
Aku tak menyangka mengenai ide brilian yang dikatakan Tom ternyata adalah photoshoot dengan model bersama Noah dan Frederick. Tema photoshoot kami rupanya sesuai tema dari perayaan sekolah tahun ini, yaitu Fairy Tale. Ingin menolak pun, aku tak tega menghancurkan percikan semangat pada mata Tom yang terarah penuh harap padaku. Oleh karena itu, aku pun mengiyakannya bersama seulas senyuman di wajah, yang lantas disambut dengan sorakan sukacita Tom dan sebuah pelukan mendadak.
“T-Tommy!”
Tubuhku terperangkap di dalam dekapan hangat Tom. Tom memelukku dengan erat, sampai-sampai aku tak bisa bernafas karena wajahku tertekan oleh pelukannya. Belum lagi dengan degupan jantung yang mendadak memacu cepat karena tak ada jarak di antara kami. Tom memang tidak setinggi Leonal maupun Noah, posturnya pun lebih kecil dan tak berotot, tapi masih saja dia lebih tinggi daripada aku.
“Kimmy, kau memang malaikat penyelamatku!”
“Hentikan, Graffen," sergah Noah. "Kau memeluknya terlalu erat. Apa kau mau membunuhnya?”
“Eh–maafkan aku, Kimmy!”
Tom pun melepaskan pelukannya sehingga aku bisa bernafas dengan baik. Namun, itu belum meredakan degup jantungku yang terus memompa dengan cepat.
Selalu. Selalu saja seperti ini!
“Kalau begitu sebagai ucapan terima kasih.” Tiba-tiba Tom mengecup pipiku dengan singkat. Lalu cowok itu tersenyum tengil sambil mengedipkan sebelah mata. “Ciuman spesial Tommy.”
Membuatku membeku di tempat, seolah sedang kehilangan akal.
“Aku tidak tahu kalau seleramu adalah gadis kota metropolitan macam dia, Graffen,” ujar Noah dingin, tetapi disisipi nada sarkasme.
Aku yang tadinya masih kebingungan dengan apa yang terjadi, seketika tertarik kembali pada kenyataan. Kata-kata itu membuatku kesal dan menggelitikku untuk membalas ucapan Noah dengan tak kalah ketusnya.
“Memangnya kenapa kalau aku dari McReych?” sungutku.
“Bukankah kau lebih baik kembali ke sana daripada menetap di kota kecil macam Fairille ini?” timpal Noah.
“Tidak biasanya kau banyak bicara seperti ini, Noah,” ucap Tom menengahi sambil mengerutkan dahi. Ekspresi Tom mendadak berubah cerah saat mendapatkan sesuatu dalam kepalanya. “Oh, aku tahu. Apa kau juga ingin dipeluk dan dicium olehku? Sini~”
“Hentikan, Graffen.”
Setelah kesepakatan dan pembicaraan kecil mengenai persiapan saat perayaan nanti, kami pun memutuskan untuk berpisah. Tom buru-buru kembali ke ruang klubnya dengan langkah ringan, sedangkan aku sendiri berniat kembali ke asrama. Akan tetapi, saat hendak melangkah pergi, Noah menahan pergelangan tanganku yang tadinya dijerat oleh bayangan hitam di area belakang sekolah. Pada bekas itu, genggaman dari Noah menguarkan rasa perih dan terbakar yang semakin lama semakin menjadi sehingga membuatku mengernyit dan mendesis. Tak tahan, aku pun refleks menepis tangannya dengan kasar.
"Lepaskan!" jeritku tertahan.
Ketika kutatap Noah, kusadari dia kelihatannya sangat terkejut dengan penolakanku padanya. Sebenarnya aku sama terkejutnya. Meskipun beberapa waktu lalu kami sempat saling bersungut, tetapi aku tak bermaksud bersikap kasar pada Noah.
"Maaf."
Ucapan yang keluar dari mulut Noah itu, membuat bahuku melemas dan kata yang sama keluar dari bibirku.
“Maaf, aku hanya terkejut." Sedikit menutupi kebohongan mengenai alasan yang sebenarnya mengapa aku menepis tangan cowok itu. "Ada apa?"
Tatapan Noah yang diberikan padaku selanjutnya tak sedingin sebelumnya. Mungkin cowok itu benar-benar merasa bersalah.
“Ada apa?” tanyaku lagi.
“Ada yang salah dengan tanganmu," jawab Noah.
“Tanganku… tidak apa-apa,” ucapku sambil mengerling ke arah lain. Tak ingin mata kami bertemu pandang.
“Pukul 9 malam ini, datanglah ke rooftop," ucap Noah lagi. Aku sontak kembali menatap ke arahnya. Di sana, gampak keseriusan pada wajah Noah. Cowok itu lantas melanjutkan, “Di dekat patung peri kecil. Aku akan di sana menunggumu.”
“Tunggu. Apa maksudmu---hei, Noah!”
Bukannya menjelaskan apa pun, cowok itu lantas pergi ke arah yang sama dengan Tom, ke sayap samping bangunan. Kemungkinan besar cowok itu sedang menuju ke ruang komite. Aku yang ditinggal sendirian kini merasa kebingungan.
...***...
Aku tidak tahan dengan bekas jeratan bayangan hitam tadi.
Pergelanganku terasa melepuh saat aku berendam di bak mandi tadi. Padahal, di penglihatan mataku, tak ada satu pun bekas luka di pergelangan tanganku ini. Lalu bagaimana mungkin bisa terasa seperti itu?
Pikirku kini, satu-satunya jalan untuk menemukan jawaban adalah bertemu Noah. Cowok itu satu-satunya yang menyadari keadaan pergelangan tanganku yang tidak baik-baik saja.
Lantas, di sinilah aku sekarang.
Aku baru saja keluar dari ruang rekreasi dan menjejaki lantai rooftop. Di dekat patung peri kecil, katanya, aku sungguh tak tahu di mana lokasi tepatnya itu. Selama di sini beberapa hari terakhir, aku belum benar-benar meluangkan waktu untuk menjelajadi rooftop asrama yang besar ini. Bahkan, saat berada di sini, aku merasa seperti di taman sungguhan, yang dapat menyesatkanku kapan pun.
Maka kuputuskan untuk menyusuri rooftop. Di lengkung-lengkung taman yang dibuat oleh pagar tanaman berbunga, kulihat banyak kelompok-kelompok kecil yang menempati. Entah mereka itu teman akrab maupun sepasang kekasih, sedikit-banyak hal itu membuatku iri. Terlebih ada sisa kekecewaan yang kurasakaan hari ini setelah aku menyapa ketiga temanku di ruang chat.
“Cowok itu benar-benar tipeku!”
“Jadi, kapan kau mau menyatakan perasaan?”
“Oh, ayolah. Dia pasti akan menerimamu.”
Percakapan hangat yang tanpa sengaja aku dengar saat melewati sekelompok gadis di ceruk taman membuatku tertampar pada kenyataan: Aku tak bisa menghabiskan waktu lagi bersama Sophie, Marsha, dan Felly seperti dulu. Pelupuk mataku dengan cepat digenangi oleh air mata, lantas terjatuh saat ruang tersebut tak lagi mampu menampungnya.
Betapa menyebalkan. Padahal aku baru saja sampai di dekat patung peri kecil. Namun saat melihat patung peri kecil itu, justru mengingatkanku pada siang tadi, saat aku berkeluh-kesah di hadapan patung peri pangeran.
Tanpa diduga-duga, seseorang mendekat ketika aku berusaha menepis air mataku yang kian tumpah menggunakan tisu dari saku hotpants-ku. Aku tak menyadarinya hingga orang itu berdiri di hadapanku.
“Sudah kubilang kan, pakai sapu tangan, bukannya tisu seperti ini.” Aku seketika mendongak, rupanya itu adalah Noah yang lantas sibuk menyeramahiku. Cowok itu sudah tidak memakai gips, membuat posturnya yang tegak kelihatan lebih gagah daripada siang tadi. “Aku tahu ini memang musim panas, tapi pakaianmu---” ucapannya terputus lantaran bisikan-bisikan dari sekitar.
Sekelompok anak baru saja melewati mereka, dan tampak memandang ke arahku, seperti biasa dengan pandangan terpana. Tapi aku sudah tidak peduli akan hal itu. Aku memang tak ingin menjadi pusat perhatian, hanya saja tanpa sadar aku memakai pakaian ini–tanktop yang ditimpa dengan kemeja putih lengan pendek yang agak transparan–karena aku merindukan McReych.
Bukannya berhenti, air mataku justru semakin deras.
“Apa pedulimu?” ucapku di antara sesenggukan.
Tiba-tiba Noah merengkuhku dan membawa tubuhku mendekat padanya.
Cowok itu lantas berucap dengan nada rendah di dekat telingaku, “Tentu saja aku peduli.”
...****************...