sudah terbaring tak sadarkan diri didepannya.


"Rym," lirih Rama mencoba memanggil kakaknya tersebut.


*BUGH*


"AARRGHH!" teriakan Rama tak tertahan ketika benda padat itu kembali menyerang punggungnya, dengan susah payah Rama mencoba melihat siapa pelaku yang memukulnya tadi dan terlihat pria berambut merah berdiri tegap tepat disampingnya dengan pemukul baseball ditangannya.


"Cih, cuma segini kemampuan lo?" tanya pemuda berambut merah itu dengan pandangan meremehkan.


"K-kau ...." Rama tampak ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti ketika pemuda berambut merah itu menginjak kepalanya.


"Baru dipukul gitu udah tumbang, dasar lemah." Rama yang mendengar hinaan seperti itu terlihat sangat marah. Ia ingin menghajar pemuda itu tapi tubuhnya benar-benar sudah tak berdaya.


"Ayo bangun, gua belum puas ngehajar lu masa udah kalah aja."


Bagaimana tidak tumbang, menghadapi tujuh orang sebelumnya saja Rama sudah sangat kewalahan tapi ia masih bisa bertahan dan bahkan berhasil menjatuhkan lima orang. Saat tersisa dua orang lagi, tiba-tiba pukulan keras telak mengenai punggungnya dan membuatnya ambruk.


Pemuda berambut merah itulah yang menyerang Rama dari belakang menggunakan pemukul baseball, dan ia juga yang memukul Ryma hingga pingsan. Sebenarnya pemuda berambut merah itu tidak berniat untuk ikut turun tangan karena ia menilai remeh Rama dan mempercayakan anak buahnya untuk menghabisi Rama. Tapi siapa sangka ternyata Rama sangat kuat hingga akhirnya ia harus ikut turun tangan meski dengan cara yang bisa dibilang curang karena menggunakan pemukul baseball.


*BUGH*


"Arrghh ...."


"AYO BANGUN! LO GAK LIAT CEWEK LO PINGSAN? LO GAK NIAT NOLONGIN DIA HAH?!" pemuda itu memukul lagi punggung Rama dan berteriak.


"Lo itu lemah, orang terlemah yang pernah gua temui." bisik pemuda itu ditelinga Rama.


"Bawa masuk cewek itu kedalam mobil." titah pemuda itu kepada anak buahnya yang masih berdiri meski terlihat sempoyongan.


"Pecundang tetaplah pecundang. Ini adalah peringatan pertama buat lo yang udah bikin tuan muda kami marah." setelah berkata seperti itu, pemuda tersebut kembali melayangkan pemukul baseball di punggung Rama.


*BUGH*


Pemuda itu langsung masuk kedalam mobil dan meninggalkan Rama yang sudah sangat tak berdaya. Meski seluruh tenaganya sudah terkuras habis dan tubuhnya terasa mati rasa, tidak ada tanda-tanda Rama akan pingsan dan hilang kesadaran.


Dengan tangan gemetar Rama berusaha merogoh saku celananya, setelah mendapatkan smartphonenya, Rama langsung mencari nama seseorang. Setelah menemukan nomor yang ia cari, Rama langsung menghubungi nomor tersebut. Tak berapa lama kemudian telepon itu terhubung dan terdengar seseorang berbicara dengan sopan namun sangat berwibawa.


"Selamat malam tuan muda Rama."


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


Siapakah yang menyerang Rama dengan Ryma?


Apa yang akan Rama lakukan untuk menyelamatkan saudari kembarnya?


Siapakah sebenarnya Rama? kenapa dia dipanggil tuan muda?


#BERSAMBUNG ....