
Hari ini Rama sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, luka dan lebam diwajahnya sudah mulai samar meski masih terasa sakit ketika dipegang. Ia tengah sibuk berdiri didepan cermin untuk memasang dasinya karena hari ini upacara pagi senin.
"Ram, udah jam 6.48 nih, buruan!" teriak Ryma dari lantai dasar.
"Iya! Bentar lagi!" sahut Rama yang juga berteriak dari dalam kamarnya dilantai dua.
Tak lama kemudian terlihat Rama menuruni tangga sedikit tergesa-gesa, ia langsung mengambil rotinya dan juga gelas yang berisi coklat panas.
"Buruan, Rym. Nanti telat." ucap Rama terburu sambil memasang kaos kakinya, sedangkan Ryma hanya memiringkan bibirnya mendengar ucapan Rama.
"Sendiri yang lama, malah ngasih tau orang." sinis Ryma dengan santai mengunyah roti bagiannya.
~~
Kini Rama dan Ryma sudah berada di parkiran, hanya ada beberapa siswa dan siswi disana. Mereka semua melihat kakak beradik yang baru saja tiba. Rama maupun Ryma mendengar beberapa siswa maupun siswi sedang membicarakan mereka berdua, bagaimana tidak, melihat pemuda tampan dengan gadis cantik, tentu membuat orang lain yang melihat itu merasa iri.
Rama tidak memperdulikan itu dan sibuk membenarkan dasinya yang sedikit berantakan akibat ngebut dijalan tadi. Ryma yang melihat itu mencoba membantu adiknya tersebut, dan itu semakin membuat orang lain iri.
"Aku denger dari Dara, katanya ada siswa sama siswi baru di sekolah kita." tiba-tiba telinga Rama dan Ryma mendengar percakapan dua orang siswi yang lewat didekat mereka.
"Terus?" tanya teman siswi tersebut.
"Katanya mereka berdua anak dari pemimpin perusahaan Pratama Group,"
"Oya? Wahh, gak nyangka ternyata sekolah kita hebat juga bisa menarik perhatian anak dari Pratama Group."
"Iya, keren. Tapi aku gak pernah liat mereka berdua, jadi penasaran sama tampang mereka."
Kedua siswi itu berlalu begitu saja, sedangkan Rama maupun Ryma hanya memalaskan matanya setelah mendengar percakapan tersebut.
"Sepertinya kita berdua harus menyembunyikan identitas kita lagi." ucap Ryma tanpa ekspresi sambil terus memasang dasi Rama karna kegiatannya itu sempat terhenti saat dua orang siswi sebelumnya melewati mereka.
"Sebenarnya gue udah bosen sih harus pura-pura pacaran sama lo," sahut Rama malas.
"Kenapa gitu?" tanya Ryma dengan alis naik sebelah.
"Lo galak." jawab Rama cuek dan itu sukses membuat Ryma kesal dan menarik dasi Rama sampai-sampai pemuda itu tercekik dasinya sendiri.
"Gue kecekik!" sewot Rama setelah kakaknya itu melepaskan tarikan didasinya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengawasi perbuatan kakak beradik tersebut.
"Itu Ryma kok kayaknya akrab banget sama Rama, apa mereka ada hubungan spesial ya?" gumam orang tersebut sampai sebuah tepukan mengejutkannya.
"Woi! Ve!"
"Ya ampun, kaget." Ve mengelus dadanya. "Ish! Ngagetin aja!" kesal Ve dan memukul bahu pemuda yang sudah membuatnya olahraga jantung dipagi hari.
"Lo ngapain sih? Kayak istri lagi mata-matain suaminya yang ketahuan selingkuh aja."
"Suutt!" Ve menempelkan telunjuknya dibibir pemuda tadi. "Arya, coba liat kesana." sambung Ve menunjuk kearah parkiran. Pemuda bernama Arya pun mengikuti arah tunjukan Ve.
"Itukan Ryma sama siswa baru kelas IPS, lupa gue namanya. Kemarin Sinka ada bilang nama tuh anak." Arya menggaruk-garuk perutnya dengan ekspresi wajah sedang berpikir dan itu membuat Ve kesal sekaligus tertawa.
"Ada gitu orang lagi mikir malah garuk-garuk perut." ucap Ve tertawa kecil. "Biasanya orang garuk-garuk kepala." sambungnya.
"Ck, banyak komentar lu!" sewot Arya. "Yuk buruan kehalaman depan, bentar lagi upacara mulai." ajak Arya dan tangannya mengarah ke pipi tembem Ve dan langsung menariknya agar Ve mengikutinya.
"Arya, cakit!" sewot Ve dengan suara tak jelas namun Arya tidak memperdulikannya.
"Aaargg! Ve! Sakit! Sakit!" teriak Arya ketika Ve menggigit jarinya dengan geram. "Ampun, Ve. Ampun." Ve menatap tajam kearah Arya yang mana jari telunjuk Arya masih digigit olehnya.
"Ggrrrr!" Ve memperkuat gigitannya dan itu sukses membuat Arya berteriak meminta maaf karena sudah menarik pipinya.
Sedangkan ditempat lain, Sinka dan Mion sudah berada dibarisan kelasnya karena sebentar lagi upacara pagi senin dimulai.
"Ve, Arya sama Ryma mana ya, kok belum keliatan." ucap Sinka sambil mengedarkan pandangannya kearah kerumunan siswa didepannya.
"Itu Ve." Mion menunjuk kearah Veranda yang berjalan dengan langkah cepat, dan dibelakangnya terlihat laki-laki sedang mengelus-elus jari telunjuknya.
"Digigit singa betina!" jawab Arya kesal dan langsung ditatap tajam oleh Ve.
Sinka dan Mion mengangguk mengerti setelah melihat Veranda yang menatap tajam Arya.
"Tinggal Ryma berar ...." belum selesai Sinka bicara, tiba-tiba matanya melihat sepasang remaja yang sedang berjalan beriringan kearah mereka.
"Itu Ryma," ucap Arya yang juga melihat Ryma yang sedang bercanda dengan Rama.
"Itu bukannya Rama ya? Kok keliatannya mereka akrab banget." ucap Sinka penasaran, begitu juga dengan Ve dan Arya. Berbeda dengan Mion, gadis ini menatap lekat kearah Ryma yang tertawa lepas ketika bersama pemuda yang baru beberapa hari bertemu dengannya di taman. Begitu juga Rama yang begitu leluasa berbicara dengan Ryma.
"Hui! Ngumpul gak ngajak-ngajak." tiba-tiba Izy datang dan merangkul pundak Sinka dan Ve.
"Dari mana lu, Zy?" tanya Arya yang baru sadar sedari tadi ia tak melihat keberadaan sahabatnya itu.
"Dari toilet," jawab Izy singkat ketika ia mendapatkan pukulan oleh Sinka dan Ve. "Oiya, kalian tau gak ...."
"Gak tau." belum selesai Izy bicara langsung dipotong oleh Sinka.
"Belum kelar woi!" kesal Izy ketika Sinka memotong ucapannya.
"Emang apa?" tanya Ve penasaran.
"Katanya di sekolah kita ada siswa sama siswi baru."
"Terus kenapa? Gitu aja harus heboh ya?" tanya Mion bingung.
"Nggak sih, tapi gue dengar kabar, mereka anak dari pemimpin Pratama Group, lu semua pasti tau kan Pratama Group itu perusahaan gimana." jelas Izy yang mengulang perkataan beberapa siswa yang ia temui saat di toilet.
"Masa sih? kok aku gak pernah denger ya, setau aku siswa sama siswi baru di sekolah kita cuma Rama sama Ryma deh." sahut Ve yang kini Ryma baru saja datang dan menghampiri teman-temannya
"Pagi." sapa Ryma ceria dan dibalas pelukan hangat dari Sinka.
"Pagi-pagi udah jadi teletubbies aja." sinis Arya yang melihat Sinka memeluk Ryma, begitu juga Mion.
"Iri bilang, bos." sahut Sinka dan Mion kompak, sedangkan Arya hanya memiringkan bibirnya dan mereka semua langsung mentertawakan Arya.
"Lagi ngomongin apa sih? Serius banget tadi aku liat." tanya Ryma kepada Sinka.
"Ini, Rym. Katanya sekolah kita ada siswa sama siswi baru, terus mereka itu katanya anak dari pemimpin Pratama Group."
Ryma yang mendengar penjelasan Sinka seketika terdiam dan sedikit terkejut, ia tak menyangka bahwa kepindahannya dengan Rama bisa tersebar dengan cepat. Tapi beruntungnya mereka semua tidak tahu rupa maupun nama dari dua murid baru tersebut. Jika saja mereka semua tahu itu, tentu saja akan merepotkan Rama maupun Ryma, apalagi jika yang mengetahui itu adalah cewek matre atau cowok penjilat yang isi otaknya hanya uang.
"Apa jangan-jangaaann ...." Sinka menatap Ryma dengan seksama dan itu sukses membuat jantung Ryma berdetak lebih cepat. "Kamu belum makan ya, Rym? Suara perut kamu kedengeran." sambung Sinka karena ia mendengar suara perut temannya itu. Sedangkan Ryma menghela nafasnya dengan perasaan lega, ia sempat khawatir jika sampai identitasnya ketahuan.
"I-iya, tadi cuma sempet makan roti dikit." jujur Ryma karena memang ia hanya memakan rotinya sedikit akibat Rama yang mendesaknya agar cepat berangkat.
"Yaudah, nanti habis upacara kita makan ke kantin." ajak Sinka.
"Emang boleh? Bukannya itu udah jam pertama."
"Santai aja kalau sama aku." ucap Sinka angkuh sedangkan Ryma hanya tertawa kecil dan mengangguk.
"Makan mulu, dasar panda gembul." ejek Arya kepada Sinka.
"Biarin, yang penting tetap lucu." sahut Sinka sambil menjulurkan lidahnya.
Sebenarnya badan Sinka tidak gemuk, untuk ukuran wanita postur tubuh Sinka bisa dibilang proporsional antara berat dan tinggi badan. Hanya saja ia sering dipanggil panda gembul karena pipinya yang tembem, begitu juga dengan Veranda yang memiliki pipi bulat dan sering disebut teman-temannya pipi bakpao.
Berbeda dengan Mion, gadis satu ini lebih pendek dari Sinka maupun Ve, Mion hanya sebatas telinga Sinka ketika berdiri berdampingan. Tapi jika dibanding dengan Ryma, Mion justru terlihat lebih pendek karena Ryma lebih tinggi dari Sinka maupun Ve. Tapi justru itu yang membuat Mion terlihat lebih imut dan lucu, ditambah wajahnya yang khas seperti gadis Jepang.
Bahkan ketika Mion bersama Rama saat di taman beberapa hari lalu, ia hanya sebatas pundak pemuda tersebut, jika saja Mion memeluk tubuh Rama, maka ia pasti akan mendengar detak jantung pemuda tersebut.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ...