
Disalah satu rumah di komplek perumahan Lily, seorang gadis tengah melamun seolah sedang memikirkan sesuatu. Gadis ini duduk dengan kaki menjuntai dibawah kursi santainya.
"Apa Rama tinggal di komplek ini ya?" gumam gadis tersebut sambil mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya. "Kalau iya, berarti Rama bukan orang sembarangan dong, gak bisa diremehin." sambungnya yang kini menyandarkan tubuhnya sampai akhirnya ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Nona muda, ini minumannya." terdengar oleh telinga gadis tadi suara wanita paruh baya yang berada didepan pintu kamarnya, ia kemudian beranjak dan membuka pintu.
"Makasih ya, bi." ucap gadis itu dengan lembut dan dibalas anggukan oleh wanita tersebut.
"Ada yang bisa bibi bantu lagi, non?"
"Hmm, gak ada, bi. Bibi istirahat aja, Geby nanti bisa lakuin sendiri kok kalau ada apa-apa." sahut gadis bernama Geby ramah.
Setelah kepergian asisten rumah tangganya, Geby kembali masuk ke kamarnya dan kembali duduk dikursi santainya.
"Kalau dipikir-pikir sih, si Rama orang baik-baik meski rada cuek sama misterius. Boleh juga jadi saingan baru di kelas." gumam Geby sambil membayangkan Rama mengambil alih posisinya yang berada diperingkat pertama di kelas. "Menarik, kita lihat apa Rama berhasil menggeser posisiku." sambungnya lagi.
Masih di komplek perumahan Lily, terlihat Ryma sedang bermalas-malasan diatas kasur Rama, sedangkan pemuda pemilik kamar hanya memandang datar kearah kakaknya itu.
"Tau aja lu kalau gue baru belanja." sinis Rama sambil menatap Ryma sedang menyantap makanan ringan yang ia beli tadi sore.
"Ya mau gimana lagi, kamu bawa makanan ngelewatin kamar siapa?." balas Ryma enteng dan itu membuat Rama mendumel-dumel pelan.
"Beli makanan sendiri lah, masa punya gue mulu diembat."
"Kamu gak ngajak pas mau keluar."
"Lah? Udah gue bilang kalau gue mau ke minimarket depan, tapi lo malah nangis-nangis gak jelas depan tv." sewot Rama kepada Ryma yang menyalahkan dirinya. Ryma mencoba mengingat saat adiknya masuk kedalam kamarnya dan bilang bahwa ingin pergi ke minimarket, tapi dirinya malah sibuk menangis sambil menonton drama Korea favoritnya.
"Itu karna pemeran utama difilm itu meninggal gara-gara dibunuh." Ryma mencoba berkilah dan hanya dibalas pandangan datar dari Rama.
"Cuma drama doang, sok-sokan baperan lu." kesal Rama sambil melempar bantal tepat mengenai wajah Ryma.
"Itu artinya akting pemerannya bagus karna berhasil bikin penonton ikut merasakan tiap adegan." mendengar itu, Rama memiringkan bibirnya.
"Gue mau tidur, awas kalau lo tidur di kamar gue lagi kayak kemarin." sinis Rama sambil membaringkan tubuhnya, ia sebenarnya ingin mengusir Ryma dari kamarnya, tapi mengingat bagaimana sifat Ryma membuatnya tak ada pilihan lain selain membiarkan kakaknya itu keluar sendiri.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
Keesokan harinya, semua murid SMA 2 Jakarta berhamburan untuk pergi ke kantin karena sekarang adalah jam istirahat pertama. Sama halnya seperti yang lain, Rama baru saja keluar dari toilet khusus laki-laki dan ingin pergi ke kantin menyusul teman-temannya.
Tapi baru beberapa langkah keluar dari toilet, ia mendengar suara laki-laki dan perempuan yang sedang bertengkar.
"Dara, gue itu suka sama lo, apa lo gak pernah sadar?" tanya pemuda itu sambil memegang tangan kanan Dara dengan erat.
"Gue gak suka sama lo, Ren. Jangan ganggu gue lagi." sinis Dara dan mencoba berontak.
"Gue gak bakal lepasin lo begitu aja, Dar. Lo harus jadi milik gue!" Rendy mempererat cengkraman tangannya dan itu membuat Dara meringis.
"Lepas, Ren! Sakit" Dara mendorong Rendy sekuat tenaga dan itu berhasil membuat cengkraman Rendy lepas.
"Wahh, berani lo sama gue? Hah!" Rendy balas mendorong Dara sampai-sampai tubuh gadis satu ini membentur dinding. "Jangan lo kira gue ini takut sama lo hanya karna nyokap lo kepala sekolah disini!" geram Rendy sambil menekan pipi Dara.
"Cukup, Ren! Gue gak suka sama lo! Belum pacaran aja udah kasar! Apalagi nanti pas udah pacaran!" Dara menantang balik dan itu membuat Rendy murka, ia kemudian mengangkat tangan kanannya dan berniat memukul Dara.
PLAK
Tiba-tiba ada sebuah tangan menahan tangan Rendy yag berniat menampar Dara, Rendy menoleh ke belakangnya dan mendapati seorang pemuda menatapnya dengan ekspresi dingin. Dara yang tidak merasakan sakit mencoba membuka matanya dan terkejut setelah melihat seseorang baru saja menolongnya.
"Kak Rama!?"
Rama kemudian melepaskan genggaman tangannya dipergelangan tangan Rendy dan kemudian menarik Dara agar bersembunyi dibelakangnya.
"Siapa lo!?" tanya Rendy kesal karena Rama menghentikan perbuatannya dan menarik Dara ke belakang tubuhnya.
"Apa ucapan Dara sebelumnya tidak begitu jelas ditelingamu?" tanya Rama balik, karena sebelumnya Dara sudah menyebut namanya cukup jelas. "Apa alasannya?" tanya Rama dan dibalas tatapan bingung oleh Rendy.
"Apa alasan lo mau mukul Dara?" tanya Rama lagi.
"Apa urusan lo!?" kesal Rendy dengan tangan mengepal.
"Oh, jelas jadi urusan gua. Karna lo berani mukul cewek." balas Rama enteng.
"Dia dorong gue, wajar dong gue balas."
"Cih, alasan sampah." balas Rama sambil memandang remeh Rendy. "Lo denger baik-baik, sekasar-kasarnya perlakuan cewek ke cowok. Dia gak mungkin ngajak lo buat baku hantam, gak mungkin dia ngajak lo duel tinju. Lo pernah mikir sampai kesana gak?" tanya Rama lagi dan itu membuat Rendy terdiam.
Merasa Rendy tak menjawab pertanyaannya, Rama menarik tangan Dara dan pergi meninggalkan Rendy.
"Sampah! Beraninya lo bikin gue malu depan Dara! Awas lo, gue bakal balas perlakuan lo tadi."
Ditempat lain, Rama masih memegang tangan Dara dan mengajaknya ke kantin. Sesampainya di kantin, sontak saja mereka berdua menjadi perhatian orang-orang di kantin. Dara yang sadar menjadi pusat perhatian, langsung memanfaatkan situasi memeluk pergelangan tangan Rama seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Rama adalah miliknya.
"Rama pacaran sama Dara?" tanya Veranda kepada teman-temannya.
"Kayaknya," sahut Vanya yang juga memperhatikan Rama dan Dara.
"Kayaknya nggak deh, liat aja itu kayaknya si Dara aja yang kegatelan. Rama nya aja cuek gitu." ucap Izy yang melihat gerak-gerik Rama yang merasa risih digandeng Dara.
"Cewek gak tau malu, kalau nyokapnya tau kelakuan anaknya kayak gitu, pasti malu banget." Sinka akhirnya buka bicara, sedangkan Mion hanya mengangguk setuju.
"Iya, kasian kepala sekolah punya anak kayak gitu." ucap Mion yang setuju dengan perkataan Sinka.
"Ckckck, untung adek aku gak kayak gitu."
"Ngebayangin punya adek kayak gitu, kok horor ya."
"Jangan dibayangin, nanti otak kamu ternodai."
Veranda, Vanya, Arya dan Izy hanya memiringkan bibir mendengar percakapan Sinka dan Mion yang mengomentari anak kepala sekolah, mereka sudah kenal Sinka dan Mion lama, Mion orang yang cerewet dan tak pandai diam, sama seperti Sinka. Jadi mereka tak heran ketika Mion dan Sinka sangat dekat.
Berbeda dengan empat temannya, hanya Ryma yang tertawa mendengar percakapan Mion dan Sinka, menurutnya kedua temannya itu sangat cocok. Ryma kemudian menatap kearah Rama yang kini duduk berhadapan dengan Dara. Adiknya itu terlihat tidak peduli, hanya Dara yang berbicara dan sesekali mengacak-acak rambut Rama seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Rama itu adalah kekasihnya.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ....