She'S My Sister, Not My Girlfriend

She'S My Sister, Not My Girlfriend
BERBOHONG



Keesokan harinya, Rama kini sudah berada diparkiran bersama dengan Ryma yang mengikutinya dibelakang. Sesekali ia mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Rama hanya sekedar mencium wangi tubuh adiknya tersebut. Entah sejak kapan hal itu selalu ia lakukan setiap pagi yang membuat candu mencium aroma tubuh Rama.


"Aduh ...." Ryma meringis ketika menabrak punggung Rama yang tiba-tiba berhenti didepannya. "Iih! Berenti ga bilang-bilang." kesal Ryma sambil mengelus keningnya.


"Mau sampai mana lu ngikutin gue?"


"Siapa juga yang ngikutin!"


"Terus? Ngapain lu sekarang dilantai empat?" Ryma yang mendapat pertanyaan seperti itu seketika sadar dan ia melihat papan didepan kelas bertuliskan 'XII IPS 6'


"Eh? Ehehe." melihat tingkah kakaknya itu Rama hanya menghela nafas lalu memegang kedua pundak Ryma dan memutar tubuh kakaknya tersebut.


"Bentar lagi bell, sana ke kelas lu." titah Rama sambil mendorong pelan tubuh Ryma.


"Siap, bos ...." Ryma langsung melangkahkan kakinya kearah tangga dan menuruni tangga tersebut untuk menuju kelasnya.


"Loh, Rym? Darimana?" Veranda yang melihat Ryma dari lantai empat langsung menghampiri.


"Eh, Veranda. Dari lantai empat tadi."


"Ngapain?"


"Nganter adek aku." jawab Ryma polos dan itu membuat Veranda memiringkan kepalanya.


"Kamu punya adek?" Ryma seketika sadar dengan ucapannya sebelumnya dan seketika ia bingung mencari alasan.


"Ee, i-itu ... emm, adek, ee adek sepupu. Iya, adek sepupu."


"Oohh, sepupu." Veranda menganggukan kepalanya tanda ia percaya dengan perkataan Ryma. "Yaudah, kekelas yuk." ajak Veranda sambil menarik tanga Ryma untuk menuju kelas.


Sedangkan di kelas Rama, kini ia tengah penasaran kenapa Niko sedari tadi seperti mencoba menghindari dirinya. Ketika Rama menghampiri untuk sekedar mengobrol, Niko selalu saja menjauh.


"Tuh anak kenapa dah ...." gumam Rama memandang aneh kearah Niko. "Apa gara-gara gue ga bantu dia kenalan sama Ryma?" batin Rama lagi.


Tak peduli dengan tentang Niko, Rama melangkahkan kakinya keluar kelas dan menuju toilet yang berada diujung koridor. Toilet siswi dan siswa bersebelahan, saat Rama memutar badannya hendak masuk ke dalam toilet, tiba-tiba ia menabrak seorang siswa yang hendak keluar dari toilet.


"Kalau jalan liat-liat dong." siswa tersebut kesal dan mendorong tubuh Rama dengan kasar.


"Sorry, gua ga sengaja." balas Rama dengan tenang dan melangkahkan kakinya kembali untuk masuk kedalam.


"Heh!" tiba-tiba saja siswa tersebut menarik seragam bagian belakang milik Rama sehingga langkah Rama terhenti. "Siapa yang nyuruh lo pergi?" Rama yang diperlakukan seperti itu hanya diam.


"Kalau gua tanya itu dijawab!" siswa tersebut kembali mendorong tubuh Rama, kali ini dorongan tersebut cukup keras dari sebelumnya sampai-sampai tubuh Rama membentur dinding.


"Sorry, gua tadi ga sengaja." ucap Rama lagi mencoba untuk berdamai.


"Asal lo tau! Semua murid disini ga ada yang sesongong elu ke gua! Mau tau kenapa?" Rama tidak membalas perkataan siswa yang memarahinya, hanya saja alisnya naik sebelah.


"Gue anak orang paling kaya di sekolah ini, ga ada yang berani sama gue kalau mau sekolah dengan tenang."


"Ohya?"


"Waahh, songong juga lu ya."


BUGH


Sebuah pukulan telak mengenai pipi kiri Rama, bahkan Rama sampai terjatuh akibat pukulan tersebut.


"RAMA!" terdengar sebuah teriakan menyebut nama Rama.


"Rama, kamu gapapa, kan?" tanya Ryma semakin khawatir ketika melihat darah segar mengalir disudut bibir adiknya tersebut.


"Wah wah wahhh, siapa ini? Cantik banget." ucap siswa itu sambil menatap Ryma dengan penuh arti.


"Kita ke uks ya, Ram." ucap Ryma yang tak memperdulikan siswa tadi. Ia sangat khawatir dengan keadaan adiknya tersebut bahkan kini mata Ryma sudah berkaca-kaca.


Tanpa persetujuan Rama, ia langsung membopoh tubuh Rama meski ia sedikit kesulitan karena tinggi badan Rama. Beberapa kali Ryma harus membenarkan tangan Rama agar melingkar dilehernya. Sedangkan Rama hanya diam tanpa sepatah katapun. Sebenarnya Rama ingin langsung kekelasnya saja karena memang pukulan tadi tidak terlalu fatal, hanya saja karena Ryma yang langsung memaksanya untuk ke uks jadi ia tidak bisa menolak, apalagi Rama sempat melihat Ryma yang hampir menangis, ia khawatir ketika menolak ajakan Ryma yang hendak membawanha ke uks, itu bisa membuat Ryma menangis karena mengkhawatirkan dirinya.


"Susah bener kayaknya." ejek Rama yang melihat Ryma kesusahan membopoh tubuh Rama.


"Jangan banyak bicara, bibir kamu itu berdarah tau." sahut Ryma dengan suara pelan.


"Ck, luka dikit gi ...." belum selesai Rama bicara tiba-tiba Ryma tersandung kaki kursi panjang yang ada didepan kelas, karena tidak bisa menahan tubuhnya dan tubuh Rama, akhirnya mereka berdua terjatuh.


"Aww, sakiit ...." ringis Ryma yang merasa sakit dipergelangan kakinya.


"Makanya kalau jalan itu hati-hati." ucap Rama sambil menyentil kening Ryma.


"Sakiitt ...." mata Ryma mulai berkaca-kaca kembali karena rasa sakit dikakinya.


"Ck, nyusahin aja lu." Rama langsung jongkok membelakangi Ryma. "Buruan naik, biar gue anter ke uks."


Melihat itu Ryma langsung melingkarkan tangannya dileher Rama, setelah siap Rama langsung berdiri dengan perlahan takut saudara kembarnya terjatuh. "Yang habis kena pukul siapa, yang dianter ke uks siapa." batin Rama yang kini melagkahkan lakinya menuruni tiap anak tangga.


Uks berada dilantai dua, itu artinya akan melewati kelas Ryma yang berada dilantai tiga. Saat akan melewati kelas Ryma, tiba-tiba pintu kelas terbuka dan terlihat oleh Rama seorang siswi berambut sebahu dengan ekspresi terkejut menatap kearah Rama, dengan cuek Rama melewati siswi tersebut dan terus melangkahkan kakinya menuju uks.


"Ryma ...." panggil siswi tersebut sedangkan Ryma hanya pasrah ketika tertangkap basah oleh teman sekelasnya itu.


"Rym, kamu kenapa?" tanya siswi tersebut.


"Eh, Mion. Kaki aku tadi keseleo." jujur Ryma kepada Mion, mendengar jawaban itu Mion langsung menatap tajam kearah Rama yang tengah menggendong Ryma.


"Pasti kamu kan yang bikin Ryma jatuh!?" Rama yang dituduh seperti itu hanya diam dan tak memperdulikannya.


"Heh! Kalau aku tanya itu dija ...." Mion seketika terdiam ketika Rama menoleh kearahnya, dengan jelas Mion melihat darah yang mulai mengering disudut bibir Rama.


"Kamu kenapa?" tiba-tiba nada bicara Mion berubah yang awalnya berteriak memarahi sekarang menjadi khawatir.


"Bukan urusan lo." Rama kembali melangkahkan kakinya dan mengabaikan Mion. Sedangkan Mion mengikuti kakak beradik itu kearah uks.


"Rym, sebenernya apa yang terjadi?" tanya Mion penasaran dan Ryma hanya tersenyum geli melihat tingkah temannya itu.


"Nanti aku ceritain dikelas."


"Beneran ya, kamu utang cerita sama aku."


PLAK


"Aduuhh ...." Mion meringis ketika sebuah tangan menepuk jidatnya, tidak terlalu keras hanya saja Mion terkejut dengan hal itu. "Iihh, apasii!?" kesal Mion dan menatap tajam Rama.


Rama tak menjawab pertanyaan Mion, hanya saja sorot mata Rama seolah-olah menyuruh Mion untuk melihat kedepan.


"Yaampun, hampir aja ...." ucap Mion setelah melihat kedepan.


*SHE'S MY SISTER, NOT MY GIRLFRIEND*


#BERSAMBUNG .....