She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
Sebuah Kisah Sebuah Cerita Masa Lalu, Bag 2



She’s My Sister, Not My Girlfirend


(Sebuah Kisah Sebuah Cerita, Bagian 2)


“Hahhh … Hahh … hahhhh ….” Mion tersengal-sengal karena terus mencoba untuk melewati Rama, gadis mungil ini terlihat sangat kesal karena terus diledek oleh Rama karena pergerakannya yang lambat.


“Kalau terus seperti ini, lo ga bakal bisa menang ngelawan gue.” Ucap Rama menngompori Mion yang sudah kelelahan.


“Kamu yang jago mainnya, malah nyalahin Mion!” sewot gadis itu dan mencoba kembali merebut bola yang ada ditangan Rama. Melihat itu pemuda itu cukup mengangkat bola itu tinggi-tinggi agar Mion tidak dapat mengambilnya. Melihat itu membuat Mion mendengus kesal karena ia tak dapat menjangkau bola yang Rama angkat dengan sebelah tangan.


“Ihhh, turunin gak! Curang!”


“Siapa suruh pendek.” Balas Rama menutup mulutnya karena menguap.


“Ish!” tanpa perasaan Mion menendang tulang kering kaki Rama dengan ujung sepatunya dan itu mengakibatkan Rama reflek melepaskan bolanya.


“Adedeehhh.” Rama mengaduh karena Mion menendang kakinya dengan ujung sepatunya.


“Curang!” kesal Rama yang kini posisinya duduk dilantai sambil mengelus kakinya.


“Bleeeee ….” Mion memungut bola basket yang tak jauh dari dirinya, dengan cepat Mion mendrible bola tersebut menuju kearah ring dan melompat memasukan bola kedalam ring.


“Mion menang, yeeeyyy ….” Girang Mion karena berhasil mencetak score dan mengalahkan Rama meski ia akui cara yang ia lakukan itu curang.


“Ulang, mana bisa gitu.” Protes Rama mendekati Mion.


“Kalah ya kalah aja, ga usah ngatain orang curang, bleeee.” Sahut Mion sambil menjulurkan lidahnya.


“Apaan tadi main tendang aja, pelanggaran tuh.”


“Bodo, yang penting menang.” Mion kini melompat kesana kemari untuk merayakan kemenangannya, sedangkan Rama tampak tertegun melihat tingkah Mion. Ia seperti dibawa kemasa lalu saat ia masih tinggal di Bandung yang saat itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Rama menatap lekat Mion yang masih merayakan kemenangannya, dan itu semakin mengingatkan Rama dengan sahabat masa kecilnya dulu.


“Nami?” ucap Rama pelan tapi masih bisa didengar oleh Mion.


Mion yang mendengar itu lantas terdiam dan menoleh kearah Rama, jantungnya berdetak cepat saat mendengar apa yang Rama ucapkan. Dengan jelas ia mendengar Rama menyebut ‘Nami’, yang mana itu adalah bagian dari namanya yaitu Jenifer Hanami, dan hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan panggilan Nami. Yaitu sahabatnya sewaktu kecil, sahabat laki-lakinya sewaktu ia masih tinggal di Bandung.


“Hmmm, Rama.” Panggil Mion dengan perasaan deg-degan.


“Ya?”


“Lets go!” Ajak Mion dengan semangat kepada pemuda didepannya itu.


“Kemana?” Tanya Rama heran.


“Ihhh, kan udah perjanjian tadi. Yang kalah harus traktir yang menang makan sepuasnya.” Sahut Mion sambil menatap pemuda yang berada disampingnya dengan tatapan kesal.


“Kapan bikin perjanjian gitu?”


“Tuhkan! Mion udah bisa nebak, pasti kamu bakal lupa!” mendengar itu membuat Rama cengengesan.


“Becanda.” Sahut Rama nyengir.


“Huh!”


DEG


Tiba-tiba saja Mion merasa de javu dengan yang ia alami barusan, entah kenapa kejadian itu mengingatkan ia dengan masa lalunya saat bersama sahabatnya sewaktu kecil. Seorang anak laki-laki yang jahil dan hobi membuatnya kesal. Mion mencoba mengingat wajah sahabat kecilnya dulu tapi tidak bisa, yang ia ingat hanya sebuah nama.


“Ara, jangan-jangan kamu Ara, Rama.” Batin Mion sambil memandang sendu pemuda yang berada didekatnya sekarang.


Ia ingin menanyakan kepada Rama untuk memastikan bahwa Rama adalah teman kecilnya dulu saat di Bandung. Begitu juga dengan Rama, ia juga ingin memastikan bahwa Mion adalah Nami teman waktu ia tinggal di Bandung. Tapi mereka berdua terlalu takut untuk menanyakan karena jika memang Rama itu adalah Ara atau Mion adalah Nami, bagaimana mengekspresikan perasaan mereka masing-masing nantinya.


She’s My Sister, Not My Girlfirend


Keesokan harinya, di halaman belakang sekolah terlihat banyak siswa maupun siswi berkumpul ditengah lapangan basket. Ditengah kerumunan itu terlihat seorang siswa dengan postur tubuh tinggi membawa sebucket bunga ditangannya, sedangkan didepan siswa tadi, terlihat juga seorang gadis berdiri dengan kikuk karena sekarang ia menjadi tontonan banyak orang.


“Wehh, ada apa tuh rame-rame?” Tanya Egy kepada seorang siswi yang lewat didepannya.


“Kapten basket sekolah nembak cewek, kak.” Jawab siswi tersebut yang terlihat tergesa-gesa.


“Ohh, yaudah, makasih.” Sahut Niko mewakili teman-temannya dan siswi itupun berlalu ikut ke kerumunan tersebut.


“Mau liat gak, Ram?”


“Boleh, penasaran juga gue sama kapten basket sekolah ini.” Balas Rama dan kemudian mengikuti teman-temannya yang mulai mendekat ke kerumunan.


“Ng?”


Rama tertegun ketika melihat sosok gadis yang berada ditengah kerumunan, gadis yang tadi malam duel dengan dirinya. gadis itu terlihat sangat canggung diposisinya sekarang, ia hanya menunduk sedari tadi apalagi sebagian siswa ataupun siswi berteriak kearahnya untuk menerima si kapten basket sekolah mereka itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa kapten basket tersebut memang menjadi idaman hampir seluruh siswi di SMA 2 Jakarta bahkan di sekolah lain. Terlebih basket dari SMA 2 Jakarta sering memenangkan turnamen basket, dan yang terakhir mereka juara dua basket tingkat SMA yang diselenggarakan oleh walikota. Tentu saja butuh perjuangan ekstra untuk bisa masuk final dan bisa menempati posisi kedua sudah sangat membanggakan sekolah dan juga tim basket SMA 2 Jakarta.


“Ohh, dia ternyata. Kok gue bisa lupa ya kalau SMA ini kemarin juara dua di piala Walikota.” Batin Rama yang baru saja mengingat sesuatu setelah ia melihat kapten basket tersebut. “Pantas saja rame, gak bisa dipungkiri sih pasti popularitas dia melonjak naik setelah juara dua kemarin.” Sambung Rama yang masih dalam hati.


“Kira-kira bakal diterima gak ya sama Mion.” Ucap seorang gadis yang berada disamping Rama, mendengar itu membuat Rama menoleh dan mendapati Geby berdiri disampingnya.


“K-kapan lo disini?” Tanya Rama sedikit terkejut mendapati Geby berdiri tepat disampingnya.


“Dari tadi keles,” jawab Geby memiringkan bibirnya sedangkan Rama hanya mengangguk.


“Jadi kira-kira bakal diterima gak?” Tanya Geby mengulangi pertanyaannya tadi.


“Kayaknya diterima sih, secara kan yang nembak itu kapten basket sekolah kita.” Ucap Izy mewakili Rama, sedangkan Egy dan Niko mengangguk setuju.


“Maaf ya, Ren. Aku gak bisa nerima kamu. Kita temenan aja.” Mendengar jawaban yang diberikan oleh Mion sontak saja terjadi keributan dari seluruh murid yang ada disana. Ada yang menyoraki kapten basket, tapi tak sedikit juga para siswi mengatai Mion Karena telah menyia-nyiakan kesempatan, terdengar juga oleh Mion beberapa siswi membicarakan dirinya dengan mengatakan Mion suka sesama perempuan dan tidak tertarik dengan laki-laki.


Mion menunduk sedih mendengar hinaan tersebut, bahkan matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan si kapten basket tadi tampak berbalik badan untuk meninggalkan Mion dan tidak peduli dengan kondisi Mion sekarang, padahal dirinya lah yang membuat Mion terjebak disituasi seperti sekarang.


Sorakan dan hinaan masih terdengar oleh telinga Mion, ia kini benar-benar menangis, terlihat air matanya meluncur di kedua pipinya, ia hanya bisa menunduk dan terlalu takut untuk pergi. Sedangkan Rama menatap tajam kearah kapten basket yang tak peduli dengan Mion.


“Cih, memanfaatkan popularitas ya.” Gumam Rama sambil melangkahkan kakinya ketengah untuk menghampiri Mion, seketika suasana langsung hening ketika semua murid melihat pemuda yang mendekati Mion dan merangkulnya.


Dengan cueknya Rama menuntun Mion keluar dari dari kerumunan tersebut dan membawanya ke kantin hanya sekedar menenangkan gadis tersebut dengan menepati janjinya yaitu mentraktir makan sepuasnya.


“Udah, jangan nangis gitu.” Ucap Rama sambil menyapu air mata Mion yang masih keluar.


“Aku takut, Ram. Takut.” Balas Mion sesenggukan.


“Takut kenapa? Itukan pilihan lo. Kenapa harus takut.”


“Kamu gak denger hinaan mereka tadi?” Tanya Mion sambil menoleh kearah Rama dan itu membuat Rama terkekeh melihat ekspresi gadis tersebut apalagi cairan yang keluar dari hidungnya.


“Nih, bersihin tuh ingus. Gak malu apa diliat orang.” Ucap Rama sambil menyerahkan sapu tangan miliknya, Mion menerima sapu tangan tersebut dengan ekspresi bibir manyun dan masih sesenggukan.


Rama kemudian meninggalkan Mion sendirian dan menuju kearah lemari es krim, ia mengambil es krim rasa vanilla yang disukai oleh Nami sahabat kecilnya dulu.


“Nih, biar gak nangis mulu.” Mion menatap es krim yang diberi Rama dengan seksama.


“Dari mana kamu tau es krim kesukaan Mion?” Tanya Mion heran.


“Gak tau, asal comot aja tadi.” Balas Rama enteng, Mion yang mendengar itu hanya membentuk bibirnya seperti huruf O.


BERSAMBUNG…


Sesuai celotehan saya diepisode sebelumnya, saya akan usahakan update dua episode dalam satu minggu. Tapi tidak ditentukan hari updatenya kapan hehe. So, tunggu next episodenya. Jangan lupa tinggalkan komentar dan semoga terhibur.