Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
09. Asrama



Hari kepindahan pun tiba. Seperti hari-hari sebelumnya, langit masih tampak cerah dan hanya ada segelintir awan di langit saat mobil yang mengantarku sedang menembus jalanan Fairille yang sepi. Sayangnya, Mom, Dad, dan Ezra hanya dapat mengantarkanku sampai gerbang asrama.


Di sana, di gerbang yang berukuran lebih kecil daripada gerbang Fairille High School, aku disambut oleh seorang kepala asrama wanita berambut pirang yang tak pernah melepaskan senyuman dari wajahnya. Melihat bagaimana wanita itu memberi salam dengan sedikit mengangkat roknya dan menunduk membuat aku teringat pada film-film bertema kerajaan yang pernah kutonton di Mcflix. Pria bertubuh kekar dan tinggi lantas datang untuk membawa barang-barangku ke kamar. Tepat sebelum aku diajak berkeliling ke dalam gedung asrama khusus putri oleh seorang gadis yang rupanya adalah ketua asrama sekaligus kakak tingkat, aku menyadari jika bangunan yang memiliki halaman penuh bunga itu lebih tampak seperti mansion tua terawat daripada gedung asrama yang kubayangkan sebelumnya.


Terlebih ketika memasuki bangunan. Interiornya tak jauh berbeda dibandingkan lukisan-lukisan yang pernah kulihat di museum kota McReych. Dapat kutebak, banyak detil ukiran yang tak akan rampung dibuat dalam sehari, atau sebaliknya jika menggunakan mesin canggih keluaran terbaru. Lantas kupikir lagi, suasananya terasa mirip dengan bangunan sekolah, meskipun yang aku sesali, aku tidak begitu ingat. Kalau saja waktu itu murid-murid sekolah tidak memberikan tatapan aneh kepadaku, mungkin aku dapat menikmati suasana sekolah saat itu--dan sepertinya hal itu terjadi lagi di asrama ini saat cewek-cewek asrama yang berpas-pasan dengan kami melihat ke arahku.


Sambil berjalan menyusuri koridor dan menunjukkan fasilitas asrama seperti ruang makan dan laundry, cewek bernama Emily Rosebolt itu menjelaskan beberapa peraturan asrama yang sering dilanggar oleh para murid, seperti keluar melebihi jam batas malam atau membuat keributan yang mengganggu orang lain. Walaupun peraturan yang disebutkan satu-persatu oleh sang senior sebenarnya adalah hal yang cukup umum, aku tetap menghargainya dengan menyimak dengan baik. Di samping aku tak bisa mengontrol mataku yang sesekali mengedar pandang ke sekitar.


Kami pun tiba di depan pintu sebuah kamar bernomor 221. Kudengar, setiap kamar ditempati oleh dua orang. Aku jadi penasaran orang seperti apa calok teman sekamarku yang mungkin sekarang ada di balik pintu ini.


“Kuharap nantinya kau nyaman tinggal di sini, Nona Schulz. Jika terdapat sesuatu yang kau butuhkan, kau bisa bilang padaku,” ujar pemilik nama Emily Rosebolt itu. Cewek itu lantas melihat jam cantik berwarna rosegold pada pergelangan tangannya. “Sebenarnya ada beberapa tempat lagi yang ingin kutunjukkan, tapi rupanya waktu telah berlalu dan aku memiliki agenda lain.”


Aku seketika merasa tak enak hati. Ragaku lantas meniru salam sang kepala asrama dengan menunduk sedikit dan menggerakkan kedua tangan di samping tubuh--karena, kau tahu, aku sedang tidak memakai gaun, melainkan kemeja berbahan tipis yang ditimpa dengan jumpsuit. “Oh, tidak perlu khawatir, Nona Rosebolt. Kau bisa melanjutkan kegiatanmu. Terima kasih telah menemaniku berkeliling.”


Namun sebelum aku dan Emily berpisah, sosok familier yang belakangan mengisi hari-hariku lebih berwarna pun datang.


“Kim, kau sudah datang!” Itu adalah Zoe, Zoe Borsche, yang lantas tersadar akan sosok lain selain diriku di sini, “Emily! Ternyata itu kau!”


Sepertinya mereka saling mengenal. Oh, tentu saja. Zoe kelihatannya adalah salah satu murid penting di sini, sedangkan Emily adalah ketua asrama putri. Apalagi keduanya juga ramah dan memiliki paras yang cantik.


“Hai, Zoe. Kau di sini. Kelihatannya kalian cukup akrab." Padahal tadinya kulihat Emily tampak terburu-buru. Sepertinya kedatangan Zoe membuat Emily senang dan melupakan urusannya. "Bagaimana jika kau menemani Nona Schulz berkeliling?”


“Hei, bukannya itu tugasmu?” tukas Zoe dengan nada jahil.


“Ayolah, Zoe. Aku ada pertemuan yang harus kuhadiri–sekarang.”


“Baik, baik. Kau harus mentraktirku nanti, Emily.”


“Terima kasih! Aku akan mentraktir jika kau turut mengajak Max bersamamu, Zoe." Emily yang tadinya sudah akan pergi, tiba-tiba kembali untuk menghadapku. "Oh, aku hampir melupakan sesuatu. Ini dokumen dari sekolah, sebuah buku berisi informasi dan peraturan yang bisa kau baca, kunci kamar, dan sebuah kotak yang berisi sesuatu yang harus selalu kau bawa, Nona Schulz."


Barang-barang yang disebutkan oleh Emily kemudian diberikan kepadaku.


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar harus pergi sekarang. Semoga harimu menyenangkan, Nona Schulz."


Aku tanpa sadar melambaikan tangan pada Emily yang pergi menjauh, alih-alih memberi salam hormat seperti sebelumnya. Lalu saat mataku dan Zoe saling bertemu, kami secara serempak tersenyum. Zoe kemudian memelukku dengan bahagia.


“Kya! Rasanya senang sekali kita bisa tinggal di tempat yang sama.”


“Wow, tenang, Zoe!” ujarku menenangkan. Tapi aku tak bisa menyembunyikan tawaku yang bersenandung bersama milik Zoe.


Aku lalu mengetuk pintu kamar. Tak merasa cemas, mulanya. Tapi ketika menyadari penghuni kamarku tak kunjung membuka pintu, aku pun mulai berpikir, apa calon teman sekamarku tidak suka dengan kehadiranku yang akan menjadi teman sekamarnya? Tak ingin semakin overthinking, aku pun membuka pintu itu dengan kunci yang diberikan oleh Emily.


Kami masuk ke dalam kamar yang rupanya cukup luas. Seperti informasi yang aku dapat sebelumnya, di dalam kamar terdapat 2 ranjang, meja belajar, dan lemari pakaian yang saling berlawanan satu sama lain. Salah satunya kosong, yang pasti adalah milikku, sedangkan yang lainnya ada benda-benda yang didominasi oleh warna putih milik orang lain yang sudah tentu adalah penghuni lain di kamarku.


Zoe kemudian melihat-lihat benda yang ada di meja belajar calon teman sekamarku. Karena tidak menemukan bingkai foto satu pun yang dapat menunjukkan bagaimana rupa calon teman sekamarku itu, pada akhirnya ia duduk di atas kasurku. “Apa kau tahu nama anak yang sekamar denganmu?”


Aku menggeleng sambil lalu karena sibuk menata baju-bajuku di lemari pakaian. Zoe lalu menghampiriku dan membantu menata barang-barangku di atas meja belajar, termasuk beberapa foto polaroid yang kuhias di sisi dinding meja belajarku. Tanpa aba-aba, cicitan protes tiba-tiba keluar dari mulut gadis itu.


“Kenapa tidak ada foto bersamaku?” tanya Zoe sambil menata buku terakhir di atas meja belajarku. Ia yang masih cemberut lalu duduk di kursi. “Tidak adil. Aku kan sahabatmu juga. Lihatlah mereka ikut menempel di dinding itu.”


Telunjuk Zoe mengacu pada sebuah foto polaroid yang di dalamnya ada sosok teman-temanku di McReych--Marsha, Felly, dan Sophie. Meskipun kami sudah tidak lagi berhubungan, aku masih ingin mengenang mereka. Siapa sangka Zoe bakal cemburu seperti ini. Menggemaskan sekali. Namun, aku tidak ingat jika aku dan Zoe pernah berfoto bersama, karena polaroid yang aku miliki adalah jenis langsung cetak.


“Aku tidak ingat kita pernah berfoto selain di ponsel. Mau foto sekarang?”


Mata Zoe mendadak berbinar, ia tiba-tiba melompat dari duduknya. Sementara aku mencari kamera, Zoe kelihatan latihan berpose di depan kamera. Aku yang melihatnya hanya tertawa. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Zoe menghentikan aksinya dan segera mengangkat telepon yang rupanya berasal dari ponselnya.


“Ya? Ada apa, Max?”


Max? Itu...Max?


Tanpa sadar, aku mengulum bibir. Tanganku memainkan polaroid di tanganku dengan asal, sementara telingaku diam-diam mendengar pembicaraan Borsche bersaudara. Sepertinya mereka akan bertemu sebentar lagi.


Sewaktu Zoe menutup telepon dan tiba-tiba berbicara kepadaku, aku yang terkejut hampir saja menjatuhkan kameraku.


“Kim! Bagaimana kalau kita ke rooftop?”


“R-rooftop?”


“Yup! Kebetulan aku ada janji dengan Max di sana. Oh, kau juga bisa bertemu dengannya. Akan kuperkenalkan saudaraku dengan sahabatku.”


“T-tunggu. Apa aku tidak mengganggu?”


“Tentu saja tidak! Ayo!”


“B-bagaimana dengan foto kita?”


“Kita bisa melakukannya di rooftop. Oh, kau juga bisa foto bersama dengan Max! Kau naksir dengannya kan?”


“Tidak! Kenapa kau suka sekali mengusiliku sih. Kalau begitu terus, aku tidak mau ikut. Huh.”


Zoe tertawa, lalu memelukku dengan gemas. “Bercanda, Kimberly dear. Jangan marah begitu dong!”


Tentu saja bukan aku yang naksir Max. Tidakkah Zoe sadar dengan gelagat Emily tadi? Aku yakin jika ketua asrama putri itulah yang justru menyukai Max! Lihat saja nanti! Aku tidak akan salah tingkah seperti saat bersama Leonal maupun Tommy!


...****************...