
Isyarat dan ucapan dari Max membuat kami yang ada di sana mengarahkan perhatian ke satu titik. Di antara gemerisik pepohonan yang diterpa angin, terdengar langkah kaki milik seseorang yang semakin dekat. Orang yang disambut oleh Max lantas keluar dari balik gerbang berkarat yang tadi sempat aku lalui bersama Leonal. Di bawah bayangan pepohonan, rambut kecokelatan sebahunya tampak bergoyang-goyang dengan indah. Senyum masam pada bibir tipis itu melengkung tipis. Aku dapat melihat paras gadis yang selama berjam-jam lamanya menghilang dari pandanganku kini telah kembali. Saat menyadari seseorang itu adalah Zoe Borsche, aku tak bisa berhenti menatapnya.
“Zoe…?” ucapku tak percaya.
“Hai, Kim,” sapa Zoe dengan agak canggung.
Saat Zoe berdiri tepat di sampingku, tanpa berpikir panjang aku memeluknya.
“Kupikir kau marah padaku,” tuturku pada Zoe.
“Oh, Kimberly dear. Maafkan aku. Sungguh. Aku perlu waktu sendiri selama beberapa waktu,” ucap Zoe sambil membelai rambutku yang sewarna madu. Usapan jemari tangan Zoe memang berhasil membuatku tenang.
“Aku senang jika kau sudah merasa lebih baik,” ujarku senang.
Zoe hanya bisa mendenguskan tawa mendapati diriku yang seperti ini. Setelah aku kehilangan ketiga temanku di McReych, tentu aku tidak mau kehilangan satu-satunya sahabatku yang tersisa di dunia. Sahabat manis nan ceria yang selalu mengisi hari-hariku yang tak lagi terasa membosankan. Zoe Borsche. Aku betul-betul menyayanginya seperti seorang saudara. Andai saja aku dapat mengingat masa kecilku di Fairille bersamanya, mungkin itu akan lebih indah dan ikatan kami akan terasa lebih kuat. Selepas kepindahanku ke McReych dulu, hanya Zoe yang teringat padaku dan menjadi satu-satunya orang dari Fairille yang mau mengunjungiku di kota metropolitan itu. Sementara aku tidak pernah melakukan hal serupa terhadapnya.
“Kalian habis bertengkar?” tanya Max di atas sana. Kakak laki-laki dari Zoe itu lantas bergelantungan pada dahan pohon yang tadi ia duduki sebelum kemudian menuruni batang pohon menggunakan kaki dan tangannya. Pergerakan Max yang cepat membuatku berpikir jika memanjat dan menuruni pohon itu sangat mudah. Noah yang tadinya bersandar pada pohon itu kemudian berpindah beberapa senti ke samping. “Apa yang terjadi?” tanya Max lagi setelah kedua kakinya berhasil menjejak tanah.
“Kami tidak bertengkar. Hanya saja aku sempat teringat ‘orang itu’, sehingga tadi aku mengasingkan diri. Kimberly pikir aku marah kepadanya,” papar Zoe.
“Tentu saja kupikir kau marah. Kau tiba-tiba meninggalkanku di kantin bersama Tommy dan tidak kembali, bahkan sampai istirahat selesai. Kau juga tidak membalas pesanku,” sahutku mendekati rengekan sambil melepaskan pelukan Zoe selama sesaat. “Aku khawatir sekali.”
“Aku benar-benar minta maaf, Kim. Aku sudah di sini sekarang. Kau tidak perlu khawatir lagi. Terima kasih telah mengkhawatirkanku,” ujar Zoe lembut. Kali ini aku dapat merasakan Zoe mengusap puncak kepalaku dengan kasih sayang.
Aku lega Zoe ternyata tidak marah padaku. Setelah puas memeluk Zoe, aku kemudian membebaskan Zoe dari rengkuhan. Di sana, aku dapat melihat sorot mata Zoe yang tidak lagi bersedih seperti saat di kantin. Mengetahuinya, aku sangat senang.
Zoe lalu menghadap pada Max dan memberikan saudaranya itu sebuah tatapan serius.
“Aku ingin ikut, Max,” pinta Zoe tiba-tiba.
Max menaikkan kedua alisnya. Agaknya ia mungkin tidak percaya dengan ucapan saudarinya. Memang benar saat di rooftop kemarin, Zoe menganggap ide saudaranya itu gila. Lantas, sekarang ia justru berubah pikiran. “Kau yakin?” tanya Max.
“Ya. Aku ingin mencari orang itu,” terang Zoe.
“Aku cukup terkejut. Setelah sekian lama, akhirnya kau mau mencarinya. Apa yang membuatmu berubah pikiran?” ujar Max menelisik.
“Aku ingin bertemu dengannya. Kau paling tahu, Max, bagaimana perasaanku terhadapnya,” jawab Zoe. Gadis itu lalu mengembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Lagipula Kimberly juga ingin pergi. Aku tidak mungkin membiarkannya seorang diri bersama kalian.”
“Kalau soal Kimberly, kau bisa mengandalkanku kok,” ujar Max sambil tersenyum lebar dan mengarahkan jempolnya ke dirinya sendiri. Matanya yang berwarna terang kemudian bergulir ke arah Noah. “Aku tidak yakin jika Noah-boy bisa diandalkan.”
Noah membalas tatapan Max dengan tampang datar. “Aku dapat mendengarmu, Max. Tapi memang akan lebih baik jika Kimberly Schulz tidak ikut,” tukas Noah.
“Aku juga dapat mendengarmu, Noah Huxley. Kau sengaja sekali berkata seperti itu ya?” protesku pada Noah.
Pada akhirnya, aku dan Noah bersitatap dengan tegang. Meskipun biner kelam di balik kacamata itu mengarah lurus kepadaku, aku tidak akan kalah. Aku juga terus-menerus menatapnya dengan tatapan galak. Lihat saja, Noah, batinku. Aku sampai menyipitkan mata supaya cowok itu terintimidasi--meskipun sepertinya percuma. Dia sama sekali tidak berkedip, sedangkan mataku sudah perih karena meladeninya terlalu lama. Argh. Aku kalah!
“Tapi, Zoe, kau yakin jika dia kembali ke hutan?” tanya Max.
Percakapan yang kembali terjadi membuat perang dinginku dengan Noah berakhir. Kami berdua kembali menyimak pembicaraan Borsche bersaudara.
“Kenapa kau sekarang justru berkata seperti ini, Max? Bukankah kau sendiri yang tadinya mengajakku ikut serta ke dalam hutan?” Bukannya menjawab, Zoe justru bertanya balik.
“Sorry, Zoe. Tadinya kukira kau sudah melupakannya, dan aku hanya mengetesmu, tapi ternyata kau masih peduli padanya. Kau tahu kan, kemungkinannya akan sangat kecil bertemu dengannya. Sudah hampir satu tahun. Jika dia masih hidup, dia pasti bukan berada di dalam hutan ini, tapi di suatu tempat, yang mungkin di luar kota,” ujar Max menjabarkan pemikirannya.
“Aku tahu. Sebenarnya aku pun lebih suka membayangkan jika dia pergi meninggalkanku dan hidup di kota lain dengan bahagia daripada mengetahui dia mati,” ucap Zoe getir. Ia kemudian membubuhkan kekeh hambar di antara kalimatnya, “Tapi kurasa tak ada salahnya jika aku ikut kalian. Aku tidak ingin lagi kehilangan orang-orang yang kusayangi.”
Kata-kata Zoe membuat dadaku hangat. Aku merasa senang sekaligus sedih mendengar pengakuan itu. Senang karena mengetahui jika Zoe tidak ingin kehilanganku; sedih karena mengetahui Zoe telah ditinggalkan oleh orang yang dia kasihi. Aku jadi kesal dengan orang bernama Marion Lynch. Tega-teganya orang itu menghilang dan meninggalkan kekasihnya hingga bersedih seperti ini. Aku jadi penasaran laki-laki macam apa yang disukai oleh gadis manis seperti Zoe Borsche. Kalau orang itu masih hidup dan aku temukan nantinya, akan kupastikan dia mendapatkan pukulan super tepat di wajahnya seperti apa yang telah kulakukan pada Frederick Elford.
“Apa dia tidak memberikan petunjuk apa pun sebelum kepergiannya, Zoe?” tanya Max.
“Tidak. Barang-barang yang ditinggalkan olehnya pun disimpan oleh pihak sekolah saat itu untuk kepentingan penyelidikan. Sebelum pada akhirnya dilakukan pencarian bersama relawan dari kota,” terang Zoe.
“Tunggu. Apa orang yang kalian maksud sedari tadi itu Marion Lynch?” timpal Leonal kemudian.
“Benar, Ketua Ordt,” ujar Zoe.
“Leo. Apa kau tahu di mana letak dokumen-dokumen yang menyimpan kasus Marion Lynch?” tanya Noah.
“Oh, benar." Ada antusias yang terkandung dalam ucapan Zoe. Entah kenapa aku melihat ada harapan pada sorot matanya. "Mungkinkah Ketua Ordt juga tahu di mana barang-barang yang ditinggalkan Marion berada?” imbuh Zoe.
“Uh-oh, tunggu sebentar, murid-murid. Jangan salah paham," ucap Leonal dengan nada bijak. Sikapnya seperti sedang mencoba menenangkan keributan di tengah rapat. Mungkin kebiasaannya. "Meskipun aku sedari tadi diam di sini, bukan berarti aku setuju dengan rencana kalian masuk ke dalam hutan,” lanjutnya.
“Jadi rupanya kau belum mengizinkan kami dari tadi, Ordt?" ujar Max tidak sabar. Cowok bertubuh atletis itu berjalan ke arah Leonal sambil menggulung lengan bajunya dengan terburu-buru. Tangan yang telah memperlihatkan ototnya itu lantas menarik kasar kerah seragam Leonal. "Aku jadi ingin memukul seseorang,” tambahnya mengancam.
“Kau tidak akan memukul adik kelasmu kan, Borsche?” ujar Leonal dengan tenang. Senyumnya bahkan masih terpatri di wajah tampan itu.
“Kenapa tidak? Aku tidak tunduk pada peraturan,” balas Max tanpa rasa takut.
Melihat perseteruan itu, aku jadi panik. “H-hei, kalian berdua, hentikan,” kataku sedikit tergagap.
Aku ingin mendekat dan menghentikan pertikaian Max dan Leonal, tapi tiba-tiba Noah meraih pergelangan tanganku. Saat aku menoleh pada cowok berkacamata itu, dia hanya menggelengkan kepala kepadaku, mengisyaratkan aku supaya tidak perlu ikut campur. Namun, kekhawatiranku bertumpuk dan aku dilanda kebingungan. Noah lantas beranjak dari tempatnya untuk menghampiri kedua orang yang sedang bersitegang.
Lengan berotot Max yang menegang karena amarah berangsur turun saat Noah menahan Max dan membuatnya melepaskan kerah Leonal. Ketua murid itu lalu merapikan seragamnya dan mengucapkan terima kasih secara singkat pada Noah.
Namun, yang membuatku tak percaya adalah apa yang kulihat selanjutnya.
“Leo.”
Dengan hanya memanggil nama temannya, Noah berhasil membuat Leonal termenung. Bahkan senyum Leonal yang hampir selalu terpatri pada wajahnya kini hilang sama sekali. Noah kemudian semakin mendekati Leonal dan membisikkan sesuatu yang tak bisa kudengar. Aku hanya bisa menebak-nebak dari ekspresi wajah Leonal yang menegang selama beberapa jenak. Mata biru itu bahkan membulat sempurna, seperti terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh Noah.
“Baiklah. Aku hanya akan pura-pura tidak tahu dengan rencana rahasia kalian,” kata Leonal akhirnya.
Tak hanya aku, rupanya Max dan Zoe terkejut dan saling pandang. Isi kepala kami mungkin sama, yakni bertanya-tanya dengan apa yang baru saja dikatakan Noah kepada Leonal sehingga ketua murid itu dapat membuat keputusan dengan mudah. Akan tetapi, rupanya, ucapan Leonal itu belum selesai.
“Tapi dengan syarat, kalian harus membantu kesuksesan acara sekolah akhir minggu ini,” ucap Leonal.
Setidaknya ketua murid Fairille High School ini tidak akan membocorkan rencana rahasia kami ke khalayak.
“Dengan senang hati, Tuan Ordt. Kami sangat berterima kasih,” ucapku senang.
Leonal mendekatiku, lalu meraih tanganku.
“Tidak masalah. Aku ikut senang jika kau senang, Nona Schulz,” ucap Leonal dengan senyuman hangat di wajahnya. Cowok itu kemudian sedikit membungkuk, lalu mengecup tanganku dengan lembut sambil memejamkan matanya.
...****************...