Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
22. Teman Andalan



Hanya ada bingkisan dari Max yang tadinya berisi cupcake yang tengah kubawa. Sedangkan Noah, membawa tasnya sendiri.


“Tertinggal di ruang kesehatan,” jawab Noah tanpa intonasi.


Setelah kuingat-ingat, tasku tadi ada di dekat kakiku saat berbaring di ranjang ruang kesehatan. Saat kami akan pergi dari ruang kesehatan itu, alih-alih meraih tasku, Noah justru mengambil bingkisan cupcake. Namun, melihat bagaimana kacaunya pertengkaran tadi, Noah yang satu tangannya terbalut gips hanya dapat menggapai bingkisan tanpa bisa melalui Zoe dan Max yang menghalangi jalan menuju tasku. Aku pun jadi memakluminya.


Satu-satunya penyesalanku sebenarnya cuma satu.


“Padahal ponselku ada di dalam tas itu, dan malam ini ada film di Mcflix yang ingin kutonton," ujarku dengan disisipi rengek kecil.


Benar, ponselku.


Aku menghela nafas. Sekalipun mungkin aku sudah merasa lebih sehat daripada beberapa waktu yang lalu, aku tak ingin kembali ke gedung sekolah. Selain karena masih tak ingin berhadapan dengan suasana di antara Borsche bersaudara, aku juga tak ingin merepotkan Noah lebih dari ini.


Noah sudah terlalu tersiksa dengan cupcake yang telah dimakannya. Aku takut dia sedang menahan mual atau sakit perut karena bisa saja pencernaannya sehati dengan pemiliknya: sama-sama tidak suka makanan manis.


“Hanya karena ponselmu? Bukan karena kau ingin mereview kembali pelajaran atau mengerjakan tugas?” sahut Noah, membombardir dengan dua pertanyaan yang sedikit menyinggungku.


Aku melirik Noah dengan malas. Sedikit cemberut. "Iya. Lagipula hari ini bebas tugas. Kudengar dari salah satu guru kalau mereka sengaja tidak memberikan tugas karena sebentar lagi ada perayaan sekolah. Tapi sudahlah. Kita kembali ke asrama saja.”


Kakiku pun mulai melangkah maju, menuju jembatan kecil yang menjadi konstruksi yang akan mengarahkan kami ke asrama.


“Kau yakin?” tanya Noah sembari menyusulku sehingga kami dapat melewati jembatan bersama.


“Yeah," jawabku singkat.


“Kau tidak akan akan rindu dengan ponselmu?” tanya Noah lagi. Aku nyaris hilang kesabaran dengan pertanyaannya itu.


“Kau ini kenapa sih? Tentu saja tidak… akan,” jawabku pada akhirnya ragu.


Karena bagaimana pun benda bernama ponsel pintar itu tidak lagi ada di tanganku, tidak lagi dekat denganku. Padahal selama ini hampir selalu kubawa kemana-mana dan aku tak bisa lepas dengan'nya'. Aku tahu ini akan terdengar berlebihan, tapi bagaimana mungkin aku bisa jauh dengan 'kesayangan'ku itu?


“Bagaimana jika nanti ada telepon penting?”


Pertanyaan Noah terasa semakin mengulitiku saja. Dia seperti bisa membaca pikiranku. Bagaimana jika salah satu dari teman-temanku di McReych menghubungiku?


Tertampar pada fakta yang kudapatkan sebelumnya, aku mengerang kesal.


“Sudahlah, Noah. Lagipula tidak akan ada yang menghubungiku. Satu-satunya orang yang peduli padaku sudah tinggal satu kota denganku," cibirku pada nasib yang sedang menimpaku. Padahal seharusnya aku cukup bahagia sekarang. Seharusnya.


“Maksudmu Zoe Borsche?” tanya Noah lagi, kali ini aku dengar keraguan dalam ucapannya.


“Memangnya siapa lagi?” ujarku dengan nada agak tinggi.


Entah kenapa, aku tak bisa menahan emosiku. Kekecewaan mulai merayap ke seluruh tubuhku saat mengingat lagi bagaimana ketiga teman yang sudah kuanggap sahabat di McReych tak lagi menghubungiku. Marsha, Sophie, dan Felly–bagaimana kabar mereka? Aku mulai berjalan dengan langkah panjang dan tergesa-gesa. Dengus kekesalanku pun berulang kali terembus kasar. Noah sepertinya sedikit berusaha keras untuk mensejajari langkahku dan sesekali mengerling ke arahku tanpa suara.


Aku yang menyadari kecanggungan di antara kami berdua kemudian memecah keheningan.


“Maaf. Aku hanya teringat dengan teman-temanku di McReych yang tidak lagi membalas pesan-pesanku. Padahal sebelum ke sini, kami sangat akrab. Tak kusangka aku dibuang.” Aku tersenyum getir, mulanya kuarahkan pada bunga-bunga yang bergelantungan di atas yang sedang kami lalui, kemudian pada Noah yang menatapku dengan pandangan yang tak bisa kudefinisikan. “Dan yang tersisa, hanya Zoe.”


Tak kusangka aku bisa menceritakan hal itu pada orang lain, pada Noah Huxley yang kadang menyebalkan, tetapi terkadang bisa diandalkan. Bahkan persoalan itu saja aku tak menceritakannya pada Zoe.


“Kau bisa memasukkanku ke salah satunya,” kata Noah tiba-tiba.


Mataku melebar, aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Noah barusan. Otakku bahkan tak bisa memprosesnya dengan benar. Aku ragu. Telingaku tidak salah menangkap kan?


Namun, yang bersangkutan sudah saja berjalan menjauh di depan, hampir melewati batas pepohonan yang bertatap langsung dengan area samping asrama.


“T-tunggu, Noah. Apa maksudmu?!” ucapku sambil berlari menyusul.


“Tidak ada pengulangan," ujar Noah datar.


"Huh. Dasar kau ini!" kataku protes.


Aku memberengut kesal sambil menatap lurus ke depan. Meskipun begitu, ada rasa senang yang perlahan menyeruak ke dalam dada. Sesaat, aku mengerling ke arah Noah, dan tanpa sadar bibirku melengkungkan senyum lembut.


...***...


Semalam, setelah berpisah dari Noah, aku langsung menuju kamar. Noah tidak bisa mengantarku sampai kamar, jadi dia menitipkanku pada penjaga asrama supaya mengantarkanku dengan selamat. Mulanya aku tidak mau, tetapi cowok itu memaksa.


Setelah sampai kamar, aku langsung membersihkan diri tanpa makan malam. Dua cupcake yang kumakan ditemani Noah di pinggir sungai nyatanya mampu membuatku kenyang, sehingga aku sengaja melewatkan makan malam. Karena itulah aku langsung menerjang kasur, memeluk bonekaku, lalu dengan mudah tertidur karena benda yang biasanya menemaniku melewatkan waktu sebelum tidur tidak di tanganku.


"Ah. Tidurku nyenyak sekali~”


Aku melenguh dan merenggangkan tubuh setelah beranjak dari tidur. Lalu aku menyibak gorden dan membuka jendela sehingga dapat kuhirup udara pagi yang menyejukkan. Nyatanya, tidak menggunakan ponsel sebelum tidur, membuat kualitas tidurku lebih baik.


Dari tempatku berada, aku dapat melihat kesibukan alam di sekitar: burung yang saling berkejaran, seekor tupai yang berlarian di dahan pohon, pun beberapa murid yang sedang melakukan joging pagi. Kalau saja aku terbangun lebih pagi, mungkin aku bisa ikut joging bersama mereka. Mengingat ada rencana menjelajah hutan, maka seharusnya aku mempersiapkan fisik supaya tidak menyusahkan yang lain.


Tubuh Max begitu berotot dan seksi, apa aku minta diajari cowok itu saja?


Tersadar aku memikirkan hal yang tidak-tidak, aku pun menggelengkan kepala. Kedua tanganku kompak mencubit masing-masing pipiku yang ternyata sudah menghangat. Uh. Tak seharusnya aku memikirkan hal semacam itu, apalagi mengingat pada hubungan Borsche bersaudara yang sedang tidak akur.


Jika Zoe dan Max masih bersikap seperti kemarin, mungkin yang harus kulakukan adalah memikirkan cara untuk memperbaiki hubungan mereka kembali. Karena bagaimana pun, pertengkaran itu terjadi karena aku. Untuk saat ini aku akan bersiap-siap dan pergi ke sekolah lebih pagi. Selain ingin mengambil tas yang barangkali tertinggal di ruang kesehatan, aku ingin mengambil kunci loker dari ruang guru yang belum sempat kuambil kemarin.


...***...


Setibanya di sekolah, aku langsung mengambil kunci di ruang guru dan langsung pergi ke lorong lebar di mana letak loker-loker para murid berada. Mengoleksi beberapa tas nyatanya bukanlah hobi yang buruk. Tas punggung warna krem dengan gantungan bola bulu kupakai sebagai pengganti tasku yang tertinggal.


“Satu-lima-enam, satu-lima-enam,” gumamku pelan sambil berjalan menyamping untuk mencari nomor yang kumaksud di loker. Itu adalah nomor lokerku.


Tiba-tiba saja aku menabrak seseorang yang sepertinya sudah ada di sana tanpa kuketahui. Seseorang itu lalu terhuyung. Untungnya sebelum aku sempat meraih, dia dengan cepat menghadapku dan menundukkan kepalanya tanpa mau menatapku. Bukannya menuntut permintaan maaf dariku, seseorang itulah yang justru meminta maaf kepadaku.


“M-maafkan aku. Aku sungguh minta maaf,” ujarnya penuh penyesalan. Terdapat ketakutan dalam ucapannya, membuatku terheran dan mendekat pada gadis bertubuh mungil daripada diriku.


“Kenapa kau yang meminta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu karena sudah menabrak. Maafkan aku,” ucapku lembut, berhati-hati supaya tak membuat gadis itu semakin takut.


“Uh-oh.” Gadis itu selain kelihatan takut juga kelihatan kikuk. Aku menyadarinya saat ia berusaha mengangkat kepala, tetapi mata almond di balik kacamata bulat itu tak mau mengarah kepadaku. Gadis itu sepertinya ketakutan sekali. Apa aku menyeramkan bagi gadis itu?


“Apa kau sakit?” tanyaku padanya. “Kenapa kau kelihatan menghindariku?”


“Tidak–aku hanya—oh,” tiba-tiba, gadis itu mau menatapku, dan kelihatan terkejut. Sampai-sampai matanya melebar ke arahku. “Kau adalah anak baru bernama Kimberly Schulz!”


“Oh, akhirnya kau berbicara. Dan kau–” alisku terangkat, senyumku menyertainya, “tahu aku?”


“Tentu saja, tidak ada yang tidak mengenal dirimu,” ucap gadis itu lebih rileks dan terdengar sedikit ceria.


Seketika aku terheran. Bukan karena keadaan gadis itu yang berubah, tapi informasi yang kudengar: tidak ada yang tidak mengenalku. Bagaimana mungkin? Meskipun aku tak menampik jika saja hal itu mungkin benar lantaran semenjak aku menginjakkan kaki di sekolah ini, begitu banyak pasang mata yang terarah padaku.


Aku jadi tergelitik untuk lebih mengetahui.


“Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran.


“M-maafkan aku.” Gadis itu buru-buru kembali merundukkan kembali kepalanya dan menghadap ke loker setelah melihat sesuatu yang mengejutkannya di balik punggungku.


Ketika aku menoleh ke belakang, kudapati tiga orang cewek sedang tertawa bersama, seperti sedang menceritakan hal lucu--sialnya, mengingatkanku pada masa-masa menyenangkanku bersama Marsha, Sophie, dan Felly di McReych.


Mengabaikan soal teman-temanku, aku kembali pada ketiga cewek itu. Saat kuperhatikan lebih lanjut, kusadari jika satu dari tiga cewek itu mendominasi: cewek cantik dengan rambut platinanya yang panjang dan mata keabuan di bawah bulu mata yang lentik, yang mengingatkanku pada seseorang,


--Frederick Elford.


Saat mata kami tak sengaja bertemu pandang, tiba-tiba dia menghentikan obrolannya dengan teman-temannya. Alih-alih lanjut melangkah, ia justru berhenti di jalurnya yang paling dekat denganku dan tiba-tiba mengejutkanku dengan ucapannya.


“Kimberly Schulz.”


Suara yang mengalun itu terdengar merdu dan halus.


“Kau–” seringainya yang cantik perlahan terbit di bibir kemerahan itu, “--tak pantas di sini."


...****************...