
She’s My Sister, Not My Girlfriend
(Sebuah Kisah Sebuah Cerita)
Di sebuah taman komplek, bola basket menggelinding perlahan kearah kaki seorang gadis kecil yang sudah dibanjiri oleh keringat.
“Curang!” kesal seorang anak laki-laki yang tengah terbaring ditengah lapangan basket.
“Bleeeee ….” Gadis itu memungut bola tersebut dan menjulurkan lidahnya untuk meledek pemuda tadi. Gadis itu menggiring bola kearah ring basket dan dengan mantap ia melompat dan memasukan bola kedalam ring.
“Nami menang, yeeeyyy ….” Teriak gadis yang bernama Nami dengan girang karena berhasil mengalahkan pemuda yang terlihat kesal.
“Ulang, mana bisa gitu.”
“Apa yang diulang, kalah ya kalah, bleeee ….”
“Kamu curang, apaan tadi main asal tending aja. Main basket gak pake kaki.”
“Bodo, yang penting menang.” Gadis itu kini melompat kesana kemari untuk merayakan kemenangannya, sedangkan anak laki-laki tadi hanya memandang keki kearah gadis didepannya. “Oke, lets go!” Sambung Nami dengan semangat berjalan keluar dari lapangan basket.
“Kemana?” Tanya anak laki-laki itu dengan heran.
“Ihhh, kan udah perjanjian kemarin. Yang kalah harus traktir yang menang makan sepuasnya.” Sahut Nami sambil menatap anak laki-laki yang berada disampingnya dengan tatapan kesal.
“Kapan bikin perjanjian gitu?”
“Tuhkan! Nami udah bisa nebak, pasti kamu bakal lupa!” mendengar itu membuat anak laki-laki tadi cengengesan.
“Becanda.” Sahut anak laki-laki itu nyengir.
“Huh!”
Mereka berdua melangkahkan kakinya kearah warung makan yang ada di taman, gadis kecil itu dengan santainya mengambil kerupuk yang ada didalam toples dan melahapnya. Sedangkan anak laki-laki yang bersamanya terlihat bingung dengan warung tersebut.
“Nami, kok restorannya kayak gini sih.” Bisik anak laki-laki itu dengan polos.
“Restoran?” balas Nami dengan tatapan heran. “Siapa yang bilang ini restoran, Ra?” sambungnya
“Terus?”
“Ini kan warung makan biasa dipinggir jalan.” Jelas Nami dengan singkat dan mulutnya penuh dengan kerupuk. “Makanya sekali-kali makan ditempat kayak gini, jangan di restoran mulu.”
“Ara mana pernah diajak ayah bunda makan ditempat kayak gini.”
Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri mereka berdua dan mulai mencatat pesanan mereka. Pelayan tersebut merasa lucu dengan dua anak kecil tersebut karena kedekatan mereka berdua.
“Kalian pacaran ya?” tanya pelayan itu iseng dan dibalas tatapan aneh oleh Nami dan anak laki-laki bernama Ara.
“Pacaran itu apa, kak?” tanya Ara dengan wajah polosnya, mendengar jawaban anak laki-laki itu membuat pelayan tersebut tak kuasa menahan tawanya, apalagi melihat wajah polosnya itu.
“Lucu banget sihhh ….” Ucap pelayan tadi sambil mengacak-acak rambut Ara dan kemudian berbalik untuk menyiapkan pesanan mereka.
Tentu saja mereka berdua tidak tahu apa arti dari pacaran, mereka baru saja menduduki kelas tiga sekolah dasar. Melihat itu membuat Ara dan Nami saling pandang dengan perasaan bingung.
“Orang dewasa itu aneh.” Komentar Nami yang kemudian memasukan kerupuk ke dalam mulutnya sedangkan Ara mengangguk setuju. “Habis ini ajarin Nami main basket lagi ya.” Sambung gadis kecil itu lagi.
“Terserah, asal jangan curang lagi.” Tak lama kemudian pesanan mereka berdua datang, terlihat gadis bernama Nami memandang pesanannya dengan nafsu yang menggebu-gebu sedangkan Ara hanya menatap pesanannya yang begitu asing baginya.
“Kenapa gak dimakan pecelnya, Ra?”
“O-oh, i-iya.”
She’s My Sister, Not My Girlfriend
Malam harinya, di taman Kamboja terlihat seorang gadis tengah bermain basket sendirian. Gadis ini tampak kesal karena sedari tadi lemparannya tak masuk satupun ke dalam ring. Ia kembali mengambil bola basket yang menggelinding menjauh darinya dan kembali mencoba melempar bola tersebut dan lagi-lagi bola memantul jauh dan berhenti tepat disamping kaki seorang pemuda.
“Wahhh, ada cewek main basket malem-malem nih.” Ucap pemuda itu membungkukan badannya dan memungut bola tersebut. Gadis itu mencoba mengenali pemuda tersebut karena posisi pemuda itu berada dibelakang lampu taman sehingga wajahnya tidak terlalu jelas, apalagi pemuda itu mengenakan hoodie jaketnya.
“Emm, boleh lempar bola basketnya kesini.” Ucap gadis tersebut dengan segan karena merasa takut jikalau pemuda itu bermaksud jahat.
Tiba-tiba saja pemuda itu melempar bola yang ada ditangannya kearah ring basket dengan sebelah tangan, melihat itu membuat gadis itu terkejut dan memandang bola yang kini memantul-mantul.
“B-bagaimana caranya?” kagum gadis itu ketika melihat pemuda yang berada dikegelapan dengan santainya memasukan bola hanya menggunakan sebelah tangan.
“Berusahalah dengan sekuat tenaga.” Sahut pemuda itu dengan santai dan melangkahkan kakinya kearah bangku terdekat untuk sekedar menonton gadis itu latihan.
Saat pemuda itu duduk, dengan jelas gadis tersebut melihat wajah yang tak begitu asing baginya.
“R-Rama?” ucapnya tak percaya.
“Hai,” sapa pemuda yang bernama Rama dengan santai.
“Rumah gue kan deket sini, wajar dong.”
“Emang rumah kamu dimana?”
“Gak penting, mending lo lanjutin latihan. Gue penasaran sehebat apa sih gadis yang latian basket sendirian malam-malam gini.” Mendengar itu membuat gadis tersebut memanyunkan bibirnya dan mengambil bola basket dan mencoba kembali melemparnya.
Tiga puluh menit berlalu, dari sekian banyak percobaan yang dilakukan gadis tersebut hanya beberapa kali berhasil.
“Ngantuk gue liat lu daritadi.” Mendengar ejekan Rama membuat gadis itu berdecak kesal.
“Makanya ajarin dong!”
“Loh? Bukannya tadi lo takut sama gue? Tadi pas gue disana.” Ucap Rama sambil menunjuk posisi ia berdiri sebelumnya.
“Sok tau! Siapa juga yang takut.” Sanggah gadis itu cepat, “Kalau gak mau ngajarin Mion ya udah, gausah ngeledekin.” Sambungnya dengan kesal, melihat itu membuat Rama terkekeh dan bangkit dari duduknya.
“Yaudah, sini bola basketnya. Daripada lo lempar-lempar ga jelas, mending duel sama gue.” Mendengar itu membuat Mion tertegun.
“Ya jelas Mion yang kalah! Ngelempar sendirian aja gak masuk-masuk, apalagi sambil diganggu pas duel.” Sewot Mion dengan cepat tapi ia menuruti ucapan Rama sebelumnya yang meminta bola basket untuk dilempar kepadanya.
“Belum coba udah bilang ga bisa, lemah.” Ledek Rama dengan santai memantul-mantulkan bola basket ke lantai.
Mendengar itu membuat Mion panas kupingnya dan dengan langkah mantap ia mendekati Rama.
“Oke, takut siapa!” ucap Mion lantang sambil menatap tajam Rama.
“Siapa takut!” sahut Rama keki membenarkan perkataan Mion sebelumnya. “Oke, peraturannya Cuma ada satu, kalau lo bisa cetak score sekali aja, lo menang.” Sambung Rama yang memberitahukan peraturan duel mereka.
“Terus kamu?”
“Kalau gue bisa cetak score sepuluh, gue menang.” Mendengar itu membuat Mion semakin kesal karena peraturan itu sangat meremehkan dirinya.
“Oke, jangan nangis kalau kalah ya.” Balas Mion menatap tajam Rama.
“Kalau lo menang, gue traktir lo makan sepuasnya satu hari penuh.”
“24 jam?” Tanya Mion memastikan.
“Iya, sepuas lo.” Jawab Rama enteng.
“Kamu serius?” Tanya Mion dengan mata berbinar.
“Kalau lo bisa ngalahin gue.”
“Oke, tak….”
“Siapa takut!” potong Rama sambil menyentil kening Mion pelan, sedangkan Mion mengaduh pelan.
Rama melangkah ke tengah lapangan sambil sesekali memantulkan bola ke lantai, Mion mengikuti langkah Rama dan dapat Mion cium aroma wangi parfum yang pemuda didepannya itu gunakan.
“Siap?” Tanya Rama kepada Mion yang kini berdiri tepat didepannya.
“Siap!” sahut Mion mantap dan Rama langsung melempar bola ditangannya kearah Mion, dengan sigap Mion menangkap bola tersebut dan mulai membawa bola untuk melewati Rama agar ia bisa dengan segera mencetak score.
Tapi tampak Mion sangat kesusahan untuk melewati Rama yang begitu sigap dan cepat menghalangi langkahnya. Bahkan satu langkahpun tak bisa untuk melewati pemuda didepannya itu, Rama yang menyadari hal itu hanya tersenyum meledek kearah Mion dan itu sukses membuat Mion kesal. Mion mencoba untuk mengecoh Rama dengan gerakan kakinya tapi Rama sukses membaca rencana gadis tersebut dan bahkan Rama berhasil merebut bola yang sebelumnya berada ditangan Mion.
“Orang yang terbawa emosi emang mudah ditebak.” Ucap Rama cengengesan dan dengan cepat Rama berlari kearah ring dan melakukan reverse lay up shoot dengan sempurna dan itu membuat Mion tertegun.
“K-Keren.” Kagum Mion yang melihat cara Rama memasukan bola tersebut.
“1 : 0.” Ucap Rama yang kembali melemparkan bola basket kepada Mion.
Siapakah sosok dua anak kecil yang bermain basket yang bernama Nami dan juga Ara?
Apakah Mion berhasil mengalahkan Rama dengan kemampuan Rama yang jauh berada diatasnya?
#BERSAMBUNG
She’s My Sister, Not My Girlfriend
(Sebuah Kisah Sebuah Cerita)
Celotehan author :
Terimakasih sebelumnya buat kalian yang masih setia menunggu update dari cerita ini, terimakasih juga buat temen-temen yang sudah menyempatkan membaca baik yang meninggal komentar ataupun yang menjadi silent reader. Terus juga maaf banget cerita ini updatenya lama dan sangat ngaret, jadwal kuliah dan juga pekerjaan saya sangat mengurangi waktu santai saya. Saya tidak bermaksud untuk menghentikan cerita ini, hanya saja memang waktunya yang tidak ada. Bahkan sekalinya ada waktu, saat itu mood saya sedang kacau karena tugas. Jadi saya selaku author meminta maaf sebesar-besarnya karena update yang sangat ngaret ini, saya akan usahakan cerita ini akan update dua episode dalam satu minggu, tidak janji tapi akan saya usahakan.
Terimakasih. Semoga terhibur.