
Bell jam pelajaran terakhir berbunyi, seluruh siswa langsung berhamburan keluar kelas dan menuju parkiran untuk segera pulang kerumah. Sama halnya dengan Rama yang berjalan sendiri dikoridor lantai empat. Dari dulu Rama memang suka keluar kelas paling akhir sampai kelas benar-benar sepi. Niko dan Egi sudah pulang lebih dulu, awalnya Niko mengajak Rama untuk pulang bersama karena ia ingin tahu rumah teman barunya tersebut. Tapi Rama menolak dengan alasan masih ada yang harus ia kerjakan.
Rama melangkahkan kakinya dengan langkah mantap saat menuruni tangga, saat tepat didepan kelas 12 IPA 2 langkah Rama terhenti saat seorang gadis menghalangi jalannya.
"Ada apa?" tanya Rama cuek kepada gadis berambut sebahu yang ada didepannya. Bukannya menjawab pertanyaan Rama, gadis itu memicingkan matanya dan tentu itu membuat Rama heran.
"Kamu apain temen aku tadi pagi?"
"Hah?"
"Kenapa kaki Veranda bisa sampai keseleo? Pasti kamu yang dorong dia, kan? Ngaku!"
"Ho, namanya Veranda, mana orang nya?" Rama mengintip kedalam kelas dan keadaan sudah sepi.
"Dia udah pulang." sahut gadis itu dengan nada sinis.
"Hoo, oke." Rama kembali melangkahkan kakinya, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba seragam bagian belakangnya ditarik dengan cukup kuat sehingga Rama kehilangan keseimbangannya dan langsung memutar tubuhnya.
Rama jatuh tepat diatas tubuh gadis yang menarik seragamnya tadi. Gadis itu melototkan matanya dan langsung mendorong tubuh Rama kesamping cukup kuat.
"Adeh." ringis Rama saat tubuhnya membentur tiang.
"Dasar mesum!" gadis itu langsung duduk diatas lantai sambil mendekap tubuhnya sendiri.
"Lo yang mesum, lo sengaja kan narik gue biar gue jatuh diatas lo."
"Kamu! Jelas-jelas tangan kamu nempel didada aku." gadis itu melotot kearah Rama.
"Gue gak sengaja, lagian lo sendiri ngapain narik seragam gue." balas Rama tak kalah sewot.
"Aaahh, pokoknya kamu yang salah!" mendengar itu membuat Rama diam dan malas meladeni perkataan gadis didepannya itu.
"Oiya, Mion. Nama lengkap lo apa?" tanya Rama sambil mencoba berdiri.
"Buat apa kamu nanya-nanya nama aku? Mau kamu pelet ya? Hah!?" Rama menghembuskan nafasnya kasar.
"Otak lo isinya drama kolosal ya?"
"Siapa tau, kan, kamu mau melet aku habis megang dada aku."
"Nih anak kok prasangka buruk mulu ke gua." batin Rama.
"Jadi siapa?" tanya Rama lagi.
"Jenifer Hanami! Lagian bukannya dulu aku udah pernah nyebutin nama lengkap aku!?" jawab gadis bernama Mion itu dengan ketus.
"Gue lupa." balas Rama singkat dan kemudian melanjutkan perkataannya. "Mending sekarang lo pulang, mandi lalu habis itu istirahat." ucap Rama dengan lembut karena ia sudah malas untuk berhadapan dengan Mion dan berharap dengan ia bersikap seperti itu Mion akan segera pergi.
"Sok perhatian!" Rama hanya menatap datar kearah Mion sampai suara dering smartphonenya mengalihkan perhatiannya.
Tertera dilayar nama Ryma mengirim pesan.
"Gue udah pulang sama Veranda, sorry lupa ngasih tau tadi.~"
Setelah membaca pesan dari kakaknya itu Rama memasukan kembali smartphonenya kedalam saku celananya.
"Lo mau pulang atau nginep disini?"
"Yaa pulang lah! Ngapain nginep disini." ketus Mion.
"Naik apa?"
"Ngapain nanya-nanya?"
"Nanya aja jawabnya gitu."
"Naik bus."
"Yaudah, gue anter lo pulang." Rama langsung menarik tangan Mion tanpa memperdulikan Mion menerima atau menolak ajakannya.
"Lepas! Jangan macam-macam ya."
Mendengar itu Rama semakin kuat menarik tangan Mion menuruni tangga untuk kelantai dua dan satu.
"Lepasin gak! Rese banget sih! Aku bisa pulang sendiri!"
"Udah ikut aja, anggap aja ini permintaan maaf gue atas kejadian tadi." Rama semakin mempererat genggaman tangannya sampai-sampai Mion meringis.
"Sssh ... Sakit." ucap Mion lemah menahan rasa sakit dipergelangan tangannya, sedangkan Rama langsung tersadar dengan apa yang telah ia lakukan.
"So-sorry, gua ga ...." ucapan Rama terhenti setelah memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Mion yang dibelakangnya, terlihat oleh Rama mata Mion berkaca-kaca.
"Lo nangis? So-sorry gua gak bermaksud gitu."
"Hiks-hiks, kamu ini kasar banget sih jadi cowok." Mion terisak.
"Kamu gak tau gimana perasaan aku tadi, hah? Tingkah kamu tadi bikin aku takut tau gak, hiks-hiks." mendengar perkataan Mion membuat Rama merasa bersalah.
"Gue gak bermaksud gitu, gue cuma mau nganterin lo pulang."
"Kenapa? Buat apa kamu tiba-tiba mau nganterin aku pulang? Pasti ada maksud lain, kan."
"Otak lo perasaan negatif mulu ke gue, gak ada yang bagus apa?" tanya Rama sambil memiringkan bibirnya.
"Siapa tau, kan. Tadi aja kamu megang dada aku."
"Itu mulu yang dibahas." sahut Rama keki, sedangkan Mion yang melihat ekspresi Rama seperti itu membuatnya merasa lucu dan tertawa kecil meski masih terisak.
"Yaudah, gue anter ya. Gue gak ada niat aneh-aneh kok." Mion diam beberapa detik seolah sedang memikirkan tawaran Rama.
"Oke."
"Nah, gitu dong. Lagian dulu kan udah pernah gue anter."
"Iya, emang pernah habis dari taman Kamboja, tapi gak sampai rumah, kan?"
"Iya sih," sahut Rama mengiyakan perkataan Mion.
Rama pernah sekali mengantar Mion pulang saat mereka tak sengaja bertemu di taman Kamboja, saat Mion dan Rama saling mengerjai tentang suami istri. Tapi saat itu Rama tak mengantar sampai rumah karena Mion ada keperluan mendadak.
"Jadi rumah lo dimana?" tanya Rama saat merekasudah keluar dari area sekolah.
"Lurus aja, nanti ada perempatan belok kiri." jawab Mion.
Tak ada kata keluar dari mulut mereka, Rama fokus mengendarai motornya karena keadaan jalan yang cukup macet, sedangkan Mion sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Nah itu didepan sana, di toko kue." ucap Mion sambil menunjuk toko kue milik keluarganya.
"Okesip, udah sampai."
Rama menghentikan motornya tepat didepan toko kue. Mion turun dari motor Rama sambil menyerahkan helm.
"Mau mampir dulu gak?" tawar Mion kepada Rama.
"Hmm, boleh. Ini toko kue keluarga lo, kan?" Mion hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rama itu.
"Yaudah, sekalian gue mau beli kue buat nanti malam."
Rama turun dari motornya dan mengikuti Mion yang berada disampingnya.
"Eh, anak mama yang cantik udah pulang." ucap Ratna ibunya Mion saat melihat anak gadisnya bersama pemuda. "Dia siapa, sayang? Pacar kamu ya?" tanya Ratna kepo.
"Ish, mama. Nanya nya jangan gitu dong." sahut Mion malu. Rama yang mendengar Mion memanggil wanita didepannya itu dengan sebutan mama langsung mengulurkan tangannya untuk salim.
"Siang, tante. Aku Rama, temen Mion." ucap Rama memperkenalkan diri setelah mencium punggung tangan Ratna.
"Cuma temen ya? Yaahh." ekspresi Ratna seolah-olah kecewa mendengarnya.
"Ihh, mama apa-apaan sih." kesal Mion yang menyebikkan bibirnya, melihat anaknya yang cemberut membuat Ratna tertawa.
"Iya-iya, maaf. Mama kan cuma becanda." ucap Ratna sambil menarik pipi anaknya tersebut. "Ya udah, kamu ganti baju dulu sana. Habis itu temenin nak Rama."
"Eh, gak usah, tan. Aku cuma mau beli roti doang kok." jelas Rama karena memang niatnya mampir itu cuma buat membeli roti, bukan menemani Mion seperti yang disangka oleh Ratna.
"Ohh, ya udah. Mion kamu temenin Rama dulu ya, mama masih bikin adonan didapur."
Setelah kepergian Ratna, Mion menemani Rama berkeliling toko kuenya untuk melihat berbagai jenis kue. Sampai akhirnya langkah Rama terhenti saat melihat salah satu kue dan itu membuatnya tertawa pelan.
"Kenapa?" tanya Mion yang heran karena mendengar suara tawa Rama.
"Oh, nggak. Cuma keinget sesuatu." jawab Rama jujur.
"Apa?"
"Dulu gue pernah pesen kue dianter kerumah, gue gak nyangka sih awalnya kalau yang nganter itu cewek." jelas Rama yang lagi-lagi tertawa.
"Terus? Apa lucunya?" tanya Mion heran.
"Ya lucu aja pas liat ekspresi cewek itu ketakutan setelah dibisikin sama orang rumah."
Mendengar itu membuat Mion memiringkan kepalanya, entah kenapa ia merasa tidak begitu asing dengan cerita Rama. Mion mencoba mengingat tapi ia benar-benar lupa sekarang.
"Kayak gak asing sama cerita itu." ucap Mion dengan posisi kepala masih miring ke kiri.
Mendengar perkataan Mion itu membuat Rama tergelak, tentu saja Mion merasa seperti pernah mengalami kejadian hal tersebut meskipun ia lupa kejadian spesifiknya. Namun Rama masih ingat jelas saat Mion mengantarkan kue pesanannya dan bagaimana ekspresi Mion saat pembantunya membisikan sesuatu ditelinga Mion.
*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*
#BERSAMBUNG ...