
Apa yang akan kau lakukan jika ada orang asing yang mengetahui namamu, lalu tiba-tiba saja dia berkata kalau kau tak pantas berada di tempat yang bahkan belum genap seminggu kau di sana? Tentu saja kau akan marah, bukan? Hal yang sama terjadi padaku.
"Apa maksudmu?"
Sontak saja pertanyaan itu meretas melalui mulutku. Aku yang tadinya hanya penasaran terhadapnya kini menatapnya dengan tatapan tajam. Tidak peduli akan pandangan orang di sekelilingku. Lagipula ini masih terlalu pagi, belum banyak siswa yang memenuhi lorong sekolah.
"Itu hanya sebuah peringatan kecil, Nona Schulz. Orang luar tidak seharusnya menginjakkan kakinya di tanah keramat ini," tutur cewek berambut platina itu sambil mendekat ke arahku. Suaranya yang halus tetapi menusuk kemudian berbisik, "Kau terlalu hina."
Aku seketika membelalakkan mata. Tak pernah aku merasa seemosional ini sebelumnya. Bahkan ketika lengking suara tawa menyebalkan milik cewek itu dan teman-temannya dibawa menjauh bersama raga mereka, aku masih terlalu syok untuk sekadar merespons dengan ucapan. Sekonyong-konyong aku merasakan gemetar pada tanganku yang mengepal. Sama sekali tak habis fikir, karakter dengan sifat antagonis yang biasanya hanya kutemukan di film maupun novel, baru saja kuhadapi secara langsung.
"Nona Schulz tak perlu memikirkannya." Sebuah suara dengan volume rendah terdengar. Ketika aku menoleh, rupanya itu milik gadis berkacamata bulat yang sedari tadi masih berdiri di dekatku. Gadis itu tersenyum lembut kepadaku. "Ya?"
Kata-kata itu sedikit membuatku lebih tenang. Bahuku menurun dan tanganku yang berkeringat dingin melemah, meski di sana masih terdapat perasaan yang mengganjal dan sama sekali tidak kusuka. Aku berusaha keras untuk mengenyahkannya dan berfokus pada gadis di hadapanku.
"Terima kasih." Aku memaksakan sebuah tawa, sedang mengubah kembali suasana supaya lebih ceria. "Oh iya, namamu siapa? Aku Kimberly Schulz. Meskipun kau sudah tahu namaku, kita belum berkenalan secara langsung."
Aku mengangkat tanganku, mengajaknya berjabat tangan. Dengan malu-malu, gadis itu kemudian mau meraih tanganku.
"Anastasia Kirby. Tapi orang-orang sering menyebutku dengan Ann Kirby, Si Culun..." ucapnya dengan diakhiri kernyih sedih. "Kelas 2-Diamond. Senang berkenalan dengan Anda, Nona Schulz," lanjutnya tampak malu-malu.
"Kau tidak culun. Dan jangan terlalu formal padaku. Panggil saja Kimberly. Kelas 2-Crystal. Sebagai gantinya, apa aku boleh memanggilmu Anastasia?"
Anastasia kelihatan terkejut, tetapi lama-lama kebahagiaan terpancar pada matanya yang berbinar. Gadis itu mengangguk ceria.
"Tentu, Nona Schulz. Uhm. Maaf. Maksudku, Nona Kimberly. Kimberly... Senang berkenalan denganmu. Aku sangat bersyukur," ungkapnya senang.
"Kau terlalu berlebihan, Anastasia," kataku ramah.
Lalu kusadari ternyata nomor pada loker Anastasia adalah angka setelah lokerku. Satu-lima-tujuh. Aku seketika menyadari jika loker yang sedari tadi aku cari telah berada di dekatku.
"Wow kebetulan yang bagus. Ternyata loker kita bersebelahan," ujarku sambil merogoh kunci loker ke dalam saku blazerku.
Aku dapat mendengar samar suara tawa Anastasia. Barulah ketika aku memasukkan kunci lokerku dan hendak memutarnya, kusadari pergerakan Anastasia yang tertahan. Saat kutolehkan kepalaku, gadis itu tampak terkesiap dengan sesuatu di balik pintu lokernya sendiri. Wajahnya pucat pasi.
"Ada apa, Anastasia?" tanyaku khawatir.
Gadis itu menggeleng perlahan dan memaksakan senyumnya sebelum kemudian membuka pintu lokernya lebih lebar. Alangkah terkejutnya aku saat melihat isi lokernya. Di dalam loker Anastasia dipenuhi coretan dengan kata-kata buruk dan tak pantas yang semuanya ditujukan pada gadis itu. Beberapa sebutan semacam Ann-Kirby-Si-Culun pun ada di sana. Benda-benda yang ada di dalam loker itu bahkan juga tak luput dari sasaran.
"Maaf karena ini merusak pemandangan. Ini sangat memalukan...," ujar Anastasia lesu.
"Siapa yang melakukannya?" tanyaku kesal.
"Tidak apa. Setidaknya barang-barangku di sini masih bisa dipakai." Anastasia mengambil beberapa buku tebal dari sana dan memeriksa halamannya. Meskipun tampangnya sedih, aku bisa melihat kelegaan dalam sedikit senyumnya. "Untungnya bukuku masih bisa dipakai. Tidak ada coretan di dalamnya."
"Kenapa mereka melakukan ini padamu?" ujarku dengan diselipi emosi.
Aku tak mendengar jawaban dari mulut Anastasia, yang kudapati hanya bibirnya yang terkulum dan gelengan kecil. Menyadari sesuatu pada diri gadis itu, aku lantas mengusap bahunya lembut.
"Aku bisa berbagi loker jika kau mau. Sementara, kosongkan dulu lokermu. Mereka bisa saja melakukannya lagi," ucapku menawarkan.
"Tidak apa. Mereka tidak akan melakukannya lagi... mungkin," katanya ragu.
"Mereka sering melakukannya?" tanyaku lagi.
"Ini yang pertama untukku. Dan yang kutahu, satu orang hanya akan diganggu satu kali saja," jawabnya kepadaku.
"Apa kau baik-baik saja? Aku bisa melaporkan kepada guru untukmu," kataku memastikan pada Anastasia.
"T-tidak perlu, Kimberly. Aku takut kamu akan dapat masalah nantinya," ucap Anastasia sedikit panik.
"Tapi--" ucapanku terputus. Lagi-lagi, aku melihat gelengan kepala gadis itu. Anastasia lalu menggenggam tanganku dengan lembut.
"Terima kasih atas niat baikmu. Sungguh. Aku pikir orang dari kota itu tidak ramah, ternyata aku salah. Selain cantik dan modis, kau sangat baik," katanya dengan tulus.
Aku sedikit tersipu, lalu tersenyum membalas senyumnya yang hangat. Pujian dari Anastasia membuatku tersanjung. Padahal jika dibandingkan para wanita molek dengan pakaian mencolok di McReych, aku termasuk gadis biasa dengan gaya yang tergolong standar di kota. Mungkin karena seragam Fairille High School memiliki set yang cukup sulit untuk dimodif (hanya gaun, blazer crop, dan pita di dada), aku hanya memainkan model rambut dan mengenakan kaos kaki berenda.
"Modis? Kurasa pakaian kita tak jauh berbeda," kataku sambil memandang bergantian pakaianku dan pakaian gadis itu.
Anastasia lalu tertawa kecil.
"Tidakkah kamu ingat aku pernah menyapamu di depan ruang guru saat kamu memakai pakaian kota?" tanya Anastasia antusias. Percakapan ini sepertinya membuat gadis itu bersemangat. Aku sampai nyaris lupa jika beberapa saat yang lalu dia mendapat perlakuan buruk dari seseorang. "Sepertinya itu seragam sekolahmu. Aku sangat menyukainya, begitu modis dan seksi," lanjutnya.
Jangan-jangan yang Anastasia maksud, sewaktu aku pertama kali datang ke sekolah ini menggunakan seragam lamaku. Memang betul dibandingkan seragamku yang sekarang, seragam lamaku modern dan penuh gaya. Apalagi roknya yang di atas lutut membuatnya terkesan seksi.
"Lagi-lagi kau berlebihan. Tapi terima kasih, aku juga menyukai seragam sekolah lamaku." Aku jadi sedikit rindu mix-and-match pakaian yang kukenakan ketika akan hang out di McReych. "Oh. Kau gadis yang waktu itu, ternyata. Aku ingat. Maaf aku pergi saat kau menyapaku," sambungku menanggapi.
"Uh-oh. T-tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku menyapamu tiba-tiba. Kau pasti terkejut. S-saat itu aku ingin berkenalan denganmu, makanya, makanya--" ujar Anastasia gelagapan. Dia tiba-tiba menghentikan ucapannya dan wajahnya memerah. Lalu buru-buru menutup loker dan menguncinya. "A-aku harus pergi mengembalikan buku ke perpustakaan. Bye."
Seketika aku jadi teringat kalau aku harus lekas ke ruang kesehatan untuk mengambil tasku yang tertinggal. Aku hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada kepergian Anastasia. Setelahnya, aku fokus pada urusanku sendiri. Loker yang sedari tadi kuanggurkan akhirnya kubuka. Namun, sesuatu menarik atensiku saat aku menaruh buku pelajaran yang di sana.
Loker itu tidak benar-benar kosong, rupanya. Terdapat sepucuk kertas yang lekas kuraih. Tadinya aku tidak berpikiran apa pun, sampai kusadari kertas itu bukanlah kertas biasa, melainkan perkamen tua seperti yang kutemukan di antara halaman buku peraturan yang diberikan oleh Emily. Tulisan latin yang tertera indah sontak menciptakan dentuman hebat di dalam dadaku.
...'Tuan Putri Kimberly. Aku harap, kau selalu diliputi dengan kebahagiaan. Meskipun aku hanya dapat memandangmu dari kejauhan, percayalah, aku akan selalu melindungimu....
^^^Dari pangeranmu.'^^^
Aku pun menoleh ke sekeliling untuk mengedar pandang. Tak banyak murid yang berkeliaran di lorong loker, pun tak ada yang kupikirkan jika salah satu dari mereka lah pengirim surat ini, padahal banyak pasang mata yang memandang ke arahku. Perhatianku lalu kembali ke lembar perkamen itu dan sekali lagi, kubaca isinya.
Kira-kira siapa pengirim dari surat ini? Apa tujuannya mengirim hal semacam ini? Apa seseorang itu hanya mempermainkanku?
Aku menyentuh dadaku, dan masih kurasakan degupan jantung yang tak beraturan di sana. Bolehkah aku berharap akan kehadiran pangeran yang selalu memperhatikanku? Aku mengulum bibir, semakin merasa yakin kalau aku harus menemukan pengirim surat ini.
Saat aku terhanyut dalam lamunan, seseorang memanggilku.
"Nona Schulz. Kau sudah sehat?"
Seolah belum lepas dari pikat si pengirim surat, aku menolehkan kepalaku dengan enggan. Sosok Leonal Ordt lah yang kemudian berhenti tepat di depanku dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Kedua tangannya menyentuh lenganku, dan cowok itu kelihatan memeriksa keadaanku.
"Kemarin setelah melerai Borsche bersaudara, aku dengar kalau sebelumnya kau pingsan. Tapi tiba-tiba saja kau menghilang. Kami bertiga mencarimu dan mendapat kabar dari penjaga asrama kalau kau sudah kembali ke kamar asrama," tuturnya tiba-tiba, seolah mengerti pertanyaan yang hendak keluar dari mulutku. "Apa sekarang kau sudah baik-baik saja?"
"Ah, aku--sudah tak apa, Tuan Ordt," ujarku sedikit bingung, tetapi tak dipungkiri aku merasa senang karena mendapatkan perhatian darinya.
"Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," kata Leonal terdengar lebih terkontrol.
Senyum tulus cowok itu seakan membuatku meleleh. Terlebih khas rupawan pangeran negeri dongeng yang ciri-cirinya ada pada perawakan Leonal Ordt. Aku yang terpana bahkan tak sadar jika jemari cowok itu mengelus kepang kecil di salah satu sisi kepalaku, lalu memainkan anak rambut serupa madu sebelum mengaitkannya ke belakang telingaku. Dengan jarak yang sedekat ini, aku lupa jika kami masih berada di lorong sekolah.
"Kau semakin cantik hari ini. Kalau saja kau adalah tuan putriku."
...****************...