She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Bakat Terpendam Mion



Pagi harinya, Ryma kini tengah bersiap untuk berangkat ke sekolahnya. Luka dan bengkak diwajahnya sudah mulai samar, hanya perlu sedikit bedak maka lebamnya tidak akan terlihat. Tapi berbeda dengan Rama, pemuda ini masih belum bisa berhadir ke sekolah seperti biasanya karena memang luka Rama lebih parah. Bahkan dipipi kirinya masih terlihat jelas luka akibat pertarungannya dengan tujuh anak buah pemuda berambut merah waktu itu.


"Jadi kamu gak masuk lagi hari ini?" tanya Ryma sambil mengunyah roti selai coklat dimulutnya.


"Iya, males gue kalau ditanya sama yang lain masalah luka." terlihat Rama sedikit kesusahan untuk mengunyah makanannya karena mulut bagian dalamnya masih sering mengeluarkan darah. Ryma yang melihat itu hanya tertawa kemudian ia duduk disamping Rama dan menarik piring Rama yang diatasnya masih terdapat roti.


"Lo masih belum kenyang?" tanya Rama terkekeh melihat Ryma menarik roti bagiannya.


"Kenyanglah, sarapan kan ga perlu banyak makan." sahut Ryma sedikit sewot. "Cuma mau bantu kamu makan aja, susah banget kayaknya." sambung Ryma sambil memotong kecil roti itu untuk memudahkan Rama menelannya.


"Tumben perhatian." Rama tertawa kecil melihat perhatian kakaknya, sebenarnya hal seperti ini bukan kali pertamanya bagi Rama. Kakaknya tersebut memang sering memberikan perhatian kepada dirinya, tentu saja dalam ranah sebagai saudara ataupun kakak.


"Aaaa ...." Ryma mengarahkan roti kemulut Rama, melihat itu membuat Rama membuka mulutnya. "Anak pinter." sambung Ryma sambil menepuk-nepuk puncak kepala Rama seolah-olah Rama adalah anaknya.


"Hohiya, Hym. Hue hihip huhat ha." ucap Rama dengan suara tidak jelas, tapi tangannya mengeluarkan sebuah surat.


"Ngomong apa sii?" tanya Ryma sambil tertawa lepas melihat tingkah adiknya yang ingin berbicara kepadanya tapi dengan mulut penuh. Rama kemudian menelan sisa roti dimulutnya dan mengulangi ucapannya tadi.


"Gue nitip surat ya."


"Ohh, nitip." Ryma berusaha meredakan tawanya ketika mengingat adiknya yang kesulitan bicara sebelumnya. "Makanya kalau ngomong itu yang jelas." sambungnya.


"Gimana mau jelas, mulut gue disuapin roti mulu." sewot Rama tak terima karena ditertawakan oleh Ryma. Sedangkan Ryma semakin tergelak melihat adiknya sewot.


"Iihh, lucu banget siihh ... Gemeesss," Ryma langsung menarik kedua pipi Rama dengan perasaan gemas.


"Hym! Hakit-hakit!" ucap Rama sambil menepuk kedua tangan Ryma. (~"Rym! sakit-sakit")


"Ngomong apasih, Ram." gadis itu semakin tergelak ketika mendengar suara adiknya.


"Yepacin duyu maanya!" (~"Lepasin dulu makanya!)


"Hahahaha ...." Ryma tak dapat lagi menahan tawanya dan terjatuh dari kursi akibat tertawa. Rama yang melihat itu langsung menatap tajam kakaknya itu.


"Huh!" Rama membalikan tubuhnya dan meninggalkan Ryma uang masih duduk dilantai akibat tertawa.


"Ngambek dia." ucap Ryma dengan sisa tawanya, ia kemudian mengambil selembar tisu diatas meja dan menyapu air matanya yang keluar akibat tertawa berlebihan.


Tak lama setelah itu Ryma langsung berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Anto kepala pelayan keluarga besar Pratama. Sedangkan Rama membaringkan tubuhnya diatas kursi santainya yang berada di balkon kamarnya.


"Haahh, bosen juga kalau udah sendiri." gumam Rama. "Nanti sore ketaman depan komplek ah." sambung Rama dan kemudian mengambil handuknya untuk segera mandi. Sebelum benar-benar masuk kamar mandi, Rama melakukan olahraga ringan dikamarnya karena masih pagi.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


Sore harinya, Rama sudah berada di taman sendirian. Awalnya ia ingin mengajak Ryma, tapi kakaknya itu ada tugas kelompok dari gurunya, jadi akhirnya mau tak mau Rama berangkat sendiri.


Dengan hoodie jaket yang menutup kepalanya, Rama melangkahkan kakinya dengan santai untuk menikmati suasana sore hari. Sesekali ia tersenyum saat melihat anak kecil berlarian di taman itu sampai-sampai ia tak memperhatikan jalannya.


BRUK


"Aduuhh ...." tiba-tiba Rama menabrak seseorang hingga terjatuh, Rama langsung menoleh dan mendapati gadis dengan rambut sebahu duduk diatas rumput.


"Eh, sorry-sorry. Gue gak sengaja." ucap Rama yang langsung mencoba membantu gadis tersebut untuk bangun.


"Rama!?" Rama yang merasa namanya disebut langsung menatap kearah wajah gadis didepannya.


"Mion?" berbeda dengan Mion, Rama tak terlalu terkejut, meski ada sedikit kesal karena harus bertemu gadis yang selalu sinis kepadanya.


"Iihh! Kenapa sih kalau ketemu kamu bawaannya sial mulu!" Rama yang mendengar itu hanya memiringkan bibirnya.


"Yang ada gue kali yang sial, tiap kali ketemu lu, gue lu omelin mulu."


"Gimana gak ngomel coba! Kamu nabrak aku mulu."


"Ya kan gue gak sengaja, gue kan udah minta maaf."


"Gak akan aku maafin!" tolak Mion mentah-mentah.


"Kok gitu?"


"Bodo!" ketus Mion sambil melipat kedua tangannya kedada dan menatap tajam kearah Rama, merasa ditatap seperti itu Rama hanya memalaskan pandangannya. "Kecuali kamu traktir aku es krim itu." tambah Mion sambil menunjuk kearah penjual es krim menggunakan mulutnya.


"Ck! Ya udah iya." Rama menarik tangan Mion untuk mengikutinya ke penjual es krim. "Nah, mau rasa apa?"


"He? Beneran ditraktir." batin Mion sedikit terkejut karena awalnya ia hanya bercanda minta belikan es krim. "Ya udahlah, kapan lagi ditraiktir gini hehe." sambung Mion dalam hati.


"Bebas nih aku mau pilih yang mana?" tanya Mion memastikan.


"Ya." jawab Rama singkat.


"Oke, jangan nyesel ya kalau aku pilih es krim yang paling mahal." Rama hanya menatap Mion sebentar dan setelah itu menyentil kening Mion.


"Beli es krim aja lama amat!"


"Ihh! Iya-iya, huh!" Mion kemudian memilih es krim kesukaannya. "Yang ini, bang. Dua." ucap Mion sambil menunjuk salah satu es krim. Rama yang mendengar Mion membeli dua es krim hanya terdiam.


"Nih anak cantik-cantik ternyata rakus juga." batin Rama sambil menatap Mion yang terlihat senang menerima es krik kesukaannya.


"Hui! Tuh buruan bayar." ucap Mion sambil menyenggol Rama.


"Iya-iya." sahut Rama malas. "Berapa, bang?" tanya Rama sambil membuka dompetnya.


"30 ribu, mas." Rama melihat isi dompetnya dan sedikit terkejut.


"Eee buset, gue lupa belum ngambil duit ke atm." batin Rama ketika melihat isi dompetnya yang hanya terdapat beberapa kartu. Mion yang melihat Rama terdiam cukup lama langsung menendang kaki pemuda tersebut.


"Kenapa? Ga ada duit?" tanya Mion.


"Ada kok,"


"Ya udah bayar."


"Di atm tapi." sahut Rama jujur, Mion yang mendengar hanya memiringkan bibirnya.


"Bilang aja ga punya duit apa susahnya sih." Rama yang mendengar itu terlihat malas meladeni Mion.


"Bang, tunggu bentar ya. Mau ke atm sana. Nih temen saya jaminannya kalau saya sampai kabur." ucap Rama sambil menarik Mion kearah penjual es krim, Mion yang merasa digadaikan oleh Rama langsung menendang kaki Rama.


"Kamu kira aku barang bisa digadain!" kesal Mion.


"Bawa aja dia kalau saya gak balik kesini, bang." Rama terlihat tak memperdulikan kekesalan Mion dan langsung meninggalkan gadis tersebut menuju ke atm diseberang jalan.


Setelah beberapa saat, Rama kembali dan berdiri disamping Mion.


"Nih, bang." ucap Rama sambil menyerahkan selembar uang 50 ribu.


"Gak ada uang pas aja, mas?"


"Gak ada, bang." sahut Rama singkat. "Yaudah, kembaliannya ambil aja deh, bang." mendengar itu, penjual es krim tersenyum senang dan berterima kasih kepada Rama.


Merasa tak ada yang diperbuat lagi, Rama dan Mion berjalan bersama menikmati suasana sore hari di taman itu.


"Nih." Rama menghentikan langkahnya ketika Mion menyodorkan satu es krim kepadanya.


"Gue gak suka es krim." jawab Rama singkat dan menolak es krim pemberian Mion.


"Terima aja sih apa susahnya! Aku mana bisa ngabisin es krim dua sekaligus." jujur Mion yang kembali menyodorkan es krim kepada Rama.


"Terus lo ngapain minta dua tadi?"


"Ya buat kamu lah! Udah terima aja, dikasih gratis kok nolak." mendengar perkataan Mion itu membuat Rama memiringkan bibirnya.


"Jelas-jelas gue yang bayarin," batin Rama menatap keki kearah Mion, sedangkan Mion tampak tak tahu menahu menikmati es krim bagiannya. "Ya udah sini."


"Nahh, gitu dong. Rejeki jangan ditolak."


"Bodo."


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


#BERSAMBUNG ...