
Jam istirahat pertama benar-benar dimanfaatkan oleh seluruh murid di SMA 2 dengan baik, hampir seluruh murid berada di kantin untuk sekedar mengisi perut atau cuma sekedar menghilangkan dahaga. Tapi ada juga yang berada di perpustakaan, memanfaatkan waktu untuk mencari bahan beberapa tugas dari guru.
Seperti yang dilakukan oleh Rama, pemuda ini terlihat sedang mencari beberapa buku untuk mengerjakan tugas selama ia izin kemarin.
"Halo, kak." sapa seorang gadis kepada Rama yang tengah sibuk membaca daftar isi dari buku ditangannya.
"Iya?"
"Lagi ngapain, kak?" siswi ini tampak malu-malu sedangkan Rama juga terlihat tidak terlalu peduli.
"Lagi nyari bahan buat tugas." balas Rama singkat dan kembali melihat daftar isi buku ditangannya.
"Oiya, kak. Kita belum kenalan, aku Dara murid kelas 11 IPA 1, kakak?" ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
"Rama," balas Rama menerima uluran tangan gadis didepannya.
Gadis itu terlihat sangat senang karena Rama menerima uluran tangannya, saat ia hendak berbicara kembali, seorang gadis lainnya mendekat dan berdiri di samping pemuda tersebut.
"Rama, udah dapet gak bukunya?" tanya gadis itu kepada Rama.
"Eh, Dinda. Baru dapet satu judul buku, satu lagi."
"Yaudah sini aku bantu."
"Kalau gak ngerepotin, boleh." sahut Rama yang melupakan keberadaan Dara adik kelas Ryma.
Tanpa sepatah kata, Rama meninggalkan Dara yang terpaku akibat kedatangan Dinda yang secara tiba-tiba. Dara menatap kesal kearah Dinda, karena ia berpikir bahwa kedatangan Dinda mengacau rencananya untuk mendekati Rama.
"Oiya, Ram. Kamu kenal sama anak kepala sekolah ya?" mendengar itu membuat Rama menyeringitkan keningnya dan menatap Dinda bingung.
"Anak kepala sekolah? Siapa?"
"Loh, itu tadi kamu ngobrol sama anak kepala sekolah, si burung Dara." jelas Dinda sedangkan Rama hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Enggak, gue aja tadi kaget dia ngajak kenalan." mendengar itu membuat Dinda tertawa.
"Keren loh, di sekolah ini banyak yang coba deketin dia. Tapi semua cowok dicuekin sama dia dan sekarang dia malah nyoba deketin kamu." ucap Dinda sambil tertawa melihat ekspresi Rama yang menurutnya lucu.
"Udahlah, malah bahas gituan." Rama memutar tubuh Dinda dan mendorong pelan agar kembali mencari satu buku tersisa.
"Satu lagi, Ram."
"Apa?"
"Kamu punya hubungan apa sama anak baru di kelas XII IPA?" tanya Dinda menoleh kearah Rama, mendengar pertanyaan itu Rama terdiam beberapa saat.
"Siapa?" tanya Rama balik.
"Namanya Ryma kalau gak salah."
"Hmm, nggak terlalu kenal sih. Cuma gak sengaja beberapa hari lalu ketemu, terus ngobrol deh." Dinda menatap Rama dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa lu?" tanya Rama datar.
"Gapapa, hehe. Ternyata kalau diliat-liat kamu ganteng juga." jawab Dinda jujur sambil cengengesan.
"Stres lu." balas Rama sambil menyentil kening Dinda pelan.
~~
Di kantin, Ryma juga mendapat pertanyaan yang sama seperti Rama, yaitu tentang hubungan Ryma dengan Rama yang terlihat sangat dekat.
"Jadi apa, Rym?" tanya Sinka menatap Ryma serius, ditatap seperti itu oleh teman-temannya membuat Ryma canggung dan bingung mencari jawaban untuk menjelaskan.
"Eee, kita cuma temen doang kok, temen waktu kecil di Bandung dulu." Ryma terpaksa berbohong karena ia tidak ingin identitasnya sebagai anak dari Pratama Group terbongkar, karena semua orang tahu bahwa pemimpin Pratama Group memiliki sepasang anak kembar, tapi tidak ada yang mengetahui bagaimana rupa ataupun nama dari keduanya.
Ve, Sinka, Vanya dan Mion hanya mengangguk tanda mengerti.
"Oiya, Panya." panggil Ryma kepada Vanya yang duduk didepannya.
"Vanya, Rym. Bukan Panya." ralat Vanya karena Ryma selalu menyebut namanya dengan sebutan Panya.
"Panya," ulang Ryma lagi.
"V-a-n-y-a, Vanya." Veranda mengeja nama Vanya.
"Panya." Ryma tetap menyebut nama Vanya dengan sebutan Panya.
Mion dan Sinka tergelak mendengar Ryma yang kesusahan menyebutkan huruf 'V'.
"Lidah orang Bandung emang gitu ya, Rym?" tanya Mion sambil tertawa.
"Nggak semua juga sih, sebagian emang gak bisa bilang P."
"V," ucap Sinka sambil meminta Ryma mengulanginya.
"P," Ryma dengan wajah polos mengulangi perkataan Sinka dan itu sontak membuat mereka semua tertawa.
"Veranda, coba ulang." sekarang giliran Mion yang meminta kepada Ryma.
"Peranda." Ryma lagi-lagi mengikuti permintaan teman-temannya dengan wajah polos.
"Lucu banget sih." Sinka dan Mion serempak memeluk Ryma dengan perasaan gemasnya.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
Pulang sekolah, Rama lagi-lagi berkunjung ke taman depan komplek rumahnya. Kali inipun sama seperti sebelumnya yaitu hanya ia sendiri karena Ryma masih harus menyelesaikan tugas kelompoknya.
"Kak Rama," sapa seorang gadis saat Rama ingin membeli minum.
"Dara, bukan?" tanya Rama memastikan dan dibalas anggukan oleh gadis tersebut.
"Kakak lagi ngapain?"
"Lagi jalan-jalan aja sih."
"Dara temenin boleh gak, kak?" mendengar itu membuat Rama menghela nafasnya pelan, sedangkan gadis didepannya ini menatap Rama dengan penuh harap.
"Yaudah, yuk."
Mereka berdua mengarah ke bangku panjang yang berada di taman itu, Rama tak banyak bicara saat bersama Dara, hanya sesekali untuk menjawab pertanyaan gadis tersebut.
"Oiya, kak. Cewek yang di perpus tadi itu pacar kakak?"
"Siapa? Dinda? Bukan, cuma temen doang." jawab Rama jujur.
Dara tersenyum manis mendengar itu, sedangkan Rama tampak tak peduli dan fokus dengan smartphonenya.
"Rama?" merasa ada yang menyebut namanya, Rama menoleh dan mendapati Ryma bersama Mion yang berjalan kearahnya dan juga Dara.
"Loh, Rym? Kok ada disini?" tanya Rama bangkit, ia sangat berharap kakaknya itu bisa membawanya kabur dari Dara.
"Iyalah, kita kan ngerjain tugas kelompok disini." jawab Ryma tersenyum lalu ia menoleh kesamping Rama.
"Dia siapa, Ram?" tanya Ryma kepada Rama, Mion juga menyadari keberadaan Dara adik kelasnya itu. Mion menatap Dara dengan tatapan kurang suka.
"Oh iya, kenalin ini Dara." Rama memperkenalkan Dara kepada Ryma dan Mion.
"Kenalin, kak. Aku Dara, pacarnya kak Rama." ucap Dara dan memeluk pergelangan Rama.
Sontak saja baik itu Rama, Ryma maupun Mion terkejut, terlebih Rama karena Dara mengaku-ngaku sebagai kekasihnya.
"Ngg ...." baru saja Rama ingin membantah, Ryma malah tertawa dan menunjuk kearah adiknya itu.
"Wahh, selamat ya. Jagain tuh anak orang baik-baik." ucap Ryma yang masih tertawa.
Sebenarnya Ryma tahu bahwa gadis disamping adiknya itu hanya mengaku-ngaku, karena ia sudah sangat hapal dengan sikap Rama yang tak mudah untuk suka dengan wanita. Terlebih Ryma juga mengetahui masa lalu Rama waktu dengan Salsa sahabatnya itu.
Berbeda dengan Ryma, Mion justru salah paham dan mengira bahwa Rama sudah berpacaran dengan Dara. Mion sebenarnya tidak peduli dengan itu, hanya saja ia mengetahui siapa sosok Dara sebenarnya, itu yang membuat Mion menatap tidak suka dengan Dara.
"Masa type cewek Rama anjlok banget sih ...." batin Mion menatap sendu kearah Rama.
"Kenapa lu?" tanya Rama yang sadar diperhatikan.
"He? Nggak." sahut Mion cepat dan memalingkan wajahnya, sedangkan Rama menatap Mion dengan tatapan menyelidiki.
"Jangan main rahasia-rahasiaan sama suami sendiri." ucap Rama tanpa sadar dan sukses membuat Ryma dan Dara mengangakan mulutnya tak percaya. Begitu juga dengan Mion, kini wajah gadis berambut sebahu itu merah padam menahan malu karena Rama yang keceplosan.
"Kok tiba-tiba pengen bakar orang ya." ucap Mion santai sambil sesekali melirik kearah Rama.
Ryma dan Dara masih tak menyangka dengan apa yang Rama ucapkan tadi, mereka berdua masih terdiam menatap Rama dan Mion bergantian.
"KALIAN UDAH NIKAH!?" teriak Ryma dan Dara bersamaan kearah Rama dan Mion.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ....