Shadow Monarch

Shadow Monarch
Chapter 12 Beban Hidup Lily



"Kenapa Yuuto mau menyelamatkanku ketika di kekaisaran Avalon, padahal aku ini hanya Vampire menyedihkan yang tidak berani membunuh monster"


"Padahal aku harusnya menjadi kuat agar dapat memimpin Bangsa Vampire di masa depan sebagai seorang Ratu tapi tubuhku, Jiwaku menolak untuk membunuh monster"


"Mungkin karena diriku lah Bangsa Vampire terpecah menjadi dua sisi, Sisi hitam dan putih"


"Sisi putih berisi Vampire-Vampire yang mendukung kekaisaran saat ini dan juga yang membela Puteri kekaisaran Vampire, sedangkan Sisi Hitam berisi vampire-Vampire yang ingin menurunkan pangkat bangsawanku menjadi rakyat jelata walau harus mengkudeta Kekaisaran sekalipun"


"75% Vampire memihak Sisi Hitam karena mereka tak ingin Diriku mewarisi Kekaisaran, sudah sejak zaman dulu jika mereka yang kuat saja yang dapat memimpin Bangsa Vampire"


"Tapi kenapa 25% Vampire memilihku untuk tetap jadi Puteri Kekaisaran Vampire, padahal aku hanyalah Vampire lemah yang menyedihkanု"


Lily mengeluarkan seluruh beban pikirannya ketika sedang berendam di sungai, Selama 200 tahun Lily selalu merasa jika dirinya tidak layak menjadi Vampire Bangsawan karena kelemahannya


Namun Ayahnya yaitu Vampire King dan Ibunya Vampire Queen terus menerus membelanya walau harus menghadapi desakan rakyat bahkan prajurit mereka sendiri


Lily sangat merasa bersalah karena dirinya Ayah dan Ibunya harus merelakan 75% Bangsa vampire memilih melakukan Kudeta


Sampai sekarang Kudeta belum di mulai karena keberadaan Vampire Leluhur yaitu Kakek Lily


Namun banyak rumor jika Kudeta tetap akan dijalankan berkat bantuan Bangsa Iblis yang akan mengirim Iblis Primordial yang katanya merupakan bawahan terkuat raja iblis


walau tidak abadi namun kekuatannya tidak dapat dianggap remeh, setidaknya Iblis Primordial dapat menahan Vampire Leluhur hingga kudeta selesai


"Mungkin aku akan nenyerahkan diri saja, dari pada Ayah dan Ibu akan keehilangan tahta yang mereka dapatkan dengan susah payah" Ucap Lily dengan rasa sedih


Lily tidak sadar jika Yuuto yang dari kejauhan mendengar keluh kesah Lily, Yuuto merasa Iba dengan Lily karena harus menanggug beban sebesar itu walau umurnya terbilang muda apabila dari sudut pandang Vampire



*Job Mission*



\- *Selesaikan Masalah Bangsa Vampire*


\- *Buat Aliansi dengan Bangsa Vampire*



*Hadiah* : ???



"Hmm 2 misi saja, sepertinya system dunia ini benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan setiap tindakanku yah" Gumam Yuuto


"Rencana berubah, Yang lebih penting sekarang aku harus membuat Lily menjadi kuat hingga Para Vampire di Sisi Hitam akan mempercayai masa depan bangsa Vampire kepada dirinya" Ucap Yuuto dengan penuh rasa percaya diri


"Yuuto, kau dimana" Ucap Lily yang sedang kesusahan mencari Yuuto


"Lily" Yuuto turun dari atas pohon dan mendatangi Lily yang telah selesai membersihkan diri


"Y-Yuuto, kau...tidak, yang lebih penting kapan kita berangkat lagi" sejenak wajah Lily memerah karena menyadari jarak pohon tempat Yuuto menunggu lumayan dekat dengan sungai namun dirinya memilih melupakan hal itu karena ada hal lebih penting


"Lupakan masalah itu, yang lebih penting aku harus membuatmu jadi kuat" Ucap Yuuto tanpa menyembunyikan apa pun


"Eh tapi kenapa, tak bisa kah kau mengantarku saja, aku bisa menaikkan level di Benua Vampire kok" Ucap Lily dengan perasaan yang sedikit sedih


"Tuan Putri yang bahkan tidak bisa membunuh monster dan menjadi ejekan rakyatnya karena terlalu lemah hingga memecah belahkan ras vampire menjadi dua sisi" Yuuto mengucapkan semua yang dirinya dengar tanpa ragu sekalipun


Lily yang mendengar ucapan Yuuto menjadi terdiam, Yuuto bisa melihat pupil matanya sedikit bergetar karena ketakutan ataupun sedih


"Bagaimana kau menge-, Ah sepertinya kamu mendengarnya ketika aku membersihkan diri" Selama bersama Yuuto dirinya hanya pernah sekali berbicara tentang masalah pribadinya walau hanya berbicara sendiri dan itu tepat di sungai


"Mustahil, lagipula aku tak bisa membunuh monster, bagaimana aku bisa menjadi kuat" Ucap Lily dengan perasaan suram


"Tadi, kau membunuh 50an monster berlevel 300... apa kau masih ingin bilang kau tak bisa membunuh monster" Yuuto mengingatkan Lily tentang pelatihannya sebelumnya


"ITU BUKAN AKU YANG MEMBUNUHNYA, ITU KARENA KAU YANG MEMBANTUKU" Lily berteriak sambil mengeluarkan air mata


"YA, TERUS EMANGNYA KENAPA, ITU TAK MERUBAH FAKTA JIKA KAU MEMBUNUH MONSTER ITU, PERCAYA DIRILAH DENGAN DIRIMU SENDIRI, AYAH DAN IBUMU BERJUANG MENGHADAPI BANGSANYA SENDIRI DEMI DIRIMU DAN KAU INGIN MENYERAHKAN DIRI-


APA KAU TAK MENGHARGAI USAHA MEREKA, HARUSNYA KAU BERUBAH MENJADI KUAT AGAR DAPAT MEMPERSATUKAN KEMBALI BANGSA VAMPIRE DAN MEMIMPINNYA, AYAH DAN IBUMU MENYETUJUI KEPERGIANMU KE BENUA ALTER KARENA INGIN KAU BELAJAR MELINDUNGI DIRI DARI MONSTER ATAUPUN MANUSIA DENGAN CARA MEMBUNUHNYA BUKAN KARENA MENCARI INFORMASI ATAU SEMACAMNYA" Yuuto mengeluarkan seluruh kekesalannya dan memeluk erat Lily


"Kau tidak sendiri, sejak kau lahir sudah ada yang menemanimu, Ayahmu...Ibumu, Kakekmu, Bangsamu...Karena itu bertarunglah, bukan demi siapa siapa tapi demi dirimu, bangsamu, keluargamu" Ucap Yuuto dengan sangat lembut


Ucapan Yuuto membuat Lily mengeluarkan air mata, Dirinya tertunduk dan menangis tanpa mempedulikan sekitarnya sebab tidak ada yang pernah berkata seperti itu kepada dirinya selain keluarganya sendiri


"Yosh-Yosh, Keluarkan saja... aku tau kau sangat tertekan" Yuuto mengusap lembut kepala Lily dengan senyum penuh rasa perhatian


Pada akhirnya Yuuto harus menemani Lily yang terus menangis selama 1 jam lebih


"Oi Lily, Matamu bengkak karena terus menangis tuh" Yuuto memperhatikan matanya yang membengkak karena terus mengeluarkan air mata


"Jangan lihat" Lily menutup matanya dengan tangan karena tidak ingin Yuuto melihat matanya yang membengkak


"Cuma mata bengkak saja tak boleh liat" Gumam Yuuto


"Berisik, Yuuto mana paham perasaan perempuan" Ucap Lily dengan kesal karena mendengar gumaman Yuuto


"Iya-iya" Yuuto mengalah karena tidak ingin melanjutkan perbicangannya


'Benar sekali, aku tidak dapat memahami perasaan seorang perempuan karena aku laki-laki, seperti yang dibilang banyak orang jika Perempuan itu memiliki hati serapuh kaca namun sebenarnya kami para laki-laki hatinya tidak selalu seperti baja, kami hanya terpaksa menbuatnya seperti itu karena laki-laki dibilang pecundang jika menangis sedangkan jika tidak menangis akan dibilang tidak jujur dengan perasaan sendiri, Kami hanya bisa menutupinya dan terus berharap akan ads seseorang yang menggapai perasaan kami' Pikir Yuuto dengan sedih