Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
06. Hitam



Cowok yang kuulurkan bantuan itu pergi begitu saja. Jelas-jelas cowok itu tadi sempat kesakitan dan sepertinya terluka. Aku terpaku di tempat, entah menghabiskan berapa detik. Ketika kusadari seseorang itu bersikap tidak ramah padaku, hatiku seketika terpantik. Tiba-tiba aku merasa marah.


Kepalaku menoleh. Iris mataku pun bergulir, mengikuti sosok yang berjalan menjauhiku. Dengan langkah cepat, aku berusaha menyusul dan berhenti di depan cowok itu.


"Kenapa kau mengabaikanku?"


Alis cowok itu terangkat sebelah. Cowok yang sudah berhenti dan berdiri di hadapanku itu hanya diam.


"Kau tidak menjawabku," ucapku tak sabar. "Kau terluka, bukan?"


"Kau siapa?" Pada akhirnya cowok itu bersuara. Ia melihatku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi, hingga matanya yang kelam kembali menatapku. "Kau orang luar, tak semestinya di tempat ini. Pergilah."


Aku menggigit bibirku, merasa kesal. Aku tak bisa membalas ucapan cowok itu karena memang benar, aku orang luar. Tapi, hei, tunggu. Aku kan baru pindah ke sekolah ini dan akan jadi murid baru. Berarti kan aku bukan benar-benar orang luar.


"Aku anak baru di sekolah ini. Aku bukan lagi orang luar."


"Aku tidak peduli. Pergi sana."


Aku tentu terkejut dengan sikap cowok itu yang semakin menjadi.


"Kenapa kau kasar sekali?"


Ketika cowok itu hendak melewatiku, aku berusaha tetap berada di depannya.


"Minggir."


Tak terkandung emosi pada suara itu, datar dan dingin. Tapi aku masih tak gentar.


"Tidak."


"Kubilang, minggir."


Barulah ketika kudengar tekanan pada suaranya dan kusadari terdapat amarah pada matanya yang menatapku, aku mendadak merasa takut.


"Noah Huxley."


Seseorang yang baru saja berbicara adalah Tom yang tiba-tiba telah berdiri di sampingku. Pembawaannya yang ramah, serta senyum yang terpatri pada wajah entah bagaimana membuatku merasa lebih rileks. Aku pun bernapas lega saat menyadari atensi cowok asing itu tidak lagi terarah padaku, melainkan berganti pada Tom.


"Tidak," ucap cowok dingin itu tiba-tiba.


"Apa? Aku belum mengatakan apa pun!" protes Tom pada lawan bicaranya.


"Baiklah. Sampai jumpa."


"Tunggu, Noah! Aku membutuhkan bantuanmu!"


Noah. Jadi, cowok bernuansa hitam--rambut, mata, bahkan auranya, uh--itu bernama Noah. Noah Huxley kan? Aku baru sadar jika tadi Tom sudah menyebut nama lengkap milik cowok dingin itu.


"Sudah kubilang. Tidak "


"Aku kan belum mengatakan maksudku. Jadilah model fotoku untuk kompetisi fotografi yang diadakan oleh sekolah."


"Tidak."


"Oh, ayolah, Noah~ Kau selalu menolak permintaanku." Kali ini Tom memegang tangan Noah, sepertinya tak ingin membiarkan cowok bernama Noah itu pergi. "Kita kan teman."


Aku hanya memperhatikan mereka berbincang. Meskipun kelihatannya mereka memiliki sifat yang berkebalikan, sepertinya mereka memang teman.


"Lepaskan tanganku. Kita bukan teman."


...atau bukan?


Tom semakin mengeratkan tangannya pada tangan Noah. Ia sama sekali tidak mau melepaskan dan terus saja memohon, bahkan di menit berikutnya kala Noah hendak berbalik pergi. Tom menahan tangan Noah hingga nyaris berjongkok.


Saat itu terjadi, aku seperti mendengar suara tulang berbunyi, atau gesekan ranting pohon di dekat mereka sewaktu angin meniupnya? Aku tidak yakin apa.


"Tidak! Kau adalah teman baikku! Tidak akan kubiarkan kau menolak menjadi model fotoku kali ini! Kau adalah satu-satunya yang bisa membantuku, Noah!" rengek Tom.


Kali ini Noah hanya diam. Tak ada satu pun jawaban yang keluar dari mulutnya. Aku perhatikan wajah Noah yang perlahan memucat, juga terdapat bulir-bulir keringat yang meretas.


"Noah? Kenapa kau diam saja? Oh, aku tahu! Kau pasti berubah pikiran dan mau jadi modelku kan?" Tom yang bersorak girang lantas tertawa. "Tanganmu sampai dingin seperti ini."


Seketika, aku menyadari sesuatu yang salah.


"Uh-oh, Tommy? Lepaskan tangannya," ucapku dengan ragu.


Dengan lembut, aku memandu Tom melepaskan tangannya dari Noah. Ekspresi Noah yang tampak menahan sesuatu semakin meyakinkanku.


"Kau harus memeriksakan tanganmu, Noah," saranku padanya.


Noah menatapku sejenak, dan yang membuatku terkejut, kusadari terdapat sebersit kehangatan pada sorot matanya.


Tanpa bicara apa-apa, Noah pun pergi ke dalam gedung sekolah. Aku dan Tom melihat punggungnya yang menjauh dan membiarkannya begitu saja. Meskipun aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi Noah kelihatan mengusap salah satu tangannya yang tadi dipegang oleh Tom. Dari sana aku semakin yakin, jika ada yang tidak beres dengan tangan Noah.


"Tommy. Kurasa kau harus menemani Noah. Aku khawatir jika tangannya patah."


"G-gawat. Jangan-jangan karena ulahku yang berusaha menahannya tadi. Bagaimana ini, Kimmy?" ucap Tom panik.


"Tenangkan dirimu. Mungkin saja penyebabnya karena terjatuh dari pohon tadi."


"Uh. Dia memang suka duduk di atas pohon untuk menghindariku. Tapi aku tidak mengira dia sampai jatuh dan melukai dirinya seperti tadi," sesal Tom. Cowok itu lantas berniat menyusul Noah. "Kurasa kau benar, Kimmy. Aku harus melihat keadaannya. Apa kau mau ikut denganku?"


Aku menggeleng.


"Aku takut dia akan terganggu dengan kehadiranku. Mungkin lebih baik kau saja, Tommy."


"Baiklah kalau begitu." Sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh, Tom berhenti dan menoleh ke arahku. "Sebenarnya, Noah adalah orang yang baik, meskipun sikapnya seperti itu. Kuharap kau tidak membencinya, Kimmy."


Mendengar kata-kata Tom, aku jadi terhenyak lalu tersenyum.


"Aku tidak membencinya. Terima kasih, Tommy."


"Tidak, tidak. Terima kasih. Aku akan menemuimu lagi ketika kau sudah menjadi murid secara sah. See ya, Kimmy!"


Aku mengantarkan kepergian Tom dengan sebuah senyum dan lambaian tangan. Cicit burung yang saling bertumpukan kemudian menarik perhatianku. Aku menengadah, menatap langit biru menawan dengan semburat putih di atas sana. Lantas kutujukan tatapanku pada hutan di belakang sekolah.


Hutan itu, betapa menarik hatiku. Aku penasaran dengan isi hutan itu.


Namun, mengapa aku penasaran? Aku tidak benar-benar berpikir akan ada pangeran peri di sana kan?


Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat, berharap dengan begitu pikiran konyol itu segera hengkang dari otakku. Rasanya aku benar-benar bodoh jika berharap bertemu seorang pangeran di sana, padahal itu semua hanya bermula dari sebuah mimpi!


Lagipula aku tidak ingin lagi merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putri.


Itu sungguh menyesakkan.


Tiba-tiba aku merasakan ponselku berdering. Rupanya itu adalah panggilan masuk dari Zoe. Aku pun buru-buru mengangkatnya.


"Halo."


"Kim! Kau kemana saja? Aku dari tadi mencarimu!" Di seberang telepon, terdengar suara Zoe yang khawatir. Aku tidak bisa menolongnya selain hanya tertawa hambar. Apalagi ternyata Zoe masih belum menyelesaikan runtutan kalimatnya. "Aku sudah membalas chatmu, tapi kau tak kunjung membalasnya. Teleponku juga tak kau angkat."


"Ah, maafkan aku, Zoe. Sungguh. Aku tak sadar ada telepon masuk."


"Sudahlah. Tidak apa-apa, yang terpenting aku sudah mendengar suaramu lagi. Sekarang kau ada di mana?"


"Aku di taman belakang sekolah. Sebenarnya tadi aku tersesat dan tiba-tiba sudah sampai sini."


"Apa?!"


"K-kenapa memangnya?"


"Tunggu di sana! Jangan pergi kemana pun! Aku akan segera menjemputmu!"


Tut.


Telepon pun terputus, meninggalkanku yang kebingungan dengan kata-kata Zoe. Setelah aku mengecek notifikasi, rupanya benar, terdapat puluhan chat dan panggilan masuk dari Zoe, tapi tidak aku angkat. Aku benar-benar tak sadar tadi.


Apa yang bisa kulakukan sekarang berarti hanya menunggu Zoe. Maka aku pun menunggunya di dekat kolam kering tempat dimana diriku menjadi model foto tadi.


Aku menoleh pada patung pangeran peri itu.


"Pangeran..."


Betapa malang nasibmu. Kuharap aku bisa membantumu menemukan putri yang sangat kau cintai.


...****************...