
Zoe tidak kembali.
Ketika kucari di toilet kantin, tidak kutemukan Zoe di sana. Pikirku, apa dia pergi ke toilet yang lain? Jika demikian, aku tak tahu harus menyusul kemana, selain karena bel tanda masuk kelas telah berbunyi beberapa waktu yang lalu, aku juga tak membawa ponsel. Tom yang sedari tadi menemaniku lantas menyarankan untuk kembali ke kelas, karena kemungkinan Zoe sudah kembali ke kelasnya sendiri dan sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai.
"Lagipula ini hari pertamamu di sekolah, Kimmy."
Tom benar. Di hari pertamaku di sekolah, aku tak ingin membuat masalah. Aku tak mau menarik perhatian lebih dari ini. Cukuplah Frederick Elford yang membuat mood-ku tidak keruan. Jadi kuputuskan untuk menuruti saran dari Tom, dan kami pun kembali ke kelas masing-masing. Beruntung kelas Tom berada tepat di samping kelasku sehingga dia bisa tetap menemaniku sampai aku masuk ke kelasku.
Di sepanjang sisa pelajaran hari ini aku semakin tidak bisa konsentrasi. Aku khawatir pada Zoe, terlebih pada perubahan ekspresi dan sikapnya setelah Tom menyebut-nyebut soal Marion Lynch di depannya. Bilamana cerita itu benar, kemungkinan besar Zoe telah ditinggalkan oleh orang terkasihnya itu.
Kalau diingat-ingat lagi, Max Borsche sepertinya pernah menyinggung-nyinggung soal orang itu.
^^^"Ayolah, Zoe. Aku tahu kau juga^^^
^^^ingin masuk ke sana.^^^
^^^Sudah hampir setahun kan,^^^
^^^sejak dia menghilang?"^^^
Aku yang telah dianggap sahabatnya ini rupanya masih belum mengetahui apa-apa soal Zoe. Mungkinkah aku harus bertanya pada Max? Dia adalah saudara laki-laki Zoe, maka seharusnya tahu lebih banyak daripada Tom. Lagipula Borsche bersaudara kelihatannya akrab.
Apa ada rahasia lain yang akan terkuak nantinya?
Pandanganku masih terpaku ke luar jendela saat pengajar telah menutup pelajaran terakhir. Murid-murid mulai meninggalkan kelas. Aku terlambat sadar dan segera membereskan barang-barang di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Namun, ketika aku hendak berdiri, deja vu terasa nyata bagiku. Seseorang menghampiriku, yang tak lain dan tak bukan adalah Frederick Elford. Sementara aku mendongak dan memandang dengan kejut ke arahnya, dia tersenyum culas kepadaku.
Seketika aku curiga kalau cowok itu mempunyai niatan terselubung.
"Kau…" ucapku menggantung. Aku tak berniat melanjutkan kata. Hatiku seakan berbisik untuk menyuruhku segera pergi dari sini.
"Kimberly." Suara Frederick terdengar lebih lembut daripada yang kuingat. "Mau pulang bersamaku?"
Sungguh, aku tak ingin kejadian di rooftop terulang kembali. Terlebih murid-murid yang tersisa di kelas kelihatannya terburu-buru pergi setelah melihat ke arah kami. Maka aku pun berdiri setelah mengaitkan tali tas di pundakku.
"Tidak." Aku menjawabnya dengan tegas. Dengan tanpa melihat ke arahnya, aku bergegas pergi melewatinya. Mulanya aku mengira dia akan membiarkanku lewat seperti sebelumnya, tetapi nyatanya, dia menahan tanganku. Langkahku sontak terhenti. Tarikannya padaku memaksa tubuhku untuk menghadap ke arahnya.
"Aku tidak mau penolakan darimu, Tuan Putri Kimberly."
Jantungku yang mendadak bertalu seakan merosot ke perut. Perintah yang memaksaku untuk tunduk itu begitu mengganggu. Sedangkan sebutan itu, 'Tuan Putri Kimberly', mengingatkanku kembali dengan surat misterius yang ditujukan padaku. Cowok di hadapanku ini, yang biner mata keabuannya tengah memandangku dengan intens, bukan seseorang yang menulis surat itu untukku kan?
"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan seperti itu?" tanyaku dengan berusaha melangkah mundur. Akan tetapi, tangan yang lebih besar dan kuat itu terus mencengkeram pergelangan tanganku sehingga membuatku meringis kesakitan.
"Karena kau adalah tuan putriku dan aku adalah pangeranmu," tangan Frederick yang bebas lantas memegang daguku, ibu jarinya perlahan mengusap bibirku, "Aku merindukanmu."
Rangkaian kata-kata yang keluar dari mulut cowok itu semakin mirip dengan isi surat yang ditujukan kepadaku. Seolah itu menjawab tanda tanya besar dalam kepalaku mengenai penulis surat misterius itu. Ketika aku mencoba untuk berfikir lebih jernih, sentuhan Frederick pada bibirku entah bagaimana membuatku semakin jatuh ke dalam keinginannya.
Tubuhku meremang, debaran jantungku semakin keras. Sungguh, isi hatiku memintaku supaya segera pergi dari sini, tetapi tubuhku tak bisa bergerak. Semakin lama aku ingin pergi, semakin aku terbuai dengan kata-katanya padaku.
“Tuan Putri, jadilah milikku.”
Aku tidak bisa mengontrol tubuhku. Tatapanku menjadi sayu. Isi kepalaku menjadi keruh. Mungkinkah aku terlena? Frederick sedikit mengangkat daguku sehingga mata kami kembali bertemu pandang. Dalam jarak sedekat ini, aku dapat melihat biner mata Frederick dengan jelas, aku bahkan dapat melihat semburat hitam yang bergerak pada pusat mata keabuan itu. Betapa indah.
Perlahan kusadari, wajah cowok itu semakin mendekat pada wajahku. Aku bahkan dapat merasakan nafasnya yang terembus dingin. Namun, sebelum bibir kami saling bersentuhan, tiba-tiba, sebuah kehangatan menaungi bahuku. Seseorang menarik diriku menjauh dari Frederick. Ketika aku menoleh dengan bingung, kuketahui ternyata itu adalah Noah Huxley.
Wangi musk pada tubuh Noah seketika merebak ke dalam indra penciumanku. Salah satu tangannya yang tak di-gips melingkari sekitaran leherku, seolah tak ingin melepaskanku darinya. Apa yang kudengar selanjutnya didominasi dengan suara nafasku yang menderu berat dan panas. Entah kenapa, aku merasa kepalaku berputar.
"Lalat pengganggu. Noah Huxley." Meskipun senyum angkuhnya tampak pada paras tampannya, Frederick tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Ia kemudian melonggarkan kerah dan dasinya dengan kasar. “Kelihatannya kau ingin membuat masalah denganku.”
Noah diam, tak menjawab. Namun, matanya yang gelap memandang tajam ke arah Frederick. Cowok berambut hitam itu lalu menarikku supaya aku berlindung di balik punggungnya. Aku yang masih merasa melayang tanpa tahu sebabnya hanya menurut dan menggenggam ujung seragam Noah di belakang. Kepalaku yang terasa berat tanpa sengaja bersandar pada punggung Noah. Noah mengerling ke belakang selama sesaat sebelum kembali pada Frederick di hadapannya.
“Frederick Elford.” Suara Noah terdengar dingin dan mengintimidasi. “Hanya karena gadis ini baru, bukan berarti kau bebas mempermainkannya.”
“Aku tidak sedang mempermainkannya, Huxley. Kami hanya sedang berbincang. Benar kan, Kimberly?"
Mendengarnya lagi-lagi aku bergidik. Aku tidak mau menjawab. Pokoknya tidak mau! Frederick Elford bukanlah pangeran yang ada di dalam bayanganku. Aku benar-benar merasa takut sekarang.
"Lebih baik kau pergi, Elford," kata Noah memperingatkan.
"Ah, kau benar-benar merusak kesenangan orang lain, Huxley. Tapi baiklah." Rasanya aneh mendengar bagaimana Frederick Elford seakan menyerah. "Dengar, Kimberly. Ingat kata-kataku tadi. Suatu saat kau akan jadi milikku.”
Namun, aku salah mengira. Frederick kelihatan tidak menyerah dan mungkin akan kembali berbuat serupa pada diriku. Milikku, kata cowok itu. Itu adalah hal paling gila yang kudengar hari ini.
Frederick lalu pergi dengan memperdengarkan sisa-sisa tawanya. Aku masih berdiri di tempat dengan menundukkan kepala. Noah tidak berbalik, ia membiarkanku dengan posisiku yang masih menunduk dan memegangi bajunya.
“Dia sudah pergi. Kau sudah aman.”
Aku mengangguk tanpa bisa mengatakan apa pun, lalu mengusap cepat-cepat mataku yang basah karena air mata menggenanginya. Kakiku lemas, aku jatuh terduduk di kursi terdekat. Aku bahkan masih bisa merasa embusan nafas milik Frederick, dan terbayang bagaimana Frederick hampir mencium bibirku. Kalau tidak ada Noah, mungkin cowok rambut keperakan itu sudah merenggut ciuman pertamaku.
Meskipun Frederick mengaku seorang pangeran, bahkan jika dia benaran seorang pangeran, aku hanya ingin memberikan ciuman pertamaku pada pangeranku sendiri. Pangeran yang aku cintai.
Mengempaskan pikiran itu, aku kembali fokus pada sekitar.
“Noah, aku… kau menyelamatkanku lagi." Aku tersenyum lemah kepadanya. "Terima kasih.”
Noah duduk di kursi seberangku. Ia lalu sedikit meledek. “Ini yang pertama. Bukannya yang kemarin kau menyelamatkan dirimu sendiri dengan menonjoknya?”
Mungkin Noah ada benarnya, tapi tetap saja, kemarin Noah juga berniat membantuku untuk lepas dari Frederick sebelum aku menonjok wajah menyebalkan itu. Aku lalu tertawa kecil. Dari tempatku duduk, aku dapat melihat Noah yang tersenyum tipis. Aku ikut tersenyum dan merenung.
“Sepertinya tadi aku takut sekali saat Elford mendekatiku sampai-sampai tubuhku tak bisa mengelak. Padahal kemarin aku bisa menonjoknya." Apa yang kualami mengingatkanku pada pengalaman kencan cewek anonim bersama Frederick yang diceritakan oleh Zoe. “Kalau dipikir-pikir, aku tadi tak bisa berbuat apa pun, sama seperti para gadis yang tak bisa menolak ajakan kencan Elford--apa kau pernah dengar gosip itu, Noah? Ugh. Aku jadi kesal pada diriku sendiri kenapa aku bisa seperti mereka.”
Sebuah sentilan keras tiba-tiba mendarat pada dahiku. Aku seketika terpejam dan mengusap sisa rasa sakit itu, sebelum berniat mengeluarkan kata-kata protes.
“Cewek bodoh,” ujar Noah yang rupanya sudah berdiri di depanku.
“A-apa maksudmu?!
“Kau berbeda dari mereka. Cukup berhati-hatilah dan jangan terlalu lama berkontak mata dengan Elford.”
“Eh--tunggu, aku tidak mengerti.”
Noah tak merespons. Cowok itu tiba-tiba berbalik pergi setelah melihat waktu pada arlojinya.
“Aku harus pergi. Bye,” ucap Noah tanpa menoleh kepadaku.
Seperti biasa, Noah Huxley datang dan pergi dengan sesukanya.
Saat ingin memprotes Noah dengan kata-kata 'super'-ku, ponselku berdering. Seseorang menelponku. Mulanya aku mengira itu adalah Zoe yang akan mengabariku tentang keadaannya. Akan tetapi, ketika kulihat layar ponsel, rupanya itu adalah Max Borsche. Kami memang sudah bertukar nomor saat di rooftop kemarin.
Lantas dengan gugup aku pun mengangkat telepon itu.
"Halo, Max?"
Di seberang sana, Max memberitahuku jika dia sudah berada di taman belakang sedari tadi. Dia pikir aku lupa dan sedang asyik bersama Zoe karena tak membalas chat darinya. Katanya, Noah juga tak kunjung muncul batang hidungnya. Aku seketika teringat akan janji kami bertiga untuk bertemu di taman belakang sepulang sekolah.
Aku pun tersadar jika mungkin Noah sengaja meninggalkanku. Cowok itu pasti tidak ingin memasukkanku ke dalam daftar anggota yang akan pergi bersama mereka ke hutan belakang sekolah!
“Noah! Kau meninggalkanku!”
Dengan tergesa, aku pun berlari menyusul Noah.
...****************...