
Setelah melalui anak tangga yang berliku, akhirnya aku dan Zoe tiba di lantai tertinggi bangunan. Aku tak menyangka jika ada ruangan besar yang diperuntukkan sebagai ruang rekreasi di asrama ini. Kupandangi sekeliling, dan cukup banyak anak-anak perempuan yang beraktifitas di ruangan yang banyak memiliki jendela besar ini. Tanganku yang sedari tadi digenggam oleh Zoe, kini mengerat. Tubuhku agak merapat pada Zoe karena tidak nyaman atas pandangan anak-anak itu padaku. Aku tidak tahu apa, tetapi salah satu di antaranya entah bagaimana membuatku tertekan. Nafas yang kuhirup pun seakan tak mampu memuaskan paru-paruku. Zoe lantas menuntunku untuk berjalan cepat keluar ruang rekreasi menuju taman rooftop.
“Kau tak apa? Kau kelihatan agak pucat.”
“Aku tidak apa. Sungguh. Tapi kenapa mereka menatapku dengan pandangan seperti itu?”
"Karena kau spesial, Kim," ucap Zoe dengan lembut.
Aku tentu saja bertanya-tanya. Ketika aku menuntut Zoe untuk menjabarkan maksudnya, temanku itu hanya tertawa sehingga aku menyimpulkan jika Zoe hanya sedang berkelakar.
Rasanya beruntung mengetahui bahwa di luar bangunan udara terasa lebih sejuk, meskipun sebenarnya perasaan aneh yang kurasakan di ruang rekreasi tadi belum bisa benar-benar hilang. Aku kemudian mencoba tidak peduli sebagaimana aku biasanya ketika berada di McReych. “Jadi, di mana Max?”
“Oh, jadi kau tak sabar bertemu dengan Max?”
“Terserah kau saja, Zoe!”
Usai mencubit pipiku dengan gemas, Zoe menarik tanganku supaya mengikutinya berjalan pada taman yang dipenuhi hiasan tanaman. Sekat-sekat berupa tumbuhan yang membentuk jalan berliku dan ruang-ruang kecil yang dapat diduduki membuatnya kelihatan seperti labirin. Aku membuang muka ke arah lain ketika sekelompok cewek melihat ke arahku. Tapi yang kusadari kemudian adalah terdengarnya suara tawa cowok dari sisi lain taman.
Bukankah tempatku berpijak ada di atas asrama cewek? Dan benar juga, kami akan bertemu dengan Max!
Sontak aku menahan tangan Zoe sehingga sahabatku itu berhenti.
“Ada apa, Kim?” tanya Zoe seraya menoleh ke arahku.
“Bukankah ini asrama khusus cewek? Kenapa ada cowoknya?”
“Emily belum memberitahumu ya? Jadi, taman di rooftop ini memang saling menghubungkan asrama cowok dan cewek.”
Aku mengikuti arah pandang Zoe pada jembatan sebagai penghubung.
“Skybridge? Bagaimana bisa? Kalau para cowok itu masuk ke asrama kita bagaimana?”
Zoe menggeleng. “Tenang saja. Penjagaan di sini cukup bagus. Mereka tidak akan bisa masuk karena mereka bukan anak perempuan, begitu juga sebaliknya.”
Meski aku masih belum cukup paham, aku menahan diri untuk menerima dan fokus pada langkah yang kembali kubuat. Kami kemudian kembali berjalan menyusuri taman. Tapi seseorang yang ditunggu belum datang. Max Borsche, tidak kunjung muncul dari jembatan penghubung itu. Aku memandang ke sekitar, dari tempatku berdiri aku bisa melihat sekolah kami yang dipisah oleh pohon-pohon yang berkelebat dan pagar tanaman. Taman belakang sekolah tak bisa kulihat, tetapi sebagai gantinya hutan di belakang sekolah terlihat semakin suram, padahal matahari masih terik. Hatiku yang paling dalam mengatakan kalau ada sesuatu pada hutan itu.
“Hutan itu kelihatan suram. Apa benar murid-murid sekolah kita takut masuk ke sana?” tanyaku pada Zoe.
“Bagaimana kau tahu, Kim?”
“Sewaktu aku tersesat kemarin, tak ada murid yang kujumpai sepanjang perjalananku ke sana. Hanya ada 2 cowok saat aku sampai di taman belakang.”
“Wow. Cowok-cowok itu cukup... berani. Sebenarnya sekolah tidak mengizinkan murid masuk ke dalam hutan itu karena pernah ada kejadian seorang murid tersesat di sana. Ketika pulang, murid itu selalu bercerita jika dia bertemu peri di dalam hutan. Sayangnya tidak ada yang percaya dan banyak yang menganggapnya gila, sampai tiba-tiba dia menghilang begitu saja.”
"Kemana perginya dia?" tanyaku penasaran.
"Sebagian orang meyakini jika dia melarikan diri dari sekolah karena malu. Namun, tak ada satu pun barang yang dibawa olehnya dan tetap di kamarnya. Ada juga yang berpendapat dia pergi ke dalam hutan dan tidak kembali karena dimangsa hewan buas."
"Apa tidak ada satu pun dari pihak sekolah yang menelusuri hutan?"
"Sudah. Bahkan sekolah ini mendapat perhatian dari walikota. Beberapa relawan bermunculan, mengajukan diri untuk ikut mencari murid yang hilang itu. Tapi sama, mereka yang masuk ke dalam hutan berujung tersesat selama puluhan hari dan keluar dengan cerita yang serupa dengan murid yang hilang itu."
"Tidak. Aku hanya mempercayainya, juga segelintir orang lainnya."
Aku terhenyak saat menyadari tatapan dan senyum Zoe yang tampak sedih. Bibirku bungkam. Sungguh, aku tak tahu harus berkata apa sementara aku sendiri hanyalah orang baru yang tak lama lalu pindah ke kota ini. Kami kemudian menghabiskan beberapa jenak untuk termenung dengan pikiran masing-masing.
Hingga Zoe menepukkan kedua tangannya karena tersadar kalau barang yang dijanjikan pada Max ternyata belum terbawa. Ia lalu terburu-buru pergi untuk mengambil ke kamarnya setelah memintaku untuk menunggu di tempat ini. Barangkali setelah ini Max datang, katanya kepadaku.
Aku kini hanya seorang diri. Lalu memutuskan untuk duduk di bangku taman. Sesekali ada seseorang atau dua orang lewat dan menoleh kepadaku, tapi aku terlalu sibuk dengan pikiranku yang lama-lama membuat isi kepalaku penuh.
Aku pun tak tahan.
"Aaa! Baru beberapa hari di Fairille, tapi banyak hal yang memusingkanku," ucapku frustasi pada udara kosong. "Semoga aku tidak salah berbicara pada Zoe."
"Memangnya, apa hal yang memusingkanmu?"
"Banyak sekali tahu. Tahu tidak--" ucapanku terhenti. Aku menoleh ke balik punggung dan menemukan seseorang duduk di belakang tanaman yang menutupi sebagian tubuhnya. Rupanya orang itulah yang menanggapi ocehanku. Rambut keperakan, mata yang kelabu--aku dibuat terpaku menatapnya. Aku kemudian tersadar dan mendirikan tubuhku untuk mundur beberapa langkah. Jerit tertahanku pun keluar. "H-hantu!"
"Pft. Mana ada hantu di siang bolong begini," ujar cowok asing itu di antara kekehannya. Ia lalu berdiri dan membersihkan pakaiannya yang agak kotor. "Kau mengganggu tidur siangku, Nona. Tanggung jawab."
Dahiku mengerut. Aku sudah tidak merasa takut setelah meyakini kalau orang di depanku kini benar-benar manusia. "Tanggung jawab? Kau bercanda. Ini tempat publik. Kau semestinya tidur di kamarmu, Tuan."
Cowok itu mendekatiku, dan terus memangkas jarak di antara kami. Aku memundurkan langkah, tapi terhenti pada pagar pembatas yang telah menempel di punggungku. Hingga cowok itu berhenti dekat sekali denganku. Aku tercekat, membeku di tempat, terjebak di hadapan tubuh yang lebih tinggi daripadaku. Wajah cowok itu lantas semakin dekat, napasnya yang hangat melewati pipiku yang telah merona dan berakhir singgah pada telingaku.
Suaranya yang terdengar seksi lantas berbisik.
"Siapa pun yang mengganggu tidurku, aku tidak akan memaafkannya. Itu peraturan tidak tertulis. Semua orang di sini tahu itu, Tuan Putri."
Sekonyong-konyong, dadaku berdebar hebat. Mataku membelalak kaget karena terkejut dengan kata-kata cowok itu. Bahkan, kedua tanganku yang memegang teralis pagar perlahan mulai gemetar.
Kenapa dia mengancamku seperti ini? Kenapa dia menyebutku sebagai 'tuan putri'?
"Schulz!"
Seseorang meneriakkan margaku. Ketika kulihat di ujung terjauh belokan taman, ada sosok laki-laki berkacamata dengan gips di salah satu tangan.
Itu Noah Huxley.
"Noah?"
Namun, meski aku sedikit merasa lega karena hadirnya Noah; meski aku ingin pergi dan mendorong cowok di hadapanku; meski kudengar suara berlari yang semakin mendekat yang kuyakini itu adalah Noah, cowok itu tidak mau melepaskanku dan terus menggenggam erat tanganku.
"Mau kemana, Tuan Putri? Aku pangeranmu."
Apa-apaan!
"Kau bodoh ya!"
Entah keberanian dari mana, aku menonjok wajah cowok itu dengan kuat sehingga dia berteriak kesakitan dan membebaskan tanganku yang satunya. Sontak saja aku langsung berlari menjauh ke arah Noah dan menggamit tangan Noah yang tidak terbalut gips supaya kami bisa kabur bersama-sama.
...****************...